Pagi yang mendung meyapa seluruh makhluk di bumi. Hawa dingin dari gerimis yang merintik membuat siapa saja yang masih bergelung dibawah selimut enggan beranjak dari atas peraduannya. Malah ada yang semakin ekstrim mengeratkan pergelungannya dengan selimut.
“LEXA!! AYO BANGUN!! UDAH HAMPIR SETENGAH TUJUH. LO NGEBO BANGET SIH.! MAU SEKOLAH JAM BERAPA?” Teriak excel yang mengganggu kenyaman Lexa yang masih bergelung dengan selimut. Habis sudah kesabaran excel. Excel tidak seperti Axen dan Alex, yang cukup beradab ketika membangunkan Lexa. Excel menyingkap selimut sampai ujung kaki. berjalan memutar sampai di depan ujung kaki Lexa.
‘HAP!’
Excel menarik kedua kaki Lexa, sontak tubuh Lexa langsung melorot. Mata indahnya yang terpejam langsung terbuka. Lexa meraih tiang kepala ranjangnya.
“Ayo bangun bawel!! NGEDUL BANGET SIH LO! Bangun gak lo, gua seret ya lo sampe kamar mandi” ucap excel sambil terus menarik-narik kaki Lexa.
“RESE BANGET SIH LO KAAAAAAA…!!” Teriak Lexa. Ya, pagi-pagi yang gerimis sudah diwarnai dengan teriakan perang antara Excel dan Lexa.
Excel sudah duduk di meja makan setelah berhasil membangunkan Lexa dan kemudian menata penampilannya dengan seragam lalu turun ke bawah. Ia tertawa karena berhasil mengalahkan adiknya pagi ini.
“Excel, ari kamu teh ngebangunin si edek di apain sih? Meni gegerowokan kitu si geulis.” Tanya sang mama sambil memukul bahu excel.
“Aduh! Mama! Sakit ah..” sambil mengelus-elus bahunya yang perih akibat pukulan sang ratu “Abis, Lexa tidurnya ngebo banget. Susah dibanguninnya, ya excel tarik aja kakinya sampe melorot kelantai” jelas excel sambil merengut. Lalu di balas oleh kekehan axen.
‘TAKKK!’
Bahu yang sebelumnya di pukul sang mama kembali kena pukulan dahsyat Alexa. “MAMPUS LO!” bisik Lexa lalu menjulurkan lidahnya mengejek excel. Makin terbahak lah axen melihat excel yang merengut sambil mengusap-usap bahunya yang ma’nyusss.
“Lexa, Ax, Ex.. hari ini papa sama mama mau kebandung jenguk kakak Kalian Alex. Dia drop karena kesibukannya dan asam lambungnya naik. Jadi mungkin papa dan mama aka nada disana selama seminggu” ujar Evan.
“Dan Kalian excel, axen jaga Lexa baik-baik. Terutama kamu excel jangan bikin adek kamu nangis mulu. Atau kamu bakal jadi samsak bernyawa mama kamu” pesan Evan. Ketiganya pun mengangguk kan kepalanya.
Sudah lebih dari seminggu berlalu dan selama itu Lexa menjalani sekolahnya dengan lebih serius. Ia benar-benar belajar. Kadang-kadang ia di ajak main basket dengan teman sekelasnya jika ada jam kosong atau jam olahraga. Ia hanya menjalaninya dengan belajar dan belajar, dan lebih sering menyendiri. Terkadang hatinya masih rasa teriris melihat kemesraan sandra dan Dylan yang terkadang diumbar dan tertangkap oleh matanya. Tak dapat di pungkiri, ia masih menyukai Dylan.
Seperti saat ini di jam pelajaran olahraga ia sedang bermain basket bersama saji dan kawan-kawan. Lexa memang benar-benar mahir dalam bermain. Excel dan axen yang menyaksikannya pun ikut bangga dengan perkembangan Lexa. Kedua kakaknya cukup lega karena Lexa sudah kembali ceria. Meski kadang-kadang mereka melihat Lexa termenung dan mengeluarkan air mata. Mungkin ia merasa kesepian saat ini, namun selalu ia cari pelampiasan untuk menghalau rasa tersebut.
Lexa saat ini mencoba bermain basket dengan anak-anak sekelasnya. Teman-teman sekelasnya tak pernah bosan terkagum dengan kemampuan lexa. Terutama kaum adam, yang ada di pinggir lapangan pun ikut terkagum dengan ke lincahan lexa bermain basket. Ditambah penampilannya terlihat cantik dan sexy dengan keringat yang membasahi keningnya, juga sedikit rambut yang menjuntai di leher. Tanpa disadari ada sosok laki-laki yang menghampiri lexa di tengah lapangan.
“Gua boleh tanding sama lo?” ucap seseorang di belakang Lexa. Lexa yang masih menarik nafas sejenak dari permainan, menengok saat dirasa ada yang berbicara kearahnya.
~Ya Tuhan apa lagi ini?~ ‘ujar Lexa dalam hati’
“Gimana? Lo berani nggak untuk tanding basket sama gua. One by one?”ajak Dylan.
“Gua capek” jawab Lexa dan membalikan badannya.
“Gua anggap itu jawaban kalo lo nggak berani” ujar Dylan. Dan seketika langkah Lexa terhenti. Lexa paling tidak bisa di anggap takut atau menyerah. Apalagi dibidang keahliannya. Lexa membalikan badannya, menatap datar Dylan yang tersenyum pada Lexa.
“Sampai 9 Poin!” ujar Lexa dan kembali menuju ketengah lapangan. Saji yang melihat langsung mengambil alih bola sebagai wasit.
~PRIITTT~
Pluit mulai berbunyi dan bola di lemparkan keatas. Dylan langsung merebut bola, mendrible kearah ring Lexa dan.. ‘TAK’’ dua poin untuk Dylan. Lexa sedikit kesal, namun iya mencoba tenang kembali.
Disisi lain ada sandra yang sedang menyaksikan kedua nya beradu. Ada rasa cemburu dan takut pada sandra saat melihat Lexa dan Dylan bermain terlebih lagi hanya berdua. Ia was-was kalau Dylan akan berpaling pada Lexa. Bagaimanapun Lexa cewek yang cukup cantik dan pandai di beberapa bidang walaupun tertutup oleh tampilan tomboy nya.
Ami dan dini yang berada di samping sandra pun hanya terdiam melihatnya. Jika di lihat-lihat Dylan dan Lexa benar-benar keren saat ini ditengah lapangan. Mereka terlihat romantic dengan gaya mereka sendiri. Bisa dibilang seperti the ABC (Affection Basket Couple).
Peluh mulai bercucuran, Lexa sudah mendapat 3 poin, dan Dylan mendapat 6 poin. Tenaga Lexa mulai terkuras.
~hah..hah..hah… gua capek~’lirih Lexa dalam hati’
Namun bukan Lexa namanya jika ia menyerah. Lexa memusatkan pikirannya dan merebut bola dari tangan Dylan terus berlari sambil mendrible bola. Lexa mencoba melakukan shoot di free throw line, dan… Shoot!! Masuk. Lexa mendapat 2 poin.
Kini hanya tinggal 4 poin lagi. Teman sekelas Lexa pun ikut bersorak saat Lexa berhasil memasukan bola ke ring Dylan. Bahkan Arya dan tino sampe berpelukan.
Axen dan excel melihat hal tersebut bertos ria. Mereka bangga pada Lexa. Adik perempuan mereka satu-satunya memang teh best.
Sandra hanya menatap datar keduanya. Sandra sudah terlampau cemburu oleh keduanya. Dini yang melihat Lexa berhasil tersenyum senang.
~’Empat lagi’ dalam benaknya~
Lexa kembali mendrible bola. Dylan memposisikan tubuhnya di belakang Lexa. Menghalau Lexa untuk masuk ke area Dylan. Cukup dekat, mungkin hanya sejengkal jarangnya dengan Dylan. Lexa menjadi gugup dan tak konsentrasi. Dan.. Hap! Dengan mudah Dylan merebut bola dari tangan Lexa. Mendrible cukup cepat dan shoot.. 1 point Dylan dapatkan.
7 : 5 poin Dylan : Alexa.
Lexa cepat kembali mengambil bola dari Dylan dan menggiringnya ke ring Dylan. Shoot! 1 poin untuk Lexa.
7 : 6.
Dylan kembali meraih bola. Ia menggiring bola untuk memasuki area Lexa. Lexa sekuat tenaga berlari cepat mengejar Lexa kembali merebut bola dari Dylan. Ia segera mendrible bola ke area ring Dylan. Cukup cepat Lexa melakukannya walapun kakinya rasanya sudah mulai kebas. Namun ia tak bisa menyerah sebelum dia dinyatakan kalah.
Lexa berlari terus mendrible bola setelah dirasa cukup jarak nya untuk menshoot, Lexa melompat meleparkan bola ke ring. Namun sayang aksinya di halau Dylan dari belakang. Punggung Lexa membentur d**a Dylan. Bola terlepas dari tangan, Lexa menurunkan badannya namun kakinya belum siap untuk menopang.
~Bugh..!~
“AKHhh…!” jerit Lexa. Ia memgang pergelangan kaki nya
Excel dan axen langsung berlari kearah lapangan. Dylan pun terkejut melihat Lexa yang jatuh. Ia langsung berjongkok di hadapan Lexa
“Lo nggak pa-pa?” Tanya Dylan serangan memegang ujung kaki Lexa
“Akh… sakit!” lirih Lexa. Excel dan axen menghampiri Lexa dan melihat keadaan adiknya. Ya, kaki adiknya terkilir.
“Biar gua yang bawa Lexa. De, elo masih bisa berdiri atau gua gendong?.” Ujar excel. Lexa mengangguk. Excel membantu Lexa berdiri dan memapahnya. Lalu axen segera berlari untuk menyiapkan ruang UKS dan memanggil petugas PMR.
“Lexa..” panggil Dylan. Lexa menoleh kearah Dylan saat sudah dipapah oleh excel. “Maaf.. gua gak sengaja” ujarnya dengan raut wajah bersalah.
Lexa hanya menoleh sesaat dan langsung melanjutkan langkahnya meninggalkan lapangan.
Sandra yang sendiri tadi menyaksikan kejadian tersebut ada rasa senang karena Lexa kena batunya menurut sandra. Dan juga rasa cemburunya semakin meningkat ketika Dylan tampak perhatian dengan Lexa. Tangannya Nampak mengepal dan itu tak luput dari penglihatan Ami dan juga Dini.
Lexa kembali memasuki kelas. Kakinya sudah di obati dan diberi sedikit ankle bandage. Sedikit terpincang, namun Lexa masih bisa mengatasinya.
“Wah lex, kaki lo gimana? Kalo gak kuat balik aja, nanti gua kasih ijin sama bu marina” Tanya saji.
“Gua gak papa” jawab Lexa dengan wajah datarnya. Lexa tak marah pada Dylan. Ini hanya kecelakaan tak disengaja.
Jam demi jam pun berlalu. Lexa membereskan Barang-Barangnya yang ada diatas meja lalu di masukan k etas Eiger hitamnya.
“Lo masih suka sama Dylan?” Tanya sandra tiba-tiba berdiri di hadapannya. Lexa menghentikan geraknya. Namun beberapa detik kemudian di kembali bergerak. Tak ingin menggubris pertanyaan sandra, Lexa memilih melanjutkan langkahnya meninggalkan sandra. Namun ada sedikit rasa yang menggores hatinya. Lexa menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu kelas dan berkata.
“Gua udah gak suka sama Dylan. Lo tenang aja, gua gak akan ngerebut apa yang bukan milik gua. Karena gua bukan orang yang egois yang mementingkan kebahagiaan sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain” ujar Lexa. Cara bicaranya benar-benar berubah. Nada nya sangat tak bersahabat, tegas dan dingin.
Ada rasa harga diri yang tercoreng karena sandra secara tersirat menganggap Lexa akan merebut Dylan dari sandra. Sungguhkah sandra berfikir seperti itu? Lexa benar-benar merasa tersinggung. Ia akan sangat tersinggung jika ada yang berpikir kalau ia akan sengaja merusak kebahagiaan atau merebut hak orang lain.
Lexa bukan tipe orang yang akan berebut hal yang telah dimilki orang lain. Meskipun dia sangat menginginkan hal itu sebelumnya. Apakah dunia ini begitu sempit sehingga harus heboh rebutan? Ia yakin apa yang tak bisa dimilikinya memang bukan haknya. Lexa akan melepaskannya dengan ikhlas dan ia yakin suatu saat akan ada hal lain yang lebih baik untuknya dan akan menjadi miliknya.
Saat akan menuruni tangga, Lexa berbarengan dengan Dylan yang akan menuruni tangga juga. “Biar gua bantu lex..” ujarnya
“Nggak perlu” Cuek Lexa.
“Tapi kaki lo lagi sakit Lexa.”
“Biar Lexa gua yang urus” ujar Kenzo dari arah bawah tangga. Ia sahabat kakak-nya Lexa sekaligus Lexa sendiri. Kenzo memapah Lexa dengan hati-hati.
“Kak Ex sama kak Ax mana?” Tanya Lexa
“Axen ada pelajaran tambahan, Excel ada latihan band nya. Jadi mereka minta gua yang anter lo balik” ujar kenzo. Lexa pun mengerti.
Lexa pulang diantar dengan kenzo. Kenzo memapah lexa hingga kerumahnya. Ketika pintu rumah di buka, disana terlihat Alia dan Evan yang sedang duduk diruang tamu.
“Assalamualaikum !” ujar Lexa sembari tertatih di papah oleh kenzo.
“ALEXA!” teriak Alia. Lalu bergegas menghampiri putrinya “kamu teh kunaon edek?”
“Gak pa-pa ma, Cuma keseleo” jawab Lexa.
“Hadeeuhh kamu teh jadi ngerepotin A’ kenzo. Terus mana eta si bandel dan kasepnya mama? Yang di maksud Alia dengan si bandel adalah Excel dan si kasep adalah Axen. Sedangkan untuk Alex adalah si Sulung dan Lexa sendiri adalah si geulis.
“Kak Ex sama kak Ax lagi ada pelajaran tambahan tante, jadi ken yang bawa Lexa pulang.” Jawab kenzo.
“Makasih ya nak Kenzo. Maaf yah kalo Lexa ngerepotin nak kenzo”ujar Evan.
“Nggak om. Nggak sama sekali. Kalo gitu ken pamit pulang dulu om, tante, Lexa. Assalamualaikum” ujar kenzo
“Walaikumsalam”
Malam hari tiba. Evan meminta kepada semua anggota keluarganya untuk berkumpul di ruang keluarga setelah makan. Dan kini mereka telah berkumpul dengan excel yang sibuk dengan hp nya, axen juga dan Lexa yang tiduran di pangkuan Alia.
“Lexa, Axen, Excel, papa mau kasih tau. Mama sama papa mungkin akan pindah ke bandung tiga hari lagi” ujar Evan. Lexa langsung menegakkan badannya begitu pulan dengan kedua kakaknya.
“Loh, kenapa pa? ada masalah apa? Tanya Lexa.
“Apa ada masalah sama Alex pa?” Tanya axen.
“Iya, Alex kebiasaan lupa makannya kambuh lagi. Kemarin dia di opname seminggu akibat asam lambungnya makin parah. Jadi rencana papa sama mama mau urus Alex sampai dia selesai sekolah” jelas Evan. Semuanya terdiam. Memang kebiasaan ketiga anak kembar tersebut adalah sama. Sama-sama suka lupa makan kalau tak di ingatkan.
“Gimana, kalau Lexa aja yang pindah ke bandung?” celetuk Lexa.