Bab 7-Devon's Weirdness Part 2

732 Kata
“Huaah... Panas,” ujar Davina sambil melangkah ke dalam vila. Matahari pukul satu siang benar-benar tidak bersahabat untuk aktivitas luar ruangan. Jadi mereka memutuskan untuk kembali ke vila dan melanjutkan kegiatan sore nanti. Selesai sarapan tadi mereka melanjutkan bersepeda untuk mengelilingi pulau. Mereka mampir di beberapa tempat, lalu beristirahat di tepi pantai hingga pukul sebelas, dan memutuskan makan siang di sebuah restoran bawah laut. Devon, seperti sikap anehnya tadi pagi, masih terus-terusan bersikap sok baik pada Davina. Ia dengan sopan menarikkan kursi untuk Davina duduk saat mereka makan siang tadi, lalu mengulurkan tangannya saat mereka naik dari tangga bagian dalam restoran bawah air. Davina pergi menuju walk in closet untuk mencari buku di dalam koper yang belum sempat ia bongkar kemarin, sementara Devon membawa laptopnya ke ruang kerja mini berdinding kaca yang menghadap ke arah laut. Setelah menemukan bukunya, Davina kembali ke kamar dan berbaring di tempat tidur sambil membaca. Ia sempat melihat Devon yang tampaknya tengah memeriksa e-mail dari balik pintu kaca yang menghubungkan kamar dan ruang kerja. Davina berdecak. “Lihat siapa yang sejak tadi pagi berisik soal menikmati kegiatan yang ada di sini, sementara dirinya sendiri sibuk bekerja.” Seolah mendengar ucapan Davina, Devon yang sejak tadi fokus menatap layar laptop tiba-tiba saja menoleh. Davina melirik pintu kaca yang masih tertutup. Devon jelas tidak mendengarnya, kan? Pria itu menatapnya sambil menaikkan sebelah alis. Davina pura-pura tak peduli, lalu membuka bukunya. *** “Davina... Bangun...” Sentuhan di lengannya membuat Davina perlahan membuka mata. “Kamu benar-benar seperti putri tidur ya. Lihat, matahari di luar sana sudah nyaris terbenam,” ujar Devon. “Hmmm...” gumam Davina, lalu melirik langit di luar kamar yang berwarna jingga. Tampaknya ia ketiduran saat membaca tadi. “Ayo bangun. Kita naik ke teras atas dan melihat matahari terbenam.” Malas-malasan, Davina pun duduk. Namun, karena tidak sabar dengan gerakannya yang cukup lambat, Devon menarik tangannya hingga Davina beranjak dari tempat tidur. “Apa kamu mau aku gendong?” tanya pria itu. “Apa? Tidak. Tentu saja tidak,” ujar Davina sambil menarik tangannya. “Kalau begitu ayo kita naik ke teras atas,” ajak Devon. “Kamu duluan saja,” ujar Davina. “Aku harus mencuci muka dulu.” Devon pun membiarkan Davina ke kamar mandi untuk mencuci muka. Davina tidak menyangka Devon akan menunggunya di depan pintu kamar mandi. Ia pikir pria itu memilih naik lebih dulu. Setelah Davina selesai mencuci muka, mereka kemudian naik ke teras atas bersama-sama. Keduanya lalu berdiri di sisi yang berseberangan dengan posisi mereka tadi pagi ketika melihat matahari terbit. Mereka berdiri berisisian di sisi pagar pembatas. Tak ada yang bicara. Keduanya menatap ke arah depan, ke lautan yang membentang. Di batas garis horizon, matahari tampak membesar dan mulai turun hingga separuh. Langit dipenuhi warna jingga sementara angin sore berembus dan terasa sejuk. Bagai terhipnotis, mereka berdua terus saja fokus menatap matahari yang mulai terbenam. Hingga akhirnya langit mulai kelabu saat malam mulai menjelang, Davina pun akhirnya bersuara. “Indah sekali.” “Ya,” sahut Devon. “Sesuatu yang jarang sekali bisa kita nikmati di tengah kota yang sibuk.” “Kamu saja yang sibuk,” ujar Davina. “Aku tidak seperti kamu.” Devon menoleh dan tersenyum. Lagi-lagi tersenyum. Davina tidak terbiasa dengan ini. Ia masih merasa heran dengan sikap Devon. Ia yakin sekali Devon yang biasa tidak akan tersenyum seperti ini padanya. “Karena kamu baru saja lulus kuliah,” ujar Devon. “Tunggu sampai pekerjaan membuatmu benar-benar sibuk.” “Aku bisa pastikan tidak akan sesibuk kamu nantinya,” jawab Davina. “Kamu benar-benar terdengar seperti istri yang merajuk karena suaminya terlalu sibuk.” Devon memutar tubuh menghadap Davina. Davina tersenyum tipis dan memutar tubuhnya menghadap Devon. “Aku tidak merajuk. Bukannya hari ini suamiku sudah berusaha keras menemaniku seharian?” Devon mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Tangannya terulur untuk merapikan rambut Davina yang tertiup angin. “Apa aku akan dapat hadiah karena sudah menjadi suami yang baik hari ini?” tanyanya. Davina tersenyum. Devon balas tersenyum, lalu merendahkan kepalanya ke wajah Davina. Perlahan, ia terus mendekat hingga bibir mereka nyaris saja bersentuhan. Namun tiba-tiba saja Davina menghalangi bibir Devon dengan telapak tangannya, lalu mundur untuk menarik diri. “Kenapa?” tanya Devon bingung. “Aku mau mandi,” ujar Davina. Devon mengerjap bingung, namun Davina langsung berjalan melewatinya untuk turun. *** Bersambung.... Maaf update kali ini sedikit dulu ya. Mulai tanggal 1 November 2020, cerita ini akan saya update tidap hari. Gak lama kok, tinggal berapa hari lagi udah tanggal 1 lho. Jadi tungguin ya. Makasih banyak untuk support dan komentar2nya. Saya akan nulis dengan rutin demi kalian ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN