Davina nyaris saja jatuh ke laut jika Erick tidak cepat menangkap tubuhnya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Erick. Tangan pria itu mengitari pinggang Davina.
“Ng-nggak apa-apa,” jawab Davina sambil menggeleng. “Tapi pancingannya jatuh—“
“Sudah, bukan apa-apa,” ujar Erick. “Asal bukan kamu saja yang jatuh ke laut.”
Davina mengangguk, namun Erick belum melepaskan pelukannya.
“Ee... Erick...”
“Jauhkan tanganmu dari istriku!”
Baik Davina, Erick, Erina, maupun yang lainnya seketika dibuat terkejut dengan Devon yang tiba-tiba menarik Davina dan memeluknya posesif. Seketika tubuh Davina berpindah dari pelukan Erick ke dalam rengkuhan lengan Devon.
“A-apa?” tanya Erick yang masih setengah bingung dengan tindakan yang tiba-tiba itu.
“Jangan sentuh istriku,” ulang Devon.
Davina mengerjap. Ia tidak salah dengar kan?
“Apa? Istri?” Kali ini suara Erina dan teman-temannya yang bersahutan.
“Kupikir kalian tidak saling kenal,” ujar Erick sambil mengerjap bingung.
“Kalian tadi bahkan tidak bertegur sapa,” kata Erina seraya mendekat.
Devon memejamkan mata beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. “Istriku sedang merajuk sejak semalam. Jadi kami sedang perang dingin hingga pagi ini.”
“Lepas...” Davina akhirnya menemukan kembali suaranya. Ia pun berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Devon, namun pria itu masih belum mau melepasnya.
“Entah kebetulan macam apa ini, aku tidak tahu. Tapi aku ingin berterima kasih pada kalian karena sudah mengundang kami untuk memancing bersama kali ini,” ujar Devon. “Kalau tidak keberatan, kami akan menyingkir dan berbicara empat mata. Kalian silakan lanjutkan saja acara memancingnya.”
Tanpa menunggu persetujuan yang lainnya, Devon melepas topi Erick dari kepala Davina dan mengembalikannya ke pria itu. Setelahnya, ia langsung menarik Davina ke bawah atap boat hingga menjauh dari Erick dan yang lainnya.
“Jadi ini yang kamu lakukan sementara aku mencarimu ke segala penjuru sejak tadi pagi,” desis Devon.
“Apa pedulimu?” balas Davina sambil berbisik. “Bukannya kamu bilang semalam kalau kita akan melakukan semuanya sendiri-sendiri?”
“Aku tidak main-main dengan penawaranku kemarin, tapi kamu sendiri yang menyulitkan semuanya,” balas Devon dengan suara rendah.
“Oh, jadi tetap aku yang salah?” ujar Davina dengan tawa hambar. “Lalu kamu yang membuat janji dengan gadis-gadis ini akan kamu sebut apa? Pagi ini kebetulan saja kita bertemu di sini. Coba kalau di lain waktu, entah apa yang terjadi.”
“Kamu cemburu?” tanya Devon. Ada senyum tipis tercetak di wajahnya.
“Apa? Yang benar saja,” ujar Davina sambil menggeleng.
“Oh ya, tentu saja tidak. Kamu kan sedang asik dengan pria itu,” kata Devon seraya menunjuk Erick dengan dagunya.
Davina tersenyum. “Jadi sekarang siapa yang cemburu?”
“Aku tidak cemburu,” balas Devon.
“Ya, tentu saja tidak cemburu. Kamu bahkan pagi-pagi sekali sudah menghilang dari vila untuk menemui gadis-gadis itu.”
Devon menatap Davina tak percaya. “Aku menghilang? Aku mencarimu ke restoran karena kupikir kamu pergi untuk sarapan lebih awal.”
“Apa aku terlihat akan sarapan sebelum jam enam pagi?” tanya Davina.
“Lalu kemana kamu tadi pagi?”
“Di lantai dua, melihat sunrise.”
“Tapi pintunya tertutup. Kupikir kamu—“
Devon diam menatap Davina yang juga balas menatapnya tanpa ekspresi.
“Apa kamu tidak lihat sepeda di teras tetap ada dua? Kenapa kamu repot-repot mencariku ke restoran sementara sepedaku saja masih ada di sana.”
“Kupikir kamu menggunakan buggy.”
Davina menatap Devon dengan tatapan tak percaya. “Devon Mahawira, CEO DM Electronics yang dikenal sangat cerdas dan selalu penuh perhitungan, bisa melakukan hal konyol seperti tadi pagi? Aku tidak percaya. Jangan membuat alasan agar kamu tidak punya beban rasa bersalah di sini.”
“Kupikir kamu sarapan lebih awal karena kelaparan. Semalam setelah meninggalkan kamu begitu saja, kupikir kamu tidak jadi makan dan langsung pulang.”
“Aku tetap makan,” jawab Davina. “Bodoh sekali jika aku harus menahan lapar karena kamu. Hanya saja, aku tetap menunggu kamu kembali hingga satu jam berikutnya, namun kamu tidak kunjung datang.”
“Aku pergi nonton,” ujar Devon.
Davina perlahan mengangguk. Ada tempat menonton outdoor di area pinggir pantai. Dengan tempat duduk nyaman dan layar lebar yang di letakkan di atas air. Jadi Devon pergi ke sana semalam.
“Lalu pergi memancing dengan gadis-gadis pagi ini,” ujar Davina.
“Dan kamu juga begitu, pergi dengan laki-laki asing selain suamimu,” balas Devon.
“Suamiku menghilang dari vila.”
“Aku mencari istriku.”
“Padahal dia ada di vila.”
“Tidak. Dia sedang pergi memancing dengan pria asing.”
“Suamiku juga punya janji dengan gadis asing. Tapi dia sengaja memojokkanku agar aku menjadi pihak yang bersalah di sini.”
Devon nyengir, lalu merapikan rambut Davina yang lepas dari ikatannya. “Apa kita akan terus berdebat seperti ini? Kita jadi semakin mirip pasangan yang saling cemburu.”
“Itu tergantung kesepakatan,” ujar Davina dengan seyum miring.
“Aku benar-benar ingin menikmati hari-hari di sini tanpa bertengkar,” ujar Devon. “Penawaranku tetap sama seperti kemarin.”
Davina memejamkan mata, tampak berpikir beberapa saat.
“Oke,” ujarnya yang kemudian membuat Devon terkejut. Ia pun membuka mata dan memandang Devon serius. “Ayo kita lakukan dan nikmati hari-hari di sini bersama-sama.”
“Aku sudah dengar ucapanmu,” kata Devon sambil tersenyum. “Sudah terlambat untuk berubah pikiran. Jadi jangan coba-coba mengubah jawabanmu.”
Sebenarnya Davina masih ingin menjawab, karena ada beberapa kondisi yang ia ingin jadikan persyaratan. Namun, tiba-tiba sosok Erina tampak sedang melangkah mendekati mereka. Karena itu, alih-alih membalas ucapan Devon, Davina pun akhirnya balas tersenyum seraya memajukan tubuh.
Sebelum Devon sempat bereaksi, Davina langsung meraih wajah Devon dan menyatukan bibir mereka.
Ia sempat mendengar Erina terkesiap, sebelum merasakan Devon membalas ciumannya dengan lebih dalam.
***
Bersambung...