20. Dinner Kedua

1580 Kata
            Bara POV:             Hari ini gua mulai menjalankan rencana yang gua susun. Seminggu ini, gua sengaja menjaga jarak dari lexa. Biasalah… tarik ulur. Gua bakal buat dia perlahan-lahan respect sama gua, care, dan… jatuh cinta terpesona tentunya. Lo tau, Sekuat-kuatnya dan sejutek-juteknya seorang cewek, mereka tetap sama. Lemah! Tinggal mainin aja perasaan mereka, deketin, kasih perhatian, bikin baper, buat dia melayang, dan… lo bakal dapetin apapun yang lo mau. Dan itu sudah pasti, bahkan harga diri sekalipun.             Malam ini, gua pastikan, lexa bakal jatuh ke tangan gua. Lexa,, lexa,, sekuat apapun firewall yang lo bangun, gua yakin, virus gua bisa mengobrak-abrik itu semua. Dan lo bakal liat semua itu alex!.             “Weits… keren banget ade gua satu ini. Mau kemana lo bar?” tanya Jordan. Jordan adalah abang angkat gua. Walaupun bukan kakak kandung, Jordan sudah seperti abang kandung gua sendiri. Dia keren, memiliki wajah ganteng, mapan, juga berwibawa. Yah, dia cukup jadi panutan buat gua dan Sabrina.             “Iya bang. Gua mau jalan sama temen gua” jawab gua seadanya. Kalau masalah pribadi, entah kenapa gua sungkan untuk bicara sama keluarga. Gua lebih nyaman sharing sama sobat-sobat gua.             “Ahh.. temen apa gebetan? Udah keren gini masih aja jomlo” ejek Jordan. “Tunggu aja sih. Nanti juga gua punya cewek” tanggap gua cuek. Cukup jengah karena Jordan selalu mengejek akan status jomlo gua. “Yaudah, gua tunggu ya. Cari yang jangan Cuma cakep, pinter masak, pinter beres-beres rumah, terus pinter ngebelai kalo dikamar” Jordan semakin menggoda. “Lo nyuruh gua nyari pacar atau bini sih bang! m***m mulu otak lo!” jawab gua dengan kesal. Jordan tertawa terbahak. Gua langsung cabut setelah itu, daripada Jordan makin membahas topic gila nya. Gua berjalan ke garasi mobil sport koleksi keluarga gua. Malam ini gua harus tampil sempurna, jadi gua bawa buggati veyron black. Oh ya, satu lagi, cewek juga lemah dengan kemewahan. Yah karena merekan makhluk yang matre. Gua masuk dan duduk di depan kemudi. Sedikit berkaca, apakah tampilan gua udah oke? Turtle neck putih dengan blazer hitam semi formal, celana blue jeans dan sneaker hitam sudah tertara rapi di tubuh gua. Gua tersenyum melihat pantulan gua di kaca mobil. Ganteng dan kaya. That the point to get Many girls. Malam ini, Gua bakal bikin lexa jatuh hati sama gua. Gua yakin, lo nggak akan nolak gua lexa. Bara POV END. Sedangkan di dalam sebuah kama,r seorang gadis sedang bingung harus bagaimana. Bara mengajaknya makan diluar. sedangkan dia masih merasa canggung bila berhadapan dengan bara. Jika mengingat kejadian di wahana kincir, rasanya ingin sekali lexa sembunyi di lubang cacing agar tak bertemu dengan bara. Ia cukup lega saat bara seperti menjaga jarak dengannya. Namun, saat lexa mulai tenang, mengapa tuhan menghadirkan bara kembali. “Ck…! Gua pake baju apa? Lexa bingung. “Lagian tuh si bar bar kenapa mendadak sih” gerutu lexa. Akhirnya dia memilih pakaian casual seperti biasa. Toh ini Cuma makan malam aja. Lexa berjalan menuruni tangga. Rambut seperti biasa selalu di kuncir satu menampilkan ujung rambutnya yang bergelombang. Dengan kaos putih polos chanel lengan panjang dan straight jeans warna putih. Telapak kaki indahnya memakai sneakers warna putih dan clutch hitam. Wajahnya hanya di poles krim pelembab dan lip balm  pinkberry. “Edek.. Arek kamana geulis?” tanya alia yang sedang duduk di sofa bersama evan sang ayah. “Lexa mau keluar bentar mah” jawab lexa “Mau kemana kamu? Sama siapa?” kini evan yang bertanya pada putri nya. “Mau ke café sekitar sini pah. Refresh otak sebentar sama temen sekolah lexa” lexa meraih tangan mama dan mencium punggung tangan alia. Beralih ke evan untuk mencium punggung tangan sang ayah. Tak lupa evan memberi kecupan kening pada putri semata wayangnya. “Hati-hati ya dek. Jangan pulang malam-malam. Inget rules nya kan?” ujar evan. Ia tak mengizinkan lexa keluar malam lebih dari jam sepuluh. Jika tidak ia akan marah dan menceramahi putrinya itu sampai kuping lexa panas dan kepalanya pusing. “Iya pah. Lexa inget.” Lalu berjalan keluar. Sebelumnya ia telah mengirim pesan pada bara agar tak menjemputnya kerumah. Lexa tak ingin orang tua nya berpikir macam-macam. Jadilah lexa pergi ke tempat tujuan dengan taxol. Kali ini tempat yang dipilih bara adalah di pinggir danau. Resto sederhana yang classic berada tepat di pinggir danau buatan. Suasananya seperti sedikit romantic. Lexa yang sampai di tempat itu cukup heran. ‘Kenapa tu anak milih tempat kayak gini? Berasa mau ngedate’ ujar lexa dalam benaknya. Lexa memasuki resto tersebut dan di sambut seorang pelayan laki-laki yang tersenyum ramah. “Selamat datang di resto kami. Teteh yang namanya Alexa?” tanya laki-laki tersebut. “Iya saya Alexa.” “Mari ikut saya teh” ujar nya dan menunjukan arah kepada lexa. Lexa di bawa ke tempat yang letaknya di tengah danau. Ada lampu-lampu berwarna gold dengan lantai dan sekat-sekat kayu. Disana telah duduk seorang lelaki yang membelakanginya. Bara, walaupun hanya melihat tampilan belakangnya, namun itu tak mengurangi pesonanya. “Bar..” panggil lexa. Bara menoleh ke belakang. Bara langsung berdiri menyambut lexa. Tak di pungkiri, tampilan lexa memang casual, namun entah kenapa dimata bara, outfit serba putihnya lexa membuatnya terlihat anggun. “Hei.. udah datang?” bara tersenyum. Lexa yang masih merasa canggung hanya mengangguk pelan. Bara mempersilahkan lexa duduk. Lexa memilih duduk didepan bara. Bara langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan. “Lo mau pesan apa lexa?” tanya bara sambil membolak balikan menu. Lexa meraih buku menu di hadapannya. Ia bingung mau memilih menu apa. Karena ia tak pernah berkunjung kesini. “Hmm… apa yang enak disini?” tanya lexa tanpa mengalihkan pandangannya dari menu. Bara sedikit melirik lexa yang masih fokus pada menu. “Ikan Bakar pedas manis, cumi bakar, dan udang bakar. Ada yang lo suka?” tanya bara. “Udang! Ada udang goreng crispy mbak?” tanya lexa pada pelayannya. Bara menaikan satu alisnya. Kenapa lexa malam memilih udang goreng crispy? “Ada teh, saos nya mau di pisah adat di siram ke udangnya?” tanya pelayang tersebut. “Disiram aja mbak” ujar lexa dengan antusias. “Ada dua pilihan saos teh, mau yang asam manis, atau pedas manis?” “Pedas manis! Terus minumnya Es kelapa ya mbak pake gula merah” ujar lexa. Mood lexa langsung membaik mendengar makanan kesukaannya tersedia. Lexa tersenyum cantik tanpa disadari. Dan semua gerak-geriknya lexa sedari tadi menjadi perhatian bara. Wajah fokusnya, bingung, sumringah dan terakhir senyuman manis yang lexa sematkan di bibir mungilnya. “Lo nanya makanan apa yang paling enak. Tapi lo malah milih udang goreng?” tanya bara yang terheran. Lexa hanya mengendikan bahunya. Keduanya saling terdiam. Suasana canggung tiba-tiba menyelimuti kembali pada lexa. Ia mengalihkan pandangannya kearah danau yang diatasnya terdapat lilin-lilin kecil mengambang. Sebenarnya lexa ingin bertanya, kenapa bara membawanya ke tempat bernuansa seperti ini. bukan ke tempat makan biasa saja. “Lexa.” Panggil bara. Lexa menoleh. “Untuk kejadian waktu di pasar malam, gua minta maaf ya. Gua udah lancang sama lo.” Ujar bara. Lexa menghela nafasnya. Siala si bara, lexa padahal menghindari topic itu, tapi bara malah membahasnya. “Nggak pa-pa. gua yang lancang udah bersikap gak sopan sama lo. Mungkin gua kecapean” jawab lexa sambil menatap kebawah. Ia yakin, mungkin sekarang wajahnya sedikit memerah menahan malu. “Nggak kok. Lo nggak lancang. Gua malah seneng bisa jadi tempat sandaran elo pas lagi capek” ujarnya dengan senyum yang manis. Lexa menatap bara. Degh.. degh… ada apa dengan jantung lexa. Nafasnya terasa tercekak seakan udara disekitar menyempit. Lexa membuang pandangannya kea rah danau. Tak lama berselang, pesanan pun datang. Lexa tampak menikmati pesanannya. Ia makan dengan riang saat gigitan pertama masuk ke mulutnya. Lexa seakan tak sadar bahwa bara ada di depannya. Ia senang sekali karena sudah lama ia tak memakan udang. “Makannya pelan-pelan, nanti keselek” ujar bara yang tersenyum melihat tingkah lexa. “Hmm… ini enak banget!” jawab lexa dengan senangnya. Lexa anteng memakan makanannya. Saking asiknya lexa memakan udangnya, ia tak sadar bahwa saus udang melempel di ujung-ujung bibirnya. Persis seperti anak kecil. “Lexa, itu ada saus udang di pinggir bibir lo.” Ujar bara. “Hmm..??” tangan lexa seakan tak mau lepas dari udangnya. Ia hanya membersihkan bibir dengan lidahnya yang membelok ke kanan dan ke kiri. “Udah?” tanya nya. Bara menggeleng. Lalu lexa mengulangi kembali kegiatanya. Bara yang merasa gemas akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri lexa. Meraih selembar tissue, tangan bara merayap ke ujung bibir lexa lalu membersihkan area itu. “Lo kayak anak kecil yang gak pernah makan udang tau nggak” gerutu bara sambil membersihkan sudut bibir lexa. Lexa hanya membeku di tempat. Ia kaget dan gugup. ‘ ya tuhan kenapa harus sedeket ini lagi?’ ujar benak lexa. Bara yang sepertinya merasa bahwa lexa sedang menahan nafasnya, lalu menjauhkan posisi dari wajah lexa setelah membersihkan sudut bibir lexa. “Napas lexa!” ujar bara. Otomatis lexa langsung menghirup napas dalam-dalam. Bara hanya menggelengkan kepala. Lalu ia tersadar dan langsung menghirup baju dan bagian ketiaknya. ‘Apa gua bau ya?’tanya benak bara. Namun bara tak mencium aroma tak sedap di tubuhnya. Mereka telah selesai dengan makan malamnya. Kini kedua nya masih duduk di kursi masing masing. Lexa yang masih menikmati pemandangan sekitar. Dan bara yang tampak sedang berfikir. “Lexa.” Panggil bara. Lexa pun menoleh pada bara. Tatapan bara berbeda. Bara menatap lexa dengan intens. Lexa memainkan bola matanya menghindari tatapan bara. “Mulai malam ini, jam, menit dan detik ini juga… Elo resmi jadi pacar gua.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN