Beberapa saat Hazza terhenyak diam ditempatnya tanpa sedikit pun beranjak, hingga orang yang dia sebut paman itu tiba di sana, seorang pria berwajah bule, dengan rambut pirang yang sebagian besar sudah berwarna putih, jass yang dia kenangan begitu jelas menunjukkan identitasnya, serta sebuah nickname bertuliskan “ Dr. Arnold Stive”
“ Harry?? Siapa dia?” Tanyanya curiga setelah memeriksa beberapa titik tubuh Diana. Hazza hanya diam, tak menjawab ataupun menatap, hanya terlihat wajah pucat yang terus tertunduk menatap Diana.
“ Harry?? Jawab paman!!” Tegas orang itu sekali lagi
“ Dia kenapa paman?” Hazza justru mengalihkan topik. Namun pria itu tampaknya begitu curiga.
“ Siapa dia?” Tegas pamannya
“ Paman Stive tolong katakan dia kenapa?” Tanya Hazza berdalih, mencoba sekuat tenaga beralibi. Tapi yang namanya keluarga, pasti sikap keras mereka sama.
“ Jawab paman, siapa gadis ini, baru akan paman katakan kondisinya!” Bentak pamannya kali ini dengan wajah serius
“ Di.. dia Diana Safan, Gadis yang …” Belum selesai Hazza melanjutkan kata katanya...
“ Adikmu itu, yang selama ini kau cari?” Potong pamannya dengan pandangan menyudutkan. Hazza mengangguk pelan.
“ Ikut paman sebentar!” Tukasnya kemudian beranjak keluar diikuti Hazza. Sesampainya di luar...
“ Apa Diana sudah menikah?” Pertanyaan pamannya justru semakin membuat pemuda itu merasa bingung
“ Paman jawab saja bagaimana kondisinya. Saya mohon.” Pintanya tidak berani menatap
“ Harry, kau menikahinya?”
Deg
Wajah Hazza akhirnya terangkat, menatap pamannya dengan mata berkaca kaca
“ KAU MENIKAHINYA?” Bentak pamannya meradang
Melihat keponakannya masih terdiam tak menjawab, tiba tiba..
“ Bug”
sebuah hantaman keras membuat Hazza jatuh tersungkur memegang pipi kanannya. Darah segar langsung mengalir dari hidungnya yang mancung.
“ Paman!!” Tatapnya dengan mata nanar mendapati sebuah tinjuan berisi dari paman kesayangannya yang masih berdiri tegap di hadapannya.
“ Dia Diana Safana, putri dari Ibumu sendiri, dia adikmu menurut hukum.. jadi ini alasanmu mencarinya? Jawab paman sejak kapan kau menjadi sebrengsek ini Harry?” Bentak Pamannya berang
“ Paman.. sa..saya.” Hazza tidak menemukan jawaban
“ Harry!!” Bentak Pamannya Geram
“ Aku mencintai dia paman… apa itu sebuah dosa, aku sangat mencintainya!!” Tutur Hazza menghapus darah segar yang terus menetes dari hidungnya. Ia berusaha berdiri tegak
“ Oh God… jadi benar, kau yang menghamili adikmu itu, pulang sekarang bersamaku, semuanya belum terlambat, jangan mempermalukan keluargamu Harry!” Ajak pria itu hendak menarik lengan keponakannya. Namun, Harry melepas pegangannya.
“ Hamil??” Sebuah cahaya terpancar dimata Hazza
“ Ya, dan kau harus pergi sekarang, apa kata dunia jika mengetahui ayah dari bayi itu adalah kakak dari ibunya sendiri, apa akalmu sudah hilang? Secantik apapun Diana Safana tetaplah adikmu menurut hukum. Pulanglah!” Bentak pamannya
“ Aku tidak akan meninggalkannya paman, tidak akan pernah.” Tegas Hazza berdiri tegak
“ Pulang sekarang atau selamanya kau akan terbuang!!”
“ Aku tidak akan pernah meninggalkannya paman, bahkan kalaupun paman membunuhku.” Tolak Hazza
“ Harry!!” Bentak Dr. Stive berang, tangannya mengepal erat.
“ Aku tidak akan pernah pergi dari sisinya, tidak akan.. aku dan dia tidak ada hubungan darah paman, tolong mengertilah. Aku sangat mencintainya, paman.. kau adalah orang yang paling dekat denganku setelah ayah tiada, kau mengerti aku lebih dari siapa pun, aku mohon paman.. aku sangat mencintainya, kalau kau mau aku akan bersujud di kakimu.. tolong jangan pisahkan kami!” Bola mata Hazza berair, beberapa bulir bening menetes di sana, dengan tangan melipat seperti orang memohon dan bibir yang terus meminta membuat amarah Dr. Stive reda.
“ Dosa apa yang telah dilakukan ayahmu nak.. ya tuhaan Edgar tidak akan menyukai ini seandainya dia ada di sini.” Keluh pria itu kemudian memalingkan wajah
“ Paman… aku sangat mencintainya, dia segalanya bagiku, jika cinta ini adalah dosa aku rela merasakan neraka sebagai surga.. aku mohon jangan pisahkan kami, buang aku dari hak waris dan keluarga jika itu membuatku bisa bersamanya, lagi pula hanya dia yang aku miliki dan begitu berharga!” Pinta Hazza, melihat ketulusan yang terpancar dari wajah ponakan tersayangnya itu Dr. Stive tak sanggup berkata- kata lagi. Selama ini Hazza belum pernah meminta apa pun darinya, pemuda itu menjadi pendiam sejak kematian ayahnya yang berkebangsaan British. Edgar Edward adalah satu satunya saudara Dr. Stive, sejak kematiannya, Dr. Stive memutuskan untuk tinggal diindonesia dan ikut merawat Harry Edward yang berwarga Negara Indonesia ikut sang Ibu, dia sangat menyayangi Harry, itu mungkin juga karena Harry mengingatkannya pada putranya yang meninggal karena kecelakaan bersama istri tercintanya. Melihat Harry memohon seperti itu membuat hatinya terasa begitu sakit, pria itu enggan menatap wajah Harry, dia lalu beranjak tanpa sepatah kata pun menuju mobilnya dan melaju pergi meninggalkan Hazza sendirian.
“ Terima kasih paman.. “ Tutur Hazza yang kemudian berbalik hendak masuk ke gubuknya dengan perasaan lega bercampur bahagia, sebelum…
“ Di.. Diana??” Langkahnya terhenti menyadari Diana berdiri di depan pintu dengan mata berkaca- kaca, entah sejak kapan dia di sana. Dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya Diana telah mendengar semuanya
“ Diana, kau tidak apa apa, kau tau kata dokter kau Hamil, aku sangat gembira, tidakkah kau merasa senang?” Tutur Hazza menutupi kesedihannya. Berharap Diana juga akan bahagia
“ Kau sangat bahagia kan? Sayang kita akan memiliki anak. Keluarga kita akan sempurna.” Senyum harry hendak memegang tangan istrinya. Namun...
“ Cukup!” Ucap Diana seketika, ia menghempas genggaman tangan Hazza. matanya memerah tajam, tatapan yang belum pernah Hazza lihat sebelumnya.
“ Di.. kau tidak bahagia?” Hazza mencoba memegang pundaknya, namun Diana malah menepis tangannya dengan kasar, ditatapnya wajah Hazza dalam dalam.
“ Penipu.. !!” Ucapan keji yang begitu mengiris hati.
“ Katakan bagaimana aku harus memanggilmu? Hazza atau Harry? Bagaimana anakku harus memanggilmu? Paman atau ayah, hah?” Tutur Diana dengan nada berat, Hazza tercekat menyadari bahwa Diana telah mendengar semuanya, sorot matanya yang begitu terluka serta bibirnya yang gemetar
“ Diana, maafkan aku, aku tidak bermaksud menipumu, aku benar- benar mencintaimu Diana, telah aku tukarkan seluruh hidupku untuk tetap di sini bersamamu, tidak salah jika kita bersama kan, kita tidak memiliki hubungan darah, aku dan kamu bukan saudara kandung. Kita hanya saudara tiri. Ini tidak salah Diana!” Hazza meyakinkan dengan wajah penuh harap.
“ Salah jika aku bersama denganmu Harry, Harry adalah nama anak dari orang yang merampas ibuku saat aku masih menyusu padanya, Harry adalah nama anak dari orang yang telah merampas ibu dari ayahku, dan kaulah orangnya,, ini sebuah kesalahan besar!” Teriak Diana keras dengan mata memerah.
“ Kau penyebab nenekku menderita selama bertahun tahun lamanya, kau penyebab aku hidup yatim piatu. Kau alasan nenekku tidak bisa memejamkan mata. Kau Harry Edward! Dan aku menyerahkan diriku padamu? Aku rasa aku sudah benar benar malang! Pertama temanmu menipuku! Dan sekarang kau menghancurkan diriku!!” Tekan Diana memerah
“ Tapi kau mencintaiku, Diana aku tidak pernah menginginkan hal itu.. aku datang untuk mengembalikan kebahagiaanmu, Diana percayalah tak sedetikpun aku hidup tanpa rasa bersalah karena telah membuatmu menderita, tak sedetikpun aku hidup tanpa bayang bayang tangismu, haruskah aku menanggung dosa ayahku?” Wajah Hazza memelas, bulir bening air mata terus menetes dari kedua mata indahnya membuat hati Diana perih
“ Katakan hal itu pada bangkai AYAHMU!” Bentak Diana dengan wajah marah, mendengar itu wajah Hazza terangkat, menatap Diana tajam.
“ Suruh bangkai ayahmu itu menemui aku dan bersujud dikakiku atas semua kesalahannya, apa kau bisa melakukannya?Hah! Apa ayahmu yang terkutuk itu bisa mengembalikan semua kebahagiaanku? Bisa mengembalikan masa kecilku?” Bentak Diana lagi.
“ Diana cukup!!” Bentak Hazza dengan nada yang mulai berubah
“ Apa kau bisa menyuruh ayahmu itu menghidupkan ayahku? Apa kau bisa membuat dia mengembalikan ibuku? Tuan Harry Edward yang terhormat, kakak tiriku tersayang, dan sekarang aku sadar darah ayahmu memang ada padam, PE-NI-Pu!” Bentak Diana. Namun tiba tiba...
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Diana, membuatnya menatap Hazza nanar, pemuda itu memerah dengan tangan yang masih terangkat.
“ Ayahku sudah mati Diana, berhentilah menghinanya, ini bukan sepenuhnya salahnya, aku sudah tulus mencintaimu harusnya kau bisa mengerti itu, tak bisakah ketulusanku ini membungkam semua masa lalu, aku meninggalkan semuanya demi kamu!” Tegas Hazza dengan bibir gemetar.
“ Sekarang kau membuktikan bahwa kau adalah Harry putra Edgar, kebahagiaan apa yang kau berikan hah? Kau hanya membuat lukaku semakin hancur, kau menjadikan aku ibu dari anak kakak tiriku sendiri. Kebahagiaan apa itu, katakan padaku … bahkan Zayn tidak pernah menyakitiku sejauh ini! Kau menikmati tubuhku di tempat tidur seolah tidak terjadi apa apa! Terbuat dari apa hatimu itu. Dan sekarang kau berpikir aku bisa percaya padamu!” Ucapan Diana membuat Hazza terhenyak. Begitu perih melihat kenyataan yang ada, wanita yang begitu dicintai kini berdiri dengan kata- kata yang melukai hati.
“ Baiklah kalau begitu, aku akan pergi dari hidupmu. Jika itu maumu!” Tutur Hazza dengan tatapan sendu, Diana bungkam. berat rasanya menyadari hatinya juga tak bisa menerima kenyataan ini, mengapa harus Hazza?
“ Kuharap setelah aku pergi, kau akan menemukan ketenangan itu, tolong jaga anakku baik- baik, aku titipkan sisa hidupku dijalanmu Diana. Benci aku sepuas yang kau mau. Tapi itu juga darah dagingmu. Jangan membencinya.” Mata Hazza berkaca- kaca, berharap agar Diana berkata agar dia jangan pergi, namun bibirnya masih bungkam, wajah wanita terkasihnya itu hanya tertunduk seolah begitu menerima. Perlahan, Hazza mengangkat dagunya agar Diana menatap matanya.
“ Aku mencintaimu Diana, aku sangat mencintaimu. Ingat ini adalah permintaanmu, aku tidak pernah menginginkan ini!!” Ucapnya membuat air mata Diana meleleh lepas, perlahan dikecupnya mesra kening Diana untuk terakhir kalinya, ciuman perpisahan yang begitu menyakitkan.
Diana hanya bisa menangis tanpa berkata apa- apa saat Hazza berbalik, dan berkata “ Selamat tinggal, Diana, dan setelah ini Hazza sudah mati.” Ucapnya kemudian melangkah pergi dari hadapan sang peri kecil. Diana jatuh di atas lututnya, berteriak lepas menahan semua bebannya, menangis sekuat tenaganya, menatap sosok tercinta yang terus melangkah pergi dari hadapannya.
“ Hazzazaaa… !!!” Teriaknya didalam hati.
Sementara di sana, Hazza terus melangkah menyusuri jalan jalan yang mungkin tak akan dia singgahi lagi, sakit yang teramat sangat dia rasakan di ulu hati, dilihatnya seorang gadis kecil dengan seragam sekolahnya berdiri di seberang jalan.
“ Janeee!!” Teriaknya memanggil. Gadis kecil yang ternyata Jane itu tersenyum melihat Hazza di sana, dia pun segera menghampirinya.
“ Hazza, ada apa, kau bertengkar dengan Diana?” Tanyanya serius. Hazza tersenyum kemudian memegang tangan mungilnya lembut.
“ Dengarkan aku, setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi, tolong jaga Diana untukku ya!” Pintanya.
“ Kau mau kemana? Kau mau meninggalkan Diana?” Tanya Jane sedih
“ Tidak Jane, dia yang meninggalkan aku, berikan ini pada Diana, ini seluruh Deposito dan uangku, jika dia menolak katakan ini untuk anakku. Dia bisa menolak tapi anakku tidak.” Hazza memberikan Dompetnya pada Jane, diciumnya lembut kening gadis kecil itu dengan tetes air mata terakhirnya, kemudian dia berdiri dan beranjak pergi. Jane yang tak cukup dewasa untuk mengerti hanya menatap kepergian Hazza kemudian berlari kencang kearah gubuk Diana.
“ Diii…. !!” Teriaknya sambil berlari mendapati Diana sedang menangis bersandar di depan pintunya.
“ Di.. kenapa Hazza pergi… aku bertemu dengannya, apa kau marah padanya? Diakan baik di!!” Tanyanya polos
“ Tidak Jane, dia bukan orang baik, dia jahat!!”
“ Dia baik Di… buktinya dia menyerahkan semua ini padamu.” Jane menyerahkan dompet itu ke tangan Diana. Dompet yang ketika dibuka ada foto Diana di dalamnya. Kembali Diana terisak dalam tangis yang mendalam saat menyadari semua ATM dan Deposit milik Hazza ada di sana. Bagaimana bisa Hazza mencintainya seperti itu, mengapa dia harus menjadi kakaknya, mengapa dia harus menjadi anak dari orang yang menghancurkan keluarganya.
“ Hazza… aku mencintaimu!” Diciumnya dompet itu kemudian dipeluknya erat.
“ Di, apa kau tidak akan mengejarnya?”
Sejenak Diana terdiam, dengan sisa kebahagiaan yang hilang wanita itu menatap kearah langit lepas.
“ Aku akan pergi Jane, aku harus pergi dari tempat ini.. tempat dimana setiap air mataku menetes, tempat dimana setiap kebahagiaanku tumbuh dan berakhir, aku harus pergi dari sini.” Tuturnya kemudian.
Malam itu, udara menjadi sangat dingin, waktu seolah membeku membiarkan setiap emosi diam pada tempatnya, ini malam terakhir Diana berada di sana, malam yang tidak membiarkannya memejamkan mata walau hanya sedetik saja. Menatap lepas kearah jendela yang masih terbuka di hadapannya. Tak akan ada lagi bintang yang begitu indah di atas lautan lepas, pun tak ada suara deburan ombak yang selalu menemaninya sejak awal dia menghirup udara.
“ Harry.. !!” Keluh dari bibirnya ketika menatap gitar Hazza yang masih tergantung didinding rumah bersama tas yang membungkusnya, sejenak air matanya meleleh. Diana mengawali langkahnya menuju batu karang yang menjadi saksi semua kenangannya. Untuk terakhir kali ditatapnya batu karang yang tampak indah ditemani cahaya rembulan. Namun…
Sebelum dia tiba, tampak seseorang sudah lebih dulu berada di sana, seseorang yang tampak duduk bersandar sembari menatap kearah lautan lepas.
“ Perasaan apa ini?” Perasaan yang semakin kuat timbul mengiringi setiap langkahnya, semakin dekat… semakin kuat. Tanpa menimbulkan suara, dia berdiri tepat di belakang orang itu. Seseorang yang seolah sangat lekat dihatinya, berbagai prasangka menyelimuti hati, sangat berat rasanya untuk menyentuh pundak pemuda di hadapannya.
“ Diana.” Suara pemuda itu membuatnya terhenyak kaget, bagaimana mungkin dia bisa tahu Diana ada disisinya tanpa menoleh, perlahan pemuda itu berdiri.
Next part : Cinta atau Kenangan yang Kembali