Bab 9-Fishing

1101 Kata
Ketika bangun keesokan harinya, Davina menemukan Devon ada di sisi lain tempat tidur. Entah bagaimana, rasa lega menelusup di hatinya. Ia pikir tadi malam Devon tidak akan kembali karena benar-benar marah padanya. Semalam Davina adalah orang pertama yang tiba di vila. Bahkan saat ia akhirnya tidur, Devon belum juga pulang. Davina bangun sambil melirik Devon yang masih terlelap. Entah kemana pria ini semalam, tapi yang terpenting adalah kini ia sudah kembali ke tempat tidur mereka. Davina keluar kamar dan kembali mengulang kegiatannya seperti pagi kemarin. Ia melangkah ke teras lantai dua dan menimati matahari terbit. Namun sayangnya kali ini Devon tidak menyusulnya. Sisi lain dalam dirinya berbisik kecewa, membuat Davina merasa menyesal karena sudah bersikap tidak baik pada Devon kemarin. Harusnya ia nikmati saja kegiatan mereka di sini seperti yang Devon katakan. Mereka bisa berdamai sejenak, lalu kembali berseteru saat pulang nanti. Tidak masalah jika Devon menganggapnya sebagai pemuas nafsu. Toh Davina tidak akan menyerahkan diri begitu saja. Bukankah lebih baik ia sedikit bermain-main untuk itu, hitung-hitung membuat Devon terjebak dan semakin tersiksa oleh rasa penasaran akan dirinya. Davina mendadak merasa kesal dengan hormon bulanannya yang kacau. Ketika masa PMS seperti ini, ia jadi tidak bisa berpikir jernih. Sekarang, ketika Devon sudah marah, bagaimana caranya ia menjebak Devon lagi dan membuat pria itu semakin tersiksa? Davina duduk cukup lama di teras tersebut, namun Devon benar-benar tidak muncul. Bahkan ketika Davina akhirnya turun, ia malah tidak menemukan pria itu di mana pun di sudut vila. Devon lagi-lagi menghilang. Namun kali ini Davina tidak bisa meneleponnya begitu saja. Kejadian semalam memberinya batasan untuk merecoki Devon. Karena tidak tahu harus mencari Devon di mana, Davina memutuskan untuk mandi dan menelepon Erick. Mungkin bergabung dengan Erick beserta adiknya adalah keputusan yang tepat untuk menikmati hari ini. *** Boat itu menunggu mereka di dekat dermaga pinggir pantai. Davina melangkah mendekati boat tersebut bersama Erick, sementara adik Erick yang bernama Erina sudah berada di sana bersama tiga temannya yang lain. “Siap untuk memancing?” tanya Erick sambil tersenyum. Davina balas tersenyum dan mengangguk. Tadi saat ia menelepon Erick, mereka janjian untuk bertemu di restoran dan pergi ke dermaga bersama-sama. Namun Erina dan teman-temannya sudah memisahkan diri lebih dulu, hingga hanya Erick yang menunggu Davina di restoran. “Hei, kenalkan ini Davina.” Erick memperkenalkan Davina pada Erina dan teman-temannya. “Erina,” ujar Erina seraya mengulurkan tangan. Wajahnya mirip Erick versi perempuan. Gadis itu tampak sebaya dengan Davina. Erina cantik dan bertubuh tinggi. Ia mengenakan bikini one piece berwarna hitam, namun ditutupi celana pendek sebagai bawahan. “Salam kenal, aku Rania,” ujar salah satu teman Erina yang berambut pendek. “Dita,” ujar salah seorang yang sejak tadi menatap sinis pada Davina. “Jenny,” sambung salah seorang yang bertubuh paling pendek. “Salam kenal,” ujar Davina sambil tersenyum. Erick lalu membantu Davina naik ke boat. Mereka berkumpul di sisi belakang dan duduk di tempat duduk masing-masing. “Kita masih harus menunggu satu orang lagi,” ujar Erina tiba-tiba. “Siapa?” tanya Erick. Erina menatap kakaknya sambil tersenyum. “Bukan kamu saja yang mendapat teman baru di sini.” Sekitar dua menit kemudian, di tengah rasa penasaran Erick akan teman baru adiknya itu, rombongan para gadis tersebut tiba-tiba berteriak dan melambai heboh ke dermaga. Davina dan Erick pun ikut menoleh ke arah sosok yang dipanggil oleh barisan berisik itu. Davina nyaris saja menganga ketika melihat Devon melangkah mendekati mereka. “Devon, siniiiii....” Erina melambaikan tangannya penuh semangat. “Dia tampan sekali pagi ini,” bisik Jenny. “Lebih tampan dari semalam,” bisik Rania. Entah mengapa, Davina mendadak meradang mendengar ucapan gadis-gadis itu. “Hai semu—“ Devon menghentikan ucapannya ketika melihat ke arah Davina yang kini tengah duduk bersisian dengan Erick. Davina sudah siap mengucapkan sesuatu ketika Devon langsung memalingkan wajahnya ke Erina dan teman-temannya yang tampak akan histeris melihat kedatangan pria itu. “Kami pikir kamu nggak akan datang,” ujar Erina sambil menyentuh lengan Devon. “ Aku harus mengurus beberapa hal dulu sebelum ke sini,” ujar pria itu tersenyum. Davina memalingkan muka. Devon tidak pernah seramah itu padanya. Melihat sikap berbeda pria itu untuk Erina dan teman-temannya membuat Davina mendadak jengkel. Erick kemudian memberi instruksi ke petugas hingga boat mereka pun akhirnya berangkat. Para gadis-gadis itu terus saja mengitari Devon, sementara Davina mati-matian berusaha untuk tidak melirik ke arah mereka. Sinar matahari mulai terasa menyengat. Davina menghadang sinar tersebut dari wajahnya dengan menggunakan telapak tangan. “Sudah mulai panas ya?” ujar Erick. Davina mengangguk. Namun, tiba-tiba saja Erick melepas topi yang dikenakannya lalu mengenakan topi tersebut ke Davina. “Eh, aku—“ “Kamu saja yang pakai.” Erick menahan tangan Davina yang hendak melepas topi tersebut dari kepalanya. “Tapi ini kan topi kamu.” “Kamu lebih butuh topi ini daripada aku,” ujar Erick. “Tapi...” Davina tetap enggan menerimanya. “Sudah tahu mau mancing, malah nggak ada persiapan,” ujar Dita sambil menatap sinis pada Davina. Davina ingin menjawab, namun perkataan gadis itu memang benar. Ia memang tidak ada persiapan. “Abaikan saja dia,” bisik Erick. Davina pun batal menjawab. Ia kemudian fokus mengobrol dengan Erick, sementara di sisi lainnya Devon tengah asik bersama para penggemarnya. Ketika boat akhirnya berhenti di tengah lautan, mereka pun bersiap memasang umpan ke kail masing-masing. “Mau pasang taruhan?” tanya Erick sambil membantu Davina memasang umpan. “Taruhan apa?” tanya gadis itu. “Taruhan jumlah ikan yang berhasil kita dapat,” jawab Erick. Ketika umpan selesai dipasang, Erick kemudian berdiri. Davina mengikuti pria itu ke tepian boat untuk melempar kail. “Lalu?” tanya Davina. Erick menyerahkan pancingan ke Davina. “Kalau aku berhasil mendapatkan ikan lebih banyak dari yang kamu dapat, malam ini kamu harus makan malam denganku.” “Hah?” Davina menatap Erick tak percaya. “Sebaliknya, kalau kamu yang berhasil mendapatkan ikan lebih banyak, malam ini aku akan traktir kamu makan malam lagi,” ujar Erick sambil melempar kailnya ke laut. Davina seketika terkekeh. “Itu sih sama saja, nggak ada bedanya.” Erick nyengir, lalu mereka berdua pun terkekeh bersama. Sementara itu, di sisi lainnya, ada dua orang yang tengah menatap mereka dengan hati membara. Devon merasa ia harus menjauhkan Davina dari Erick. Sementara Dita, rasanya ia ingin mendorong Davina hingga jatuh ke laut karena sudah merebut Erick darinya. “Aku dapat!” pekik Davina tiba-tiba. “Kailku ditarik.” “Ayo cepat tarik ke atas,” Erick langsung menyemangati. “Wah, cepat sekali,” ujar Erina. Semua mata kini fokus ke arah Davina. Dita bahkan meninggalkan pancingannya dan melangkah mendekati Davina dan Erick. “Wah, aku juga mau lihat dong,” ujar Dita dari belakang Davina yang tengah menarik pancingan. Wajah Davina kini penuh konsentrasi. Erick juga kini hanya fokus ke permukaan air, penasaran ikan seperti apa yang berhasil ditangkap Davina. Namun, tiba-tiba saja Dita terpeleset hingga menubruk tubuh Davina. Membuat gadis itu terdorong ke depan. “Kyaaa...” “Davina!” Byurrr.... *** Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN