Tidak ada yang bisa mengalahkan cinta
Tidak takdir, tidak juga kematian
Kecuali... waktu
Jika waktu sudah habis, maka mencintai hanya tinggal ilusi
Dan kata abadi, menjadi tidak berarti lagi
Ya, waktu
“ Harry please wake up, jangan bercanda.. Hazzzz…!” Berkali kali tubuh itu digoncang, namun tetap tak sadarkan diri.
“ s**t! Harry!!” Teriak Zayn panik
Benar, Harry tidak bercanda. Wajahnya sangat pucat, Zayn bahkan hampir tidak bisa merasakan hembusan napasnya
Apa yang Harry sembunyikan sebenarnya?
“ Susteeeeerrrr tolooongg!!!” Teriak Zayn sambil membopong lengan Harry dipundaknya mencari pertolongan.
Beruntung beberapa suster langsung tanggap dengan panggilan itu dan membantu Zayn
----***---***---***----
Beberapa saat kemudian tubuhnya telah penuh dengan selang selang yang tertancap didada dan lengannya, sebuah alat bantu pernapasan pun terpasang rapi dihidungnya. Zayn hanya berdiri disisi pemuda blasteran itu dengan wajah cemas dan penuh Tanya, apa sebenarnya yang terjadi pada Harry? Mengapa dia seperti ini? Apa Harry sakit? Apa Harry kelelahan? Ataukah dia syok karna kondisi Diana? Apa dia pingsan karna telah berlari jauh?
Zayn hanya bisa memikirkan semuanya sambil memandangi para tim medis itu merawat Harry.
“ Paman, kenapa Harry sebenarnya?” Tanya Zayn penasaran. Pasalnya, perawatan suster dan dokter terlihat sangat detail. Seakan akan mereka sudah tahu kondisi Harry sebelumnya
“ Kau tahu kenapa ibu Harry meninggal?” Tanya Dokter tiba tiba mendekati Zayn. Dokter yang tak lain adalah Dr. Stive itu melepas maskernya kemudian mengajak Zayn untuk menunggu di luar.
“ Setahuku Ibu Harry meninggal karena melahirkannya!” Jawab Zayn santai. Sesuai apa yang ia tahu selama ini
“ Ya, memang seperti itu kabar yang meluas, tapi pada kenyataannya dia meninggal karena kanker yang dideritanya, setelah melahirkan Harry dia sempat bertahan beberapa Hari, namun komplikasi yang terjadi membuat kondisinya semakin buruk dan akhirnya meningga.!” Tutur Dr. Stive menjelaskan
“ Kenapa kau menceritakan semua ini kepadaku? Apa hubungannya hal itu dengan keadaan Harry saat ini?” Tanya Zayn mengernyit heran
“ Apa kau pernah mendengar kalau keturunan penderita kanker paru paru itu berpotensi terkena kanker paru paru?” Tambah Dr. Stive. Zayn tercengang, ia mulai menerka
“ Dokter jangan bilang kalau Harry….?” Wajah tampannya memucat
“ Ya, Zayn… 3 tahun yang lalu Harry sering mengeluhkan sesak napas, tenggorokan yang sakit dan batuk yang berkepanjangan. setelah dilakukan CT Scene secara detail dan beberapa tes lainnya, Harry positif terkena kanker paru- paru. Paman sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperlambat sel kanker yang biasanya hanya membutuhkan waktu 20 bulan untuk memakan mangsanya ini. Harry sudah bertahan cukup lama, tanpa ada seorang pun yang tahu betapa menderitanya dia. Semangat hidupnya sangat luar biasa sekali. Keinginannya sejak kecil hanya ingin menemukan seorang gadis yang tanpa sengaja telah dia sakiti, anak dari ibu tirinya yaitu Diana Safana. Setiap kali berbicara denganku dia selalu saja ingin menemukan adik tirinya itu dan mengembalikan kebahagiaan yang tanpa sengaja dia rampas. Namun semuanya berubah ketika dia mengenal Diana, berpisah dengan gadis itu bahkan membuat hidupnya menjadi tak berarti. 5 bulan yang lalu kanker yang dia derita telah mencapai Stadium 4 dan merambat dengan sangat cepat. Tolong paman nak… paman tidak memiliki siapa pun selain Harry. Jika tidak berat bagimu, lepaskan Diana untuknya. Dia satu satunya keluarga yang paman punya.” Wajah pria yang dulunya WNA itu tampak memerah, melepas kaca matanya lalu menangis sedih. Zayn terenyak mendengar semua itu, bagaikan mimpi buruk yang tiba- tiba menghantam dadanya. Perlahan dilihatnya Harry dari pintu kaca di luar ruangan. Teringat betapa jahatnya Zayn memaksa Harry untuk menceraikan hidupnya. Tak terasa air matanya menetes.
“ Apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan paman, aku mohon selamatkan dia, jika dia pergi bukan hanya kau yang hancur tapi… ada satu hati.. Aah bukan, tapi dua hati yang akan sangat hancur, aku mohon selamatkan dia paman, andai aku yang mati tidak akan banyak orang yang sedih, tapi kalau Harry… anaknya baru saja lahir. Dia harus melihat anak itu tumbuh dewasa bukan.” Zayn terbata, ia begitu merasa bersalah
“ Anak? Harry? Diana melahirkan?” Tanya dr. Stive, sedikit gurat kebahagiaan tersirat di wajahnya
“ Iya, jadi tolong hentikan penyakit ini. Obati dia! Sembuhkan dia! Kau bisa melakukannya kan?”
“ Bagaimana bisa, penyakit itu bahkan telah menyerang organ jantung dan menyebar di pembuluh darahnya, bagaimana aku bisa.” Tangis Dr. Stive.
Beberapa saat kemudian…
“ Dokter, pasien sadar.” Lapor seorang suster yang ke luar dari ruangan Harry. Dr. Stive bergegas masuk ke dalam diikuti Zayn di belakangnya. Benar saja, tampak Harry berusaha duduk bersandar di bantalnya dan tersenyum dengan wajah pucat. Seakan penyakit itu sama sekali tidak menyiksa dirinya.
“ Paman, apa- apaan ini, kau memperlakukanku seperti pasien, apa kau ingin menunjukkan kalau sebentar lagi aku mati?” Senyum Harry dengan suara yang mulai terdengar serak. Mendengar itu Zayn menghampiri Harry lalu menepuk pundaknya.
“ Apa- apaan kau ini, kalau sakit ya sakit… tidak usah berlagak kuat begitu.” Tegas Zayn. Mendengar itu Harry tersenyum
“ Hei.. kenapa aku merasa kau jadi perhatian padaku, apa sekarang kau baru mengakui aku sebagai temanmu?” Tanya Harry. Zayn terdiam. Melihat itu Harry tertawa.
“ Jangan bercanda Hazz, kau tahu bagaimana takutnya aku jika sesuatu terjadi padamu. Dan jangan GR aku bukan memikirkanmu tapi memikirkan Diana!” Tutur Zayn berdalih seraya memalingkan wajah. Harry terdiam mendengar apa yang diucapkan Zayn. Tampak jelas pemuda itu menyimpan sesuatu yang tak ingin dia ungkapkan.
“ Ini yang aku takutkan.” Ucapnya kemudian dengan suara yang terdengar serak. Air matanya berarak turun dan jatuh diujung hidung mancungnya.
“ Hazz,, maafkan aku.” Zayn memegang pundaknya. Perlahan Harry mengangkat wajahnya, tampak jelas pemuda berkemeja putih itu menangis.
“ Jangan meminta maaf kepadaku seolah aku sekarat saat ini. Aku masih akan tetap hidup untuk memastikan kau akan selalu membuat Diana tersenyum, aah apa ini, seharusnya aku tidak pernah hadir dalam kehidupannya.” Guraunya masih bisa terlihat kuat
“ Hazz…bicara kamu ini! Kau akan hidup. Jika tidak, aku akan membuat kekacauan di dunia ini.” Tunjuk Zayn
“ Kau lihat aku Zayn.. aku begitu menyedihkan, aku tidak lebih dari bagian masa lalu yang harusnya tetap di tempatku, menjadi orang yang Diana benci. Tapi aku datang sebagai sosok seperti malaikat yang memberinya harapan, aku jahat.. ya.. aku memang pantas dihukum seperti ini.” Senyum Harry sementara bulir bening masih terus jatuh dari kedua mata indahnya.
“ Hazz…”
“ Selama ini aku egois, aku hanya inginkan diriku bahagia dengan dia dan anakku, tapi apa yang aku dapat saat merampasnya darimu. Apa yang bisa aku berikan dengan sisa umurku yang menyedihkan ini? Diana hanya akan menangisi makamku setiap hari. Dia dan anakku akan selalu datang dan bersedih. Aku benar benar egois”
“ Hazz, aku tahu kita sama sama melihat kearah yang sama, tapi kau berdiri lebih dekat dengan kebahagiaannya. Dia tidak lagi Diana yang dulu mencintaiku Hazz. Hati dan jiwanya sudah ada padamu, pergilah dan lihatlah bagaimana dia tanpamu, melihatnya saja bahkan tidak pantas disebut hidup, Diana sangat membutuhkanmu Hazz!!” Tegas Zayn dengan mata berkaca- kaca. Mendengar itu Harry mencabut satu persatu selang yang masih menancap ditubuhnya. Kemudian meraih kakinya ke bawah.
“ Kau mau ke mana?” Tanya Zayn memapah.
“ Aku ingin membuktikan padamu, siapa yang sebenarnya Diana butuhkan. Ayo!” Senyum Harry meraih sendalnya kemudian berdiri tegap menjajari Zayn.
“ Nak, tolong jangan kemana- mana, kondisimu membuatku cemas!” Larang Dr. Stive.
“ Paman lebih tahu kan berapa lama aku bertahan melawan penyakit ini, aku bukan seseorang yang akan mudah terjatuh paman. Lagi pula selang selang itu tidak begitu berguna untukku kan? Aku merasa gelisah di sini.” Harry mengangkat sebelah alisnya
“ Tapi...”
“ Ah sudahlah! Jangan terlalu khawatir. Aku akan segera kembali.” Harry menepuk lengan pamannya
“ Ayo Zayn..!!” Ajaknya mengawali langkah sambil memasang kancing kemejanya yang tadi dilepas untuk memasang alat bantu. Zayn pun melangkah mengikuti Harry. Kedua pemuda itu berjalan seolah mereka sudah akrab sejak lama. Zayn sedikit hanyut dalam pikirannya sendiri saat itu, entah apa yang dia risaukan hingga tanpa sadar kakinya sudah menapak di depan pintu ruangan Diana. Terdengar suara bayi menangis dari luar. Sejenak Harry terdiam memegang gagang pintu. Entah situasi apa yang akan dia hadiri. Disaat dia harus berada diantara Zayn dan Diana. Namun…
“ Klek”
Harry mulai membuka pintu.
“ Di…” Sapanya lembut dengan mata sendu menatap Diana yang tengah duduk memangku putranya. Melihat kehadiran Harry hati Diana seolah berdesir kencang, udara terasa begitu dingin. Nada yang tanpa pesan. Perlahan Harry melangkah kearah Diana, sementara Zayn masih berdiri di luar.
“ Ha.. hai.. Haz.. Harry! Kau di sini?” Suara Diana terdengar begitu jelas ragu. Ia grogie dan juga canggung
“ Anakmu sudah lahir. Aku senang melihatmu baik baik saja, aku tahu aku mungkin tidak pantas untuk hadir di sini, apakah aku boleh memanggilnya...” Belum selesai Harry bicara Diana memotongnya
“ Terima kasih Harry… tapi anakku sudah memiliki Zayn sebagai ayahnya.” Senyum Diana sendu. Harry tersenyum getir
“ Ya benar, saat ada orang sebaik Zayn disisimu kenapa kamu harus melihat kearah yang lain.. teruslah seperti itu Diana!” Ucap Harry. Diana menundukkan wajah. Wanita mana yang tak ingin anaknya digendong oleh ayah kandungnya, wanita mana yang tak ingin tersenyum ketika melihat orang yang sangat dicintai berada di hadapannya. Tapi Diana hanya bisa bersandiwara dalam kepahitan menyadari cinta itu dilarang baginya. Bagaimana caranya dia bisa menahan perasaannya. Menyadari wajah Diana yang mulai gusar Harry duduk di hadapannya, perlahan tangannya menggapai kepala halus bayinya
“ Apa yang kau lakukan.. ?” Tanya Diana. Terlihat jelas setetes bulir bening mengalir dari mata indah Harry.
“ Sekali saja, untuk yang pertama kali dan terakhir… aku ingin dia merasakan sentuhan ayah yang begitu mencintainya, karna setelah ini aku yakin kau tak akan mau melihat wajahku lagi!!” Ucap Harry gemetar
Saat itu, aku melihat duka yang teramat dalam di matanya
Seakan, ia tidak akan pernah kembali
Seakan, ia akan pergi jauh
“ Apa maksudmu Harry?” Diana mengernyit, jujur, ia takut saat Harry berkata seperti itu.
“ Aku akan membuat sebuah pengakuan padamu, pengakuan terakhir yang mungkin akan menghapus semua keraguanmu untuk membenciku, dan setelah ini setiap hidupmu akan mengutukku.’” Ucap Harry membuat Diana mengerutkan keningnya..
“ Apa maksudmu?”
Harry melepas sentuhannya kemudian berdiri dari duduknya, menatap Diana dengan mata lembayung yang menyedihkan.
“ Fajar hampir dua tahun yang lalu aku mengenal seorang gadis yang sangat baik.. berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, aku mulai sering bertemu dengannya.. aku tahu dia berasal dari desa yang sama denganmu, dan mungkin kalian berteman, karena itu aku mendekatinya. Untuk mencari tahu dimana Diana Safana. Aku memanfaatkan gadis itu, menjeratnya ke dalam kehidupanku yang ambigu.. dan tanpa aku sadari aku telah merusaknya.” Harry menghela napas berusaha menguatkan dirinya untuk bercerita. Zayn yang mendengarkan dari luar ruangan berubah menjadi pucat. Sementara Diana tampak mengernyitkan keningnya.
“sebenarnya apa yang ingin kau katakan Harry?” Tanya Diana dengan nada curiga.
“ Aku pernah menghilangkan hidup seseorang Diana, seseorang yang begitu mencintaiku, seseorang yang hanya melihat ke arahku, hanya ada aku dimatanya, dia yang menyerahkan segala hidupnya untuk mencintaiku. Dan mungkin karena ini aku dihukum.. untuk kehilangan cintaku. Aku menyia nyiakan dia setelah aku tahu dimana kau berada. Bahkan aku berniat untuk menolak kehidupan yang tumbuh di dalam dirinya, malam itu aku hanya ingin bicara dengannya… tapi dia tidak mau mendengarkan aku, dan kejadian itu terjadi… aku tanpa sengaja merampas kehidupannya. Kehidupan dirinya dan anak yang berada di dalam kandungannya. Anak yang seharusnya juga menjadi anakku.” Harry menundukkan wajahnya.
Diana tercekat, napasnya memburu dan tangannya seolah terasa lumpuh, seolah mustahil mendengar semua itu dari mulut pria yang begitu dekat dihatinya, berbagai prasangka berkecamuk dibenaknya.
“ Si.. si.. siapa dia.. siapa gadis itu?” Tanya Diana getir. Zayn yang mendengar dari luar seolah ikut tercekat, lututnya seolah mati rasa, terduduk bersandar didekat pintu.
“ Dia Malika….. Malika sahabatmu, maafkan aku Diana.. aku terlalu pengecut untuk mengakuinya.. aku terlalu naif dan datang padamu setelah semua yang terjadi seolah pria tak bernoda, mungkin setelah ini aku tidak akan berdalih atau meminta maaf lagi, karena akan lucu jika kau memaafkanku. Aku hanya..”
Plak
Sebuah tamparan keras tiba tiba mendarat dipipi Harry, tamparan kedua dari tangan yang sama. Diana berdiri tegap di depan Harry setelah meletakkan putranya terlentang diranjang. Suara tangis langsung menyeruak dari bibir mungil bayi tak berdosa itu. Harry memegang wajahnya yang memerah dengan mata berkaca- kaca.
“ Malika sahabatku? Hah? Malika sahabatku??” Teriak Diana depresi
Bagaimana mungkin ini terjadi?
Anehnya, Harry justru mengulas senyum menerima tamparan itu
Apa sebenarnya yang terjadi?
Next part: Mengalah