Sampailah raya dan lexa di salon milik tante raya. Sebuah salon dengan nama The Diamond. Salon dengan gaya minimalis berwarna peach and gold yang terkesan mewah. Raya menuntun lexa memasuki salon.
Tring…!
“Assalamualaikum tante…” sapa Raya
“Walaikumsalam” jawab seorang wanita berumur sekitar tiga puluh delapan tahun. Memakai celana bahan hitam panjang, dan kemeja berwarna peach lengan tiga perempat. Dengan rambut yang di gulung sederhana juga make up tipis namun tak mengubah cantik di usia dewasa.
“Eh sayang, tumben kesini. Ada apa?” tanya tante raya.
“Tante, kenalin ini temen aku. Namanya lexa. Dia sekelas sama aku. Lexa kenalin ini tante aku. Namanya tante Diana” ujar raya memperkenalkan satu sama lain.
“Halo tante, aku alexa. Panggil aja lexa” lexa menjulurkan tangannya. Namun disambut dingin oleh tantenya raya. Raya melihat ekspresi tante Diana seperti tak bersahabat. Raya tahu bahwa tantenya merasa waspada atas alexa. Apalagi alexa gadis yang cukup cantik, jadi kemungkinannya sangat besar kalau alexa hanya ingin memanfaatkan raya atau berbuat tak baik pada raya yang tampil dengan sederhana. Itu semua tak lepas dari masalalu yang mereka alami.
“Tante…” raya mendekati dan merangkul tangan tante yang sudah seperti mamanya itu. “Alexa berbeda. Dia benar-benar baik” raya meyakinkan tantenya.
“Tau darimana kamu?” tanya sang tante yang terlihat ketus. Sembari tersenyum raya menjawab.
“Lexa awalnya bersikap dingin kesemua orang, termasuk aku. Tapi walaupun begitu, lexa nggak pernah nyakitin aku tan. Sampai aku merasa lexa bukan orang yang menakutkan. Dan aku mencoba terus untuk menjadi teman yang baik untuk dia walaupun lexa tetap cuek. Dan sekarang, lexa sudah mulai menerima aku.” Jelas raya sembari menatap lexa yang terlihat menundukkan kepalanya. Raya sangat senang bertemu lexa. Ia merasa lexa benar-benar berbeda. Dan ia berani mendekati lexa dan menjadikan lexa temannya.
“Baiklah. Tante minta maaf atas sikap tante ya, lexa” ujar tante Diana pada lexa. “Sebagai permintaan maaf, tante bakal nge treatment kamu full” lanjutnya dengan senyum di bibir tante Diana.
“Aaaa.. yey! Makasih tante, kebetulan banget. Pokoknya tolong make over lexa jadi cantik mala mini tan” ujar raya semangat.
“Apaan sih lo ray. Nggak perlu ah. Gua pake gini aja!” ketus lexa. Ia sangat anti dengan dandanan feminism. Terlihat tua dan seperti cewek ganjen.
“Loh, emang ada apa malam ini?” tanya Diana.
“Lexa mau nge date!” ujar raya antusias
“NGGAK!! Bantah lexa dengan keras.
“Yasudah.. apapun itu, pokoknya sekarang tante mau ngetreatment kamu sebagai permintaan maaf tante.”
“Nggak perlu tante. Nggak pa-pa, tante gak salah kok.” Tolak lexa yang tak ingin di dandani.
“I don’t wanna hear other word except Yes!” dan langsung di giring kedalam ruangan di salon.
Di tempat lain bara bersama teman-temannya sedang kumpul di rumah lucas. Leo, lucas, deden dan Mario berkumpul di kamar lucas. Mereka sangat penasaran atas pernyataan yang terlontar dari mulut bara.
“Gua bakal punya pacar, sekaligus mainan yang gua bilang sama Kalian kemarin” ujar Bara sambil menatap lurus ke layar tv di depannya
“Siapa bar? Kasih tau dong. Gua penasaran nih?” semangat Leo
“Alexa Pradiana Pradja. Anak multi media A.” jawab Bara santai dengan senyuman miringnya.
Sontak teman-temannya terkejut. Mereka tak menyangka bara akan menjadikan lexa sebagai pacar bara. Apalagi lexa adalah adik kandung dari orang yang sangat ia benci.
“Maksud lo apa bar? Tanya lucas tak mengerti.
“Iya, maksud maneh teh naon? Teu ngudeng abdi teh” timpal deden.
“Ya.. gua mau jadiin lexa pacar gua. Kenapa? Dia cantik kan?”ujar bara yang masih asik memainkan Hp nya sambul tersenyum miring.
“Bar. Gua saranin sama lo jangan macem-macem. Jangan main api, apa lagi libatin perasaan orang lain” ujar lucas menceramahi bara. Ia tak ingin bara menapaki jalan yang salah dan membawanya pada penyesalan.
“Gua gak macem-macem kok. Cukup satu macam aja. Yaitu buat alex menderita sama seperti apa yang gua rasain.” Ujar bara dengan rahang yang mengeras.
“Bar.. tapi lexa gak salah bar. Dia gak tau apa-apa….
“LO PIKIR SABRINA SALAH? LO PIKIR DIA TAU BANYAK HAL? IYA?!!!” Bentak bara dengan emosi pada lucas. Lucas tak tau apa yang ia rasakan. “lo pikir bina pantes dapetin itu? Dan gua menyesal karena udah ngedeketin dia sama b******n itu!!” lirih bara.
Semuanya terdiam. Mereka tak tau harus berkata apa. Mereka tau bagaimana tersiksanya bara dan seberapa besar rasa bencinya terhadap alex. Namun mereka juga mengkhawatirkan lexa yang tak tau mengatahui tentang hal tersebut.
“Lo yakin bisa lakuinnya bar?” Tanya leo yang terlihat ragu. Bara terdiam. Namun saat ia membayangkan masalalunya, seketika rahangnya mengeras menandakan adanya emosi yang ia rasakan.
“Dan lo yakin bisa berbuat itu sama lexa? Sedangkan elo masih kebayang-kebayang tentang Sabrina. Bagaimana Hancurnya Sabrina, tersiksanya Sabrina dan bagaimana kondisi terakhir sabrina, Lo yakin bar?” tambah lucas yang beruntun. Emosi bara semakin mencuat. Matanya menajam, dadanya naik turun menandakan nafas yang memburu.
“Gua bakal bales atas apa yang udah dia lakuin sama Sabrina” jawab bara dengan ekspresi bengis membenci seorang alex.
**
Disebuah ruangan dengan aroma therapy yang manis menenangkan jiwa, terlihat seorang gadis yang baru saja selesai memasker wajahnya. Lexa selesai melakukan facial treatment yang langsung di tangani oleh Diana tantenya raya.
Diana memberikan masker langsat mangir di wajah lexa. Karena wajah lexa bukan tipe warna kulit putih pucat. Melainkan berwarna putih langsat. Seperti wanita jepang. Kulit tubuhnya memiliki skin tone kuning langsat. Cantik asia.
“Done! Treatment nya udah. Sekarang, tinggal make up.” Ujar Diana.
“Waah, lexa kamu makin cantik. Glowing. Tinggal dandan deh” ujar raya antusias. “ Tapi tunggu tan, nanti teh lexa pake baju apa?” tanya raya.
“Ya ampun sayang, ruangan sebelah teh itu butik tante. Disana ada gaun, dan dress semi formal ! kamu kamu teh sih.” Gemas Diana pada Raya.
“Nggak usah tante. Lexa nggak mau pake dress ataupun gaun. Lagian ini karena kalah tanding, bukan acara ngedate. Nanti kalo lexa pakai dress dikira minta ngedate sama dia. OGAH!” jelas lexa pada Diana. Diana tersenyum. Dia melihat lexa yang memiliki harga diri cukup tinggi. Lexa tak ingin terlihat gampang dimata lelaki. Biasanya gadis remaja akan excited jika di ajak dinner dengan lawan jenisnya. Namun berbeda dengan lexa, ia mempertahankan harga dirinya dengan mahal.
“Oke. Nggak papa” Diana mengerti keinginan lexa. “Kalo gitu, kamu bisa pegi ke toko baju atau distro di samping salon tante ini. tinggal jalan aja, sejajar letaknya sama salon tante” ujar Diana. Lexa tersenyum senang. Ia pun langsung mengajak raya untuk menemaninya mencari baju.
**
Bara baru saja sampai rumahnya setelah berkumpul di rumah lucas. Ia memasuki rumah dengan segera. Tak bara sadari bahwa di ruang keluarga, diatas sofa telah duduk seorang lelaki yang berbadan tegap, memakai kemeja biru muda dan celana bahan warna hitam dengan wajah yang menawan dan dewasa.
“Bara!” panggilnya. Bara menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. Ia terkejut melihat abang angkatnya sudah ada di depan matanya.
“Bang Jordan?!” bara cukup senang melihat abang yang ia sayangi ada di depan matanya. Walaupun Jordan hanya abang angkatnya, namun bara menyayangi abangnya tersebut.
Dari kecil saat pertama kali bertemu, bara masih bersekolah di bangku kelas lima SD dan Jordan di bangku kelas satu SMP. Jordan adalah anak angkat ayahnya. Jordan dibawa oleh sang ayah dan tinggal dirumah bersama mereka. Jordan selalu berbuat baik dengannya. Layaknya seorang abang yang sangat menyayangi adik-adiknya. Jordan sangat bisa di andalkan loleh bara dan Sabrina. Selalu dapat menjadi contoh dan motivasi untuk mereka menjadi orang hebat seperti Jordan.
“Abang kapan datang New york?” tanya bara sambil melepas pelukannya pada Jordan.
“Baru satu jam yang lalu. Gua denger lo tanding basket untuk posisi kapten?” tanya Jordan.
“Yo’I bang. Gua hari ini tanding. Dan gua menang” ujar bara berbangga diri. Jordan langsung memeluk adiknya tersebut. Ia merasa bangga pada bara yang semakin menawan.
“Good job boy! Kalo gitu nanti malam kita keluar. Bawa semua temen-temen lo. Gua yang traktir!” ajak Jordan.
“Sorry bang. Gua gak bisa malam ini. gua ada janji” jawab bara.
“Ciee.. ngedate lo yaaa?” Jordan menggoda sang adik.
“Nggak lah!” bantah bara dengan tegas. “Gua abis tanding basket beberapa hari yang lalu. Dan lawan gua kalah. Jadi dia harus terima konsekuensinya” jelas bara.
“Ckckck… gua pikir lo mau ngedate. Jomlo mulu! Nggak bosen? Nggak ada yang belai” ejek Jordan. Dan langsung mendapat tatapan jengah dari bara. Abangnya ini suka sekali menggodanya untuk memiliki kekasih. Sunggu topic menyebalkan.
“Udah ah! Gua mau ke kamar dulu” jawab bara dan langsung melarikan diri dari sang kakak. Jordan yang melihatnya hanya geleng-geleng. Ia tau betul adiknya itu cukup cuek dengan kaum yang berjenis kelamin wanita.
Jam sudah menunjukan hampir pukul tujuh malam. Lexa sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh tante Diana. Diana dan raya mengantar lexa ke Skyline café.
Dengan sedikit polesan di wajah lexa yang terkesan natural, cocok untuk remaja. Lexa terlihat cantik sesuai usia dan gayanya. Raya yang melihat lexa begitu cantik menjadi takjub.
Teman yang ia temui saat pertama kali, yang begitu cupu dan culun melebihi dirinya, telah menberikan banyak kejutan. Lexa cantik, bisa memainkan drum dengan keren, dan yang paling membuatnya takjub, lexa mahir dalam bermain basket sampai mampu bertanding dengan bara, salah satu pentolan basket. Walapun berakhir dengan kekalahan. Tapi, itu tak mengurangi pesona lexa.
“Lexa, kamu cantik banget. Kayaknya bara bakalan suka sama kamu.” Celetuk raya dan langsung mendapat pelototan lexa yang berada di kursi belakang.
“Ray! Lo kalo ngomong jangan sembarangan!” ketus lexa.
“Loh, emang kenapa? Bara keren, ganteng, aku denger akademisnya juga bagus. Dia juga salah satu most wanted sekolah sama kayak kak alex” jelas raya.
“Ck..! gak penting!” ketus lexa. Ia tak peduli. Walaupun benar, bara memang sekeren dan seganteng itu. Tapi, ia tak ingin jatuh kedalam sakit hati kembali. Ia masih menata hatinya dari Dylan.
Sampailah mereka di depan skyline. Tak bisa di pungkiri, lexa cukup gugup. Ini pertama kalinya ia keluar berdua dengan cowok selain kakak-kakaknya. Lexa turun dari mobil Diana.
“Lexa, semangat ya!” ujar tante Diana dari kursi kemudi.
“Lexa, enjoy ya malam ini. Kamu cantik!” ujar raya sambil tersenyum. Lexa jengah dengan raya yang seakan menggodanya dengan bara. Namun kemudian ia tersenyum.
“Makasih tante, raya, atas bantuannya hari ini” ujar lexa sembari tersenyum. Lalu mobil Diana berlalu dari depan halaman café.
Lexa menarik nafas dalam-dalam, ia berusaha menenangkan kegugupannya. Ia tak boleh terlihat gugup didepan cowok menyebalkan itu. Bisa turun pasaran kalau gugup hanya gara-gara dinner.
Lexa melangkahkan kakinya ke dalam café. Ia melihat kanan dan kiri mencari posisi keberadaan bara. Lexa tak menemukan lelaki itu. Lalu ia membuka ponselnya dan mengirim pesan pada bara.
Lexa : Lo dimana?
Bara : gua di lantai dua. Kaos hitam Pinggir balkon
Lexa langsung menuju lantai dua. Ia menengok kanan dan kiri, matanya menelusuri satu-persatu orang disana. Dan ia melihat seorang laki-laki yang sedang asik memainkan handphone nya. Lexa menghampiri lelaki tersebut.
“Sorry gua agak telat” ujar lexa. Bara yang tengah menscroll hp nya mendongakan wajahnya melihat kearah gadis yang tengah berdiri didepannya. Cukup terkejut. Lexa memang berpenampilan sederhana bahkan terlihat biasa saja. Memakai celana trousers krem, kaos warna hitam lengan pendek, rambut di kuncir satu dengan gelombang di ujungnya, tas selempang mini berwarna putih senada dengan sepatu sneakersnya. Dan yang membuat bara sedikit terpana tanpa sadar adalah, wajah lexa yang cantik dengan makeup natural, telihat dari warna bibir nya nude peach.
“Ehm.. it’s oke.” Ujar bara segera menetralisir keterkejutannya. “Silahkan duduk”. Lexa duduk berhadap hadapan dengan bara. Pemandangan cdari balkon café ini sungguh indah. Tidak romantis tidak pula biasa. Bara memanggil pelayan café.
“Lo mau pesen apa?” tanya tanya bara. “Disini yang enak steak dagingnya sama somay nya” saran bara.
“Hmm… gua pesen somay sama es teh manis aja” ujar lexa. Kening bara berkerut. Somay dan es teh? Sederhana sekali makanan yang lexa pesan. Seperti memesan makanan di kantin sekolah.
“Sama tapi minumnya ice Latte” ujar bara. Pelayan menulis dan mengulang kembali pesanan bara dan lexa dan berlalu pergi. Lexa dan bara saling terdiam. Mereka sama-sama bingung harus bagaimana? Kenal, mereka baru kenal dan bertemu beberapa kali saja. Dekat? Tidak sama sekali. Mereka bahkan beda jurusan. Bara merutuki sikapnya yang tiba-tiba kaku di hadapan lexa. Padahal ia tak pernah merasa bingung apalagi kaku seperti ini sekalipun di hadapan ayahnya.
“Ayo bar! Kok lo jadi cecunguk gini sih!’ benak bara.