18. One Night with Bara.

2358 Kata
Lexa masih terdiam. Jujur, ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Ia tak begitu mengenal bara, apalagi dekat, itu tidak sama sekali. Lexa memilh diam dan cuek. Singkat cerita makanan datang. Lexa yang tak menyukai Kol, lalu ia memilih kol untuk ia pisah kan. “Lo nggak suka kol?” tanya bara. “Iya.” Entah apa mendorong bara, ia mengambil kol yang di sisihkan lexa di pinggir piring dan memindahkannya ke piringnya sendiri. Lexa cukup terkejut dengan perlakuan bara. Dan itu mengingatkan lexa pada Axen, kakaknya yang paling lembut dan perhatian padanya. “Thanks” ucap lexa dengan senyum kikuknya. “Nggak boleh buang makanan, mubazir!” jawab bara. Mereka berdua makan dalam diam. Lexa sebenarnya benar-benar merasa canggung. Sebab biasanya saat ia makan di balut dengan berbagai obrolan dengan keluarganya. “Kenapa lo minta dinner sama gua?” tanya lexa tiba-tiba. Terbersit sebuah pertanyaan dibenak lexa, mengapa bara meminta makan bersamanya. “Karena gua mau aja” jawab bara cuek. Ia tak mungkin memberitahu alasannya. “Lo cantik malam ini” Ujar bara tiba-tiba. “Uhuk…uhukk.. akh.. sshhh” lexa spontak keselek somaynya yang pedas. Sialan sekali bara membuatnya keselek somaynya yang super pedas. Bara yang melihat itu, spontan berdiri dan menjulurkan tangannya yang memegang segelas air putih. Lexa menyambut air tersebut dan meminumnya sampai belepotan di pinggir pinggir bibir mungilnya. Bara mengambil tisu dan spontan membersihkan pinggir-pinggir bibir lexa. Lexa terdiam mendapat perlakuan tak terduga dari bara. Ia tak berani menatap wajah bara yang berjarak hanya beberapa senti didepan wajahnya. ‘Ya ampuun, di deket banget sih’gerutu lexa dibenaknya. Tak sengaja kedua mata mereka bersi b****k. Seolah otomatis terkunci satu sama lain. Lexa baru menyadari, bahwa bola mata bara berwarna coklat terang dan memiliki bentuk mata tajam seperti elang. ‘Cantik’benak bara mengucapkan kata itu Bara menelisik sekilas. Lexa memiliki bulu mata yang panjang, alis indah natural, hidungnya yang mancung, dan bibir mungil yang tadinya berwarna warm nude menjadi pink warna bibir asli lexa. Sekilas terpaku pandangan kearah bibir mungil lexa. Namun tatapannya terputus ketika lexa berdehem. “Ehem…” usaha lexa menghilangkan gugupnya. Bara pun tersadar dan kembali ke kursinya. Mereka kembali melanjutkan makan nya. Waktu pun berlalu. Jam menunjukan pukul delapan malam. “Kita udah selesaikan?” tanya lexa. “Iya” entah mengapa bara merasa belum puas untuk malam ini. tapi ia tak mungkin mengakuinya. Lexa memanggil pelayan dan berniat membayar tagihannya. Namun ia kalah cepat dengan bara. Bara sudah memberikan credit cardnya pada si pelayan. “Loh, kok lo yang bayar? Kan gua yang traktir” ujar lexa yang heran. “Sorry pantang bagi gua di bayarin cewek.” Jawab bara. “Ya tapikan gua yang kalah tanding dari lo. Dan lo minta dinner sama gua, otomatis gua yang bayarinlah” jelas lexa yang tak mengerti sikap bara. “Gua Cuma minta lo dinner sama gua, bukan traktir gua.” Ujar bara sambil beranjak dari tempat duduknya. Lexa dan bara sudah berada di luar café. Lexa berniat memesan ojol untuk mengantarnya pulang. Namun, bara lebih dulu bekata. “Gua anter lo pulang.” Ucap bara. “Eh… nggak usah. Gua bisa pulang naik ojol” tolak lexa. “Lo pikir gua cowok yang nggak bertanggung jawab ngebiarin cewek balik sendirian. Apalagi cantik. Bahaya, tau nggak lo!” terdengar nada ketus dari bara. Namun kata yang terdengar di telinga lexa membuat pipinya bersemu. Lexa blushing. Entah sadar atau tidak, bara telah memujinya cantik. Untung area depan café tidak terlalu terang, sedikit remang-remang. Jadi lexa tidak kelihatan jika sedang blushing. Lexa tetap mempertahankan wajah datarnya. Di dalam mobil, lexa memilih memandangi jalan yang begitu ramai. Mungkin karena malam ini malam minggu, jadi banyak muda mudi yang keluar untuk jalan-jalan, berkencan, ataupun mencari sesuatu. Lexa asik memandang kearah jalanan dengan diam, sedangkan bara yang duduk menyetir disampingnya sesekali melirik lexa. Lexa tiba-tiba menegakkan badannya. Dan meminta bara berhenti. “Bar, berenti!” uajr lexa. Bara menepikan mobilnya. “Kenapa lo? Jangan bilang lo mau muntah?” ejek bara. Lexa langsung mendelikan matanya kearah bara. “Nggaklah! Gua mau ke sebrang sana. Disana ada pasar malam” ujar kexa sambil menunjuk pasar malam yang ada di sebrang jalan sana. Bara melihatnya, lalu menyalakan kembali mesin mobilnya. Lexa yang hendak membuka pintu mobil pun di urungkan. “Gua anter lo kesana” ucap bara. Bara melajukan mobilnya berjalan kearah pasar malam. Bara memarkirkan mobilnya. Kemudian ia dan lexa turun dari mobil. “Elo kok ikut turun? Pulang duluan aja nggak papa. Gua bisa balik sendiri” ujar lexa “Gak bisa! Lo jalan sama gua. Lo harus balik sama gua. Lo itu tanggung jawab gua sekarang” ujar bara dengan tegas. Entah kenapa ucapan bara terkesan ambigu. Seperti sedang melindungi kekasihnya. Tapi lexa bukan kekasih bara. Jantung lexa berdegup kencang seketika. Ia sontak memegang d**a sebelah kirinya dan menghentikan langkahnya. Bara pun berhenti, dan terheran. “Kenapa lo? Sakit?” tanya bara. Terlihat raut khawatir di wajahnya. “Nggak pa-pa. yaudah kita masuk” ujar lexa. Ia juga tak tau kenapa jantungnya berdegup kencang. Namun ia sadar, saat ini dia sedang dalam mode gugup yang teramat tinggi. Lexa terlihat antusias saat masuk kedalam pasar malam. Kepala nya menengok kanan dan kiri, melihat beberapa wahana yang tersedia. Lexa sudah lama sekali tak mengunjungi pasar malam. Karena saat kakak-kakaknya memasuki sekolah menengah atas, kesibukan mereka masing-masing bertambah. Jadi tak ada yang menemani lexa. “Wuaaahhh… ada kincir angin!, komedi putar, gelombang, kapal bajak laut…” ujar lexa yang antusias. Lexa tampak seperti bocah saat ini. senyum di bibir bara terbit tanpa disadari. Melihat lexa yang sangat berbeda dari biasanya. Lexa yang saat ini dihadapannya bukan lexa yang ia kenal di sekolah. Senyum dan tawa naturalnya terlihat di wajahnya. ‘Ternyata, lo cantik kalo lagi ketawa gini’ ucap bara di benaknya. “Lo kayak anak kecil aja sih” ketus bara. “Biarin! Pulang sono lo!” sahut lexa dengan tak kalah ketus. Bara tak menghiraukan lexa. Ia tetap berjalan di samping lexa. Lexa berjalan menuju komedi putar. Lexa berniat ingin menaiki komedi putar tersebut. Ia sangat semangat melihatnya. “Bar, gua mau naik itu ya” ujar lexa dengan mata berbinar. Dimata bara malam ini lexa benar-benar berbeda. Nada biacaranya pun tidak terdengar dingin. Itu lebih seperti gadis kecil yang melaporkan apa yang ia mau. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Sabrina. “Yaudah sono” jawab bara yang terlihat cuek. Lexa langsung berhamburan menghampiri komedi putar tersebut. Ia menaiki kuda-kudaan yang tergantung disana. “Dasar bocah!” ujar bara  tak habis pikir itu adalah gadis yang ia tantang bermain basket. Gadis yang mampu melawannya di lapangan, gadis yang terlihat dingin dan cuek saat di sekolah, dan adik dari orang yang sangat ia benci. Lexa melambaikan tangannya pada bara sambil tersenyum. Entah kenapa senyuman itu menular pada bara yang akhirnya juga ikut tersenyum. Senyuman yang begitu manis dan membuat jantung lexa berdegup kembali. Lexa terdiam sejenak, dan langsung mengalihkan pandangannya dari bara. Ia kembali gugup. Setelah puas dengan komedi putar, lexa berlari antusias menuju gelombang putar. Tanpa rasa canggung, lexa menarik tangan bara untuk mengikutinya. “Ayo kita naik gelombang putar itu” ajak lexa “Nggak! Gua gak mau!” tolak bara mentah-mentah. “Huuuu… takut kan lo?” ejek lexa. “Ngapain gua takut. Main kayak gitu gak guna!” ketus bara “Halah! Takut aja nggak ngaku! Huu…” ejek lexa. Bara merasa lexa mengejek harga dirinya. Masa seorang bara takut dengan gelombang putar yang tak ada apa-apanya itu. “Naik sama gua!” ujar bara menarik tangan lexa yang sudah bersiap naik ke wahana. Lexa menoleh kea rah bara, ternyata provokasinya berhasil. Bara ikut naik kewahana dan duduk disamping lexa. Setelah semua berkumpul dan duduk di posisinya masing-masing. Wahana pun mulai berputar. Awal-awal putarannya pelan, namun makin lama makin kencang dan mulai terasa terombang ambing bergelombang. Jujur saja bara sebenarnya baru pertama kali ke tempat seperti ini. ia baru pertama kali mencoba gelombang putar ini. ada rasa sedikit takut pada bara. Karena tempat duduknya tak ada pengaman sama sekali. Seperti tempat duduk antrian. Tak bisa berpegangan selain ke besi panjang membentuk lingkaran yang ia duduki. Tapi bara masih takut dan memejamkan matanya. Lexa yang berada disampingnya masih asik berteriak seru. Bara pelan-pelan meraba kursi untuk mencari posisi pegangan yang enak. Tanpa sengaja ia menggenggam sebuah tangan. Tangan yang terasa ramping dan halus saat ia genggam. Bahkan ia merasa bahwa nyaman saat  tangan  itu ia genggam. Lexa yang sedang asik berteriak di kejutkan dengan sebuah tangan yang menggenggam tangannya dengan erat. Ia menoleh ke pemilik tangan tersebut dan tersenyum manis. Ia pun menggenggam balik tangan itu. Putaran terakhirpun telah selesai. Perlahan putaran itu berputar semakin pelan dan perlahan muali terhenti. Tangan yang menggenggam tangan lexa pun perlahan mengendur dan melepaskan genggamannya. Lexa menoleh ke pemilik tangan itu dan tersenyum. “Takut ya?” tanyanya dengan nada lembut. “Iya teh. Maaf ya udah remes-remes tangan teteh” ujar seseorang yang ternyata dia adalah gadis remaja yang lebih kecil darinya. “Iya gak papa. Kamu sendirian? Tanya lexa. “Saya sama umi saya disana” sembari menunjuk wanita paruh baya yang memakai kerudung sedang melihat kearah anak itu. “Saya duluan ya teh. Makasih ya the sekali lagi” Ujar anak itu dan melompat turun saat gelombang putar benar-benar berhenti. Lexa turun dari tempat duduknya. Lalu menoleh kearah bara karena rasanya tak ada suara bara. Ia terkejut melihat kearah bara saat ini yang sedang memejamkan mata dan menggenggam tangan seseorang. “Aduh, si aa teh meni betah pisan remas-remas tangan elis ih” ujar seseorang disamping bara. Entahlah bara merasa suka menggenggam tangan itu. Namun saat ia mendengar suara seseorang, matanya perlahan terbuka. Ia menoleh kearah tangan yang sedang ia genggam. Bara terkejut bukan main seraya melebarkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar. “Ih, aa kunaon? Elis teh meni geulis pisan ya? Uucchhh.. gemes deh” ujarnya sambil mencubit pipi bara. Bara segera melepaskan tangannya dari genggaman perempuan jadi-jadian tersebut. “BANCI…!!!” teriak bara yang tersadar tangannya menggenggam tangan seorang banci yang menggunakan pakaian sexy dengan bibir merah merekah. Banci bernama elis itu menjulurkan kedua tangannya kearah wajah bara, berniat ingin membelai dengan senyuman e****s yang ia tunjukan pada bara. Bara langsung terbangun dan menjauh dari banci tersebut. Dan berlari tunggang langgang menghilang dari area tersebut. Lexa yang sedari tadi menyaksikan tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa sepuas-puasnya melihat bara yang terkejut saat tau tangan seorang banci yang ia nikmati genggamannya, sampai-sampai lexa harus memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.. Begitupun orang disekitar yang melihatnya juga tertawa dan merasa prihatin dengan bara. “Ahahahahaaaa….. aduh aduh perut gua” lexa masih tertawa sepuasnya sampai mengeluarkan