19. Pembullian Raya

1657 Kata
Alex sedang mengurus berkas-berkas PKL nya di ruang administrasi sekolah. Besok ia akan pergi ke daerah industry, dan lusa ia sudah mulai magang.             “Alex, bapak harap kamu bisa berbaur dilingkungan kerja kamu nanti. Karena bapak sudah memilihkan tempat magang yang paling bagus dan bonafit untuk kamu.” Ujar wali kelas alex.             “Baik pak, saya akan berusaha sebaik mungkin” jawab alex. Lalu ia berpamitan dan keluar dari ruangan tersebut.             Alex berjalan menuju kelasnya. Tak sengaja ia mendengar suara tangisan dari dalam toilet perempuan. Suara isakan begitu kecil, namun masih terdengar oleh alex.             “Hiks..hikss.. hikss. Sakiiit” lirih suara itu. Alex bingung apa kah ia harus masuk atau tidak? Namun ia merasa kasihan saat mendengar kembali lirihan sakit dari dalam toilet tersebut. Lalu ia memutuskan nekat masuk kedalam toilet perempuan. Alex masuk dan langsung kaget melihat pemandangan mengenaskan tersebut. Gadis itu terduduk dilantai sambil memegangi punggungnya. Rok sekolah yang basah, baju seragam juga cukup basah dan menampilkan cetakan tubuh nya yang sudah acak-acakan, rambut yang di ikat sudah kusut sana sini, dan sebelah pipi yang memerah yang mungkin akibat terkena tamparan.             “Raya…” lirih alex melihat tampilan mengenaskan raya. Raya masih tergugu. Tangisnya tak dapat di tahan lagi. Ia menangis sesegukan dan mengatakan bahwa ia sakit. Alex dengan sigap melepaskan blazernya dan menutupi tubuh raya. Raya yang masih fokus dengan tangisnya kaget saat ada seseorang yang menghampiri dan mencoba memberontak. Alex yang mencoba menutupi raya cukup kesulitan. Tanpa pikir panjang, ia memeluk raya dan mencoba menenangkan raya dengan mengusap-usap punggung dan kepala raya. “Sssttt… tenang raya. Ini gua alex” ucap alex dengan nada lembutnya. Raya yang menyadarinya pun mulai tenang dan tak memberontak kembali. Ia menangis kembali di dalam pelukan alex. Ia sebenarnya malu dengan penampilannya saat ini. tapi rasa sakit dan takutnya jauh lebih besar. Saat dirasa raya sudah tenang, alex melepaskan pelukannya. Dan ternyata raya pingsan. Ia mencoba membangunkan raya dengan menepuk-nepuk pipinya. “Raya, ray bangun ray!” Alex panic, Ia merangkum wajah kuyu raya dan menghapus air matanya. Kemudian alex dengan sigap mengangkat tubuh raya kedalam gendongan bride style nya. Ia keluar dari toilet perempuan dengan menggendong raya yang pingsan. “Sialan! Untung banget tuh cewek dekil” ujar siska yang melihat hal tersebut. “Liat aja, kita bakal kasih pelajaran yang lebih parah dari itu” ujar cindy dengan senyum sinis di bibirnya. Ya, yang melakukan itu pada raya adalah cindy and the genk nya. Mereka merasa kesal pada raya yang disapa alex saat di gerbang sekolah tadi. Mereka melihat alex begitu akrab dengan raya sampai menepuk kepala raya. Jadi mereka memutuskan membully raya di dalam toilet lalu Mereka akan memberi tahu kan kejadian ini pada sahabat mereka nanti. Lexa sedang di dalam kelas. Semenjak kejadian di pasar malam itu, lexa menjadi malu jika bertemu bara. Namun lexa merasakan hal lain dari bara saat malam itu. Bara sangat lembut pada malam itu. Tak ada wajah ketus, dingin apalagi menyebalkan. Selama di dalam mobil bara saat mengantar lexa pulang, bara terus mengusap-usap kepalanya dan sesekali tersenyum pada lexa. Aah… lexa jadi salting sendiri jika mengingatnya. Sontak tangan lexa mengelus-elus sendiri kepalanya menirukan saat bara mengelus-elus kepalanya. “Gila gua!” cicit lexa. Ponsel lexa bordering. ‘Kak Al is calling…’ lexa mengangkat panggilan dari alex. “Dek, kamu keruang UKS sekarang juga” uajr alex. “Loh kenapa? Kakak sakit?” tanya lexa “Raya kacau! Kamu liat raya sini” Tanpa pikir panjang lexa langsung melesat menuju UKS. Lexa yang sedari tadi juga sedang menunggu raya yang katanya mau beli minum pun heran. Kenapa raya ada di UKS. “Raya kenapa kak?” tanya lexa pada alex yang berdiri di depan ruang UKS. “Kakak nggak tau dek.” “Terus, kakak ketemu raya dimana?” tanya lexa. “Ditoilet perempuan” jawab alex. “HAH?! Kok bisa?” “Iya, Tadi kakak kebetulan lewat toilet perempuan yang di ujung deket kantor guru. Terus kakak denger suara tangisan. Tadinya kakak pikir cewek lagi patah hati, Cuma kakak denger kayak rintihan sakit. Ya kakak terobos aja dan kakak liat raya udah kacau balau” jelas alex. Pintu ruang UKS terbuka. Lexa langsung menerobos masuk melihat kondisi raya. Raya masih dalam keadaan pingsan dan tertidur diatas brangkar UKS. Lexa melihat sedikit memar di sudut bibir raya. Ia heran, mengapa raya bisa begini. Alex pun ikut menyusul dan melihat kondisi raya. Baju nya sudah di ganti dengan baju cadangan UKS. “Ada memar di bagian punggungnya. Mungkin akibat benturan yang cukup keras. Dan memar di sudut bibirnya juga akibat dari tamparan yang keras juga. Sebenarnya ada apa ini?” tanya sang dokter sekolah. “Kita berdua juga nggak tau dok. Saya menemukan raya sudah dengan kondisi parah seperti ini di toilet perempuan” jelas alex. “Terus raya gimana kondisinya dok? Ko belom bangun?” tanya lexa. Ia sangat khawatir melihat keadaan sahabatnya tersebut. “Dia masih pingsan, mungkin karena rasa lelah, takut dan sakit yang ia rasakan. Semoga sebentar lagi dia sadar.” Ujar dokter. Alex meninggalkan lexa yang sedang menunggu raya sadar. Ia pergi untuk mempersiapkan magangnya. Setelah tiga puluh menit, raya mulau membuka matanya. Raya menelisik pandangannya dan mengerang menahan sakit di tubuhnya. “Ray, lo udah sadar? Alhamdulillah. Gua panggil dokter ya.” Ujar lexa. Lalu dokter datang dan memeriksa keadaan raya. Dokter memberi obat pada raya dan memperbolehkannya pulang. “Ray, sebenarnya ada apa? Siapa yang lakuin ini ke elo?” tanya lexa. Mereka sedang menunggu jemputan raya di halte bis sekolah. Raya menggeleng. Ia tak bisa bilang pada lexa. Ia takut lexa tak percaya karena tanpa bukti menuduh orang. Apalagi orang itu cukup popular dan mereka di kenal baik dengan siswa siswi lainnya. Lexa menghela nafas. Ini sudah yang ke tiga kali ia bertanya pada raya. Namun raya tak mau menjawabnya. Padahal ia sudah sangat marah dan ingin membalas perbuatan orang yang telah menyakiti raya. Jemputan raya datang. Raya sudah berganti baju seragamnya kembali setelah di keringkan. “Aku duluan ya lexa” pamit raya. Dan berlalu pergi meninggalkan lexa. Terlihat mobil ranger rovers putih terparkir rapih di halaman rumah alex. Lexa sangat mengenal mobil itu. Ia langsung berlari kedalam rumah. Lexa mendengar suara ribut di ruang makan. Ia langsung berlari memasuki ruang makan dan terlihat Papa dan Mama nya sedang berada dalam ruangan tersebut. “PAPA.. MAMA..” Teriak lexa. Ia berlari dan langsung menabrak masuk kedalam pelukan papa nya. Evan menciumi puncak kepala anak gadis satu-satunya tersebut. Lalu lexa beralih ke pelukan mama nya. Alia juga menghujani lexa dengan ciuman di pipi kanan-kiri nya. “Kapan mama sama papa datang?” tanya lexa. “Sekitar lima belas menit yang lalu” jawab evan. “Gimana sekolah kamu nak?” “Lancar pah. Cuma jauh lebih capek dari pada di SMA.” Jelas lexa. Evan tertawa mendengar pernyataan kuyu putrinya. “Jelas dong sayang, SMK itu banyak prakteknya dan butuh banyak tenaga” “Geulis, ganti baju dulu atuh. Habis itu kita makan siang sama-sama” ujar alia. Lexa langsung bergegas mengganti bajunya. Lalu kembali ke ruang makan. “Kak alex mana ya, kok belom pulang?” “Tadi teh, kakak kamu bilang dia langsung berangkat ke Binong jati. Dia mau survey kos-kosan biar besok dia bisa istirahat dan persiapan magang lusa.” Jelas alia. “Oh. Kak alex nggak bilang dulu. Terus mama sama papa berapa hari disini?” tanya lexa sambil menyuap nasi dan udang ke mulutnya. “Papa sama mama bakal nginep disini sampai alex selesai PKL” ujar evan. “Loh, lama dong!” ujar lexa yang cukup kaget. “Iya. Kunaon? Kamu teh nggak suka mama di dieu hah?” ketus alia. “Bukan gitu mah, alexa kaget aja. Terus kerjaan papa gimana?” “Papa bisa handle dari sini, kecuali kalau ada yang urgent papa bolak balik jakarta bandung” jelas evan. Mereka melanjutkan makan dengan tenang. Alia dan evan beristirahat di kamar tamu di lantai bawah. Lalu lexa kembali ke kamarnya di lantai dua. Seharian ini ia tak melihat bara. Ada rasa sedikit rindu di hati lexa. Apakah lexa sudah mulai menyukai lelaki itu? Entahlah.             Seminggu telah berlalu. Raya telah kembali seperti semula. Namun saat ditanyai lagi, seperti biasa ia akan menggelengkan kepalanya saja. Lexa berjalan menuju toilet, tak sengaja ia menabrak seseorang.             “Eh.. maaf..maaf..” ujar cewek itu.             “Iya.” Ujar lexa. Ia masih tak menghilangkan mode dinginnya pada orang lain kecuali raya.             “Lo anak kelas satu multimedia ya? Gua cindy kelas dua multimedia.C” cindy memperkenalkan dirinya dengan ramah pada lexa. Begitu juga dengan tia dan siska. Lexa terlihat cuek dan tak menyambut uluran tangan mereka lalu berjalan meninggalkan tiga serangkai.             “Resek! Belagu banget tuh bispak!” gerutu cindy. Lexa masuk ke toilet untuk mencuci mukanya. Ia ngantuk karena bergadang membuat presentasi untuk di tampilkan. Lalu masuk ke wc untuk menuntaskan panggilan alamnya. Sayup-sayup ia mendengar suara cewek-cewek bergosip.             “Eh, katanya si Geby bakal balik loh sebentar lagi. Gua denger-denger gossip di anak kelas dua multimedia”             “Iya, dia kapten cheers kan ya? Sekaligus ceweknya si alex”             “Ah bakal susah lagi nih kalo ada Nadine. Gak bisa lirik-lirik alex lagi. Udah ada monyetnya”             “Tenang masih ada bara”             “Ah.. bara terlalu dingin. Susah di dapetin. Yang ada serem kena pelototannya”             Begitulah percakapan yang lexa dengar. Ia keluar dari bilik dan memikirkan percakapan cewek-cewek tadi.             “Cewek kak Al? kapten cheers?” lalu ia keluar dari toilet. Saat hendak melangkah kan kaki menuju kelas. Tiba –tiba tangannya di tarik seseorang dan di bawa ke belakang area sekolah. Lexa di kurung oleh kedua tangan.             “Bara!!” lexa terkejut bahwa bara yang selama ini seperti menghindarinya sekarang ada di depannya dengan jarak yang sangat dekat.             “Malam ini. Jam tujuh gua jemput lo” ujar bara.             “Buat apa?” ketus lexa.             “Dinner ke dua” beo lexa. Terlihat bara tersenyum pada lexa. Senyum yang cukup menawan.             ‘Let’s start game honey’…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN