03. Cemburu Menyadarkan Yura

605 Kata
Cemburu menyadarkan Yura—mungkin Elan bukanlah lelaki yang tepat untuknya. Tapi bisakah rasa ini menghilang? Yura tidak tahan lagi. Dia ingin menjerit nangis dan berkata lantang bahwa dia mencintai Elan. Setelah menumpuh perjalanan lima belas menit, akhirnya mereka tiba di toko emas. Yura mengikuti langkah Elan dan Karina yang sedang bergandengan tangan sembari berkata riang, seakan telah lupa dengan keberadaan Yura. Di toko emas, mereka disambut hangat oleh pelayan. Elan bertanya dengan wajah bersinar dan tutur kata bahagianya kepada pelayan tersebut, “Bolehkah kami melihat semua cincin pernikahan?” “Tentu saja.” Mereka berdua mengikuti langkah pelayan, mengelilingi etalase. Yura harus menata hati dan pikiran yang dikuasi oleh rasa cemburu, dia harus siap menahan kecemburuan yang menggebu melihat lelaki yang dicintai diam-diam tengah memilih cincin pernikahan. “Apakah Anda menikah dengan dengannya?” tanya pelayan tersebut melihat ke arah Karina dengan menunjuk dengan dagu. Karina hanya tersenyum ramah sebagai jawaban. Yura memandanginya mereka dengan tatapan risau. “Kayaknya ini bagus deh, Rin,” kata Elan kepada Karina sembari menunjuk bentuk perhiasan cincin. Yura hanya diam melihat-lihat cincin di etalase seberang etalase Elan dan Karina. Dia berusaha cuek dengan mereka berdua yang asik memilih cincin. Yura tidak ingin kecemburuan melebihi batasnya, tapi Yura sesekali pandangannya malah ke arah sepasang calon pengantin itu. Dijejal paksa menendam perasaannya sendiri melihat yang dicintai dan sayangi bahagia dengan wanita lain “Ra, kamu pilih cincin juga gih!” Mata Yura berkedip, bibir melongo mendengar ucapan Elan barusan. Untuk apa memilih cincin? Apa Elan sedang mengejek Yura atau merasa kasihan karena Yura seperti orang bingung di sana? “Untuk apa?” tanya Yura, heran dan tidak mengerti. “Tidak apa, bantu kita memilih cincin, Ra,” jawab Elan. “Siapa tau pilihanmu cocok buat kita,” imbuh Karina. Astaga! Demi semesta alam, mereka berdua kenapa begitu menyebalkan diluar dugaan Yura? Sakit! Sungguh sakit! Dengan terpaksa, Yura menerima permintaan mereka dan memilih cincin. Yura harap, semua akan baik-baik saja. “Bagaimana kalau yang ini?” kata Yura setelah matanya memutar melihat cincin cantik di matanya. Tidak peduli Elan dan Karina tidak menyukai pilihan Yura, tanpa diduga mereka membeli cincin pilihan Yura. **** Retak sudah hati Yura. Undangan pernikahan Elan dan Karina sudah berada digenggamnya. Hatinya tidak sanggup untuk sekedar membuka undangan tersebut, untuk membaca pun Yura tidak bisa. Ya. Tadi pagi Elan membagikan undangan kepada semua dokter dan perawat untuk menghadiri pesta pernikahan. Sudah pasti mereka diundang. Yura duduk diruangannya, sesekali melirik undangan pernikahan yang tergeletak di tepi mejanya. Sudah tidak ada harapan lagi karena hari pernikahan Elan dan Karina sudah semakin dekat. Yura menulis buku Diary, menulis keluh kesah dan ketakutan terbesarnya. Menulis dengan segenap hati mencurahkan perasaan, termasuk cinta dalam diamnya. Berharap perasaan legah. Seorang psikiater juga termasuk manusia, ada saat dimana dia tidak bisa menceritakan masalah kepada orang lain. “Ya ampun, seorang dokter psikiater bisa galau juga,” sindir seorang wanita. Dia geleng-geleng kepala melihat ekspresi muka galau dari Yura. Yura meringis kesal, kepergok sedang galau. “Ishh kamu selalu masuk tanpa mengetuk pintu dulu,” desisnya. Wanita berprofesi sebagai psikolog duduk di depan Yura sambil melipatkan kedua tangan di bawah d**a. Dia bernama Zeta. “Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu. Dari dulu sudah aku bilang, kamu mencintainya? Segera ungkapkan perasaanmu itu. Kenapa kamu keras kepala sekali.” Yura segera menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Hust! Jangan bicara keras-keras kali, takut ada yang denger.” “Haha.” Dia tertawa. “Sampai kapan kaya gini terus, Ra?” Yura menggeleng lemas. "Aku tidak tau," jawab Yura agak cemberut. Sungguh, Yura dibuat bingung dan galau. Cinta dalam diamnya harus move on secepatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN