Bab 7. Kekejaman Bara Gunawan

2339 Kata
“Ah, sial! Kenapa aku kesiangan?!” Bintang melonjak terkejut, di kala melihat jam dinding—waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Sementara jam kantornya mulai dari jam sembilan pagi. Umpatan pelan lolos di bibirnya, dia mengacak-acak rambutnya akibat kepanikan melanda. Tak bisa lagi berpikir jernih, Bintang berlari masuk ke dalam kamar mandi. Bersiap-siap secara kilat, itu yang ada di dalam pikiran Bintang. Bahkan, dia pun tak bisa berias terlalu lama. Jika sudah lama bekerja mungkin dia tak akan sepanik ini. Yang menjadi masalah utama adalah dirinya masih menjadi karyawan baru. Lima belas menit berlalu, Bintang sudah selesai bersiap. Wanita cantik itu menyambar tas dan ponselnya. Tampak Mbok Inem sedang menyuapi Bima di ruang tamu. “Bu Bintang, tadi saya sudah mencoba membangunkan ibu, tapi ibu tidak bangun. Saya pikir ibu kelelahan. Jadi, saya tidak berani membangunkan ibu lagi,” ucap Mbok Inem kala melihat Bintang terburu-buru. Bintang mendesah panjang, merutuki kebodohannya yang sudah dibangunkan oleh pembantunya, tapi malah tak kunjung membuka mata. Alhasil seperti sekang ini dirinya yang terkena sial. “Nggak apa-apa, Mbok. Aku yang salah. Aku kelelahan. Terima kasih udah bangunin aku,” balas Bintang lembut, dan tak mungkin menyalahkan pembantunya. “Mama, ingin pergi bekerja?” tanya Bima polos sambil memeluk ibunya. Bintang mengangguk seraya menundukkan tubuhnya. “Iya, Nak. Mama harus bekerja dulu. Bima di rumah sama Mbok Inem, ya, Sayang?” Bima mengerjapkan matanya beberapa kali. “Mama, kapan Mama libur?” “Sabtu dan minggu, Mama libur, Sayang.” Bintang membelai lembut pipi bulat Bima. Setiap kali meninggalkan Bima, tentu saja hati Bintang selalu tidak tenang. Ada rasa khawatir dan kegelisahan yang membentang. Namun, Bintang tak memiliki pilihan lain. Wanita cantik itu harus tetap bekerja demi memberikan kehidupan yang terbaik untuk putra kesayangannya. Bima tersenyum sambil memeluk leher Bintang. “Yeay, sabtu dan minggu, aku bisa bermain bersama Mama.” Bintang menganggukkan kepalanya. “Iya, Nak. Sabtu minggu kita bisa bermain. Sekarang Mama berangkat dulu, ya? Bima di rumah baik-baik. Jadi anak penurut. Jangan buat Mbok Inem pusing. Oke, Sayang?” Bima tersenyum manis sambil mengangguk. “Mama, aku good boy. Bye, Mama. I love you.” “I love you more, Sayang,” bisik Bintang sambil menciumi gemas pipi bulat Bima. Bintang bangkit berdiri, menatap Mbok Inem. “Mbok, tolong jaga baik-baik Bima, ya? Jangan selalu berikan dia ice cream. Nanti dia sakit.” Mbok Inem mengangguk sopan. “Baik, Bu. Saya pasti akan selalu menjaga Den Bima. Den Bima anak yang penurut. Saat saya bilang makan banyak ice cream bisa membuatnya sakit, dia langsung mengurangi makan ice cream. Den Bima bilang dia ingin selalu sehat agar Ibu tidak khawatir.” Bintang tersenyum mendengar cerita dari Mbok Inem. “Terima kasih, Mbok. Aku berangkat dulu. Aku akan usahakan pulang tepat waktu.” “Hati-hati di jalan, Bu,” jawab Mbok Inem sopan, lalu Bintang melangkah pergi meninggalkan pembantu dan putranya. Tampak Bima melambaikan tangannya di kala Bintang pergi. Tentu Bintang membalas lambaian tangan Bima, sebelum wanita itu benar-benar pergi. Sejak dulu Bintang lebih nyaman tinggal di apartemen. Meski hanya apartemen sederhana, tapi dia tak terusik dengan adanya tetangga. Apalagi kondisi Bintang yang sebagai ibu tunggal. Jika tinggal di kontrakan pastinya banyak yang membicarakannya. Bintang ingin hidup tenang tanpa adanya gangguan. Tinggal di kontrakan lebih murah daripada tinggal di apartemen. Namun, Bintang memutuskan untuk tinggal di tempat yang sedikit lebih mahal, tapi mendapatkan ketenangan daripada harus tinggal di kontrakan—yang membuatnya tertekan karena ucapan tetangga. *** Lina menatap dingin kursi meja kerja Bintang yang kosong. Waktu sudah lewat dari jam sembilan, tapi Bintang belum juga datang. Decakan lolos di bibir Lina. Sang HRD Manager itu semakin kesal pada Bintang. Hari pertama Bintang sudah datang terlambat, dan sekarang Bintang kembali terlambat. Lina berbalik, bermaksud ingin pergi ke ruangannya, tapi di sana dia bertemu dengan Wilona—bagian keuangan—yang cukup dekat dengan Bintang. Tatapan Lina menatap dingin Wilona. “Wilona!” panggil Lina cukup keras. Wilona melonjak terkejut. “I-iya, Bu Lina?” “Kamu tau di mana Bintang?” tanya Lina ketus. Wilona menggaruk tengkuk lehernya. Dia sudah menghubungi Bintang, dan temannya itu masih di jalan. Namun, sekarang dia bingung harus mengatakan apa pada sang HRD Manager. Apa dia harus mengatakan Bintang masih di jalan? Atau dia mengatakan Bintang bertemu client? s**t! Bintang adalah sekretaris dari CEO Gunaraya Group. Tak mungkin Wilona mengatakan Bintang bertemu dengan client. Jika Bintang bertemu dengan client, maka pastinya bersama dengan CEO Gunaraya Group. “Wilona, kamu ini punya mulut atau tidak? Kenapa hanya diam saja?!” seru Lina jengkel luar biasa pada Wilona yang hanya diam seperti orang bodoh. Wilona meringis bingung. “S-saya—” “Ada apa ini?” Andi menginterupsi percakapan Wilona dan Lina. Tatapan Lina dan Wilona teralih pada Andi yang muncul bersamaan dengan Bara. Mereka langsung menundukkan kepala penuh rasa hormat. Tampak kedua wanita itu tak berani di kala melihat Bara sudah datang. “Kenapa kalian berdebat di pagi hari seperti ini?” tanya Andi seraya menatap dingin Lina dan Wilona. Sementara Bara hanya diam, karena Andi sudah mewakilinya bicara. Lina menatap Andi sopan. “Begini, Pak, saya sedang bertanya pada Wilona, kenapa Bintang belum datang.” Mendengar nama Bintang, membuat Bara mengalihkan pandangannya menatap kursi kerja Bintang—yang kosong. Sorot mata Bara dingin menunjukkan rasa kesal. “Jam segini Bintang belum datang?!” Nada bicara Bara meninggi, membuat semua orang di sana ketakutan. “Pak Bara … B-Bintang terkena macet.” Wilona bermaksud membela Bintang. Meski takut, tapi dia memberanikan diri. Dia tak tega pada Bintang yang pastinya akan disudutkan. Meski dia baru mengenal Bintang, tapi dia melihat bahwa Bintang adalah sosok wanita yang baik. Hal tersebut yang membuat Wilona membela Bintang dengan caranya. Bara menatap tajam Wilona. “Jika jalanan macet, kenapa tidak berangkat dari awal?” balasnya dengan nada masih sama. Nada tinggi, menusuk, dan membuat semua orang takut. Wilona menelan salivanya susah payah, bingung untuk menjawab lagi. Sebab apa yang dikatakan Bara benar. Jika jalanan macet, maka sudah seharusnya Bintang berangkat lebih awal. “Pak Bara, saya akan memberikan teguran pada Bintang yang tidak bersikap discipline,” sambung Lina sopan sambil menundukkan kepalanya. “Tidak usah! Kamu tidak usah memberikan teguran apa pun! Biar saya yang memberikan teguran padanya! Jika dia sudah datang, langsung minta dia untuk menemui saya!” seru Bara dingin, lalu dia segera berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya. Wilona bergidik ngeri mendengar ucapan Bara. Selama dia bekerja di Gunaraya Group, dia kerap datang terlambat, tetapi biasanya dia hanya ditegur Lina saja. Tidak sampai ditegur langsung oleh CEO Gunaraya Group. Andi menatap Lina. “Segera patuhi perkataan Pak Bara. Jika Bintang sudah datang, minta dia untuk menemui Pak Bara. Biarkan Pak Bara yang menegurnya!” ucapnya memberikan penekanan agar Lina tak perlu menegur Bintang. Lina mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya akan langsung meminta Bintang untuk ke ruang kerja Pak Bara.” Tanpa berkata apa pun, Andi masuk menyusul ke ruang kerja Bara. Sementara Wilona bersama dengan Lina masih bergeming di tempat mereka masing-masing. Lina memasang wajah kesal, sedangkan Wilona memasang wajah khawatir. “Ck! Masih anak baru, sudah mencari masalah!” gerutu Lina kesal. Wilona menggaruk tengkuk lehernya tak gatal, bingung harus bicara seperti apa. Tak selang lama, Bintang muncul berlari menuju kursi meja kerjanya. Seketika, langkahnya langsung terhenti mendapatkan tatapan dingin dari Lina. Tidak hanya tatapan dingin saja, tapi tatapan yang sangat tajam. Ini adalah hal yang wajar, karena Bintang tahu dia bersalah. “Bu Lina, maaf—” “Kamu masuk ke ruang Pak Bara! Beliau ingin langsung bicara denganmu!” tegur Lina dengan penuh peringatan. Bintang menelan salivanya susah payah. “P-pak Bara memanggil saya, Bu?” “Kamu masih tanya? Kamu jelas datang terlambat, Bintang Dilara!” balas Lina tajam. Bintang menghela napas gelisah. Dia sudah berusaha datang lebih cepat, bahkan dia sudah menggunakan taksi untuk berangkat. Namun, sialnya macet di Jakarta benar-benar tidak terkendali. “Iya, Bu. Saya akan segera menemui Pak Bara,” ucap Bintang lesu. Lina mendekat pada Bintang. “Kamu ini karyawan baru, tapi sudah tidak discipline dengan aturan! Jika saya menjadi Pak Bara, pasti saya akan langsung memecatmu.” Setelah mengatakan kalimat pedas, Lina langsung melangkah pergi meninggalkan Bintang. Tampak Bintang hanya bisa mengembuskan napas panjang beberapa kali. Tidak ada kata yang bisa Bintang katakan, karena dia tahu dirinya salah. Wilona menatap khawatir Bintang. “Bintang, sebenarnya kenapa kamu bisa terlambat? Apa kamu tidur terlalu malam?” “Wilona, aku sudah tidur tepat waktu, tapi sepertinya aku sangat kecapekan. Banyak hal yang aku pikirkan. Maaf, aku sudah membuat kekacauan,” ucap Bintang merasa bersalah. Wilona menyentuh bahu Bintang. “Bintang, kalau kamu memiliki masalah, cobalah untuk bercerita dengan orang terdekatmu. Mungkin itu akan mengurangi beban pikiranmu. Tentu pastinya kamu harus bercerita pada orang yang kamu percayai.” Bintang terdiam mendengar saran dari Wilona. Pertemuannya dengan Bara, tentunya membuat Bintang menjadi terkejut dan pikiran kacau. Ingin rasanya Bintang mencurahkan isi hatinya, tapi sayang dia tak mudah percaya pada siapa pun. Sejak dulu yang Bintang percayai hanya Bara. Namun, semua telah sirna, karena Bintang dan Bara telah berakhir. “Thanks, Wilona. Aku harus bertemu dengan Pak Bara sekarang. Doakan semua baik-baik saja,” ucap Bintang pelan. Wilona menganggukkan kepalanya. “Aku pasti akan mendoakanmu. Semangat, Bintang. Jangan menyerah.” Bintang tersenyum, lalu dia melangkah masuk ke dalam ruang kerja Bara. *** Bara berdiri di ruang kerjanya, menatap perkotaan dari balik kaca tinggi di ruang kerjanya. Sorot mata dingin dan tajam menunjukkan aura yang menakutkan. Andi yang sedari tadi ada di sana hanya menundukkan kepala. “Pak Bara, apa Anda ingin saya mencari sekretaris baru?” tanya Andi hati-hati. Tentu dia sangat mengenal bosnya. Hal itu yang membuatnya untuk langsung menawarkan mencari sekretaris baru. Bara masih bergeming di tempatnya, belum mengatakan apa pun. “Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Jangan memberikan inisiatif apa pun, jika saya belum memberikan perintah.” Andi mengangguk cepat. “B-baik, Pak.” Suara ketukan pintu terdengar. Bara menoleh menatap ke arah pintu. “Masuk!” titah Bara tegas. Pintu terbuka. Bintang masuk ke dalam ruang kerja Bara dengan kepala yang masih tertunduk. Andi yang ada di sana segera pamit undur diri di kala melihat Bintang sudah datang. “Pak Bara, saya minta maaf. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya. Saya siap menerima hukuman atas ketidakpatuhan saya pada aturan Gunaraya Group,” ucap Bintang di kala Andi sudah pergi. Hening, tidak ada respon apa pun dari Bara ketika Bintang sudah berucap. Bintang tak berani menatap Bara. Wanita cantik itu hanya terus menundukkan kepalanya. Tatapan mata tajam Bara bagaikan mata elang yang siap menangkap musuh. “Masih baru menjadi karyawan Gunaraya Group, tapi berani untuk bersikap tidak patuh. Menurutmu hukuman apa yang layak kamu terima, Bintang Dilara?” seru Bara dengan nada dingin, dan terdengar menusuk. Bintang menelan salivanya susah payah. “S-saya tahu saya salah, Pak. Saya sungguh minta maaf. Jika bapak ingin memotong gaji saya, saya terima.” Bara tersenyum sinis. “Menurutmu menghukummu dengan memotong gaji sudah cukup? Kamu pikir kamu bekerja di perusahaan kecil yang bisa menghukummu dengan cara mudah seperti itu?” Bintang memejamkan mata penuh rasa bersalah. Dalam hati dia menggumamkan doa agar dirinya tidak dipecat. Dia baru saja diterima bekerja. Pasti mencari pekerjaan baru tidak akan langsung dia dapatkan. Paling tidak, dia membutuhkan waktu beberapa bulan untuk mendapatkan perusahaan baru. Astaga! Bintang merutuki kebodohannya. Bara melangkah mendekat, mengikis jarak di antaranya dengan Bintang. “Jawab aku, hukuman apa yang pantas kamu dapatkan atas dirimu yang tidak patuh?!” “S-saya—” “Angkat kepalamu ketika bicara denganku, Bintang!” bentak Bara keras, membuat Bintang terkejut. Selama mengenal Bara, belum pernah Bintang dibentak seperti ini. Mata Bintang sudah hampir mengeluarkan air mata. Namun, mati-matian Bintang menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia tak ingin menunjukkan kelemahannya pada siapa pun. Perlahan, Bintang mulai mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap Bara. “S-saya minta maaf, Pak. Saya mohon jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini.” Bara menyeringai sinis mendengar ucapan permohonan yang lolos di bibir Bintang. “Kamu baru saja memohon padaku, Bintang.” Bintang berusaha bersikap setegar mungkin. “Saya salah. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya. Maafkan saya, Pak. Anda boleh menghukum saya, tapi saya mohon jangan pecat saya, Pak.” Bintang merasakan gugup di kala jarak Bara sangat dekat dengannya. Aroma parfum maskulin Bara menyeruak ke indra penciumannya. Debaran jantung berpacu sangat keras, tapi Bintang berusaha untuk tak salah tingkah. “Kamu siap menerima hukuman apa pun, Bintang?” seringai licik muncul di bibir Bara. Bintang mengangguk lemas. “Iya, Pak. Saya mohon jangan pecat saya. Hukuman apa pun saya siap menerimanya, Pak.” Bintang memohon pada Bara demi Bima. Dia siap melakukan apa pun asalkan memberikan kehidupan yang baik untuk putranya. Uang di tabungan Bintang sudah tidak banyak. Jika dia dipecat, bagaimana dia bisa mengidupi putranya? Sementara apartemen yang dia tempati sekarang saja masih menyewa. Bara menarik dagu Bintang dengan tangannya, tatapannya menatap dingin, dan tajam Bintang. “Besok malam, temui aku di alamat yang aku berikan padamu. Aku akan memberitahumu hukuman apa yang pantas kamu dapatkan.” Bintang terpaku terkejut. “Besok malam, Pak? Kenapa tidak sekarang?” Bara tersenyum sinis. “Aku ingin mempersiapkan hukuman untukmu.” Bintang menelan salivanya susah payah. Sentuhan jemari Bara di dagunya membuat sekujur tubuhnya merinding. Setelah sekian lama, Bintang kembali merasakan sentuhan Bara. Sentuhan yang dia pikir tak akan lagi dia rasakan. “P-pak, t-tapi—” “Tidak ada bantahan, Bintang Dilara. Kamu bekerja di perusahaanku. Jika kamu tidak suka, maka segera ajukan surat pengunduran diri!” seru Bara dengan nada penuh ancaman. Mata Bintang sudah berkaca-kaca. Dia tak pernah mengira Bara akan sekejam ini padanya. Sepertinya dendam dalam diri Bara yang membuat pria itu sangat kejam padanya. Bintang memaklumi, karena apa yang dia lakukan pada Bara sangat jahat. “Baik, Pak. Saya akan menuruti keinginan Anda,” ucap Bintang akhirnya dengan nada yang sedikit tercekat. Bara melangkah menjauh dari Bintang, dan menyeringai kejam. “Sudah seharusnya kamu mematuhiku. Ingat, kamu hanya karyawan biasa di sini. Kamu tidak memiliki hak untuk melawan. Jika tidak suka, segera ajukan surat pengunduran diri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN