Bab 8-Devon's Weirdness Part 3

938 Kata
“Aku tidak habis pikir semalam kamu lebih memilih untuk memesan makanan dari restoran dan menyantapnya di vila,” ujar Devon. “Kamu sudah melewatkan pemandangan indah restoran pada malam hari.” Mereka berdua kini tengah melangkah memasuki restoran untuk makan malam. Tidak seperti tadi pagi, malam ini mereka memesan mobil golf untuk membawa mereka ke restoran. Menurut Devon, bersepeda di malam hari adalah pilihan yang buruk, sementara berjalan kaki dari vila ke restoran jaraknya juga cukup jauh. “Mau bagaimana lagi? Aku kan ditinggal seorang diri kemarin,” ujar Davina lalu melangkah lebih dulu. “Hey... Kamu benar-benar marah ya.” Devon mengejar Davina dan menjajarinya. “Kalau begitu, besok aku akan mengajak kamu memancing untuk menebus yang kemarin.” “Aku tidak berminat,” sahut Davina ketus. Ia lalu melangkah ke bagian teras restoran dan langsung duduk di salah satu kursi di meja untuk empat orang. Devon menyusulnya dan memilih duduk di hadapan Davina. “Apa kamu serius tidak ingin menjalani hari-hari di sini bersama-sama?” “Ya,” jawab Davina ketus. Devon menarik napas. Ia menatap Davina beberapa saat, kemudian memundurkan kursi. “Oke, fine. Mari lakukan semuanya sendiri-sendiri.” Pria itu bangkit dari tempat duduknya, lalu meninggalkan Davina seorang diri di sana. Sejujurnya Davina sedikit terkejut dengan sikap Devon yang tak disangka-sangka tersebut. Ia pikir Devon akan kembali berusaha membujuknya. Namun Davina memutuskan membiarkannya saja. Ini adalah yang terbaik untuk mereka. Dengan cara ini, Devon tidak bisa lagi berusaha mengekorinya. Setelah terdiam beberapa saat, Davina kemudian memanggil pelayan untuk memesan makan malam. Tapi, baru saja pelayan yang mencatat pesanannya pergi meninggalkan mejanya, seorang pria tampan berdiri di hadapan Davina. “Hai, boleh aku duduk di sini?” tanyanya. Pria ini langsung mengucapkan bahasa Indonesia, batin Davina. Davina mengernyit bingung. Di dekat mereka masih ada beberapa meja yang tampak kosong. Kenapa pria ini malah ingin duduk semeja dengannya? “Kamu orang Indonesia? Atau Malaysia?” tanya pria itu lagi. “Indonesia,” jawab Davina. “Sama dong. Kamu tampaknya sedang sendirian. Aku juga. Sepertinya lebih asik kalau ada teman mengobrol saat makan malam seperti ini,” ujar pria itu lagi. “Aku tidak sedang sendirian,” jawab Davina. Meski tampan, pria ini adalah orang asing. Jadi ia tidak akan bersikap terlalu ramah. Terlebih karena pria ini terasa sangat mencurigakan. Pria di hadapannya itu tersenyum. “Oke, aku mau jujur. Tadi aku melihat kamu sedang bertengkar dengan seorang laki-laki. Pacarmu?” “Suami,” jawab Davina. “Oh, kamu sudah menikah,” ujar pria itu tampak terkejut. “Kamu masih tampak muda sekali.” Orang ini banyak omong sekali, batin Davina. “Maaf kalau lancang. Wajar kamu mencurigaiku,” ujar pria itu terkekeh. “Aku Erick,” ujarnya seraya mengulurkan tangan. Tapi Davina hanya mengangguk, hingga Erick akhirnya menarik kembali tangannya. “Aku ke sini untuk menemani adik perempuanku yang sedang berlibur bersama teman-temannya. Mereka duduk di lantai atas. Tahu sendiri kan, para gadis jika sudah bersama-sama pasti sibuk sekali. Mereka meninggalkanku sendirian. Dan ya, aku butuh teman mengobrol, jadi aku menghampiri kamu.” Davina menatap pria di hadapannya itu untuk meneliti. “Aku tidak mendengar apa pun yang kamu dan suamimu bicarakan tadi. Aku hanya melihat ekspresi kalian yang sedang bersitegang, lalu dia meninggalkan kamu. Jadi ya kupikir kita bisa mengobrol sejenak di sini...” “Duduklah,” ujar Davina pada akhirnya. Sejujurnya ia juga tidak suka duduk sendirian di sini. “Aku tinggal di villa nomor 15,” ujar pria itu. “Keberatan kalau aku merahasiakan vila nomor berapa yang kami tempati?” tanya Davina. Erick langsung tertawa. Ekspresinya tampak makin ramah. Sepertinya pria ini memang orang baik, batin Davina. “Tentu saja tidak apa-apa. Aku hanya memberi informasi karena kamu sejak tadi tampak menaruh kecurigaan padaku,” ujarnya. “Pesan saja makan malammu. Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi,” kata Davina pada akhirnya. Ketika makanan mereka datang, keduanya mengobrol sambil menyantap makan malam. Erick ternyata adalah tipe orang yang pandai membuka suasana. Meski awalnya curiga, Davina akhirnya bisa mengobrol dengan santai bersama pria itu. Erick juga jago memilih topik obrolan. Pembicaraan mereka sama sekali tidak membahas hal-hal yang bersifat informasi pribadi. Davina yang merasa mood-nya buruk sejak kemarin pada akhirnya lega ada yang berhasil menyelamatkannya dari kebosanan. “Besok aku dan adikku akan memancing. Kalau kamu masih bertengkar dengan suamimu dan ingin menjauh darinya, kamu bisa bergabung dengan kami. Selain aku dan adikku, ada dua temannya yang lain yang ikut.” Tawaran Erick cukup menarik. Davina diam dan mempertimbangkan tawaran tersebut. Lagi pula adik Erick dan teman-temannya adalah perempuan. Bukan hal berbahaya jika Davina bergabung dengan mereka. Erick kemudia memanggil pelayan dan meminta kertas beserta pulpen. Ia lalu menuliskan nomor ponselnya dan menyerahkan kertas tersebut ke Davina. “Ini nomor teleponku. Telepon saja kalau besok kamu berencana ikut bergabung, oke.” Davina menatap kertas di hadapannya. “Rasanya lancang sekali jika aku langsung meminta kamu menyimpan nomor teleponku. Jadi ini rasanya lebih sopan,” ujar Erick sambil tersenyum. Davina balas tersenyum. “Terima kasih.” “Sama-sama. Omong-omong bagaimana cara kamu pulang ke vila? Apa kamu pakai sepeda?” “Aku akan memesan buggy,” jawab Davina. “Keputusan yang bagus,” ujar Erick. “Meski bersepeda merupakan hal paling menyenangkan di sini, tapi melakukannya di malam hari bukan keputusan yang tepat.” Davina mengernyit karena ucapan Erick barusan mirip dengan kata-kata Devon tadi. “Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu ya. Aku harus kembali ke gadis-gadis beriksik itu dan mengawasi mereka lagi. Makan malam ini biar aku yang traktir, anggap saja ucapan terima kasih karena sudah mengizinkanku mendapat teman ngobrol dan terhindar dari kebosanan menjadi satpam para gadis-gadis berisik itu.” Davina mengangguk sementara Erick beranjak dari meja mereka. Selama setengah jam berikutnya Davina hanya duduk di mejanya seorang diri. Ia masih menunggu kalau-kalau pada akhirnya Devon kembali. Namun, hingga Davina lelah menunggu, pria itu tidak kembali lagi untuk mencarinya. *** Bersambung.... Jam setengah 10 nanti saya up bab baru. Hari ini double up ya ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN