10. Pindah ke Bandung

1239 Kata
“Gimana, kalau Lexa aja yang pindah ke bandung?” celetuk Lexa. “ENGGAK!” Bantah Alia. “Mama nggak setuju kamu pindah ke bandung!” “Mah, aku bisa nemenin kak Alex di bandung. Insha Allah Lexa bisa ngurus ka Alex. Lexa bisa masak mah” kekeuh Lexa meyakin kan Alia. “Nggak Lexa. Kamu masih kecil, kamu perempuan, nanti kalau ada apa-apa sama kamu gimana? Mama nggak mau ambil resiko” tegas Alia “Yang di bilang mama kamu benar Lexa. Dan juga sekolah kamu gimana? Kakak kamu sekolah di SMK bukan SMA nak” Evan menjelaskan “Iya de. Mungkin kita cari pekerja yang 24 jam aja pak buat jagain Alex disana. Sekalian ngurus dia” saran axen. Evan pun berfikir atas saran axen, benar juga yang dikatakan axen. Itu keputusan lebih baik. Karena jika ia dan Alia pindah, itu akan cukup sulit. Mengingat banyak project yang di lakukan di daerah Jakarta dan bekasi. Project itu cukup menguras energinya apa lagi harus bolak balik ke bandung “Kamu benar juga xen, papa juga ada cukup banyak project yang ada di Jakarta dan bekasi. Gimana ma? Kita cari ART yang bisa menginap dan mengurus Alex?” Tanya Evan. “Iya, mama lebih setuju dengan ide axen, daripada kamu harus pindah ke bandung. Mama teh nggak mau neng geulis mama satu-satunya kenapa-napa kalo jauh dari mama” ujar Alia seRaya menatap Lexa. Lexa menghela nafasnya. Ini adalah cara satu-satunya agar ia menjauh dari Dylan dan para mantan sahabatnya. Jujur saja ia masih sangat suka pada Dylan. Di tambah Dylan beberapa hari ini terlihat sering menunjukan dirinya didekat Alexa. Dan sekarang sandra sudah mulai menuduhnya yang terlihat seperti akan merebut Dylan dari sandra. Lexa harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan izin. “Ma… mama denger Lexa dulu... Di SMK ka Alex itu ada jurusan multimedia kan? Dan salah satu keinginan Lexa adalah masuk jurusan Multimedia ma. karena Multimedia bisa menunjang karir aku kemana aja. Bahkan mengikuti papa.” Ujar Lexa mencoba memberi pengertian pada mamanya. “nggak! Kamu bisa belajar itu saat nanti di perkuliahan. Pokona, mama teh nggak setuju. Titik!” lalu Alia bangun dari duduknya dan meninggalkan ruang keluarga. Lexa bingung, bagaimana agar mamanya bisa menyetujui keinginannya. Lexa benar-benar ingin pindah. Dan alasan ingin belajar multi media itu bukan hanya alasan belaka, memang Alexa menyukai yang berbau multimedia terutama desain grafis. Terbukti saat dia bersusah payah dulu ikut membantu Axen mendesain lapangan basket sekolahnya yang digunakan saat ini. Ya, karena axen sudah mulai menekuni bidang arsitektur dan memiliki bakat yang luar biasa, jadi saat pihak sekolah tau kalau axen mampu, lalu pihak sekolah mencoba menguji axen lewat sebuah project, dan Voila!! Berhasil. “Kakak..!” panggil Alexa didepan pintu kamar axen sembari mengetuk pintu. Tok..tok..tok… “ Kak Axen” Pintu terbuka menampilkan axen yang top less hanya memakai celana polos abu-abu. “Kenapa de? Tanya nya. “Boleh lexa ngomong?..” tanya Lexa. Lalu axen mempersilahkan masuk “kamu kenapa?” Tanya axen sembari memakai kaos putih polos berlogo polo. “Kak, aku minta bantu minta izin ke mama. Aku serius mau pindah ke bandung kak” Ujar lexa “Lexa, kakak mau Tanya sama kamu, apa kamu serius mau pindah kesana? Dan alasan kamu mau masuk desain grafis, apa itu serius atau Cuma alasan? Kamu tau kan maksud kakak?” Tanya axen menyelidiki, lalu di angguki axen. “Aku juga emang mau ninggalin semua kenangan pahit yang ada disekolah kak. Sakit kak rasanya liat orang yang kita sukai terlihat romantic sama orang lain. Apalagi orang itu seseorang yang udah bikin luka di hati aku. Prang yang aku percaya” Lexa mulai meneteskan air matanya. Ia sangat menyayangi sahabatnya itu. Sangat sangat menyanyangi mereka seperti saudara kandung. Namun ternyata takdir berkehendak lain. “Apalagi sekarang Dylan suka muncul didepan aku dan bersikap cukup manis. Aku nggak tau bakal berapa lama lagi aku bisa tahan perasaan aku kak. Ini ternyata berat banget” lanjut Lexa. Ia seRaya meremas baju bagian dadanya dan mulai menangis. Axen yang melihatnya sunggu tak tega. Ia belom pernah jatuh cinta dan patah hati. Namun melihat adiknya seperti ini, sepertinya sakit sekali. “Oke. Coba kakak bujuk mama sama papa ya. Toh, ini kan buat kebaikan kamu juga nyatanya.” Sambil memeluk adiknya dan mengecup puncak kepala adiknya. Pagi hari tiba. Hari ini rasanya Lexa malas sekali ke sekolah. Mood nya benar-benar jelek. Apalagi melihat sandra yang kemarin seperti membencinya. Mungkin sandra menyaksikan bahwa Lexa bermain basket dengan Dylan. Ya, pasti sandra di bakar cemburu. “De… ayo bangun!” teriak axen dari luar pintu kamar Lexa. “Gak ah males. Hari ini aku izin aja kak” balas Lexa. Tiba-tiba axen membuka pintu kamar Lexa. Kakaknya menggelengkan kepalanya melihat Lexa yang masih bergelung dengan selimut. “Ayo Lexa.. bangun. Kan masuk sekolah hari ini” ujar axen seRaya melepas selimut Lexa. “Nggak ah kak males. Lagian kaki ku juga sakit” jawab Lexa. Ia benar-benar tak mood sekolah. Ia malas ketemu sandra “Tapi kamu harus masuk hari ini dek. Kan kamu harus urus surat perpindahan kamu ke bandung” ujar axen di sertai dengan senyuman. “HAH?!!” Lexa sedikit berteriak dan langsung terduduk dari tidurnya. “Serius kak? Beneran? “Iya...” jawab axen sambil menganggukan kepalanya. “makanya cepetan siap-siap waktu kamu tiga hari dengan hari ini. Jadi lusa kamu udah berangkat ke bandung” lanjut axen. “Oke!!! Teriak girang Lexa dan memeluk sang kakak. Lexa langsung melompat dari atas ranjangnya tanpa menyadari bahwa kakinya masih di perban akibat keseLeo kemarin. “ADUH!!!” ringis Lexa “Sakit..” lirihnya “Ahaha.. de.. de.. kamu ini udah tau kaki baru keseLeo kemarin udah jingkrak-jingkrak aja” axen membantu Lexa berdiri sambil tertawa. “Gak usah bantu!”. Axen pun memapah Lexa ke dalam kamar mandi. “Kamu bisa mandi sendiri?” Tanya Axen. “Bisa!” “Nanti susah gak ngambil ini itu nya? Kakak panggilin bi’ minah ya?” usul axen. “Gak usah” jawab Lexa. Dan segera memasuki kamar mandi   Lexa menuruni tangga menuju lantai satu. Lalu ia menuju ruang makan dan disana telah berkumpul kakak-kakak dan orang tua nya. “Pagi sayang” ucap Evan “Pagi geulisnya mama” “Pagi pah, mah” jawab lexa. Lexa mengambil roti dan selai cokelat nutela.. “lexa, kamu siap-siap ya, lusa kamu udah harus pindah kebandung. Jadi kamu harus cepat mengurus perpindahan sekolah kamu disini. Kalau disana sudah di atur sama alex” Jelas Evan. “Mama beneran izinin lexa untuk pindah ke bandung?” tanya Excel. “Iya tadi malam axen bilang sama mama dan papa, kalau Lexa benar-benar punya bakat di bidang disen.. disen.. disen gratis? gamis? Alis? Naon ih lupa mama teh.” Ujar sang mama yang membuat semua nya tertawa karena penyebutan jurusan yang salah “Desain Grafis maa…. Alis dibawa-bawa si mama ih” Ujar Evan sambil geleng-geleng. “Ya itu pokok na’mah. Ya demi masa depan dan cita –cita si edek, mama setuju lah. Kalau menyangkut kebahagian edek mama akan dukung” ucap Alia sambil mengelus kepala Lexa. “Tapi inget ya sayang, kamu harus jaga diri. Urusin kakak kamu semampunya, atau cukup paksa dia makan kalau sudah waktunya. Dan kamu, belajar yang bener, jangan terlalu capek. Jaga diri kamu juga” pesan Evan yang akan melepas sang putri pergi dengan jarak yang tidak terbilang jauh atau pun dekat. “Iya pa” jawab Lexa dengan bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN