Devon seketika menghentikan tangannya.
Davina benar-benar menangis.
Segera saja Devon menjauhkan tangannya dari tali celana Davina.
“Kamu nangis?” tanya Devon bingung.
Davina tidak menjawab dan masih terisak. Kedua telapak tangannya kini menutupi wajah.
“Davina...” Devon menyentuh lengan Davina hati-hati.
Davina tetap tidak merespons dan terus terisak.
Oke, dia memang menangis. Devon kemudian segera mengikat kembali tali di sisi kanan celana Davina. Gadis itu berdiri sambil merapatkan kakinya, hingga celana itu tidak merosot turun. Setelah selesai mengikat celana Davina, Devon pun meraih Davina dan memeluknya.
“Maaf kalau bercandaku kelewatan,” bisik Devon seraya mengusap pundak Davina untuk menenangkan.
Davina masih belum berhenti menangis, hingga Devon akhirnya memutuskan untuk menggendongnya menuju kursi malas di tepi teras.
“Ssshhh... Sudah jangan menangis.”
“Kamu bikin aku takut,” isak Davina yang kini menyurukkan wajah di dadanya.
“Aku minta maaf,” ujar Devon.
“Kamu mirip laki-laki m***m yang ingin memperkosaku.”
“Apa?!” Devon seketika tidak terima. “Aku ingin memperkosamu? Yang benar saja. Aku kan hanya bercanda.”
“Kamu menarik lepas tali celanaku,” ucap Davina lirih.
“Oke, bagian itu mungkin kelewatan,” ujar Devon mengaku. “Tapi melihat kamu panik rasanya menyenangkan.”
Davina menjauhkan tubuh, lalu memukul lengan Devon.
Pria itu seketika terkekeh. “Aku baru tahu kalau kamu lumayan cengeng.”
“Kamu pikir perempuan mana yang tidak menangis diperlakukan seperti tadi?”
“Maaf...” ujar Devon lalu menghapus air mata di wajah Davina. “Sudah, jangan menangis lagi. Wajahmu jadi lucu seperti badut kalau kamu menangis.”
Davina cemberut. “Kamu sebenarnya niat minta maaf nggak sih? Masa sudah minta maaf, detik berikutnya malah ngatain aku.”
Devon terkekeh. “Ya habisnya wajah kamu memang kelihatan seperti badut. Hidung merah, mata berkaca-kaca, pipi memerah.” Devon menyentuh tiap-tiap bagian yang disebutnya.
Davina langsung menepis tangan Devon lalu berdiri. “Kamu memang nggak berperasaan. Dasar Devon jahat!”
Setelah memaki Devon, Davina berbalik dan melangkah mendekati kolam. Ia lalu duduk di pinggir kolam dengan kaki yang direndam ke air lalu meraih nampan sarapan mereka yang mengapung di dalam kolam. Nampan rotan tersebut berisi banyak sekali makanan. Ada salad buah, sandwich, daging asap, olahan seafood, juga nasi yang dimasak khas Maladewa.
“Jangan habiskan sendiri, nanti kamu gendut,” ujar Devon yang menyusul Davina. Pria itu memilih duduk di sebelah istrinya, seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa. “Kalau kamu nekad menghabiskan semuanya sendirian, pinggang rampingmu itu seketika akan terisi lemak.”
Davina melirik Devon dengan tatapan sinis. “Setelah menyebut mukaku mirip badut, sekarang kamu mulai menyindirku lagi soal berat badan. Apa kamu sudah bosan hidup?”
Devon menatap Davina sambil memasang ekspresi pura-pura takut. “Duh, galak banget sih. Jadi takut.”
Davina lalu meraih gelas minuman dari dalam baki dan mengacungkannya ke Devon.
“Stop... Stop... Aku bercanda, Davina. Kenapa kamu senang sekali menyiram atau memukulku?” ujar Devon yang dengan sigap menahan gelas yang hendak dituang Davina ke wajahnya.
“Sebenarnya aku lebih senang lagi kalau gelas ini berisi jus cabai. Biar mulut kamu yang nggak ada filter itu kepedasan.”
Devon mengambil alih gelas dari tangan Davina, lalu menggenggam tangan gadis itu agar tidak kembali meraih gelas tersebut.
“Kalau kamu mau pukul aku karena masih kesal, kamu bisa melakukannya nanti. Sekarang ayo kita sarapan dulu biar kamu punya tenaga untuk balas dendam,” bujuk Devon dengan senyum lebar.
Davina menarik napas dalam-dalam.
“Aku janji nggak akan kabur. Sesuai janji sebelumnya, hari ini aku akan bikin kamu senang. Kamu bisa suruh-suruh aku nantinya. Sekarang kita sarapan dulu, ya?”
Davina menatap Devon dengan tatapan curiga. Namun, karena memang merasa cukup lapar, ia akhirnya setuju untuk sarapan dulu. Setelah ini, ia jamin Devon akan ia buat tersiksa.
***
“Kamu benar-benar ingin membuat pinggangku encok ya,” omel Devon sambil menarik napas.
Pagi tadi selesai sarapan mereka berenang di kolam, lalu dilanjutkan dengan berenang di laut yang ada di sekitar vila. Devon benar-benar menepati janjinya dengan tidak lagi menggoda Davina. Mereka akhirnya bisa berenang dengan damai.
Lalu ketika matahari mulai terasa terik, mereka akhirnya membilas tubuh dan bersantai di dalam vila. Lalu kini, saat tiba jam makan siang, seperti sarapan tadi pagi, mereka memesan makanan untuk diantar ke vila. Semula semua berjalan normal, hingga akhirnya Davina meminta agar mereka makan siang di teras lantai dua.
Saat itulah Devon benar-benar sadar bahwa Davina benar-benar ingin menyiksanya. Mereka tidak hanya akan makan siang di teras atas, melainkan Davina juga meminta digendong hingga tiba di sana. Nanti, setelah mengantar Davina ke atas, Devon harus kembali turun untuk menyemput hidangan makan siang mereka.
Semula Devon ingin meminta petugas saja yang mengantarkan ke atas, namun Davina beralasan ingin melihat Devon memenuhi janjinya. Jadi alih-alih memerintahkan petugas untuk langsung membawa makan siang mereka ke lantai dua, Devon malah meminta semua hidangan diletakkan di pantri yang ada di dapur kecil vila mereka.
Setelah petugas yang mengantar makan siang mereka pergi, kini Devon harus mengantar Davina lebih dulu hingga si tuan putri bisa duduk santai di teras atas. Sambil menggendong Davina ala piggy back, Devon mengeluh di tengah-tengah tangga.
“Kamu benar-benar berat, tahu nggak,” omel Devon lagi. “Ini pasti karena kamu makan terlalu banyak saat sarapan tadi.”
“Devon, jangan mulai. Kita sekarang masih ada di tengah tangga. Kamu nggak mau kan kita berakhir dengan leher patah hanya karena ribut dengan ucapan kamu barusan?”
“Baik, Tuan Putri,” ujar Devon manyun.
Ia lalu melanjutkan langkah sambil menggendong Davina.
“Tolong bukakan pintunya,” ujar Devon sambil terengah.
Davina mengulurkan tangan dan membuka pintu teras.
Udara panas menyambut mereka ketika Devon melangkah menuju teras.
“Kamu yakin ingin makan siang di sini? Sepanas ini?”
“Kan ada angin yang bikin adem,” bantah Davina. Sebenarnya ia juga lebih suka mereka makan siang di dalam saja. Namun ia tidak ingin berubah pikiran karena masih ingin menyiksa Devon.
“Jadi kamu sekarang sudah bisa aku turunkan belum?” tanya Devon saat mereka berdiri di depan kursi teras yang memiliki atap daun. Di tengahnya ada sebuah tiang penyangga yang terhubung dengan meja kayu.
“Ya, turunkan aku di sini,” ujar Davina.
Devon menurunkan Davina, lalu memegang pinggangnya.
“Bapak Devon mulai encok rupanya,” ujar Davina. “Ternyata Bapak Devon sudah tidak muda lagi ya.”
Devon seketika menatap Davina tajam.
“Makasih ya,” ujar Davina sambil membelai wajah Devon. “Sana ambil semua makan siang kita. Aku tunggu di sini.”
Devon menipiskan bibir sambil menatap Davina geram. Namun pria itu tidak membalas dengan sepatah kata pun, melainkan langsung berbalik dan kembali turun.
Setelah tiga kali bolak balik, Devon akhirnya selesai juga menghidangkan semua menu makan siang mereka. Wajah pria itu penuh peluh dan memerah.
“Good job,” ujar Davina lalu meraih wajah Devon dan memberinya kecupan singkat di bibir.
Sesaat pria itu terpaku dengan tindakan Davina, namun sebelum ia sempat bertanya, Davina sudah menyeka dahinya dengan tisu.
“Sampe keringatan begini ya ampun,” ujar Davina sambil menghapus keringat yang bermunculan di wajah Devon.
“Ya, menurut kamu ini ulah siapa?” ujar Devon jengkel. “Aku harusnya dapat hadiah lebih dari ciuman singkat tadi.”
“Kok jadi pamrih gini sih,” ujar Davina yang telah selesai menghapus keringat Devon. Gadis itu kembali bersandar di kursinya. “Kan kamu sendiri yang janji akan bikin aku senang. Harusnya nggak boleh minta hadiah.”
“Tapi kalau berharap boleh kan?” ujar Devon.
“Dih, nggak ikhlas,” ujar Davina. “Udah ah, ayo makan.”
“Eh air minumnya...” Devon menatap hidangan di hadapan mereka dengan ekspresi menderita.
Davina menatap meja, dan akhirnya juga menyadari bahwa Devon lupa membawa air mineral untuk mereka.
“Ehmmm....” ujar Davina, lalu melirik ke arah Devon yang ternyata kini tengah menatapnya.
“Ya sudah, aku ambil,” ujar Devon dengan muka tidak ikhlas. Ia lalu berdiri dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah tangga.
Sementara Davina di belakangnya tertawa dengan sangat puas.
***
Bersambung...
Makasih untuk komen2 kalian yg bikin ketawa dan semangat nulis. Makasih juga selalu setia sama cerita double D ini. Semoga saya bisa selalu ngasih cerita yg memuaskan untuk kalian *peluk satu2*