Devon bersiul ketika Davina keluar dari balik pintu kaca dan melangkah menuju ke arah kolam. Pria itu tadinya tengah menikmati minuman dari baki bambu yang mengapung di atas kolam, sebelum matanya kini memindai tubuh Davina.
“Terpesona?” tanya Davina dengan senyum setengah menggoda. Ia sengaja berhenti dan membiarkan Devon memindai tubuhnya yang dibalut bikini. “Sayangnya ada beberapa tanda ini yang membuat penampilanku jadi tidak sempurna,” tunjuknya pada leher dan d**a.
Devon pun meletakkan gelasnya, lalu berdiri. Davina tahu, bikini two pieces yang kini tengah ia kenakan pastilah yang menjadi penyebabnya. Bagian dadanya tanpa tali, hanya diikat ke belakang seperti kemben, sementara bagian celananya juga terikat dengan tali yang Davina bentuk menjadi simpul pita di sisi kiri dan kanannya. Devon yang mata keranjang tentunya tidak akan bisa berpaling dengan penampilannya kali ini.
Tapi sayangnya, tampaknya kali ini bukan Devon saja yang terpesona. Davina juga tergoda karena pria itu kini hanya mengenakan sepotong celana pendek tanpa atasan, memamerkan tubuh polosnya yang tampak atletis. Dasar Devon sialan.
Devon tersenyum miring seraya mendekat. “Bukan masalah, tanda itu merupakan mahakaryaku.”
Davina mencibir, namun matanya masih fokus ke otot perut Devon yang kencang.
“Omong-omong, warna hitam ternyata juga bisa membuat kamu tampak sangat menggoda, meski sebenarnya aku lebih suka kamu mengenakan warna merah.”
Davina akhirnya mengalihkan tatapannya ke wajah Devon. “Tenang saja, aku akan pakai bikini merah saat kita snorkeling besok.”
Senyum Devon seketika lenyap, digantikan dengan mimik serius. “Kamu berencana mengenakan bikini seperti ini untuk snorkeling besok?”
“Tentu saja,” jawab Davina santai.
“Tidak boleh!” ujar Devon dengan ekspresi tidak ingin dibantah.
“Apa? Kenapa?”
“Kamu berencana memberikan tontonan gratis kepada orang-orang? Apa kamu lupa para petugasnya adalah para pria?”
Davina seketika tertawa. “Oh, ternyata suamiku mulai bersikap posesif sekarang.”
“Tentu saja. Tidak ada yang boleh menikmati apa yang menjadi milik Devon Mahawira.”
Davina terkekeh. “Sayangnya aku akan tetap memakainya besok.”
Mata Devon seketika melotot. “Jangan coba-coba.”
“Memangnya kenapa kalau aku berani coba-coba?” Davina mengangkat dagu menantang Devon.
“Akan kutarik lepas tali bikinimu dan akan aku pastikan kamu nggak akan mengenakan sehelai benang pun hari ini.”
Davina menjerit ketika Devon mengulurkan tangan untuk menarik lepas tali di celana bikini yang ia kenakan. Ia pun seketika mundur.
“Jangan macam-macam, Devon,” ancam Davina.
“Simpul yang terikat di kiri dan kanan celanamu itu memang didesain untuk ditarik, kan?” tanya Devon seraya melangkah mendekati Davina.
“Jangan mendekat!” Davina mengangkat tangan untuk memperingatkan Devon.
“Kamu bicara apa barusan? Aku tidak mendengarnya,” ujar Devon.
Merasa tidak akan selamat jika terus bicara, Davina pun memutuskan untuk kabur. Ia berbalik untuk berlari sementara Devon langsung mengejarnya.
Davina menjerit sepanjang vila, lalu berlari menuju teras lantai dua. Rencananya adalah ia akan menutup pintu teras agar Devon tak bisa menyusulnya, namun ternyata Devon tiba dengan sangat cepat hingga Davina akhirnya terpojok.
“Sekarang kamu nggak bisa kabur lagi,” ujar Devon seperti singa yang memerangkap buruannya.
Davina melangkah mundur sambil menatap Devon hati-hati. Sial, tidak ada jalan kabur lain selain melompat turun dari sini.
“Devon, please... Bercandamu benar-benar nggak bagus.”
“Aku tidak sedang bercanda. Aku serius,” ujar Devon. “Jangan kenakan bikini seperti ini di hadapan orang lain.”
Davina menatap ke sekeliling, lalu menemukan papan seluncuran di belakangnya. Rasanya terakhir kali ia meluncur di papan seperti ini adalah saat berada di water park ketika masih SD dulu. Kini, ia harus melakukannya lagi demi menyelamatkan diri dari Devon.
“Oh, kamu berencana meluncur ya?” ujar Devon ketika melihat Davina melirik seluncuran tersebut.
Davina menatap ragu ke bawah. Ternyata cukup tinggi. Namun jika ia tidak meluncur, ada Devon yang siap melepaskan pakaiannya. Davina pun kembali melirik Devon waspada.
“Menyerah saja, Davina,” ujar Devon.
Davina menggeleng. Lalu, sebelum berubah pikiran, ia pun langsung duduk di papan seluncur dan membiarkan dirinya merosot hingga jatuh ke dalam air.
Rasanya seperti saat ia jatuh ke air bersama Devon kemarin. Namun kali ini sedikit lebih sakit karena ia terlempar dari posisi yang kurang menyenangkan.
“Apakah rasanya menyenangkan?” teriak Devon dari atas.
Davina mengusap air di wajahnya, lalu mendongak dan mengacungkan jari tengah ke arah Devon.
Pria itu terkekeh, kemudian duduk di papan seluncuran.
Melihat Devon akan menyusulnya, Davina segera bergegas menuju tangga untuk naik ke teras.
“Tuggu aku,” ujar Devon.
“Dalam mimpimu! Lebih baik aku kabur dari sini sebelum kamu melucuti pakaianku!”
Byurrr...
Bunyi sesuatu jatuh ke dalam air terdengar tak lama setelah Davina naik ke teras. Ia pun bergegas melangkah untuk kembali ke dalam vila. Namun, ketika Davina hampir mencapai pintu, tiba-tiba Devon berhasil menyusulnya dan memerangkap Davina ke dalam dekapannya sebelum gadis itu berhasil masuk ke vila.
“Kyaaa! Devon, lepas!”
“Sudah aku bilang, kamu nggak bisa kabur.”
“Gimana caranya kamu bisa secepat ini?” tanya Davina sambil berusaha melepaskan diri.
“Macan jika sedang mengejar buruannya akan jadi sangat gesit. Jangan lupakan itu,” ujar Devon sambil meraba tali celana Davina.
“Dev, please... Kamu bilang kita akan berenang di sini. Jangan lepas pakaianku,” rengek Davina.
“Kita memang akan berenang, tapi tanpa pakaian. Anggap saja kita seperti kaum nudis hari ini.”
Sebelah ikatan di sisi kanan celana Davina pun terlepas.
“Devon...” Davina benar-benar terdengar ingin menangis kali ini. “Jangan.”
Tangan Devon kembali menarik tali di sisi kiri celana Davina.
“Kamu benar-benar jahat.” Kali ini, Davina benar-benar menangis.
***
Bersambung...