"Mau bersih-bersih dulu atau mau makan malam, Yun? Saya hangatkan makanannya selagi kamu bersih-bersih."
Ayun yang melihat adanya sofa langsung melangkah ke sana. Duduk meluruskan kedua kakinya dengan embusan napas lega. "Gue mau duduk-duduk dulu. Lo kalau lapar tinggal makan nggak usah nanya-nanyain gue, Gha."
Ayun pikir pria itu akan patuh dengan ucapannya. Namun, yang terjadi setelahnya sosok itu ikutan duduk di sofa yang sama. Ikut bersandar di lengan sofa. "Kita sudah sepakat, Ayun."
Ayun berdecak sebal. Kenapa masih diingetin segala, sih?
"Gue belum terbiasa. Lagian kenapa, sih? Lo juga masih saya-sayaan, tuh."
Agha diam. Memilih tak membalas perkataan sang istri. Ya, menyebutnya saja membuat Agha bingung harus berekspresi seperti apa. Senang dan sedih bercampur menjadi satu.
"Kita hanya punya waktu dua jam malam ini sebelum operasi papa. A-aku bersih-bersih duluan," ujar Agha sedikit terbata. Benar, dia belum terbiasa, tetapi dia yang meminta Ayun mengubah gaya bahasa mau tak mau dirinya yang harus memberikan contoh terlebih dahulu. Tak ada perjanjian pernikahan kontrak yang Ayun baca di novel-novel ketika Ayun sempat memprotes. Agha secara terang-terangan mengatakan tak sudi akan hal itu.
"Terserah lo. Bodo amat," balas Ayun dengan bibir mencebik kesal. Setelah menandatangani berkas-berkas nikah dan menyematkan cincin kawin di jari manisnya mereka langsung disuruh pulang. Parahnya lagi Ayun diboyong ke rumah sebelah di hari yang sama.
Mengingat kejadian di rumah sakit membuat Ayun terus saja menghela napas lelahnya. "Gue sudah menjadi istri. Dadakan. Nggak ada gaun pengantin." Bukan mengeluh, tapi siapa sih yang nggak mau menikahnya dirayakan, apalagi Ayun bertekad pernikahan terjadi sekali seumur hidup dan itu berarti suaminya akan tetap Agha.
Ketika matanya mulai terpejam tiba-tiba saja aroma sabun yang begitu terasa tercium di hidungnya. Matanya mengerjap pelan wanita itu langsung terduduk siaga. "Apa?"
"Mandi," kata Agha begitu saja. Tubuh kekarnya berbalut piyama berlengan panjang juga celana panjang. Seakan karena ada Ayun membuat Agha merasa perlu menutup aurat. Takut-takut kalau Ayun merasa risih.
"Gha," panggil wanita itu menolehkan kepalanya ke belakang. Masih dengan posisi duduk setengah bersandar pada badan sofa. "Kalau gue bersih-bersih nanti pakai baju apa?"
Pria itu menoleh sekilas lalu setelahnya kembali sibuk dengan kegiatannya. Mengeluarkan makanan yang hendak dipanaskan; mengabaikan pertanyaan Ayun.
"Agha!" sentak Ayun. "Ditanyain malah diam aja. Terserah, deh!"
"Sama suami ngomongnya yang sopan, Ayun." Teguran Agha sontak membuat kedua bola mata wanita itu mengerling jengah. Perkataan Agha sama persis yang disuarakan oleh ayahnya ketika menegur cara berbicara Ayun.
"Belum jadi mantu udah jadi kesayangan ayah, giliran sah jadi mantu gue yang dianaktirikan sama ayah. Emang boleh nggak adil begini, ya?" Tak perlu berbisik karena Ayun memang sengaja menyuarakan dengan nada normal supaya sosok di balik pantry mendengar dengan jelas.
"Kamu juga anak mama dan papa. Aku nggak masalah berbagi sama kamu. Kan kamu istriku."
Bibir Ayun menye-menye meledek Agha, membuat gerakan bibir seakan ingin muntah. "Bodo amat!" Setelahnya bangkit berjalan menghentakkan kakinya dengan kesal. Pergi dari rumah orang tua Agha lalu pulang ke rumahnya sendiri. Bahkan tanpa meminta izin, pun dengan Agha yang diam saja.
Sesampainya di rumahnya sendiri yang Ayun dapati hanyalah keheningan. Ayahnya sengaja mempekerjakan asisten rumah tangga paruh waktu bukan 24 jam. Yang menginap hanyalah satpam rumah untuk berjaga.
Menaiki kamar pribadinya Ayun langsung masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri lalu rebahan di kasur. Tak lupa membuka laptop yang menampilkan adegan action di layar tipis itu.
"Ayun," panggil seseorang di depan pintu kamarnya.
"Kok dia bisa masuk? Gue nggak kunci pintu depan?" Monolog wanita itu.
"Pintunya nggak dikunci!" teriak wanita itu karena malas bangkit.
Benar dugaan Ayun sosok suaminya yang ada di balik pintu kamarnya.
"Mau makan di kamar atau di meja makan?"
"Makan sendiri saja," jawab Ayun.
Agha mengangguk. Berbalik badan meninggalkan kamar Ayun dengan posisi pintu yang terbuka.
"Ck! Awalnya dia cuek sama gue loh kenapa sekarang sok kenal begitu, sih? Apa-apaan coba!" dengus Ayun melangkah ke pintu hendak menutupnya. Akan tetapi, sosok Agha muncul di depan kamar membawa kue ulang tahun.
"Selamat ulang tahun," katanya nyelonong masuk ke kamar sang istri.
"Ya Tuhan tolong jangan emosi. Gue nggak mau debat. Capek banget." Ayun mengeluh. Meraup wajahnya perlahan berbalik badan ikut menyusul Agha lalu duduk di tepi ranjang sedangkan Agha duduk di sofa memangku kaki. Rasanya ucapan dari Agha sama sekali tidak dia duga dan tak ada harapan kalau pria itu memberikan ucapan, bahkan repot-repot membelikan kue.
"Kamu nggak mau tiup lilinnya? Nanti keburu mati."
"Sekalian tepuk tangan sama nyanyi, nggak?" balas wanita itu dengan wajah meringis; malu karena ditatap oleh Agha. Seakan menunggu dia meniup lilinnya.
"Make a wish dulu, Yun," cegah Agha ketika badan Ayun condong ke depan hendak meniupnya.
"Cepetan, Yun. Kita nggak punya banyak waktu." Desakan kuat Agha menatap was-was lilin seakan lilin itu bakalan lumer dan jatuh di atas kue. Kue dengan background pink persis seperti anak TK. Ah Ayun terkikik geli yang berhasil ia tahan.
Dibilang seperti itu membuat Ayun patuh. Kedua tangannya menangkup di depan d**a. Tak ada ungkapan di dalam hati akan tetapi, tatapan matanya tak berpaling dari wajah Agha yang juga tengah menatapnya dengan intens. "Udah," katanya. "Boleh ditiup, 'kan?"
Agha mengangguk mempersilakan dengan mendekatkan kue di tangannya. Lilin ditiup oleh Ayun membuat wanita itu tanpa sadar bertepuk tangan gembira. "Kamu suka?"
"Kue? Suka banget. Suka sama cream-nya, rasanya manis terus lembut," jawabnya menoel cream-nya dengan jari telunjuk.
"Mau dimakan nggak? Tapi ambil pisau dulu ke dapur!"
"Mau makan, gue aja yang ke dapur, Gha," katanya bergegas pergi dari kamar membuat Agha geleng-geleng. Tak ada rencana, tapi dipikir-pikir memberikan kejutan kecil untuk Ayun akan mempermudah dirinya mendekatkan diri kepada wanita itu. Dengan melihat antusiasme Ayun sukses membuat Agha tersenyum kecil.
***
"Itu bekas gue," kata Ayun tiba-tiba saat mendapati Agha makan kue dari sendok yang sama; bekasnya. Ayun cukup kaget karena Agha seakan tidak merasa jijik sama sekali.
"Bekas istri bukan najis, 'kan?"
Ucapan Agha membuat tubuh Ayun menegang. Bahkan batuk dia rasakan lantaran terkejut bukan main.
"Makannya pelan-pelan saja, Ayun. Kita nggak buru-buru ke rumah sakit, kok. Ini minumnya juga pelan-pelan."
Sialan!
Ingin sekali rasanya menendang tulang kering suaminya atau yang paling mudah menjitak keningnya supaya berhenti menasehati. Tanpa pria itu sadari dialah yang membuat Ayun tersedak. Ucapan yang terdengar biasa saja bagi Agha nyatanya memberikan efek lain jedag-jedug bagi Ayuh. Dia merasa ... spesial dalam sesaat.
"L-lo makan sendiri! Gue udah kenyang."
Pergerakan bibir Agha langsung berhenti. Memusatkan perhatian penuh ke arah sang istri yang terlihat membuang muka. "Kamu baru makan sesuap. Aku nggak mau kamu ikutan sakit karena nggak makan. Lagi, ya?" rayu Agha. Usai mengabiskan kue ulang tahun Agha memaksa Ayun makan nasi yang dibalas misuh-misuh oleh wanita itu.
"Ayun ...," panggil Agha dengan nada lembut.
Kepalanya perlahan menoleh. Menggigit bibir bawahnya karena menahan kedutan senyum. Jika Agha terus memberikan perhatian lama kelamaan Ayun akan terbawa perasaan dan mudah menerima pernikahan mereka. Rencana Agha untuk menjerat Ayun supaya mereka kembali memiliki hubungan baik seperti sedia kala sepertinya akan dipermudah jalannya.