air mata dan menahan perutnya yang sakit akibat tak bisa berhenti tertawa. Lexa berlari menyusul bara. Sambil tertawa ia terus berlari di belakang bara. Dirasa aman, bara pun berhenti. Napasnya ngos-ngosan. Pusing yang ia rasakan di wahana tersebut, hilang seketika. Lalu ia melihat lexa yang masih tertawa di belakangnya. “DIEM LO! Anjing banget tu banci!” gerutu bara “Ahahaa.. bar, bar, apes banget nasib lo!” ujar lexa dengan sisa-sisa tawanya. Bara yang kesal kemudian mendelik melihat lexa yang masih dengan sisa-sisa tawanya. Cukup tertegun sejenak karena baru pertama kali ini ia melihat lexa yang tertawa lepas tanpa beban. Cantik. Sangat cantik bahkan terlihat pipi nya menjadi sedikit chubby saat ia tertawa lepas. Tawa lexa mereda. Ia mengatur nafasnya agar kembali normal. “Ehem.. maaf gua ngetawain elo. Abis lo lucu banget” ucap lexa dengan wajah cerianya. Membuat rasa kesal bara menghilang. Baru saja bara akan tersenyum namun ia segera kembali merubah raut wajahnya menjadi kesal saat lexa kembali menatapnya. “Kita naik itu yuk!” ajak lexa sambil menunjukan wahana kincir. “NGGAK! Lo aja sono!” ketus bara. Ia masih dalam mode ngambeknya pada lexa yang menertawakannya. “Ya ampun gitu aja ngambek. Kayak bayi aja! Ayo naik temenin gua” ajak lexa sambil menyeret bara masuk kewahana kincir tersebut. Bara hanya bisa menghela nafasnya. Ia sedikit heran kenapa sepertinya ia tak bisa menolak permintaan lexa. Tapi bara tak menghiraukannya lagi. Ia masuk ke satu ruangan kincir. Hanya mereka berdua. Lexa dan bara duduk bersebrangan. Beberapa menit kemudian kincir pun mulai berputar. Lexa tampak menikmatinya. Ia melihat pemandangan dari atas dan tersenyum saat mengingat dulu ia sering di takut-takuti oleh excel saat kincir sedang berhenti diatas. Ia juga mengingat saat ia menaiki kincir bersama tiga sahabatnya dulu. Dini yang paling takut jika kincir sudah berhenti di posisi atas. Namun hatinya kembali merasa sakit saat mengingat pengkhianatan yang mereka lakukan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ketika matanya berkedip, air mata itu terjun seketika. Bara yang sedari tadi mengamati lexa, terkejut melihat air mata yang turun. Ada apa dengan lexa? Padahal beberapa menit yang lalu ia masih tersenyum pikir bara. “Lo nggak papa?” tanya bara. Lexa menggelengkan kepalanya dan menunduk. Lexa mengusap airmata di pipinya. Ia merindukan sahabat-sahabatnya yang dulu. Airmata pun kembali jatuh dan kini di iringin isakan kecil. Bara menjulurkan tangannya menggapai wajah lexa. Merangkum sebelah pipi lexa dan Ia membantu menghapus air mata dengan ibu jarinya. “Lo kenapa nangis? Gua ada salah sama lo?” tanya bara dengan nada lembut. Ini baru pertama kali lexa mendengar seorang bara menggunakan nada lembut seperti ini. lexa semakin terisak. Bara kemudian pindah duduknya di samping lexa. Kedua tangan bara merangkum wajah lexa dan menghapus air mata yang masih jatuh di pipi-pipinya. “Jangan nangis. Gua gak suka liatnya” ujar bara. Lalu menarik lexa kedalam pelukannya. Mengusap-usap kepala lexa. Dan tanpa sadar bara menciumi puncak kepala lexa. Lexa pun akhirnya menerima pelukan bara dan ia juga ikut memeluk bara. Aroma maskulin yang ia hirup didada bara terasa begitu menenangkan. Ia suka aroma ini. tepukan tangan bara di bahu dan kepalanya membuat ia lebih tenang. ‘Ya tuhan. Bagaimana ini? bagaimana bisa semenyenangkan ini memeluk seorang laki-laki yang aku belum terlalu mengenalnya. Aku menyukai aroma ini’ ujar lexa dalam benaknya. ‘Kenapa sama gua? Gua paling malas bersikap mellow kayak gini. Tapi gua gak tega liat dia sedih. Tubuh mungil ini. apa yang sebenarnya menarik dari lo lexa? Ada apa sama gua yang dengan mudahnya memeluk elo disini’ ujar benak bara.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN