Oh Betapa Perihnya!

2271 Kata
Hidup atau takdir.. Yang mempermainkan nasib hingga tangis meregang sukma Suara sangkakala derita menggema Seakan menarik ulur derita yang ada Ya, ketika masa lalu yang menyakitkan itu kembali... Jika seakan mati rasa untuk kembali terluka “ Siapa kau?” Tanya Diana dengan raut wajah yang mulai pucat mengingat suara yang begitu mirip dengan seseorang. Suara yang tak ingin lagi ia dengar untuk selamanya. “ Aku adalah alasan mengapa kau terus bernapas, alasan mengapa kau terus bertahan, alasan mengapa kau menangis dan tertawa, bagaimana bisa kau melupakan aku?” Tutur orang itu dengan nada lembut seakan sambil tersenyum. “ Deg” Diana terperanjat, kedua lututnya menjadi lemas dan lunglai hingga membuatnya terjatuh di atas keduanya dengan napas yang seolah berhenti terembus di d**a. Suara itu? Nada itu? Bau masa lalu seolah kembali berembus di sekitarnya. “ Ka.. kau,…!!!” Suara Diana gemetar. Perlahan orang itu membalikkan badan, dengan sorot mata yang masih sama. Tersenyum seolah tanpa dosa menatap Diana. Diana melangkah mundur, wajah cantiknya memucat pasi, ia gemetar, traumanya seakan kembali menyerang “ K-kenapa kau di sini? Untuk apa kau di sini? Pergi! Pergi!” Ucapnya dengan suara gugup bercampur tangis. Mengapa luka seakan mempermainkan dan tidak membiarkan hatinya pulih? “ Apa begitu berat menyebut nama orang yang kau cintai, Diana?” Tuturnya. Diana tertahan, bola matanya berkaca- kaca, benarkah ini nyata, mengapa seolah semuanya datang silih berganti, mengapa dia kembali hadir? Mengapa dia kembali? Bulir bening meleleh di pipinya kemudian jatuh dan pecah berbaur bersama pasir. “ Aku yakin kau belum lupa namaku kan?” Sambungnya duduk di hadapan Diana, mata coklat yang sangat Diana rindukan sebelumnya, dan senyum hangat yang dingin yang sudah lama hilang. Ya, dia kembali “ zaa. Zaaynn.” Hanya itu suara yang keluar dari bibir indahnya, benar, itu memang Zayn. Ingin rasanya Diana memukul dan menampar wajahnya, mengatainya dengan setiap kebencian dihatinya, tapi entah kenapa, hatinya seolah tunduk seketika saat orang itu berada tepat di hadapannya. Apakah ini nyata? “ Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan, tapi deritaku selama ini sudah cukup membuatku menerima balasan, derita karena jauh darimu, derita melihatmu begitu mudah mencintai orang lain… aku tak akan pernah menanyakan apa pun atau menuntut apnyata. hanya ingin kau tahu, aku selalu berada disisimu, di sini. Apa kau akan pergi tanpa aku?” Senyum Zayn, Diana hanya diam tanpa menjawab. Hanya tatapan yang seolah pekat dengan kebingungan, kebingungan akan hati dan pikiran. Perlahan Zayn melepas jaketnya lalu menyelimutkannya ke pundak Diana, dipegangnya erat tangan Diana. Namun… seketika Diana menariknya lepas. “ Jangan sentuh aku dengan durimu untuk ke sekian kalinya!” Tutur Diana, membuat senyum di wajah Zayn hilang seketika. “ Duri? Aku?” Tanyanya mengernyit “ Ya, karena kau aku merasakan luka untuk ke sekian kalinya, luka yang bahkan sampai saat ini belum sembuh, karena kau aku kehilangan kasih sayang nenekku, kau sumber semua luka dihidupku. Karna kau aku belajar untuk tidak mempercayai siapa pun lagi bahkan diriku sendiri. Menjauhlah dari hidupku! Aku tidak mau melihatmu! Pergi sekarang juga atau aku akan berteriak.” Diana bangkit dari duduknya, berdiri dengan tatapan tajam menantang. Mendengar itu Zayn berdiri, menjajari gadis yang dulu selalu berada dipelukan kasihnya setiap waktu. “ Jadi, kenapa kau tidak mengatakan “aku membencimu” Di akhir kalimatmu Diana?” Senyum pemuda itu membuat Diana terpaku. “ Maafkan aku di.. aku akui kesalahanku terlalu besar, tapi aku sudah berada di sini, aku yang sama seperti aku yang kau kenal dulu. Bisakah kau pergi tanpa aku ?” Ucapnya lagi. “ Tentu saja aku bisa!!” “ Ke mana? Dunia mana yang akan kau jajaki, adakah didunia ini sisi yang bisa menerima ibu dari anak kakaknya sendiri?” Senyum Zayn. Diana tersentak menatap wajah Zayn yang masih tampak tenang dengan kata- kata keji yang barusan meluncur dari bibirnya. “ Aku ada di sini di, biarkan aku menjadi dalang yang akan bertanggung jawab atas semuanya, jika aku membuatmu terluka maka hanya aku yang bisa mengobati luka itu. Hanya satu yang aku pinta… lupakan Harry untuk selama lamanya.” Senyum Zayn dengan wajah Datar. “ Apa?” “ Lupakan Harry Edward, kakak tiri yang sudah menipumu dan menipu diriku itu. Asal kau tahu, aku tidak pernah berniat meninggalkan dirimu. Ayahku sakit keras dan itu membuatku harus segera melakukan penerbangan ke amerika. Diana, aku tidak pernah menghinatimu. Justru Harry yang telah menghianati kepercayaan kita berdua. Aku memintanya menjagamu, dia justru menikahimu. Dengarkan aku, aku tidak akan pernah berbohong ke padamu. Ya, aku mungkin pernah melakukan kesalahan, tapi aku tidak pernah berbohong.” Tutur Zayn menghipnotis dengan tatapannya “ A- aku. Aku tidak bisa mempercayai siapa pun. Tidak kau dan juga dia. Kalian penghancur. Kalian sama saja. Kau memintaku melupakan dia dan dia memintaku melupakan dirimu. Berkat kalian aku tidak bisa mempercayai takdir sekalipun.” Tekan Diana “ Begini saja, lupakan dia, dan anakmu akan lahir tanpa rasa malu dan Tanya, bukankah hanya Zayn yang ada dihatimu, dulu, sekarang dan nanti… seperti janji kita yang dulu, aku datang untuk menepatinya, dan kau memang harus menerimanya, karena aku adalah takdirmu. Ikutlah bersamaku, anakmu akan memiliki sosok ayah, berkecukupan dan rasa sayang tanpa batas. Tidak akan ada yang menanyakan statusnya!” Zayn memegang pundak Diana yang tak bisa menjawab apa pun, hanya diam dengan seribu Tanya yang tak bisa dia jawab. Mengapa kedatangan Zayn seolah menjadi keegoisan terbesar dalam hidupnya? Pemuda itu benar- benar hadir kembali dan hati Diana tak bisa mengatakan tidak untuk menghalanginya. Sayangnya, Diana sadar dia akan menangis kembali, tangisan yang jauh lebih panjang tapi harus dia terima demi cinta yang menyakitkan dan anaknya. “ Diammu aku anggap sebagai Iya..!” Senyum Zayn kemudian dengan angkuhnya Sementara di sana, sekelebat bayangan putih seakan menatap mereka semu kemudian menghilang bersama angin malam Malika ------***------***------ Pagi itu, surya hadir membawa pesan, dengan kenyataan yang dia anggap sebagai mimpi, dan keyakinan semua akan berakhir ketika fajar datang menyingsing, Diana membuka matanya… “ Selamat pagi Diana… ini waktunya kita pergi!” Suara itu menyadarkan Diana dari khayalan semunya, baru kali ini dia merasakan kerinduan pada sosok selain pemuda yang saat ini berdiri di depan wajahnya. Pemuda yang dulu begitu dia cintai kini mengulurkan tangannya untuk mengajaknya pergi. Diana mengulas senyum pasi, ia seakan melihat Harry datang dan mengulurkan tangan seperti biasanya, dengan senyum dan tatapan secerah cahaya mentari. Tapi sayang, itu hanyalah wujud kerinduan yang tak pernah nyata. Yang ada di sana hanya Zayn dengan keangkuhan sifatnya Hari itu hari terakhir Diana menikmati indahnya daerah yang telah memberinya kehidupan selama ini, pergi ke tempat yang sama sekali belum pernah dia lihat bersama seseorang yang pernah sangat menghancurkan hidupnya, mengharuskannya menerima sebuah takdir yang aneh, takdir yang membuatnya harus menerima semua yang ada bahkan walau kenyataannya hatinya sudah mati. Kenyataan yang harus dia terima, setiap waktu dia berusaha menghapus Harry dari hatinya, namun semakin dia berusaha semakin kenangan itu terasa nyata bersama dengan perutnya yang semakin membesar dan kehadiran buah hati yang semakin mendekati masanya. Waktu terus berjalan tanpa pernah memberi ruang … Ini adalah bulan kedelapan sejak kehidupan itu ada dirahimnya, tapi entah kali ke berapa Diana menyeka air mata tanpa ada sapu tangan disisinya . beberapa saat dia selalu mengingat betapa Hazz dulu sering mengusap air matanya dengan senyum tulus. Sejenak ditatapnya bulir bening air mata yang membasahi kedua telapak tangannya, dan dalam keheningan itu, Zayn datang memegang kedua tangan lembutnya. “ Sudah aku bilang kan, aku tidak suka melihatmu menangis, sejak kau datang ke Jakarta, kau terus menangis, dimana Diana yang aku kenal dulu?” Senyum Zayn “ Maafkan aku Zayn, sampai saat ini aku belum bisa menerimamu, karena aku juga belum tahu, apa statusku, tidak mungkin aku menerima orang lain sebagai suamiku atau ayah dari anakku sementara aku masih seorang istri, itu akan m*****i jilbab yang aku pakai!!” Dalih Diana. Ya, ia masih mengenakan jilbab itu “ Tidak apa apa, asal aku tahu kau masih mencintaiku dan hatimu hanyalah milikku, iya kan?” Tanya Zayn dengan nada menekan. Diana menatap Zayn hampa “ Dii… iya kan?” “ Iya, kau memiliki sebuah tempat lain dihatiku, sebuah tempat yang tak bisa digantikan dalam hatiku Zayn, sebuah tempat yang membuatku tidak pernah bisa membencimu!!” Ucapan Diana membuat Zayn tersenyum senang dengan wajah puas, tapi dia tidak mengerti bahwa hati Diana tak sepenuhnya miliknya. “ Besok aku mengadakan sebuah acara agar anak kita diberi keselamatan saat lahir nanti!” Tutur Zayn “ Apa kau mengundang banyak orang Zayn, apa yang akan mereka katakan kalau mereka tahu siapa aku dan siapa anak ini?” Tanya Diana panik “ Tidak, mereka tidak tahu, yang mereka tahu adalah kau istriku, dan ini anakku, jadi biarkanlah begitu apa pun yang terjadi! Jangan pernah khawatir, aku di sini!” Senyum Zayn. Dianapun tersenyum senang. “ Terima kasih Zayn.” Tuturnya. Zayn hanya mengangguk lirih kemudian mencium tangan Diana, sebuah ketulusan yang berusaha dia tampakkan, namun tidak mengubah sisi lain dari dirinya yang tak pernah bisa dipahami. Hingga hari esok pun tiba. -----***-----***-----***------ Terkadang, sisi sebuah kehidupan begitu jauh Seperti sisi langit dan bumi… Namun bukan berarti, jarak adalah pemisah mutlak Tak ada kekuasaan melebihi waktu … Waktu yang membuat bumi menyerahkan uapnya demi awan Dan langit menyerahkan hujan demi tumbuhan… Terkadang, ikatan yang terlihat jauh pada kenyataannya begitu dekat Ketika waktu mempertemukan… Hanya waktu… Zayn memegang erat tangan Diana ketika menyambut semua tamu datang, satu persatu dari mereka mendoakan dan menyalaminya, memuji serta menyatakan kekaguman seolah Diana adalah gadis paling beruntung didunia. Diana bersyukur, banyak do’a yang dia dapat untuk sang buah hati tercinta, perlahan ditatapnya wajah Zayn yang tersenyum bahagia, berkat kasih sayangnya anaknya merasakan cinta dari banyak orang, cinta yang bahkan tidak pernah dia bayangkan. “ Zayn.. terima kasih.” Senyum Diana terharu. Apakah pemuda itu benar benar telah berubah? Oh tentu tidak! Bukan Zayn namanya kalau ia tidak memiliki sisi ke dua “ Tidak sekarang Diana, masih ada seseorang yang begitu penting untuk mendoakan anak kita!! “ Ucap Zayn. Senyum Diana surut berubah menjadi kerut di keningnya. Menatap wajah Zayn yang seolah menyiratkan sesuatu sembari jarinya menunjuk searah jarum jam, senyum sinis menghiasi wajahnya. “ Siapa?” Tanya Diana dengan beribu rasa penasaran “ Bukan siapa- siapa, hanya teman lama.” Senyum Zayn, wajahnya begitu berbinar menatap kearah pintu masuk, menyiratkan tanda Tanya yang semakin meluap- luap dibenak Diana. Hinggaa…. “ Deg! wajah Diana berubah pucat, denyut nadinya seolah berdetak kencang.. langkahnya gontai begitu syoknya hingga tanpa sadar Zayn memegang pundaknya. “ Hati- hati kau bisa terjatuh.” Bisik Zayn seolah disengaja. Diana masih terenyak tanpa sepatah kata pun, kali ini dia seperti burung yang benar- benar patah sayapnya Bagaimana tidak.. bola matanya tampak berair melihat sosok yang datang. Sosok pemuda berambut brown mengenakan jaspen warna putih yang begitu dia rindukan. Matanya yang kebiruan seolah membangkitkan luka lama dihati Diana, bibirnya berubah menjadi senyap. Dia tak lain adalah Harry Edward, beberapa pasang mata langsung terarah pada pemuda yang tampak begitu elegan itu. “ Dia kan Harry? Pengusaha itu? Gantengnya!!!” Seru beberapa tamu Baru Diana sadari, Harry adalah orang yang penting Harry adalah sosok yang kaya dan tampan Tapi mengapa ia lebih memilih menemani Diana di gubuknya? Kenapa ia bisa menjadi nelayan demi Diana? Itukah arti ketulusan? “ Kenapa Diana?” Senyum Zayn penuh kesengajaan. Mata Diana memerah dengan wajah tertunduk, mengapa Hazznya harus hadir di sana. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Zayn?” “ Kau tidak sedang merenungkan dia kan, aku mengundangnya kesini agar dia tahu kita sudah bahagia!” Senyum Zayn. Diana bergeming, wajahnya terasa berat untuk terangkat, hingga… langkah itu seolah terasa dekat, langkah yang begitu Diana kenal dan suara membaur dengan detak jantungnya. “ Terima kasih telah mengundangku Zayn.” Suaranya terdengar sendu. Perlahan Diana mengangkat wajahnya, begitu dekat.. Hazza tepat berdiri di hadapannya, tersenyum seolah tak punya beban, sangat dekat, tapi mengapa terasa begitu jauh. Ingin rasanya Diana berlari dan menenggelamkan diri dipelukan suami yang sangat dirindukannya itu. Tapi mengapa.. tirai kebencian itu begitu kuat menghalangi? “ Seharusnya aku yang mengucap terima kasih karena kau mau datang kesini Harry, untuk mendoakan istri dan ANAKKU!” Senyum Zayn dengan nada sinis. Sejenak Harry menatap Diana, seolah menolak apa yang dikatakan Zayn. “ Hati- hati Zayn sebuah hubungan bisa saja terputus, sebuah nama dan status bisa saja diganti, tapi hubungan darah tidak akan pernah bisa berubah.” Balas Harry datar. Zayn menatap Harry tajam. “ Tapi sebuah hubungan yang dilandaskan dengan kepalsuan lebih rentan untuk berakhir, oh iya Harry aku harap kau tidak berniat untuk membahas masa lalumu kan?” Senyum Zayn “ Tentu saja, aku datang untuk mendoakan anak Diana. Anak itu tentu membutuhkan doa dari ayah yang ia rindukan.” Ucap Harry membuat mata Diana tak lepas menatapnya. Zayn merapatkan jari jarinya, tapi ia masih berusaha tenang “ Semoga dia lahir dengan selamat, menjadi anak yang baik, sehat, terpenuhi dengan segala kebahagiaan dan tahu bahwa AYAHnya sangat menyayanginya, walaupun pada kenyataan ayah itu telah disingkirkan!” Harry melirik tajam kearah Diana, matanya tampak jelas berair dan itu begitu menusuk perasaan Diana, perlahan pemuda itu memalingkan wajah. “ Maaf aku rasa aku perlu ke kamar mandimu Zayn.” Ucapnya tanpa basa basi beranjak dari tempat itu. Zayn tersenyum menatap Diana. “ Coba lihat raut wajahnya itu, lucu sekali kan.” Cetusnya, “ Zayn, maaf, boleh aku menemui Hazz emm maksudku .. Harry?” Pertanyaan terlontar dari bibir Diana seketika membuat senyum Zayn surut. “ A.. aku hanya ingin memastikan, aku masih istrinya atau bukan, bukankah itu yang kau inginkan!” Dalih Diana menyembunyikan sorot matanya. “ Ya, baiklah, aku percaya padamu, jangan lama- lama ya!” Senyum Zayn kemudian. Diana mengangguk lirih. Next Part : Luka dan Cinta
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN