Bab 8. Lembur Sampai Malam

2013 Kata
Bintang melangkah keluar dari ruang kerja Bara. Raut wajahnya sangat lesu menunjukkan jelas ada beban pikiran yang mengusik ketenangannya. Ancaman dari Bara berputar di kepalanya. Bohong jika Bintang tidak takut, jelas saja dia khawatir akan ancaman Bara. Kondisi sekarang telah berubah total. Bara memiliki kekuasaan yang bisa membuat Bintang terpuruk. Fakta seperti itu, dan Bintang sama sekali tidak bisa mengelak akan kenyataan yang ada. Bara yang dia kenal dulu sangat berbeda jauh dengan Bara yang sekarang dia kenal. Bara sekarang penuh dendam dan menatap Bintang dengan tatapan kebencian mendalam. Jika saja Bintang mendapatkan penawaran bekerja di perusahaan lain, maka pasti Bintang akan bekerja di perusahaan lain. Namun kondisinya mencari pekerjaan sangat sulit. Bintang duduk di kursi kerjanya dengan raut wajah muram. Kesedihan membentang. Sejak dia dibentak oleh Bara, hatinya sangat sakit dan terluka. Ingin sekali dia menangis di depan Bara, tapi dia tak menahan diri karena tak ingin dianggap sebagai wanita lemah. Bintang sadar seribu persen, bahwa ini adalah kesalahannya. Harusnya dia tak melakukan kesalahan. Menjadi karyawan baru harusnya menunjukkan sikapnya yang patuh pada aturan, tapi malah dia datang terlambat. Sangat wajar jika Bara marah. Tiba waktunya jam makan siang. Wilona melangkah menghampiri Bintang yang masih duduk di kursi kerjanya. Tampak Wilona menunjukkan jelas kekhawatirannya pada Bintang. Sebab, dia tahu bagaimana tadi Bara marah. “Bintang, are you okay?” tanya Wilona khawatir pada Bintang. Bintang hanya diam, tak menyadari kehadiran Wilona. “Bintang?” tegur Wilona lagi di kala Bintang tetap diam. Bintang melonjak terkejut. “Eh, Wilona? Kamu di sini?” Pikiran yang kacau, serta rasa khawatir yang membentang membuat Bintang Dilara menjadi tidak fokus. Bahkan dia tak sadar kalau Wilona datang menghampirinya. Wilona menghela napas dalam. “Aku sudah memanggilmu dua kali, Bintang.” Bintang menatap Wilona dengan tatapan bersalah. “Maaf, aku nggak sadar kamu pangil aku.” “Nggak masalah, Bintang. Ayo kita makan siang. Ini sudah jam makan siang,” ajak Wilona seraya menarik tangan Bintang. Bintang melirik arloji di pergelangan tangannya, dia benar-benar tak sadar bahwa sudah jam makan siang. “Makasih udah ingetin aku jam makan siang. Kalau aja kamu nggak nyamperin aku, pasti aku nggak sadar kalau udah jam makan siang.” Wilona tersenyum sambil memeluk lengan Bintang. “Itu namanya teman. Lagi pula, aku nggak suka makan sendirian. Ayo kita makan bersama.” Bintang mengangguk merespon ucapan Wilona. Detik selanjutnya, dia melangkah menuju lift bersama dengan rekan kerjanya itu. Bersyukur baru bekerja di Gunaraya Group, sudah membuat Bintang memiliki teman. *** Gunaraya Group memberikan fasilitas terbaik untuk para karyawan. Salah satunya adalah makan siang gratis. Bekerja di perusahaan bergengsi itu sangat menjadi impian banyak orang. Gaji yang layak, dan fasilitas yang baik. Tentunya tidak sembarangan orang bisa bekerja di sana. Bintang dan Wilona duduk di kursi ujung setelah mereka sudah mengambil makan siang mereka. Biasanya para karyawan mengobrol setiap divisi. Namun, Wilona bagian keuangan tak akrab dengan rekan kerja sesama divisi. “Wilona, kamu nggak gabung sama bagian keuangan lain?” tanya Bintang lembut sambil menatap Wilona. Wilona meminum es jeruk sambil menggeleng. “Nggak. Aku nggak suka sama mereka. Mereka suka gossip yang nggak penting. Kalau aja bukan karena gaji bagus, aku udah ngundurin diri dari sini.” Bintang tersenyum menanggapi cerita Wilona. Jujur, Bintang juga tidak suka bertemu dengan seseorang yang suka gossip. Menurutnya itu hanya membuang-buang waktu saja. Pun memang Bintang tak suka ikut campur dengan urusan pribadi orang. Wilona menatap Bintang yang sedang menikmati makanan. “Bintang, tadi kamu udah ketemu sama Pak Bara?” “Udah.” “Gimana? Semua baik-baik aja, kan?” Bintang terdiam sebentar. “Nggak bisa dibilang baik-baik aja, tapi setidaknya untuk sekarang ini masih aman.” Kening Wilona mengerut dalam, bingung dengan maksud ucapan Bintang. “Wait, apa maksud ucapanmu, Bintang?” Bintang menghela napas dalam. “Pak Bara bilang nanti aku akan mendapatkan hukuman, tapi sekarang aku masih belum tahu hukuman apa.” “Tapi bukan dipecat, kan?” tanya Wilona lagi khawatir kalau Bintang dipecat. Sebab, jika Bintang dipecat maka dia tak akan memiliki teman lagi di kantor. Bintang mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya. “Aku nggak ngerti. Pak Bara buat aku bingung. Lihat aja nanti, Wilona.” Wilona manggut-manggut. “Pikirin aja hal-hal positive. Aku yakin Pak Bara nggak sekejam itu. Waktu masih ada Pak Galih, setiap karyawan yang nggak patuh dikasih surat peringatan sama pemotongan uang bonus. Mungkin aturan Pak Bara dan Pak Galih nggak beda jauh.” “Aku berharap hukumannya nggak berat. Aku butuh pekerjaan,” balas Bintang menanggapi. Jauh dari dalam lubuk hati Bintang, dia merasa bahwa Bara akan jauh lebih kejam. Sebab di sini bukan tentang pekerjaan atau tidak tertib, di sini tentang Bara yang menaruh dendam padanya. Wilona menyentuh tangan Bintang. “Kamu tunjukin aja kinerja kamu. Aku yakin kalau kamu bekerja dengan baik, nggak mungkin Pak Bara sembarangan mecat orang.” Bintang mengangguk merespon ucapan Wilona. Saat Bintang dan Wilona sedang mengobrol, tiba-tiba saja tatapan banyak karyawan lain di sana tertuju ke arah pintu. Bintang dan Wilona sama-sama mengalihkan pandangan mereka—menatap terkejut Bara yang datang bersama dengan Andi. “Oh My God, Pak Bara makan di kafe khusus karyawan,” bisik Wilona pelan pada Bintang. Bintang terdiam sebentar, menatap dalam Bara yang melangkah masuk ke dalam kafe khusus karyawan. “Bara memang menyukai hal-hal sederhana.” Kening Wilona mengerut dalam mendengar ucapan Bintang. “Bintang, memangnya kamu mengenal Pak Bara dengan baik? Perasaan, kamu baru menjadi sekretarisnya Pak Bara.” Bintang panik seraya merutuki dirinya yang bicara sembarangan. Kenapa malah dia mengatakan hal yang seakan membuat Wilona curiga? Sungguh, Bintang merasa benar-benar sangat bodoh. Jika sudah seperti ini, maka pasti Wilona akan curiga padanya. “Ah, maksudku, Pak Bara terlihat lebih sederhana daripada CEO di luar sana,” kata Bintang cepat. Wilona menatap Bintang dengan tatapan bingung. “Sederhana dari mananya, Bintang? Aku lihat pakaian Pak Bara semua merk ternama. Barang-barang Pak Bara juga nggak sembarangan orang bisa punya. Lihat aja mobil Pak Bara, itu mobil sport keluaran terbaru. Jadi, sederhana apa yang kamu maksud? Aku nggak paham dengan sudut pandang kamu.” Bintang meringis mengumpati kebodohannya. Lihatlah sekarang dia menjadi bingung untuk merespon perkataan Wilona. Namun, tentu Bintang tidak akan membiarkan Wilona sampai tahu tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Bara. “Wilona, aku hanya menembak sembarangan saja,” balas Bintang pada akhirnya yang memilih mengatakan menebak secara sembarangan. Tak mungkin dia memberi tahu Wilona tentang dirinya yang mengenal Bara sejak lama. Wilona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Bara semakin mendekat ke meja Bintang, dan sontak membuat Bintang menjadi panik. Aroma parfume maskulin yang dipakai Bara menyeruak ke indra penciumannya—membuat bulu kuduk Bintang merinding. “Selamat siang, Pak Bara,” sapa Wilona sopan di kala Bara berhenti di depannya. Bintang panik, tapi dia berusaha bersikap tenang. “Selamat siang, Pak Bara.” Bara hanya mengangguk singkat menanggapi sapaan itu, lalu tatapannya menatap Bintang dengan dingin. “Bintang, setelah jam makan siang, segera temui saya. Ada pekerjaan penting yang harus kamu lakukan.” “Baik, Pak,” jawab Bintang sopan, dan patuh. Andi menatap Wilona. “Anda Wilona Amelia, kan?” Wilona mengangguk menatap sopan Andi. “Benar, Pak Andi. Saya Wilona Amelia bagian keuangan di Gunaraya Group.” “Ada beberapa masalah di laporan yang Anda buat. Tolong segera temui saya bersama dengan Manajer Keuangan Anda,” balas Andi penuh wibawa. Wilona panik. “K-kesalahan, Pak?” Andi mengangguk. “Ya, ada beberapa kesalahan yang Anda buat.” Wilona menelan salivanya susah payah. Rasa panik yang membentang membuatnya menjadi bingung tak menentu. “B-baik, Pak. Setelah makan siang, saya akan menemui bapak bersama dengan manajer saya.” Tanpa mengatakan apa pun, Bara melangkah pergi meninggalkan Bintang. Andi yang setia di samping Bara segera mengikuti bosnya itu. Sementara Bintang dan Wilona sama-sama dilanda kepanikan. “Ya Tuhan, Bintang, kira-kira kesalahan apa yang sudah aku perbuat? Matilah aku.” Wilona menjadi sangat panik. Bintang yang panik, memilih berusaha tenang. Sebab jika dia ikut panik seperti Wilona, maka semua akan menjadi sangat kacau. Wanita cantik itu mengatur napasnya sambil menyentuh tangan Wilona. “Kamu bilang supaya aku berpikir positive, kenapa sekarang kamu malah berpikir negative?” balas Bintang membalikkan ucapan Wilona. Wilona menggigit jarinya. “Memberikan nasihat itu memang mudah, tapi kita yang menjalankannya itu sangat berat.” Bintang terkekeh mendengar ucapan Wilona. Meski dia juga takut, tapi dia memiliki teman yang sangat lucu. Jadi, paling tidak menghibur dirinya yang dilanda rasa khawatir dan cemas. *** Bintang tak mengerti kenapa harus Bara menemuinya di kafe khusus karyawan. Padahal Bara bisa memerintahkan orang untuk menemuinya. Tindakan Bara tadi sempat membuat para karyawan berbisik-bisik membicarakannya. Namun, untungnya Andi juga turut bicara dengan Wilona. Jadi, para karyawan tak terlalu curiga pada Bintang. Saat tiba di depan ruang kerja Bara, yang dilakukan Bintang adalah mengetuk pintu. Tak selang lama, Bara memberikan perintah untuk Bintang segera masuk. Bintang patuh, masuk ke dalam ruang kerja Bara dengan langkah pelan. “Pak Bara,” sapa Bintang kala memasuki ruang kerja Bara. Bara duduk di kursi kebesarannya, dan memberikan tatapan dingin pada Bintang yang baru saja datang. “Mendekatlah!” Bintang terkejut. “Mendekat?” Bara mendecakkan lidahnya. “Jangan percaya diri! Aku ingin kamu mempelajari dokumen! Tidak mungkin aku memberikanmu dokumen, jika kamu saja posisi berdiri jauh dariku!” “Ah, begitu. M-maaf, Pak.” Buru-buru, Bintang melangkah mendekat ke arah Bara. Bara melemparkan dokumen di tangannya ke wajah Bintang. Sontak, Bintang menangkap dokumen itu dengan cepat. Ya, tindakan Bara benar-benar seakan merendahkan Bintang. Namun, Bintang tak bisa berbuat apa pun, selain menerima tindakan Bara yang sangat tak sopan itu. “Baik, saya akan mempelajari dokumen ini, Pak,” jawab Bintang sopan. “Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Pak? Jika tidak, saya permisi kembali ke meja kerja saya.” Lanjutnya penuh kepatuhan. “Pergilah! Aku akan memanggilmu, jika aku membutuhkanmu!” balas Bara acuh, dan dingin. Bintang menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Bara. Tampak sorot mata Bara menatap dingin Bintang yang mulai lenyap dari pandangannya. Aura wajah penuh rasa dendam begitu terlihat jelas. *** Butuh waktu yang tidak sebentar untuk Bintang, mempelajari pekerjaan yang diberikan oleh Bara. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Bintang tak kunjung selesai mempelajari dokumen itu. Bintang sangat teliti, tidak mau sembarangan dalam mempelajari sesuatu. Seluruh karyawan sudah pulang lebih dulu, termasuk Wilona. Hanya tinggal Bintang di sana. Ah tidak, bukan hanya Bintang saja tapi Bara sejak tadi juga belum keluar dari ruang kerjanya. Entah apa yang dilakukan Bara, yang pasti Bintang tak berani bertanya. “Capek sekali,” gumam Bintang sambil merentangkan kedua tangannya. Pintu ruang kerja Bara terbuka. Bintang yang sedang merentangkan kedua tangan melonjak terkejut. Sontak, wanita itu segera menurunkan tangan, dan memasang wajah tenang di balik kepanikan. “Selamat malam, Pak Bara,” sapa Bintang sopan kala Bara keluar dari ruang kerja. Bara menyipitkan matanya tajam pada Bintang. “Kenapa kamu belum pulang?” “Saya masih mempelajari dokumen yang Anda berikan, Pak,” jawab Bintang pelan. Bara melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Ini sudah malam. Segera pulang. Lanjutkan pekerjaanmu besok” titahnya tegas. Bintang mengangguk cepat. “B-baik, Pak. Saya akan Bersiap untuk pulang.” Tanpa mau berkata lagi, Bara melangkah pergi meninggalkan Bintang begitu saja. Tampak embusan napas lega Bintang lolos di bibirnya, di kala Bara sudah pergi. Selama menjadi karyawan Gunaraya Group, Bintang selalu membentengi diri seakan tak mengenal Bara. Bahkan wanita itu selalu bicara dengan ucapan formal, tapi lain halnya dengan Bara. Meski nada bicara Bara sangat kejam, tapi Bara bicara dengan Bintang seakan orang yang mengenal lama. Memikirkan itu membuat Bintang tersenyum. “Astaga, Bintang, apa yang kamu pikirkan?” gerutu Bintang seraya menepuk keningnya. Dia merapikan meja kerjanya, lalu mengambil tas dan ponselnya, melangkah pergi meninggalkan kursi kerjanya. Pulang malam memiliki sedikit keuntungan yaitu halte busway tidak terlalu padat. Tadi pagi Bintang sudah menggunakan taksi, sekarang waktunya dia berhemat menggunakan busway. Tidak mungkin setiap hari dia menggunakan taksi. Bisa-bisa seluruh tabungannya habis. Saat Bintang memasuki busway, dia sama sekali tak menyadari dari kejauhan Bara menghentikan mobilnya, menatap Bintang dengan tatapan penuh arti. Pria tampan itu menunjukkan amarah, tapi semua dia tahan seakan belum waktunya untuk diledakkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN