Lelaki Dari Syurga

2381 Kata
Dia tak pernah bertanya, ataupun ingin ditanya Dia hadir menghapus luka, walau tak ada yang tahu lukanya Dia membawa beban orang lain dipundaknya, tanpa mengeluh akan duka Dia tulus menerima, tanpa ada Tanya Dia sempurna, bagi cinta Sempurna bagi rasa Jika ada tawa di atas luka, itulah dia Jika ada kehidupan di atas jiwa yang sirna, itulah dia Dia .. dia.. dan dia… Aku tak mengerti dia, tapi aku bisa memahaminya Aku tak mengenal dia, tapi begitu dekat dengannya Ya, aku mencintainya… Hanya itu yang aku tahu tentangnya.. Wujud cinta yang nyata... Diana menghentikan tulisannya, kertas di atas mejanya itu basah dengan tetes air mata kebahagiaan. Tersenyum dan bersyukur karena tuhan mengirimkan Hazza untuknya, seorang yang begitu tulus mengajarkannya arti kata cinta. Seseorang yang selalu memberi tanpa meminta apa pun. Membuatnya menerima perhatian yang begitu besar, merasa lengkap walaupun penuh kekurangan. Bagaimana Diana tidak jatuh cinta? “ Terima kasih ya Allah….” Syukurnya malam itu. Ditatapnya wajah Hazza yang masih tertidur di atas kursi goyang neneknya. “ Aku tak berharap apa pun lagi didunia ini, asal dia diizinkan terus bersamaku.” Pintanya. Diana kemudian berdiri, melangkah mendekati Hazza, ditatapnya wajah itu lekang dengan penuh cinta. “ Selamat tidur suamiku tersayang.” Senyumnya Ya ini hari pertama dia hidup bersama Hazza, hidup dengan sosok baru yang terus menjaganya. Perlahan Diana menghadapkan wajahnya di depan cermin dengan sesuatu ditangannya. “ Hari ini adalah hari pertamaku menjadi istrinya.” Senyumnya penuh bahagia “ Lihatlah nek, Diana sekarang sudah bahagia di tangan laki laki yang tepat.” Imbuhnya menatap Hazza yang masih tampak lelap “ Aku tahu aku bukanlah hambamu yang baik, tapi dengan ini aku ingin memulai hidupku menjadi lebih baik ya Allah, terima kasih telah memberiku luka yang menjadi pelajaran begitu berharga buatku. Setidaknya dengan luka itu, aku lebih menghargai waktu yang begitu indah ini, aku belajar menjadi lebih dewasa.” Senyumnya kemudian mengurai sesuatu yang dia pegang. Sebuah jilbab, ya, sebuah jilbab berwarna biru tua yang kemudian dibalutkan menutupi rambutnya. Diana menatap dirinya di depan cermin, begitu anggun dan indah memandang wajahnya dibalik jilbab itu, tersenyum lembut dengan mata berkaca- kaca. Ia ingat dengan jelas saat mendengar perkataan Dalilla tempo hari bahwa Hazza sangat menyukai gadis berhijab. Mungkin niat Diana kali ini masih karena suaminya, namun suatu saat nanti ia berharap jilbab itu akan menutupi rambutnya untuk selamanya. “ Selamat datang dunia baruku.” Ucapnya…getir. Entah mengapa rasanya begitu tenang. Seakan ia benar benar telah lahir kembali menjadi Diana yang berbeda. “ Aku terlihat sangat cantik.” Puji Diana menatap bayangan wajahnya sendiri di depan cermin. Namun tiba- tiba… “ Selamat datang istri solehahku yang cantik.” Diana terhenyak , entah sejak kapan Hazza bersandar di pintunya dengan tangan melipat di depan d**a. Ia mengulas senyum, senyum yang begitu manis. “ Hazza… bukannya kau tidur? Barusan aku melihatmu masih di kursi goyang nenek lho.” Diana Grogi Hazza melangkah mendekati istrinya, mengangkat dagunya kemudian mengecup keningnya lembut. Diana agak sungkan, matanya terpejam dengan gurat malu di pipi. “ Tetaplah begini, aku suka.” Senyumnya, mata Diana berkaca- kaca menatap Hazza yang terlihat begitu senang dengan keputusannya. “ Kenapa menangis?” Tanya pemuda itu lembut. Diana tak menjawab, hanya memegang pundak suaminya kemudian memberinya ciuman mesra. “ Aku sangat mencintaimu Hazza, aku sangat mencintaimu.” Ucapnya dengan suara terbata. “ Simpanlah air matamu, tangisanmu adalah luka bagiku….” Ucap Hazza kemudian merangkul Diana didadanya. “ Aku yakin saat ini Dalila sedang menyusun rencana untuk membunuhku.” Tawa Diana kemudian “ Kenapa?” Hazza mengernyit “ Karena aku berani menciummu!!”Jawab Diana malu malu “ Tidak, aku yakin dia akan membunuh kita berdua.” Sambung Hazza kemudian. Diana mengernyitkan keningnya. “ Karena malam ini dan selamanya aku akan menyerahkan diriku padamu , bukankah ini malam pertama kita.” Senyum Hazza, mendengar itu Diana tertunduk semakin malu. “ Hahaha.” Tawa Hazza kembali merangkul istri tercintanya, namun tak ada yang tahu saat itu hatinya begitu terluka. Dibalik tawanya itu dia menjerit, menangis. Karena Itu sama saja dia menyerahkan hidupnya untuk dikutuk selamanya. “ Maafkan aku… Tuhan.” Bisiknya kemudian menidurkan Diana di atas bikinya, menaiki dipan dan menatap Diana lekat dari atas, membuat jantung Diana berdegup cepat. Hazza terlihat begitu menawan saat itu, kenapa Diana baru menyadari? Matanya yang biru menyala bagai bintang, senyum yang begitu manis “ Hazza, a-aku.” Diana gugup saat pemuda itu mendekatinya. Ia terlihat sedikit ragu, mungkin kenangan lama bersama Zayn kembali membiak. “ Ssshhh tenanglah! Harus berapa kali aku membuktikan, kalau aku berbeda.” Senyum pemuda itu memainkan mata kemudian mendekati wajah Diana, mengecup keningnya lembut, hidungnya, bibirnya. Dan... “ Aku mencintaimu.” Ucap Diana pelan saat pemuda itu mematikan lampu dan melucuti pakaian dari tubuhnya Cumbuannya begitu lembut Ciumannya begitu hangat Dekapannya begitu mesra Segala yang ia lakukan, ia lakukan dengan penuh cinta Ya, aku bisa merasakan itu di setiap ia menyentuh sendi sendi tubuhku, disaat kami menyatu. Seakan, aku tidak pernah mengalami malam pertama seperti ini... -----***----***----***----- Sejak fajar yang tiba hari itu, kehidupan Diana berubah total. Dia benar benar merasakan indahnya menjadi seorang istri, seluruh perhatian dan kasih sayang suaminya hanya tertuju padanya. “Serasi” Itu pendapat warga tentang mereka. Ada juga yang berpendapat wajah mereka berdua mirip, dan kalau mirip itu artinya jodoh. Diana begitu bahagia hidup bersama Hazza, sosok yang sejak saat menjadi suaminya rela bekerja sebagai nelayan. Diana juga tak pernah bertanya dari mana asal suami tercintanya itu, karena baginya masa depan bersamanya adalah hal yang terpenting. Dan mungkin itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya… Drrrttt drrrttt Hp Hazza berdering sore itu saat dia sedang mengikat tali perahu didermaga. “ Ibu...” Ucapnya pucat ketika membaca nama yang tertera dilayar. Diusapnya rambutnya ke belakang dengan raut panik. “ Ha.. halo.. Ibu!!” “ Jawab ibu ada dimana kau sekarang?” Suara Ibunya terdengar tegas “ A.. aku.. aku...” “ Jawab Ibu Harry.” Hazza mengambil napas berat “ Harry!!” Teriak ibunya. Mungkin kabar pernikahannya sudah sampai karna Dalilla. “ Maafkan aku Ibu.” Ucap Hazza kemudian, bola matanya berkaca kaca “ Dimana kau… kenapa kau tidak mendengarkan kata kata ibu, dimanapun kau, pulang sekarang. atau Ibu yang akan menjemputmu.” Ancam wanita itu terdengar murka Hazza menarik napas panjang kemudian mematikan HP-nya. Wajahnya yang putih berubah kemerahan, bola matanya berair. “ Ibu maafkan aku...” Sepertinya aku telah meleburkan diriku ke dalam neraka, dan jika dineraka itu ada dia, maka aku rela.” Ucapnya sendu. Sementara itu... “ Haaaaazzzzzzzz……..!”“ Teriak Diana dengan wajah ceria sambil berlari bersama Jane kearah Hazza. Hazza segera menghapus air matanya dan berusaha tersenyum ketika Istrinya yang cantik itu mencium tangannya. “ Kamu kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Diana ketika melihat Hazza membuka kartu HP-nya kemudian melemparnya kelautan lepas. “ Aku hanya tidak mau ada yang mengganggu rumah tangga kita.” Senyum Hazza berdalih “ Cieee ciee Diana dan Hazza tambah mesra saja.” Goda si kecil Jane menyenggol lengan Diana “ Sssttttt anak kecil gak boleh bilang begitu.” Hazza mencubit pipi Jane lembut. “ Tapi benar looo kata orang, kalian itu mirip.. jadi kayak saudara, bukannya suami istri.” Tawa Jane. Deg wajah Hazza berubah pucat mendengar kata kata yang terlontar dari bibir mungil itu. “ Di, suamimu jadi sering bengong tuh.” Tutur Jane mengagetkan “ Pulang yuk.” Ajak Diana “ Ayoo..” Senyum Hazza pasi ------***------***------- Malam itu udara terasa begitu dingin menyengat, kejadian tadi membuat Hazza sulit memejamkan kedua matanya, ditatapnya wajah Diana yang tampak sudah hanyut dalam mimpinya, perlahan dia bangkit dan melangkah pelan menuju teras rumah, melihat sekelilingnya yang sudah tampak gelap. Mengambil napas dalam- dalam kemudian terus berjalan kearah pantai, dilihatnya batu karang yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiam. “ Apakah menyelamatkanmu waktu itu adalah bencana buatku?” Tuturnya pelan. “ Sejauh apa pun aku melangkah, tak seharusnya aku masuk dalam hidupmu Diana.” Tatapnya lekang sambil mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Namun… “ Kau benar, harusnya kau tidak menghianati aku.” Seketika Hazza menoleh, tampak seseorang melangkah mendekatinya, seorang berjaket hitam dengan topi dan sebuah tas ditangannya, sosok dari masa lalu yang seolah terasa begitu dekat, ya, benar… dia adalah … “Zayn!!” Hazza terbelalak kaget “ Kenapa? Kaget? Bukankah kau seharusnya lebih tahu kalau aku akan datang.” Senyum Zayn sinis. Hazza terdiam tanpa kata Apakah ini mimpi? Atau hayalan Hazza semata? Tidak, ini seperti benar benar nyata, Hazza bahkan merasakan semilir angin malam yang menyapu lengan putihnya Pemuda itu benar benar berdiri di hadapannya, menatapnya penuh kemarahan “ Harusnya aku tahu sejak dulu kau memang penghianat, dulu kau merampas perhatian semua orang di sekitarku, sok baik padahal munafik!” Tekan Zayn menuding “ Zayn aku mohon dengarkan aku… aku tidak bermaksud….” “ Dan sekarang kau menikahi istriku..!!” Potong Zayn sinis “ Dia bukan istrimu lagi, kau yang meninggalkannya.” Balas Harry “ Haha bagus.. kau sudah berani melawanku ya, jika kau tidak menjadi penghalang dia pasti akan kembali padaku, aku memintamu untuk menjaga cintanya tetap untukku, bukan malah menikahinya.” Bentak Zayn hingga urat lehernya terlihat “ Kau menghancurkannya Zayn, aku tidak bisa membiarkannya seperti itu. Dia selalu berharap tapi kau meninggalkannya begitu saja. Kau tidak memberikan dia cinta yang seharusnya. Aku sudah berusaha untuk tidak mencintainya, tapi aku tidak bisa! Aku tidak bisa membiarkannya hancur begitu saja.” Tutur Hazza berkaca kaca “ Kenapa??” Zayn mengernyit, menatap sahabatnya itu lekat “ Karnaa.. karnaa….” Lidah Hazza tercekat “ Heh dengar ya.. aku pasti akan membalasmu.. aku pasti a- k-an m-em-b-alasmu, ingat itu.” Senyum Zayn sinis kemudian berbalik dan melangkah pergi.. “ Zaa..yynnnn. zaaaynn tungguuu….” Teriak Hazza… namun sosok Zayn malah terus melangkah… menghilang dari pandangan… yang tiba tiba menjadi gelap, seluruh tubuhnya seolah terguncang. Kemudian sayup sayup terdengar suara Diana, begitu dekat… “ Hazza… Hazza kau kenapa… Hazza… banguunn , Hazza!!!” Suara itu membangunkannya. Seketika kedua bola mata Hazza terbuka menatap sekelilingnya, keringat deras mengucur dikeningnya. “ Ya tuhan, Cuma mimpi.” Ucapnya dengan napas memburu. “ Mimpi? Kenapa kau menyebut namanya?” Tanya Diana mengernyitkan kening. Hazza tak menjawab, dia hanya mengusap wajahnya yang basah dengan keringat kemudian turun dari tempat tidurnya kearah dapur. “ Hazza, kau tak menjawabku, kenapa kau menyebut namanya?” Teriak Diana sambil mengikuti, mendapati sang suami tengah menyalakan kompor dan meletakkan air di atasnya. “ Hazza….” Paksa Diana “ Diamlah, aku ingin membuat kopi...” Hanya kata – kata itu yang meluncur dari bibir Hazza, membuat rasa penasaran Diana semakin meledak, tak biasanya wajah Hazza seserius itu, tak ada senyum yang mengembang di wajah tampannya. Menyadari perubahan sikap Diana, Hazza memandang istri tercintanya, kemudian menyunggingkan senyum pucat yang hampa. “ Kau menyembunyikan sesuatu dariku ya?” Tanya Diana merajuk sambil mengancingi bagian depan pakaiannya “ Tidak, aku hanya bermimpi bertemu dengan Zayn!” Senyum Hazza menjawab “ Zayn?” “ Ya, aku bermimpi dia kembali dan membawamu pergi… karna itu aku berteriak menyebut namanya, aku takut kehilanganmu.” Tutur Hazza berdalih. Mendengar itu Diana terhenyak. “ Kau tidak akan meninggalkan aku kan?” Tanya Hazza dengan nada tak seperti biasanya. “ Harusnya aku yang mencemaskan hal itu Hazza, mendapatkan suami sepertimu adalah anugerah besar dalam hidupku.” Ucap Diana, Hazza tersenyum, merasa senang akan jawaban sang Istri kemudian memeluknya erat. Mimpi Hazza waktu itu memang hanyalah sebuah bunga tidur, namun akibat dari mimpi itu jauh melesat masuk ke dalam hati Diana. Mungkinkah Zayn akan kembali? Bisakah Diana memilih jika Zayn kembali? Diana sendiri ragu akan hal itu, karena sejujurnya nama Zayn belum sepenuhnya hilang dari hatinya. Bagaimana jika nanti pemuda yang dulu pernah sangat dia nanti itu kembali? “ Tuhaan… berikan aku jalan terbaik , hilangkan keraguan ini.” Doa wanita berjilbab itu dalam gundah. Sementara Hazza , sejak hari itu sikapnya agak berubah. Lebih sering memainkan melodinya disisi pantai bersama deburan ombak yang mengalun kejam, wajahnya menjadi pucat dan sikapnya dingin. Entah apa yang dia pikirkan, beban apa yang tengah dia pikul, tak ada yang bisa menjangkaunya. Meskipun berdiri begitu dekat, seolah ada jarang yang semakin jauh antara dia dengan Diana. -----***---***---***----- Sore itu sore kelima dengan suasana yang sama, Diana menatap Hazza dari balik jendelanya tengah duduk disisi pantai, sayup sayup terdengar melodi yang begitu indah dimainkan. “ Ada apa denganmu Hazza?” Pikirnya kemudian melangkah kearah kamarnya, mengambil gitar miliknya dan hendak beranjak menemani. Tapi, entah kenapa lantai tempatnya berpijak seolah berputar seketika, cahaya menjadi redup dan berwarna kekuningan. Matanya berkunang kunang… Brak Gitar yang dipegangnya terjatuh bersama tubuhnya yang terhempas membentur lantai. Diana tak sadarkan diri. “ Diana!!” Hazza menghentikan petikan gitarnya mendengar suara yang berasal dari gubuk. Kemudian langsung berlari meninggalkan gitarnya di sana. “ Dianaa..?” Menyadari tubuh istrinya tergeletak didekat pintu kamarnya, pemuda itu bergegas mengangkat dan membawanya ke tempat tidur. “ Di.. bangun.. Dianaa…. ya tuhan!!!” Keluhnya mendapati kulit istrinya yang terasa panas. Dengan penuh kepanikan, Hazza bergegas mencari ponselnya, ditekannya nomer ponsel seseorang yang dia hafal. “ Tuutt.. Tuutt.. Tutut” Tersambung tapi tidak juga diangkat. “ Come on pamaan….” Keluhnya, kemudian kembali menelefon, hal itu diulanginya sampai 3 kali. Hingga.. “ Hallo… ini siapa?” Tukas seseorang mengangkat telefonnya, suaranya tampak seperti pria paruh baya. “ Paman ini aku, Hazza.. maksudku Harry...” Cemas Hazza “ Oh Harry, nomer baru ya, ada apa? Apa kau sakit?” “ Paman, aku mau minta bantuanmu, kumohon datanglah ke tempatku.” Panik Hazza “ Ada apa Harry, paman sedang di klinik!” “ Kumohon paman, aku butuh bantuanmu, ini tidak cukup jauh dari klinikmu kan..!!” Pinta Harry memelas “ Hmm baiklah, share lokasi alamatnya, paman akan segera ke sana!!” Hazza bernapas lega sejenak setelah mengirim lokasi alamat pada pamannya yang seorang dokter itu, namun... “ Deg!” Ia menyadari sesuatu yang seketika membuat wajahnya pucat “ Ya tuhaan apa yang aku lakukan, ini sama saja aku memberi tahu semuanya pada paman...” Sadarnya. Ditatapnya wajah Diana yang masih tak sadarkan diri, perlahan tangannya membelai lembut kening istrinya. “ Kau kenapa sayaang….” Matanya yang kebiruan tampak berkaca- kaca. Next part : Hancur ke dua kalinya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN