Melihat reaksi keduanya, Syani tidak bisa menahan diri untuk kembali tertawa. “Wah, reaksi yang sangat bagus. Apakah ini yang bisa disebut sebagai kekompakan saudara? Ah, sungguh menghibur,” ucap Syani dengan nada mengejek yang kentara. Tentu saja Syani tengah mengejek Ahmar yang kini tengah membalas tatapannya dengan tajam. Perkataa Syani lebih dari cukup untuk membuat semua orang yakin, jika ternyata Ahmar dan Zee memang saudara kandung. Ahmar mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Netra biru safirnya segera tertuju pada Amir yang tampak tengah berpikir keras. “Ah, jadi apa yang aku tuduhkan selama ini benar adanya, ya? Kau telah mengkhianati Ibu, dan membuat Ibu meninggal karena tersiksa. Apa kurangnya Ibu hingga kau meninggalkannya dan malah memillih w************n sepertin

