“Terima kasih sudah mengajak kami memancing,” ujar Davina ketika boat yang membawa mereka ke tengah laut telah kembali berhenti di dermaga.
“Bukan apa-apa,” ujar Erick seraya melangkah turun dari boat lebih dulu dan mengulurkan tangan hendak membantu Davina.
Tapi tiba-tiba saja Devon menyela. “Biar aku saja,” ujarnya lalu langsung melompat turun dari boat dan mengulurkan tangan pada Davina.
Davina memandang Erick dan Devon bergantian. Seperti yang sudah ia duga, Devon memberinya isyarat agar Davina meraih tangannya. Davina pun meraih tangan Devon, sementara matanya melirik Erick dengan rasa bersalah. Namun tak seperti Devon yang tidak suka kalah, Erick hanya mengangkat bahu dan tersenyum.
Kegiatan memancing mereka tadi tidak berjalan sesuai rencana. Baik rencana Erick, maupun rencana Erina. Selama di boat tadi, Devon tidak membiarkan Davina menjauh darinya. Sehingga secara teknis, rencana Erick untuk mengajak Davina taruhan jelas gagal. Begitu pula dengan Erina dan teman-temannya. Mereka hanya memandang Devon penuh kekecewaan karena beberapa kali pun mereka mencoba menarik perhatiannya, Devon hanya fokus pada pancingannya dan Davina.
Tapi di luar itu semua, Dita yang sebelumnya tampak selalu sinis pada Davina berubah jadi lebih ceria karena berhasil menempel pada Erick saat Davina sudah diseret Devon menjauh.
“Kami akan membakar ikan malam nanti. Kamu harus ikut lagi, Devon,” Erina tiba-tiba mendekati mereka.
“Sepertinya tidak bisa,” jawab Devon. “Aku punya rencana lain malam ini.”
Wajah Erina tampak kecewa, begitu pula dengan teman-temannya yang lain kecuali Dita.
“Well... Sampai jumpa lagi, Davina,” ujar Erick.
Davina tersenyum dan akan menjawab, namun Devon langsung menarik tangannya untuk melangkah menjauh.
“Kalau begitu kami duluan,” ujar Devon pada Erick dan yang lainnya, tidak memberi kesempatan pada Davina untuk menjawab Erick.
“Terima kasih semuanya.” Davina menoleh ke belakang dan melambai dengan tangannya yang bebas. Wajah Erina dan teman-temannya tampak sebal, namun Erick tetap balas melambaikan tangan padanya.
“Kita makan siang di vila saja,” ujar Devon sambil menggenggam tangan Davina erat.
“Ada apa denganmu?” tanya Davina bingung. “Bukannya kamu harusnya ikut bersenang-senang dengan mereka?”
“Maksudnya?” tanya Devon. Ia menoleh, namun kakinya tetap melangkah dan tangannya masih enggan melepas Davina.
Mau tidak mau Davina jadi harus terus mengimbangi langkah pria itu.
“Kita kan nggak punya agenda lain hari ini. Kenapa kamu buru-buru sekali? Pagi ini bukannya kamu sendiri yang datang untuk ikut kegiatan mereka?”
“Karena kita berdua sudah sepakat untuk menjalani hari di sini bersama-sama, sebaiknya tidak usah melibatkan orang lain di dalamnya,” jawab Devon.
Davina mengerutkan dahi. Devon benar-benar membuatnya bingung.
***
“Ayo ceritakan hal paling memalukan yang pernah kamu alami,” ujar Devon.
Mereka kini tengah berbaring di ranjang dan saling berhadapan.
“Nggak ada,” ujar Davina.
“Jangan curang. Ini adalah perjanjian yang sudah kita sepakati bersama tadi,” ujar Devon protes.
Sore tadi mereka mencoba parasailing, dan tercetuslah taruhan konyol yang didalangi oleh Devon. Pria itu bilang, siapa yang pertama kali berteriak ketika naik wahana air tersebut, maka ia harus dengan jujur menceritakan aib yang pernah ia alami sepanjang hidupnya.
Malangnya Davina keluar sebagai pihak yang kalah, yang mana akhirnya berhasil membuat Devon tertawa puas untuk mengejeknya.
Memangnya siapa sih yang tidak berteriak ketika tiba-tiba saja dirimu melayang dengan posisi mundur dan tertiup angin di atas lautan?
Hanya Devon Mahawira si pria arogan yang mampu melakukannya.
Jadi ketika mereka hendak tidur seperti saat ini, Devon kembali mengungkit hukuman Davina yang belum tuntas tersebut.
“Kenapa harus membongkar aib seperti ini sih?” tanya Davina.
Devon seketika nyengir. “Aku butuh sesuatu yang bisa kujadikan senjata untuk mengancam kamu.”
“Sialan!” Davina meraih bantal dan memukulnya ke Devon.
Jadi aib Davina akan ia jadikan senjata? Dasar Devon b******k!
Pria itu berusaha menghindari pukulan bantal Davina. “Hey, jangan mengelak. Kamu sudah janji tadi.”
“Aku nggak mau!” ujar Davina, masih terus memukuli Devon.
Hingga saat ini Davina masih terheran-heran dengan Devon yang sekarang. Kini pria itu tampak seperti punya sisi lain yang kekanakan. Ini bukan Devon yang ia kenal sebelumnya. Ini bukan Devon yang menyatakan perang dengannya. Ini bukan Devon yang menatapnya dengan tatapan yang merendahkan. Bukan Devon yang menghinanya di hari pertunangan mereka. Bukan pula Devon yang mencela penampilannya di malam pertama pernikahan mereka.
“Oke cukup!” Devon meraih bantal Davina dan menyingkirkannya. “Ceritakan sekarang.”
“Aku nggak pernah mengalami hal memalukan,” ujar Davina.
“Jangan bohong.”
“Aku benar-benar berkata jujur.”
“Nggak ada orang yang belum pernah mengalami hal memalukan dalam hidupnya. Semua pasti punya cerita mereka masing-masing. Kecuali aku,” ujar Devon dengan muka sombong.
Puk!
Davina memukulnya lagi dengan bantal lain. Kali ini tepat di wajah.
Devon memelototi Davina.
“Ups, nggak sengaja. Wajah sombong kamu tuh nyebelin banget sih,” ujarnya dengan senyum menyebalkan.
“Kamu sengaja cari gara-gara ya.” Devon menipiskan bibirnya geram.
Davina memeletkan lidahnya, mengejek Devon, namun pria itu tiba-tiba langsung menariknya.
“Kyaaaa!”
“Kalau kamu nggak mau ngomong, biar aku yang paksa kamu bicara,” ujar Devon dan langsung mengurung Davina di bawah tubuhnya. Tangannya menopang tubuh agar tidak menindih Davina, sementara wajah mereka kini hanya berjarak sekitar tiga puluh sentimeter. Davina menatap Devon, sementara pria itu menunduk untuk menatapnya.
“Kenapa kamu ngotot banget sih. Kan sudah aku bilang aku nggak pernah ngalamin hal memalukan seumur hidup,” kata Davina.
“Jangan bohong. Aku tahu kalau saat SMP dulu kamu pernah ngalamin hal memalukan.”
Wajah Davina tiba-tiba menegang.
“Nah, lihat. Aku benar kan,” ujar Devon sambil tersenyum miring. “Jadi kalau kamu masih nggak mau ngaku, biar aku yang bertanya.”
Davina seketika cemberut.
“Kamu pernah nyatain perasaan ke Darrel Danubrata ya,” ujar Devon. “Di depan orang-orang ramai pula.”
“Ya ampun...” Davina seketika memejamkan mata. “Itu udah lama banget. Kamu dapat cerita dari siapa sih?”
Darrel Danubrata adalah putra dari Agustian Danubrata, salah satu relasi bisnis DM Corporation. Darrel adalah pemuda bebas, playboy, dan penghambur uang orangtua. Namun meski demikian, di usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun, ayahnya sudah mulai sering mengajak Darrel turun langsung dalam beberapa proyek.
Karena itu, Darrel secara tidak langsung masuk ke dalam circle Devon, meskipun usia mereka terpaut cukup jauh karena tahun ini Devon sudah menginjak usia tiga puluh tahun.(Cerita Darrel akan saya tulis setelah cerita Devon dan Davina ini selesai. Tungguin ya ^^: author)
“Terus karena nggak sanggup menahan malu, kamu sampe pindah sekolah segala.”
Dahi Davina makin berkerut. “Kamu dapat cerita dari siapa sih? Ini tuh udah lama banget. Nggak mungkin Darrel sendiri yang cerita, kan?”
Devon tersenyum misterius. “Aku lihat foto kamu pas nembak Darrel di tengah lapangan. Anak kelas satu SMP nembak kakak kelas tiga pake bunga di tengah koridor.”
Wajah Davina seketika memerah ketika mengingat momen memalukan tersebut.
“Lihat, wajah kamu sampe merah begini. Segitu cintanya ya kamu sama Darrel?” tanya Devon.
Davina menggeleng. “Itu hal paling bodoh dan paling memalukan yang pernah aku lakuin. Waktu itu aku ditipu kakak kelas yang bilang kalau aku harus berani nyatain perasaan ke senior yang aku kirimin surat cinta.”
“Kamu ngirim surat cinta ke Darrel?” tanya Devon. Ada nada tak suka yang timbul dari suaranya.
“Iya, itu kan tugas MOS. Sebagai anak baru, ya aku nurut aja.”
“Dan karangan bunga yang kamu kasih langsung diinjak ke lantai sama dia?” tanya Devon.
Davina mengangguk. “Kamu kok tahu sampe detail banget sih? Kamu kan nggak ada di TKP waktu itu. Kamu terlalu tua untuk jadi kakak kelasku. Tapi rasanya nggak mungkin juga kalau Darrel yang cerita. Dia nggak bakalan ingat.”
“Hey, kamu bilang apa barusan? Aku terlalu tua?”
Davina tiba-tiba tersenyum jail. “Lho, memang benar kan? Kamu memang sudah tua.”
“Jangan lancang ya kamu. Aku baru berusia tiga puluh tahun.”
“Dan aku masih dua puluh tiga tahun,” balas Davina.
Devon menipiskan bibir, sementara matanya berkilat penuh rencana. “Jadi gadis kecil... sejak itu kamu diolok-olok satu sekolah ya?”
Davina mengangguk. “Ya. Benar-benar bikin malu. Aku sampe nggak mau sekolah lagi, hingga akhirnya Mama dan Papa pindahin aku ke sekolah lain.”
“Aku punya lho salinan foto aksi pernyataan cinta kamu.”
“Apa?!” Mata Davina melotot tak percaya. “Kamu dapat dari siapa sih? Sampai ada salinannya segala.”
“Yang jelas bukan dari Darrel,” jawab Devon.
“Ya, aku juga nggak yakin dia ingat kejadian itu. Darrel sudah populer sejak dulu, mungkin setiap hari akan ada gadis yang menyatakan cinta padanya.”
“Kamu kedengarannya kecewa ya?”
“Aku nggak kecewa,” bantah Davina. “Yang jadi pertanyaan di sini adalah kenapa topik ini tiba-tiba jadi menarik buat kamu?”
“Karena ada yang bilang kalau istriku dulu pernah nembak Darrel.”
“Oh, jadi kamu cemburu?” tanya Davina dengan senyum tertahan.
“Cemburu?” tanya Devon sambil tertawa. “Yang benar saja. Justru sekarang aku ingin bilang kalau kamu nggak perlu lagi mengingat hal memalukan itu.”
“Maksudnya?” tanya Davina dengan dahi berkerut.
“Kamu harus bangga karena suamimu adalah Devon Mahawira. Siapa yang peduli pada Darrel Danubrata.”
“Meskipun istrimu ini pernah menyatakan cinta ke Darrel Danubrata itu?” tanya Davina untuk memastikan.
“Itukan hanya cinta monyet.”
“Lalu?” tanya Davina lagi. Dalam hati ia mulai menyadari tujuan Devon memaksanya bercerita sejak tadi. Bukan karena Devon ingin mengolok-oloknya, namun Devon tidak suka disaingi Darrel.
“Pokoknya kamu harus bangga karena suamimu adalah Devon Mahawira.”
Davina seketika terkikik. Devon benar-benar tidak suka kalah.
“Jangan tertawa.” Devon merendahkan kepalanya. “Kali ini aku akan bikin kamu berhenti tertawa.”
“Coba saj—“
Belum sempat Davina menjawab, bibir Devon sudah membungkamnya hingga ia terpaksa kembali menelan ucapan yang hendak ia katakan.
“Dev—“ Davina berusaha menjauhkan bibir mereka.
“Sssttt... Bukankah perjanjiannya adalah nikmati saja apa yang ada di sini?” bisik Devon. “Jadi nikmati saja,” ujarnya lalu kembali menyatukan bibir mereka.
Davina ingin melawan, namun bibir Devon benar-benar menggoda. Akhirnya, alih-alih mendorong jauh pria itu, Davina malah melingkarkan lengannya ke belakang leher Devon untuk memperdalam ciuman mereka.
***
Bersambung....