21. Jatuh Sakit

2564 Kata
Ya Allah,Kalau saat ini adalahnya waktunya untuk ku jatuh cinta. Maka bukakanlah hatiku kepada orang yang tepat. Teguhkan lah perasaanku untuknya. Yakinkanlah pilihanku padanya. Namun jika bukan, maka jauhkan ia dari ku. “Mulai malam ini, jam, menit dan detik ini juga… Elo resmi jadi pacar gua.” Ujar bara secara lugas. Lexa yang sedang mengalihkan pandangannya kea rah lain sontak langsung menengok kearah bara. Mata nya membola dan mulutnya sedikit terbuka. Lexa terkejut? Sangat! Ada apa dengan bara? “Bar, gua paling nggak suka perasaan lo bawa-bawa kedalam permainan” jawab lexa dengan aura dingin yang kembali muncul. Lexa menatap tajam bara. Ia tak suka jika perasaan si ikut sertakan dalam bayaran atas kekalahan nya. “Gua serius! Lo nggak ngerti kenapa gua minta dinner karena lo kalah? Lo nggak ngerti kenapa gua bisa deket sama lo sedangkan sama cewek lain nggak? Dan saat ini gua udah ungkapin perasaan gua pun lo tetep gak percaya?” tanya bara dengan nada yang cukup dingin juga. Pokoknya ia tak boleh gagal. Ia harus meyakin kan lexa. Lexa terdiam. Ia memang tak ingin menyangkut pautkan perasaan. Ia pun selalu berfikir positif bahwa bara tak mungkin menyukainya, apalagi secepat ini. “Gua harus buktiin apa sama lo?” tantang bara dengan penuh ketegasan. Tatapan bara masih intens pada lexa. Lexa membuang tatapannya kearah lain. Lalu ia memandang air danau yang terlihat hitam akibat gelapnya malam. “Terjun ke danau sekarang!” Jawab lexa dengan cepat. Ia menjadi muak dengan bara yang membawa-bawa perasaan. Bara cukup terkejut dengan kalimat yang dilontarkan lexa. Gila aja, malam-malam gini terjun ke danau?. Air danau sangat dingin dan sudah pasti ia akan malu kalau tiba-tiba terjun kedanau. Bara menatap tajam lexa. Dan lexa yang masih menatap bara tak kalah tajam. Sepertinya, apa boleh buat, lexa harus takluk ditangannya. “Apa segitu lo nggak percaya nya sama gua?” tanya bara. Bara masih terlihat datar. Lexa mendengus tak percaya bahwa bara akan membuat perasaan menjadi sebuah candaan. Ia muak dengan hal ini, ia muak dengan kata-kata bara, ia muak melihat bara. Lexa bangkit dari duduknya dan meninggalkan bara yang masih terduduk diam. “Mati aja lo bar.” Gerutunya sembari melangkah. ~Byuuurrrrr…!!!~ baru bebrapa langkah kaki lexa berjalan, suara benda jatuh ke air sampai ke telinga lexa. Langkah lexa terhenti, Lexa berdiri mematung tanpa membalikan badannya. Dapat ia rasakan bahwa orang-orang disekitarnya berdiri dan berlarian menuju arah belakang tubuhnya. “YA AMPUN!!! TOLOOONG! ETA AYA NU TERJUN KA CAI..” suara  teriakan ibu-ibu menggema. Para pelanggan yang lain pun langsung menghampiri. Lexa perlahan membalikan tubuhnya. Ia melihat tak ada bara di meja bekas mereka makan tadi. Jantung lexa terasa copot, Kepalanya terasa pusing, napas lexa memburu, matanya yang melotot tergenangi air mata. Lexa berjalan cepat menghampiri kerumunan tersebut. Badannya mulai terasa panas bercampur lemas. Ia menerobos kerumunan tersebut dengan sekuat tenaga, berharap kalau yang masuk ke dalam air danau itu bukan bara. Kalau ada apa-apa dengan bara, lexa tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Sampailah di batas sekat resto dan ia tak melihat bara. “BARA!! BARA!! LO JANGAN BECANDA BARA!” Teriak lexa. Air matanya sudah berderai di pipi. Namun bara masih tak muncul kepermukaan. Lexa tak tau apakah bara bisa berenang atau tidak. Lexa menyesal kenapa ia meminta bara melakukan hal yang belum tentu bara bisa. Mulutnya ini memang b******k. Lexa bersiap menanggalkan tasnya dan sepatunya ia memanjat batas sekat resto untuk terjun ke danau. Namun seorang pelayan laki-laki menahan lexa untuk terjun. “Jangan teh! Teteh disini aja. Biar saya saja yang turun” ujar laki-laki tersebut dan langsung terjun ke danau. Lexa segera berlari memutar turun ke pinggiran danau tanpa alas kaki yang sudah ia lepas. Lelaki resto itu berhasil menemukan bara. Bara di letakan di atas rerumputan pinggir danau. Wajah tampan itu terpejam dengan baju yang basah kuyup. Lexa menyugarkan rambut bara dari dahi nya, lalu menyeka air di sekitar wajahnya. Dengan air mata yang masih mengalir, lexa terisak. Ia bodoh. Ia merasa totol sudah membuat bara nekat dan celaka. ‘Ya Allah apakah bara benar-benar menyukai ku? Kenapa ia senekat ini?’ ujar benak lexa. “Bar.. bangun” Lexa mencoba memompa d**a bara. Ia berharap berhasil seperti saat ia menolong Axen yang tenggelam akibat kram perutnya. Lexa terus memompa d**a bara sambil terisak kecil. Ia menyesali perbuatannya. Dalam hati lexa terus berdoa agar bara bangun. Lalu ia akan menerima segala hukuman dari bara jika marah padanya. Bahkan ia siap di tampar oleh bara ataupun di caci. “Bara.. bara.. bangun please gua mohon” lexa masih berusaha memompa. Orang-orang di sekelilingnya menatap lexa dengan iba dan sedih. Dan ada beberapa yang mengejek. Lexa tak mempedulikan keadaan sekitar. Ia hanya ingin bara bangun. Jujur. Lexa akan jujur, hatinya sakit saat ini. melihat bara yang tak bereaksi membuat kesakitan tersendiri pada hatinya. Nafasnya terasa sesak dan perih. Lexa takut kehilangan bara. Ia tak mau kehilangan seseorang yang pernah memeluknya dengan hangat. Pelukan hangat dan suara lembut yang pernah ia rasa dan ia dengar. Ya. Lexa akan mengakui, jantungnya telah berdebar kencang untuk bara. Ia menyukai senyum bara. Dan ia menyukai aroma tubuh bara saat memeluknya di dalam kincir dulu. “Bar....Bara… bangun. Hiks.. hiks..” lirih lexa yang telah melemah. Tangannya hanya bisa memukul-mukul pelan d**a bara. Tenaganya sudah habis untuk mencoba. Lemas sudah tubuh lexa saat bara tak merespon apapun yang ia lakukan. “Maafin gua bara… maaf…hiks… hiks…” lirih lexa  “Gua Cuma gak suka lo bawa-bawa perasaan sebagai candaan, maaf, maaf kalo gua Cuma berfikir perasaan lo candaan. Ini berat banget buat gua bar.” Lexa kembali memukul-mukul pelan d**a bara. Ia semakin terisak hebat. Haruskah ia ungkapkan perasaannya? Namun ia takut akan kecewa. Tapi semakin lama- semakin sesak saat ia menyadari bahwa ia juga menyukai bara. “Maafin gua, maaf telat menyadari semuanya. Hiks..hiks.. gua sayang sama lo bar…” ya. Akhirnya lexa mengakui perasaan itu. Perasaan yang ia tahan sekuat tenaga, perasaan yang ia coba abaikan, perasaan yang tak ia rasakan walaupun jantungnya berkehendak lain. Ia mengakui dengan nada lemah. Akan kah bara mendengarnya? Seutas senyum terbit di bibir tipis itu. Bibir yang membiru akibat kedinginan. Akhirnya perjuangan tak sia-sia. (Kena lo Lexa)’ “Apa gua beneran harus mati dulu baru lo jujur lex?” suara bara mengejutkan lexa dan orang-orang sekitar. Lexa yang sedang menunduk di perut bara terlonjak kaget dan langsung menegakkan tubuhnya. Ia melihat bara yang telah membuka mata nya dengan senyum jahilnya dan bonus satu kedipan mata genit untuk lexa. Lexa memundurkan tubuhnya menjauh dari bara dengan ekspresi wajah terkejutnya. Jadi? Bara hanya pura-pura?” Bara bangkit dan terduduk di hadapan lexa. Ia menelisik tampilan lexa. Mata lexa masih memerah dan air mata masih menggantung di wajahnya. Rambut yang di ikat rapi sekarang sudah berantakan dengan rambut yang mencuat sana sini. Terlihat juga kakinya yang tak memakai sepatu. Yah, lexa berantakan. Bekas kesedihan masih terlihat diraut wajah yang sedang terkejut saat ini. “Welcome to my world. Pacar ku!” ujar bara dengan senyum tengilnya ‘(Welcome to your hell baby’). “Wooo……oooo” “Ciee…cieeee “ sorak sorai orang-orang di sekiling mereka. Ahh.. lovey dovey sekali mereka. Sekarang lexa yang gantian ingin terjun ke danau. Ia benar-benar malu telah mengungkapkan isi hatinya dan ternyata ia di bohongi. Lexa segera bangun tanpa kata. Ia malu, ia ingin pulang, ia tak mau ketemu bara lagi. Saat lexa mencoba menerobos kumpulan orang-orang, bara dengan sigap berdiri dan mencegah lexa pergi. Bara menarik tangan lexa dengan cukup kuat, dan akhirnya tubuh lexa berbalik dan menabrak tubuh bara, yang otomatis masuk kedalam pelukan bara. Lexa mencoba memberontak, namun tenaganya kalah dengan bara. Bara memeluk lexa dengan erat agar tak terlepas. Bara menyandarkan kepalanya di ceruk leher lexa, dan membisikan sebuah kalimat dengan lembut. “Aku sayang kamu Alexa Pradiana Pradja” Lexa sedikit terlonjak. Benarkah bara menyayanginya? Benarkah bara menyukainya? Namun setelah beberapa saat bara mengusap-usap punggung lexa dan kepalanya. Lexa merasa kan perasaan itu lagi. Ia menyukai bara, ia sungguh menyukai bara. Lexa terisak dan menangis dalam pelukan bara. ‘Gua sangat benci kakak lo lexa. Dan maaf lo juga harus nanggu apa yang Sabrina rasain’ ujar benak bara “Lo jahat!” lirih lexa. Bara tersenyum. ‘Kakak lo jauh lebih jahat lexa’  Orang-orang disekitar pun tersenyum. Malah seorang ibu-ibu bersiul cuit..wiwiw… melihat adegan sepasang manusia tersebut. Namun saat keromantisan belum berakhir, lexa bengerang dan bergelak gelisah di pelukan bara. Bara melepaskan pelukannya, ia melihat wajah yang memerah. “Panas.. gatal..” lirih lexa. Bara bingung ada apa dengan lexa? “Kamu kenapa?” tanya bara. Ia telah mengubah gaya bicaranya dengan lexa. Ia ingin tampak lebih meyakinkan. “Panas bar, gatal!” ujar lexa sambil menggosok-gogok leher dan tangannya. Tiba-tiba kepala lexa pusing ia memegangi kepalanya. ~BRUGHHH..!!~ Lexa jatuh pingsan. ‘Akh… kenapa lagi sih ni anak? Bikin repot aja!’   Masih dengan baju basahnya bara membopong lexa ke UGD rumah sakit. Ia membaringkan lexa di brangkar rumah sakit. Bara tak tau apa yang terjadi pada lexa, namun yang pasti ia cukup khawatir. Ia mengingat perasaan ini kurang lebih ia dapatkan di masalalunya. “Keluarga pasien?” tanya seorang dokter laki-laki. “Eh.. iya.. iya.. gimana keadaan lexa dok?” tanya bara. “Apa pasien habis makan sesuatu sebelumnya?” “Makan?” tanya bara yang bingung. Lalu ia tampak berfikir. “Ah, iya dok.. dia makan udang goreng tepung” jawab bara. “Oke. Berarti dia Alergi udang. Lain kali tolong larang dia untuk makan udang terlalu banyak. Dan ini efek dari kalau dia makan udang terlalu banyak. Pasien harus dirawat sekitar dua hari karena ada beberapa syaraf melemah akibat alergi dan lebih parahnya lagi dapat menyebabkan kematian. Jadi mohon untuk melarang pasien memakan udang walaupun dalam jumlah sedikit.” Jelas dokter yang telah memeriksa lexa. Lalu dokter pergi berlalu. Dan bara langsung memasuki ruang rawat lexa. “Lexa…” panggil bara. Lexa masih menutup mata nya. Melihat wajah pucat lexa, membuat bara kasihan. Ternyata adik dari musuhnya ini mempunyai alergi yang cukup bahaya sampai membuat ia harus dirawat seperti ini. hati bara tergerak untuk mencium kening lexa. Dengan tulus bara memberi kecupan di kening lexa. Entah kenapa ia ingin melakukan itu. Melihat lexa lemah, ada sedikit perasaan sedih. Namun segera ditepisnya. Ponsel dalam tas lexa berbunyi. Tertera bahwa Mama is calling… bara cukup ragu untuk mengangkatnya. Namun ia tak mungkin membiarkan lexa sendiri sedangkan ia harus pulang dang anti baju. Bara putuskan untuk mengangkatnya. “Ha….. “HALO ASSALAMUALAIKUM!!.. EDEK! KAMU TEH DIMANA? INI TEH SUDAH JAM SAPULUH MALAM DEK!!. KUNAO TACAN PULANG?!” alia mengegas langsung saat ponsel lexa tersambung. Bara langsung menjauhkan ponsel lexa dari telinganya. Gertakan mama lexa sungguh luar biasa. “Halo Walakumsalam. Maaf tante saya temannya lexa.” Ujar bara “Loh, kamu teh siapa? Ko hp anak saya ada di kamuh? Jangan-jangan macem-macem ya maneh!” alia cukup khawatir karena yang mengangkat telpon adalah laki-laki. “Nggak tante. Saya nggak apa-apain lexa. Saya Cuma gendong lexa aja tadi tan” jawab bara tak sadar karena ia juga gugup berbicara dengan orang tua lexa. “APA?! DIMANA KAMU HAH?! JANGAN MACAM-MACAM MANEH SAMA ANAK SAYAH!” Alia semakin menggila. Ia kaget bahwa anaknya di gendong oleh laki-laki. “E..eh.. tante nggak maksud saya nggak gitu. Lexa tadi pingsan tante. Dia ada dirumah sakit sekarang” ujar bara. “Lexa kenapa? Kenapa dia pingsan?” sekarang suara evan lah yang terdengar. “Lexa pingsan om, kata dokter dia alergi makan udang.” Jelas bara dengan singkat. “Udang? Kenapa dia bisa makan udang?... rumah sakit mana kalian berada?” tanya evan. Ia cukup panic. Karena alergi lexa cukup parah jika sudah kambuh. Bahkan bisa dirawat sampai seminggu. “Di RS. MEDIKA BANDUNG om.” Evan mengerti dan mematikan sambungannya. Bara kembali memperhatikan lexa yang masih belum sadar. Ia membelai rambut lexa. Tak menyangka saat ini lexa adalah pacarnya, kekasihnya, yang adalah adik dari musuhnya. Walaupun dalam konteks kekasih balas dendam, ya bisa dibilang seperti itu. “Lexa, lo tenang aja. Gua bakan bermain halus sama lo. Sampai Alex merasakan apa yang gua rasakan” ujar bara dengan senyum jahatnya. Namun anehnya,ada sedikit kebahagiaan mengetahui lexa juga menyukainya. Lexa sudah dipindahkan ke ruang rawat. Dan sekarang suster sedang mengatur selang infuse lexa. Bara merapihkan selimut lexa, dan sekali lagi mencium kening lexa. Lalu setelah itu bara pamit pulang pada suster. “Suster, tolong jaga dia sebentar ya. Saya mau pulang ganti baju saya yang basah” ucap bara sambal membelai halus puncak kepala lexa. Dan kini ia harus pergi karena baju bara yang masih basah membuat bara kedinginan dan bergegas pulang. Tak lama berselang, alia dan evan sampai di rumah sakit. Ia menanyakan informasi ruang rawat atas nama Alexa Pradiana Pradja. Alia dan evan langsung bergegas ke kamar rawat inap lexa di lantai dua. Melihat putrinya yang tak sadar membuat alia sangat cemas. Ia takut alexa kolaps kembali akibat udang. Alexa alergi udang, namun ia sungguh susah di atur untuk tak makan udang. Itu salah satu makanan kesukaan lexa. Makanya alia tak pernah sekali pun menyisip kan udang di menu rumahnya. Karena ia tau, lexa tak akan tahan untuk tak memakan udang. “Ya Allah, gusti.. lexa, neng geulis mamah, kunaon ih edek makan udang sagala dek..” ujar alia sambil membelai wajah lexa. “Sus, keadaan anak saya gimana?” tanya evan pada suster yang menjaga lexa. “Nona lexa baik pak. Hanya saja beberapa syaraf sensitifnya masih lemah, jadi mungkin anak bapak teh, akan sadar besok” jelas suster. Evan mengangguk mengerti. “Terus, yang membawa anak saya siapa sus?” tanya evan kembali. “Oh.. itu.., mungkin pacar anak bapak. Dia sangat sigap tadi saat anak bapak pingsan. Malah tadi teh si aa nya bajunya basah kuyup. Kesian wajahnya lemas dan khawatir saat melihat non lexa.” Jelas sang suster sambil tersenyum saat melihat ke manisan bara pada lexa. “Pacar? Ari si edek the emang punya pacar pah?” tanya alia. “Papah juga nggak tau mah. Kamu tau siapa namanya?” tanya evan pada suster. “Maaf pak, saya tidak tau. Cuman teh, aa nya kasep pisan, meuni tinggi, badannya bagus, terus teh suaranya teh lakik pisan.” Sang suster sangat semangat menjelaskan cirri-ciri bara. Evan mengerutkan keningnya. Siapa lelaki itu? Alex tak menceritakan jika lexa dekat dengan seseorang. Namun tak penting saat ini, yang penting lexa telah di tangani. Anak gadis semata wayangnya tengah terbaring lemah.   Ini adalah hari kedua lexa dirumah sakit. Raya sedang menemani lexa yang sedang bersiap-siap pulang. Hari ini lexa boleh pulang. Karena alerginya tidak terlalu parah. Hanya disarankan dokter agak tak memakan udang. Dan setelah itu ia mendapat ceramah double dari mamah dan papahnya. Mereka benar-benar membuat kuping lexa panas dan gatal. Belum lagi Axen dan Excel yang ikut memarahinya lewat video call, dan kakak sulungnya alex yang juga menceramahinya. Aduhhhh…! Seandainya kuping lexa bisa di turn off kan, ia akan memakai mode turn off agar gendang telinganya tak panas mendengar omelan keluarganya. “Lexa.. ini semua udah aku masukin tas barang-barang kamu. Ada lagi yang perlu diberesin?” tanya raya. Lexa tersenyum simpul dan menggeleng sebagai tanda jawabannya. Pikirannya saat ini sedang tertuju pada kejadian beberapa hari yang lalu. Ia teringat pernyataan bara terhadapanya, bahwa lelaki itu menyukainya. Dan bara mengatakan bahwa sekarang ia adalah kekasih dari seorang bara. Tapi…. Kemana bara saat ini? kenapa bara tak muncul? Apa bara menyesal telah mengutarakan isi hatinya pada lexa? Itulah yang lexa pikirkan saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN