“Davina...” Devon merasa tatapan istrinya itu menghunjam jantungnya. Davina benar-benar marah sekarang. Davina melangkah mendekati mereka. Tatapannya kini fokus ke Erisa. Ekspresi Davina kali ini benar-benar datar tak terbaca, tapi Devon tahu kalau istrinya itu akan segera marah besar. “Apa kamu nggak punya harga diri sehingga harus masuk ke kamar suami orang?” ujar Davina ketika berdiri di hadapan Erisa. “Ah, iya. Kadang aku lupa kalau Devon sudah menikah. Sebelumnya kami biasa seperti ini, jadi—“ Byur... “Kyaaa!!!” Erisa menjerit saat Davina menyiram isi gelasnya ke wajah perempuan itu. “Devon, panas,” ujarnya mengadu ke Devon. “Makan tuh! Dasar jalang!” maki Davina. “Davina...” Devon berusaha menengahi. “Apa? Kamu masih mau bela dia? Belum satu jam yang lalu kamu pulang dan bila

