02. Percikan Api Cemburu

881 Kata
Yura dibuat shock tak percaya. Apa-apaan ini? Seketika ada percikan api cemburu yang membara dalam d**a Yura. Matanya menajam dan tidak berkedip ketika menangkap dua sosok lawan jenis saling memandang dan terseyum bahagia. Sakit tapi tidak berdarah. “Hey, sudah lama menunggu?” tanya Elan masih menyunggingkan senyum bahagianya, senyuman yang sebelumnya tidak pernah Yura lihat. Karina dengan ceria menjawab, “Engga kok, aku juga baru beli minuman di sebrang jalan.” “Aku nggak apa-apa, 'kan, ngajak Yura? Biar kita nggak berdua saja ke sana,” katanya kepada Karina. Yura terdiam, bibirnya menutup rapat. Rasanya sakit sekali ketika tahu dia diajak untuk menemani mereka berdua membeli cincin pernikahan? Bodoh sekali tadi siang Yura menerima ajakan Elan, jika tahu apa yang akan terjadi—lebih baik Yura menolak. Karina menggeleng, “Nggakpapa kok. Malah aku senang dia ikut." Kemudian Karina menolehkan kepalanya ke belakang dimana Yura duduk. “Hai, Yura,” sapa Karina dengan senyuman ringannya. Astaga. Wanita ini kenapa begitu sempurna? Wajahnya sangat anggun, senyuman menawan dan bulu mata lentik. Ah, kenapa Yura sangat iri kepadanya? Pantas saja Elan menjadikan Karina sebagai calon istri. Ternyata selera Elan wanita seperti Karina. “Ra, disapa tuh sama Karin.” Yura sedikit terkejut mendengar teguran dari Elan, dia menjadi gelagapan dan sudah sadar dari lamunannya. “Hai juga Dokter Karin. Apa kabar? Lama nggak ngobrol bareng,” kata Yura, sedikit canggung. “Loh, kenapa manggil Dokter? Kita kan lagi nggak di rumah sakit.” “Ah iya.” Yura nyengir. Karina terkekeh. “Yuk, jalan sekarang. Takut keburu sore,” kata Karina. Elan mengangguk, menjalankan mobilnya menuju toko emas. Di belakang, Yura menarik sudut bibir menyaksikan Elan dan Karina sedang bahagia-bahagianya akan menikah. Gejolak kecemburuan dan rasa sakit di dalam d**a semakin sesak. Yura meremas dadanya dan mengigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang siap meluncur ke kedua pipi. Semuanya begitu menyakitkan. Yura hanya bisa diam menahan gemuruh hatinya. “Ciee yang lagi dekat sama Zafran,” celutuk Elan memecahkan keheningan di dalam mobil. ”Gimana tuh jawabannya,” lanjutnya. “Jawaban apa?” tanya Yura, berpura-pura tidak mengerti. Ya, Yura mengenal Zafran, dia menjadi sahabat karib Elan. Kalau dipikir-pikir, Zafran memang tampan, tetapi ketampanannya tidak bisa mengganti posisi Elan di hati Yura. “Itu lho ... Zafran dari dulu kesemsem sama kamu. Kapan nih kamu mau seriusan sama dia?” Yeah, Yura tahu bahwa Zafran mempunyai rasa kepadanya. “Apaan sih, Lan?” acuh Yura. “Aku sama Zafran nggak dekat banget, hubungan kita hanya teman nggak lebih,” sambung Yura dengan nada sinis. “Yee ... jangan salah. Banyak lho awalnya jadi teman tapi menikah. Aku sama Karin dulu seperti itu, bahkan komunikasi diantara kami hampir tidak pernah. Tapi nyatanya, beberapa minggu lagi, dia menjadi istriku,” jelas Elan melirik dan tersenyum kepada Karina. “Betulkan?” Karina membalas senyuman Elan dan mengiyakan. Yura memutar bola mata, muak. Matanya melihat ke arah kaca jendela mobil. Bila bisa menghilang sekarang juga, Yura ingin menghilang. Menyebalkan! “Kamu tahu, 'kan Ra. Zafran sahabat karibku. Dia pasti orang yang baik dan keluarganya juga baik-baik semua,” jelas Elan sambil mengemudi. Aduh, Si Elan seperti ganti profesi menjadi Mak Comblang. “Cocok deh sama kamu, Ra. Serasi banget tau,” sahut Karina tanpa tahu wajah Yura sekarang berubah menjadi masam. Yura sudah malas mendengar ocehan mereka yang membicarakan Zafran dan dirinya. “Gimana kalau kamu langsung tunangan lalu nikah aja sama Zafran, nggak usah pacaran. Aku sama Karin nggak ada acara pacaran tuh kaya anak ABG.” Yura semakin muak. Ingin rasanya berteriak bahwa dia mencintai Elan bukan Zafran. Ingin rasanya memberitahu bahwa dia cemburu. Tapi lidahnya kelu untuk mengatakan hal itu, kata-kata itu tercekat ditenggorokan. Kepala Yura memutar ke depan lagi. “Aku mau fokus karier dulu dan nggak pengen nikah muda,” tutur Yura. Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya. Sebenarnya ini salah Yura yang melabuh hati pada pelabuhan yang salah. “Loh, karier kamu kan sekarang sudah melambung menjadi psikiater, Ra,” kata Karina. “Kayanya Zafran juga serius sama kamu.” Yura tertawa kecil. “Aku sama Zafran nggak saling mencintai. Jadi, aku mencari pendamping hidup yang cocok dan saling mencintai.” Karina tiba-tiba menoleh kepala ke belakang. “Lalu siapa lelaki yang kamu cintai sekarang? Dokter Elan?” tebak Karina. Yura tersentak kaget mendengar tebakan dari Karina. Dia menjadi diam seribu bahasa dan matanya memanas. Ya tebakan Karinan tepat sasaran dan benar sekali. Karina mengerutkan kening melihat reaksi Yura. “Kok diam, Ra? Jangan-jangan benaran kamu mencintai Dokter Elan?” Tangan Yura gemetaran, dia segera menggenggam kedua tangannya dengan erat. Mendadak Yura terkena serangan panik. Sial! Sial! Kenapa hatinya tercelos mendengar tebakan Karin. “Nggak—” “Ih, apaan sih kamu, Rin,” potong Elan. “Yura mana mungkin suka sama aku. Dari dulu kita hanya sahabat, lagi pula dia sangat cuek sama aku.” “Iya juga, ya, haha,” balas Karina. Mereka berdua terkekeh bahagia. Yura semakin menggenggam erat tangannya dan hampir menusukkan kuku ke kulit. Kini Yura benar-benar terluka, hatinya tercabik-cabik. Yura hanya terdiam dan mengulas senyuman tipis sepercik hangat. Luka lara dipaksa menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah menjadi miliknya, dijejal hingga sesak dengan harapan semu semua akan baik-baik saja, walaupun untuk bernapas saja menyakitkan, “Apakah kamu tahu, Elan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN