Cahaya lentera di tangan seolah menari bersama angin sepoi yang menemani langkahnya malam itu, sejenak mata indah itu terpaku menatap bintang di langit malam berpadu lembut dengan suara gemuruh ombak yang sesekali menyentuh kakinya. Tenang, dan damai bersama impian yang seolah hampir berlabuh di hadapannya. Impiannya bersama sang pangeran pujaan. Bayangan lamaran Zayn tadi menari nari dipelupuk mata. Hidupnya terasa begitu sempurna sekarang, apa lagi yang bisa ia impikan?
Hampir semua impian Diana akan terwujud
Ya, setidaknya itu yang ia rasakan
Gadis yang tengah dimabuk asmara
Jauh dalam lamun lepasnya tiba- tiba seseorang melangkah dan berdiri disampingnya.
“Nenek? Tumben nenek ke pantai malam malam.” Senyumnya dengan mata berkaca- kaca, tampak jelas raut bahagia yang menyeruak dari sudut wajahnya
“ Apa kau yakin dengan keputusanmu Diana?” Tanya suara tua itu memecah hening malam
“ Maksud nenek?” Diana mengernyit
“ Zayn, nenek rasa kamu terlalu cepat memberikan keputusan nak. Kau masih begitu muda, sebaiknya pikirkan dulu matang matang, nenek tidak ingin kau terluka.” Tutur neneknya mencoba membelai pundak Diana lembur. Di wajah tuanya, terlihat rasa khawatir yang tampak jelas. Bagaimanapun, Diana adalah cucu kesayangannya satu satunya, Diana begitu polos, naif dan mudah sekali percaya pada orang lain.
“ Sudahlah nek, aku bukanlah anak kecil yang perlu selalu nenek khawatirkan, percayalah… dia jodoh yang tepat untukku!” Senyum Diana tanpa cela. Sejenak wanita tua itu diam, menarik napas panjang kemudian membelai lembut pundak cucu tercintanya.
“ Nenek hanya tidak mau kau membuat keputusan yang tergesa- gesa nak!”
“ Tenanglah nek, Diana mengerti kok, Zayn pasti akan menjaga Diana!” Gadis itu terlihat begitu yakin
“ Kau tidak ingin memikirkannya lagi? Nak, nenek hanya merasa ragu. Ini terlalu cepat. Rasanya baru kemarin nenek menggendong dirimu yang masih begitu kecil. Nenek hanya...”
“ Nenek, nenek hanya terlalu khawatir. Zayn adalah orang yang baik, dia sempurna, dia tidak melihat kekurangan Diana sama sekali. Dia begitu tulus mencintai Diana. Nenek jangan ragu ya, doakan yang terbaik untuk Diana.” Gadis itu menggenggam erat tangan neneknya yang berkaca kaca menatapnya
“ Semoga.” Tutur sang nenek pasrah, tak ada yang bisa dia perbuat. Benar, Diana memang bukan anak kecil lagi, akan tiba masa dimana seekor burung yang dirawat dengan baik sejak kecil harus lepas untuk mencari hidupnya, begitu pula Diana. Wanita tua itu hanya berharap tak ada yang memanfaatkan keluguan cucunya itu. Berharap semua kekhawatirannya hanyalah firasat yang hampa. Ia hanya ingin Diana bahagia, tidak seperti ibunya dulu.
“ Nenek, kembali kerumah dulu ya di, tidurlah lebih awal, bukankah besok calon mertuamu akan kemari!” Nasehat sang nenek tanpa menunggu jawaban kemudian melangkah pelan menuju gubuk mereka tak jauh dari sana. Diana hanya tersenyum melepas langkah neneknya sambil lalu meletakkan lenteranya di pasir dan duduk di sisinya.
Betapa bahagia hatinya kala itu, tak ada yang lain dipikirannya selain kegembiraan yang tak bisa dia luapkan. “ Zayn.” Gumamnya lirih.
Wajah dan bayang bayang pemuda itu seolah terus menghiasi kedua bola matanya. Senyumnya, tatapan matanya, sikapnya, serta awal pertemuan mereka yang tidak terduga membuat Diana mengulas senyum
Namun jauh dalam hening, tiba tiba…
Crash
Sekelebat angin seolah berusaha menyapa leher gadis itu, seketika membuatnya berdiri memegang lehernya yang terasa dingin menyengat. Dilihatnya sekeliling tempatnya duduk dengan perasaan was was, bulu kuduknya berdiri. Entah kenapa, senyum di wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi ketakutan.
“ Siapa?” Teriak Diana mencoba melihat sekelilingnya. Tak ada siapapun di sana
“ Ya tuhaan.. perasaan apa ini!” Keluhnya yang mulai pucat, tatapannya berlabuh pada sebuah batang pohon tumbang tak jauh dari tempatnya berdiri, pohon yang biasa didudukinya ketika bermain layangan bersama Malika dulu. Entah kenapa perasaannya menjadi sedih mengingat hari terakhirnya bersama Malika dulu. Hingga…
“ Diianaaaa…!”
Diana langsung menoleh menyadari seolah ada yang memanggil namanya, tapi tidak ada siapapun di sana. Tidak seorangpun, Apa mungkin itu hanya panggilan angin? Atau hanya perasaan Diana saja? Kenapa tiba tiba bayangan Malika di dalam mimpinya seakan terpampang nyata kembali.
“ Tidak Diana! Itu hanya mimpi! Ikuti apa kata Zayn, lupakan! Lupakan! Relakan Malika. Ayolah Diana, jangan parno.” Gumamnya pada diri sendiri. Hingga...
“ Dianaaaaa…!” Suara itu kembali terdengar, semakin membuatnya kehabisan napas. Apa mungkin hanya bayangan dari rasa takutnya? Gadis itu langsung merogoh lenteranya dan berusaha berlari pergi. Namun tiba tiba...
Brug
“Aww!” Lentera yang dipegangnya jatuh berserakan bersama tubuhnya yang terduduk jatuh setelah tiba tiba menabrak seseorang.
“ Maaf!” Ucapnya getir menyadari seorang berjaket hitam yang tampak sibuk membersihkan pasir dari tubuhnya.
“ Aaahhh siaal, pakek jatuh lagi!” Gumam orang itu kesal, seorang pemuda yang tampak sangat tergesa gesa menatap Diana tajam. Sorot mata birunya seakan melawan pekatnya malam. Diana tidak pernah melihat pemuda itu di sekitar sana. Dia seperti orang asing. Atau mungkin takdir yang membawanya bertemu dengan Diana malam itu?
“ Maaf aku tidak sengaja.” Diana menundukkan wajahnya penuh sesal
“ Aahh sudahlah lupakan!” Jawab pemuda itu aneh kemudian kembali berlari meninggalkan Diana yang masih terpaku ditempat itu menatap kepergiannya.
“ Aneh!” Celetuk Diana, dilihatnya sesuatu berwarna putih bercahaya tertinggal ditempat pemuda itu duduk tadi, perlahan jari lentiknya merogoh benda yang ternyata sebuah korek api dengan motif mawar putih disalah satu sudutnya.
“ Heiii!!! Korekmu terjatuh!” Teriak Diana. Namun pemuda itu sama sekali tidak menoleh, ia seperti tergesa gesa lalu menghilang bersama gelap malam.
“ Hmm hanya sebuah korek, tapi bagus juga… lebih baik aku simpan siapa tau nanti atau besok dia akan mencarinya dan aku bisa mengembalikannya.” Diana mengantongi benda itu kemudian melanjutkan perjalanan pulang.
Ya, dia adalah takdir keduaku...
Takdir yang seharusnya aku ingat...
Malam itu mata Diana sulit sekali terpejam, tak hentinya senyum mengembang dibibirnya membayangkan hari esok, sesekali pikirannya tak bisa menembus kuasa takdir yang baginya sangat ajaib. Bagaimana mungkin sosok seperti Zayn yang seolah hampir sempurna bisa menjadi jodoh gadis sepertinya. Diana harus tampil sempurna demi Zayn di depan ibu tirinya besok. Tapi apakah mungkin semuanya akan berjalan sesuai alur dalam pikirannya? Hanya takdir yang mampu menjawab
-----***-----***-----
Sementara itu di lain tempat...
“ Apa kau bilang? Kau jarang pulang ke rumah dan sekarang kau bilang akan menikahi seorang gadis dari desa ini? Apa kau sudah gila?” Teriak Ibu tiri Zayn dengan wajah marah saat mendengar penuturan itu ke luar dari bibir putranya yang tampak duduk di sofa dengan ekspresi tidak bersalah
“ Aku tidak meminta persetujuanmu. Kau mau atau tidak, kau harus hadir besok dan melamarkan Diana untukku. Jika kau melakukan itu, maka aku akan mengakuimu sebagai ibuku.” Tawar pemuda itu mengangkat sebelah alisnya
Ibu tiri Zayn ( Estel ) tampak berpikir
“ Bagaimana mungkin ada gadis yang pantas dengan seorang Abraham di desa ini? Zayn, kau bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik. Berpikirlah dengan jernih! Jangan mempermalukan keluarga kita.” Pintanya kemudian
Mendengar itu, Zayn berdiri, menjajari ibu tirinya dan menatapnya dengan sorot tatapan yang membunuh
“ Sudah aku bilang kan, aku tidak meminta pendapatmu! Setuju atau tidak kau harus datang besok! Atau aku akan menunjukkan sesuatu pada ayahku, yang akan membuatmu terusir dari sini jika ia melihatnya!” Ancam pemuda itu mengerikan
“ Apa itu?”
“ Kau mengenal seorang pengusaha Textile bernama Lucas 3 bulan yang lalu bukan? Ah aku lupa memberitahumu kalau aku menyimpan CCTV saat kalian berada di hotel milik temanku. Kau mau aku menunjukkannya?” Senyumnya membuat wajah Estel memucat
“ Zayn kau salah paham. Kami hanya berteman.”
“ Oh ya? Tapi apakah ayah akan percaya hal itu?”
“ Baiklah! Aku akan datang besok. Kau puas?” Tekan wanita itu menghentakkan kakinya ke lantai kemudian beranjak pergi dengan wajah marah dan menggerutu
“ Dasar anak setan!”
Zayn mengulas senyum menatap kepergian ibu tirinya itu.
“ Tidak ada yang bisa menolak keinginanku, tidak ayah, tidak kau dan tidak juga Diana. Semua yang aku mau harus menjadi milikku. Ya,. Harus menjadi milikku.” Gumamnya