Langkah yang terasa begitu berat serta napas yang seolah tercekat, Diana mencoba menahan hatinya menyusuri pelan jalan yang baru saja dilewati Harry. Sampai langkahnya terhenti di sebuah koridor, mencoba meyakinkan hatinya sejenak. Namun…
“ Kau mencariku?” Sapa pemuda itu mengagetkan
Diana menatap Harry yang entah sejak kapan bersandar di sebuah pintu tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak jelas raut kerinduan yang begitu nyata.
Aku ingin memeluknya
Ingin bermanja dengannya
Mencium dan menikmati surga yang pernah kita bina bersama
Aku sangat merindukannya
Sangat
Hanya dengan melihat wajah Harry, air mata Diana menetes
“ Aiiishh padahal aku sudah berusaha untuk menghindar secepat mungkin, tapi mengapa kau masih mengikutiku?” Senyum Harry kemudian melangkah mendekati Diana.
“ Apa yang kau mau? Ada lagi yang kau mau dariku?” Tambah Harry, seolah suara Diana tercekat di kerongkongannya, tubuhnya menjadi kaku oleh hati yang begitu pekat oleh rindu sampai matanya tak berani lagi menatap. Tapi…
“ Deg”
seketika Harry memeluknya erat, pelukan yang sangat amat dirindukan.
“ Sekejab saja, biarkan begini, aku sudah lama sekali menunggumu. Sebentar saja.” Suaranya serak, terdengar jelas Harry tak mampu menahan kesedihannya.
“ Lepaskan aku Harry!” Tutur Diana goyah
“ Jahat sekali, mengapa kau begitu jahat padaku! tak cukupkah kau membuatku menderita dan tertekan selama ini?” Harry melepas pelukannya perlahan. Diana menatap mata Harry yang memerah, ada beberapa cahaya bening di sana,
“ Aku hanya ingin kepastian darimu Harry Edward, Bisakah kau tidak menemuiku lagi?” Ucap Diana , Harry tersenyum kecil mendengarnya.
“ Kenapa kau tidak berkata “ Bisakah kita berpisah saja”, kenapa? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan Diana, Dulu pernah ada seseorang yang berada diposisi ini, seorang gadis bersama kekasih yang sangat dia cintai. Ketika suatu ketika mereka tidak bisa menepati janji untuk bersama selamanya dan harus memilih jalan mereka masing masing, memiliki kehidupan sendiri dan memilih cinta yang lain. Namun bukan berarti cinta yang lama akan mudah tergantikan.” Ucap Harry
“ Apa maksudmu?” Diana mengernyitkan alisnya
“ Ini kisah tentang kita Diana, kisah tentang Ibumu dan Ayahku. Mungkin saat ini kau akan lebih mudah memahaminya. Ibumu Rosa dan ayahku Edgar memang sudah saling mencintai jauh sebelum bertemu pasangan hidup mereka, perpisahan yang terjadi karena ayahku harus menuruti permintaan terakhir nenek untuk menikah dengan ibu kandungku, Ibu yang meninggal saat melahirkan aku karena kanker yang dia derita. Hingga takdir yang salah mempertemukan Rosa dan Edgar kembali, Rosa yang saat itu sudah memiliki kehidupan bersama ayahmu dan memiliki bayi mungil di pangkuannya namun dia tak bisa membohongi hati bahwa dia masih mencintai Edgar, dan keputusan yang salah mereka buat untuk menyatukan cinta mereka kembali, tapi yang aku tahu tak sedetikpun Rosa ibumu melupakanmu, setiap pagi dia selalu melihat potretmu, menangis menyebut namamu, itu membuat aku merasa bersalah dan memutuskan untuk mencarimu, aku ingin membawamu bersamaku untuk menemuinya, untuk hidup bersamanya, tapi semua itu berubah ketika aku mencintaimu, cinta selalu membutuhkan pengorbanan. Selalu ada yang harus tersakiti, dimasa lalu mungkin kaulah yang disakiti, kau dan ayahmu harus menderita demi kebahagiaan Rosa dan ayahku, dan dimasa ini akulah yang harus menderita demi kebahagiaanmu dan Zayn. Tapi jika itu membuatmu bernapas lega aku akan dengan ikhlas menerimanya.” Tutur Harry dengan wajah tertunduk, perlahan dibelainya wajah lembut Diana yang amat sangat dia rindukan.
“ Harry, bukan itu maksudku… aku dan Zayn…a-aku dan dia sama sekali ti...” Belum selesai Diana menjelaskan, Harry meletakkan telunjuknya dibibirnya.
“ Tidak apa, aku sudah cukup merasa terluka dan kehilangan berkali- kali jadi untuk kehilangan kamu mungkin aku masih bisa menerimanya sebagai batasku, lagi pula aku lihat Zayn begitu mencintaimu, aku lega.. aku hanya ingin meminta satu hal padamu, biarkan anakku memanggilku ayah. Jangan ambil hak itu dariku. Aku ayahnya, aku mencintai dia, aku tidak pernah menelantarkannya. Jangan biarkan dia memanggil orang lain ayah. Biarkan panggilan itu hanya untukku.” Pada akhirnya bulir bening itu menetes juga dari mata Harry, tampak jelas pemuda berparas menawan itu begitu terluka. Wajahnya terlihat pucat dan dingin.
“ Ha.. Harry!” Diana memegang erat tangan Harry
“ Hanya satu saja Diana, dari segala hal yang aku lepaskan aku hanya ingin anakku memanggilku ayah, hanya itu. Apa aku pernah menyakiti hatimu saat bersama? Apa aku pernah melukai perasaanmu. Bukankah aku tidak pernah meminta apapun.” Pinta Harry, perlahan tangannya mencoba meraih perut Diana, merasakan kehadiran hidup keduanya, namun..
“ Maafkan aku Harry.” Diana memegang erat tangan Harry.
“ Cobalah untuk mengerti posisiku, posisi anakku,, tolong hilangkan dia juga dari kehidupanmu, tolong lepaskan dia dan cukupkan dia dengan memanggilmu paman.” Ucap Diana.
Dingin…. Tangannya terasa sangat dingin,, ada segelintir kecemasan dibenak Diana, tak biasanya kulit Harry sedingin itu. Apa Hazz sakit??
“ Kau kejam sekali Diana!” Harry tersenyum getir.
Namun…
“ Ekhm.”
sebuah suara mengagetkan mereka, tampak Zayn melangkah kearah Diana pelan, sembari melipat tangannya
“ Harry, harusnya kau bersyukur Diana masih mengizinkan anakku untuk memanggilmu paman, dan seharusnya memang seperti itu. Jangan khawatir aku akan menjaga anakku dengan baik dan juga Diana, sekarang putuskan saja, kapan sidang perceraian kalian?” Tegas Zayn, Diana menatap Zayn seketika, cemas akan hati Harry.
“ Kau tidak perlu khawatir Zayn, aku dan Diana tidak pernah menikah secara sipil, jadi ini tidak perlu melibatkan pengadilan.” Senyum Harry getir
“ Kalau begitu ceraikan sekarang , aku ingin mendengarnya secara langsung, dan Diana juga ingin kepastian!” Paksa Zayn dengan egoisnya.
“ Apa untuk itu kau mengundangku ke sini? Diana?” Harry menatap Diana getir. Wanita yang amat sangat dicintainya itu hanya diam, tercekat oleh perasaannya. Jauh dalam lubuk hatinya ada sebuah ruang untuk Harry, ruang yang tak akan pernah kosong dan tergantikan. Ruang yang begitu merindukan sosok yang selalu ada ketika dia rapuh dulu. Diana diam, wajahnya tertunduk menahan bulir bening yang hampir menetes dikedua mata indahnya.
“ Diana? Jawab aku!” Suara Harry memecah keheningan sejenak. Diana bergeming. Namuun… seolah bisa melihat raut gusar diwajahnya, Harry mengehela napas panjang.
“ Zayn, dia tidak suka makan pedas, jangan biarkan dia memakan itu karena lambungnya akan sakit, dia juga tidak bisa berada di suatu tempat yang sangat dingin karena ada gejala amandel di lehernya, jika dia marah biarkanlah, karena setelah itu hatinya akan lebih baik, kau harus mengerti dia lebih dari apa pun.” Tutur Harry dengan suara berat.
“ Mengapa kau repot- repot mengatakannya, aku sudah tahu semua itu!” Jawab Zayn sinis.
“ Karena mulai detik ini…. !!” Suara Harry tercekat, Diana mengangkat wajahnya menatap Harry sendu, seolah tidak menginginkan Harry meneruskan ucapannya. Terlihat jelas kesedihan diwajahnya.
“ Aku tidak mungkin membiarkan orang yang aku cintai bingung dan diam dalam kesedihan, mulai saat ini aku serahkan dia ditanganmu.. jaga dia baik baik dan jangan pernah membuat dia menangis untuk ke sekian kalinya!” Senyum Harry getir kemudian memalingkan wajahnya, Harry tak ingin siapa pun melihat air mata yang menetes dari matanya yang kebiruan.
“ Ha.. Hazz… ?” Suara Diana parau, air matanya menetes turun, tak menyangka akan sesakit itu, ini bahkan jauh lebih sakit dari pada ketika Zayn mencampakkannya dulu, jauh lebih sakit. Harry tak menoleh sedikit pun, pemuda itu berpaling dan melangkah pergi membawa puing puing hatinya yang hancur tak bersisa.
“ Hazz… !!!” Teriak Diana terjatuh di atas lututnya. Zayn segera memegang pundak Diana. Wanita itu menangis serak, tangisan kesedihan yang bahkan tak pernah zayn lihat sebelumnya. Seperti itukah cinta Diana untuk Harry? Entah mengapa d**a Zayn terasa sesak melihat Diana menangis. Tangisan yang seolah tak ada kebahagiaan lagi setelahnya.
“ Hazza jangan tinggalkan aku!!!” Teriak Diana akhirnya
“ Aku sangat mencintaimu! Aku sangat mencintaimu.” Isaknya
Tapi, Harry tidak pernah kembali
Langit tidak akan merah sebelum senja datang
Burung tak akan berkicau sebelum fajar menyapanya
Dan embun tak akan kering sebelum terik matahari membakarnya
Begitu pula kenangan…
Tak akan terasa jika belum ada yang hilang…
Perasaan yang tertinggal…
Sabtu, 21 Januari 5 hari kemudian…
“ Harry… Harry…. !!” Beberapa kali ketukan itu melayang di pintu kamarnya.
“ Klek” Ditatapnya sendu sosok pria setengah baya yang berdiri dengan wajah panik di depan pintu.
“ Paman Stive!” Senyum Harry getir. ( Arnold Stive adalah dokter yang dulu memeriksa Diana) . Dr. Stive segera masuk dan mendudukkan ponakan tersayangnya itu disisi ranjangnya. Dirabanya kening Harry
“ Are you okay?” Tanyanya cemas. Harry hanya tersenyum lalu mengangguk lirih.
“ Kau tidak mengangkat telefonmu 5 hari ini, kau juga tidak menghubungiku atau datang ke klinik, kau tahu betapa cemasnya pamanmu ini dan kau hanya tinggal sendirian di sini, ya tuhaann!” Dr. Stive bernapas lega.
“ Aku tidak apa- apa paman, jangan terlalu khawatir. Aku hanya ingin menyendiri dulu.” Tutur Harry getir
“ Anak bodoh, mana bisa kau bilang begitu.. Harry kau sudah seperti anakku sendiri, jangan kehilangan dirimu seperti ini, melihat semuanya hilang dariku sangat menyakitkan, aku tidak mungkin membiarkan kau pergi lebih awal dariku.” Sejenak Dr. Stive mengusap air matanya yang hampir menetes. Harry tersenyum manis kemudian merangkul pamannya itu.
“ Aku sudah cukup kehilangan semuanya paman, bahkan sekarang seolah jiwaku sudah mati, sejak kau mendiagnosisku dulu aku selalu ingin hidup , aku takut kematian akan datang padaku kapan pun seperti Ibu dulu, tapi sekarang aku menantikannya, aku menantikannya!” Tutur Harry parau, setetes air matanya jatuh dipundak Dr. Stive.
“ Nak, kau berbicara seperti itu sama saja kau melukai hati pamanmu ini, lebih dari 3 tahun aku berjuang untuk menyelamatkanmu.”
Harry bungkam dalam pilunya merasakan pelukan hangat dari pamannya. Beberapa saat suasana menjadi hening. Hingga…..
“ Drrrrrtttt drrrrttttt “
HP-nya berderit tanpa nada. Terlihat nama “ Zayn “ Dilayar Handphone.
“ Apalagi yang dia inginkan?” Pikir Harry gusar. Tangannya gemetar mengambil HP-nya, kemudian menekan tombol biru Answer.
“ Hallo… Hazz.. Hazz aku ingin bicara denganmu!” Ucap Zayn, tampak suaranya serak.
“ Ya.. ada apa?” Tanya Harry dingin
“ Cepat datanglah ke rumah sakit Centra Jaya, aku menunggumu di sana!” Jawab Zayn.
Tut Tut Tut…. Telefon terputus. Raut wajah Harry berubah masam seketika.
“ Ada apa Harry?” Tanya Dr. Stive
“ Paman, apa kau tahu dimana letak RS. Centra Jaya?”
Dr. Stive mengangguk pelan
“ Great, kalau begitu antar aku ke sana!” Pinta Harry tanpa basa- basi. Pemuda itu langsung berdiri mengambil mantelnya lalu bergegas keluar dengan kunci mobil ditangannya. Entah mengapa perasaannya terganggu usai mendengar telefon dari Zayn barusan. Wajahnya berubah pucat dan napasnya terdengar berat sepanjang perjalanan.
“ Apa kau baik baik saja?” Tanya Dr. Stive. Harry hanya menjawab dengan sekali anggukan lirih. Hampir 15 menit perjalanan akhirnya mobil lamborgini putih itu mendarat diparkiran sebuah rumah sakit yang cukup besar. Setelah keluar dari mobilnya, Harry langsung berlari masuk ke dalam dengan perasaan was was.
“ Harry wait… !!!” Teriak Dr. Stive
namun sama sekali tak diidahkan. Harry berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
“ Pasien dengan nama Diana, Diana Safana?” Tanya Harry spontan pada penjaga Lobi RS. Tapi tiba- tiba…
“ Bagaimana kau tahu kalau yang sakit itu Diana?” Sapa seseorang melangkah kearahnya.
“ Zayn… !!” Napas Harry tak teratur.
“ Kau berlari ke sini seperti berlari dari rumahmu saja, tampangmu lusuh sekali.” Ujar Zayn dengan senyum sinisnya.
“ Zayn, dimana dina?” Cemas Harry. Bagaimanapun Zayn menangkap ada yang aneh pada diri orang sudah lama dikenalnya itu, napasnya terdengar sangat berat dan wajahnya pucat pasi.
“ Mari ikut aku!” Ajak Zayn kemudian, Harry pun mengikuti langkahnya. Menyusuri koridor demi koridor rumah sakit dengan perasaan was was. Hingga tiba di depan sebuah ruangan VIP. Harry bergegas hendak masuk. Namun……
“ Tunggu.. !” Zayn memegang lengannya erat.
“ Ada apa Zayn, apa sekarang kau mau menghalangiku, aku ingin melihat Diana!” Pinta Harry. Ditatapnya wajah Zayn masam, pemuda berwajah timur tengah di depannya tampak tersenyum lembut, matanya memerah “ Apa Zayn baru saja menangis? Pikirnya.
“ Bisa kita bicara sebentar?” Tanya Zayn dengan tatapan nanar. Harry hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Zayn sedikit menjauh dari depan ruangan itu.
“ Ada apa Zayn?” Tanya Harry penasaran. Zayn menarik napas panjang.
“ Hazz, kau tau aku pernah membuat kesalahan dulu… !”
“ Jangan bertele- tele, katakan saja dengan jelas!” Pinta Harry.
“ Aku tidak pernah melihat Diana sesedih ini, bahkan lebih sedih ketika bersamaku. Sejak 5 hari yang lalu dia mengurung dirinya dikamar, tak hentinya menangis dan meminta maaf atas namamu. Dia bahkan bilang padaku kalau dia tidak bisa menahan perasaannya padamu. Cukup lama untukku sadar bahwa posisiku sudah tergantikan olehmu, dan bahkan aku pun tak bisa merebut posisi itu kembali, sekarang aku mengerti rasanya sesakit ini!” Tanpa terduga beberapa tetes bulir bening mengurai dari mata pemuda yang terkenal dingin itu, Cahaya ketulusan terlihat jelas dimata coklatnya.
“ Zayn… !!” Harry terbata
“ Aku mencintainya Harry, dan bahkan kalau memohon padamu pun aku tidak akan bisa mendapatkan hatinya kembali. Hati dan perasaan adalah sesuatu yang tak dapat dihakimi. Aku mohon.. kembalilah padanya!” Pinta Zayn membuat Harry tercekat.
“ Ap.. apa.. kau.. apa aku tidak salah mendengarmu?” Harry terlihat ragu
“ Aku tidak ingin melihatnya menangis lagi Hazz, kebahagiaannya ada padamu, kau juga bisa bersama dengan putramu, ya, tadi malam tepat jam dua putramu lahir. Sekarang sudah waktunya untuknya tersenyum lepas. Biarkan saja sisanya aku yang menangis ini hukuman untukku karena dulu telah meninggalkannya. Hukuman yang bahkan lebih berat dari harus melepaskan hidupku, kumohon kembalilah padanya Hazz, aku bahkan rela berlutut di depanmu, maafkan aku!”
Baru kali itu Harry melihat Zayn benar- benar menangis di hadapannya, pemuda rupawan yang terkenal dengan kedinginan hati dan tak peduli pada siapa pun itu akhirnya runtuh di depan Cintanya, demi orang yang dicintainya. Harry tersenyum lembut kemudian merangkul Zayn. Hatinya yang lembut tentu merasa begitu terharu dengan pengorbanan Zayn. Cinta benar- benar menakutkan.
“ Tolong jaga Diana baik- bamenakutkan.” Pinta Zayn
“ Saat aku mendengarnya menangis maka aku akan datang untuk menghajarmu.” Sambung Zayn lagi. Namun Harry hanya diam tanpa kata tetap merangkulnya erat.
“ Hazz, kau belum tuli kan?” Tanya Zayn.
Hening, tak ada jawaban
“ Hazz?? Harry??” Kecemasan mulai membaur dihati pemuda itu, dan….
“ Harry…… !!!””“ Histeris Zayn ketika menyadari mata Harry terpejam dan tubuhnya mulai ambruk
Ya, Harry tidak sadarkan diri
Next part : Pengakuan