...ohh! Tidak... tidak... pria itu... sepertinya melesat!
Karena saking cepatnya ia berlari ke arah barat dan itu arah menuju pedesaan yang sangat sepi. Kenapa aku bisa bilang begitu?! Karena letak Universitas ku ini berada di ujung kota dan dekat dengan perbatasan kearah desa yang katanya hampir menjadi desa mati itu.
Karena sebagian besar penduduk dari desa ersebut tiba-tiba hilang, tidak ada kabar bak di telan bumi. Hal itu masih menjadi misteri, bagaimana bisa banyak warganya menghilang tanpa jejak? Sampai – sampai semua polisi yang mendapat tugas untuk mencari para warga yang hilang itu pun pada akhirnya menyerah. Karena tidak ada titik terang dalam kasus tersebut. Di tambah rata-rata yang menghilang kebanyakan anak-anak yang baru saja beranjak remaja.
Jadi mereka selalu menyimpulkan jika para remaja yang hilang itu kabur karena sedang masa puber dan bukannya karena ada kasus penculikan.
🍑🍑🍑
Sesampainya Lunar di rumah, keadaan rumah sangat sepi. Hanya ada dia dan sang adik, Ayahyang belum pulang dari bekerja dan untuk ibunya… sudah lama mungkin, sekitar tiga tahunan ibunya telah beristirahat dengan tenang.
Sudahlah lupakan saja jangan bersedih lagi. Lunar langsung beranjak masuk ke kamar, mempersiapkan barang bawaannya untuk acara kemah besok. Saat sedang sibuk menata barang bawaan ke tas ranselnya, tiba-tiba Chandra masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Kak!?" Panggilnya ragu dan hanya Lunar jawab dengan gumaman kecil.
"Kak!?" Panggilnya ragu dan hanya Lunar jawab dengan gumaman kecil.
"Kaakk!” Panggilnya lagi namun kini ia mendekat dan duduk di kasur sang kakak.
“Iihh itu... Hmm... anu..." Chandra kembali memanggil dengan ragu untuk menyampaikan keberatannya.
"Apaan Chan? ngomong aja sok, pake anu dan ham hem ham hem lagi" Balas Lunar greget ke sang adik.
"Ihh kak! Itu acara kampus kaka besok harus banget kakak ikutan?" Kata Chandra pelan sambil memperlihatkan muka melasnya.
"Iyalah Chan! Kan kakak bagian penanggung jawab divisi minba di BEM jurusan, ya... walaupun sebenernya males juga buat pergi. Emang kenapa sih?" Jawab Lunar sambil melanjutkan kegiatannya memasukkan bajunya.
"Hmmm Kak! Perasaan Chan agak kurang enak soal kakak besok." Lagi, Chandra mengatakannya dengan ragu-ragu.
"Kakak dirumah aja ya temenin Chandra?" Sambung remaja jangkung yang duduk di kasur milik sang kakak dengan kulit putih dan bermata tajam itu sambil memelas ke arah sang kakak.
"Kalau bisa sih, Kakak ga akan pergi besok! Sayangnya Kakak wajib ikut"jawab Lunar yang masih fokus dengan barangnya.
"Chan tenang aja! kakak janji bakal baik-baik aja. Chan doain aja kaka semoga baik-baik aja selama acara kemah besok." Ucap Lunar sambil mengelus rambut Chandra untuk menenangkan adiknya itu.
"Yaudah! Janji harus pulang dengan selamat?!" Tekan sang adik sambil memperlihatkan jari kelingkingnya ke arah sang kakak.
"Iya, janji! Kakak kan cuma ikut kemah kampus aja bukan camp militer." Lunar sambil memeluk sang adik dengan erat.
Chandra mendengus saat sang kakak mencoba melucu untuk mencairkan suasana agar suasana tidak terlalu haru.
"Terus, besok pagi kakak pergi sama siapa? Kan Chandra harus berangkat pagi juga buat ke sekolah" Chandra kembali bertanya, sambil menunjukkan wajah sedikit khawatirnya.
"Tenang aja, besok kakak bareng sama Ryuka. Kebetulan abangnya mau direpotin."
Tak terasa pagi telah datang lagi, dan jam sudah menunjukkan jam enam kurang lima menit. Lunar sekeluarga sudah siap di meja makan sedang menyantap sarapannya masing - masing. Saat sudah hampir selesai sarapan Ayah Lunar membuka percakapan.
"Nar?! Yakin ga mau bareng ayah aja nih? Daripada ngerepotin temen kamu?!" Tanya Ayah Lunar untuk memastikan lagi.
"Iya yah!? Lagian kasihan temen aku udah mau nyampe, masa pas dateng akunya udah pergi duluan. Lagian kan kantor ayah beda arah sama kampus aku." Jawab Lunar halus kepada sang Ayah.
"Yaudah, hati-hati selama acara kemahnya ya!" pesan sang Ayah
"Barang bawaannya udah lengkap semua kan?" Lanjut sang ayah.
"Iya, udah Ayaaah..." Lunar dengan nada manjanya.
"Uang jajan kurang ga?" "Mau ditambah?" Tanya sang Ayah memastikan.
"Udah yah uang jajan masih banyak kok lagian di tempat camp mau jajan apaan? kan di hutan." Potongku sebelum ayah menanyakan ini itu lagi.
Tak lama terdengar suara mobil yang terparkir di depan halaman rumah Lunar, langsung saja Lunarberpamitan kepada sang Ayah dan juga adiknya.
"Yah! Chan! Kakak berangkat ya?!" Pamit ku ke pada kedua keluarga tersayang.
"Iya, hati-hati!"
"Iya kaakk!" Jawab ayah dan Chan bersamaan.
Saat keluar dari rumahnya Lunar bergegas memasuki mobil bang Wawan yang sudah terparkir di halamannya itu.
"Hehe sorry bang kalo ngerepotin" ucapku saat setelah memasuki mobil.
"Iya Lun nyantuy aja, gue juga lagi gabut dirumah hari ini makanya jadi supir kalian" jawab bang Wawan sambil melajukan mobilnya dari halaman rumahku.
"Lu jomblo sih makanya gabut " samber Ryuka sambil menguap. Sepertinya dia tidur lagi tadi pas perjalanan menuju rumahku.
"Diem lu jin botol" bales bang Wawan sambil melirik Ryuka sekilas dengan sinis. Yang di sinisin juga hanya menjulurkan lidahnya.
Setibanya didepan BEM Univ ternyata sudah lumayan rame. Aku dan Ryuka langsung mengantri untuk melakukan absen sebelum memasuki bus untuk berangkat. Tiba giliranku, akupun mencari kertas absen untuk divisi minba dam melihat siapa saja yang sudah datang. Setelah selesai absen ternyata diriku diberi kalung id card untuk para penanggung jawab divisi. Akupun beralih menghampiri Ryuka yang ternyata telah berkumpul bersama tiga PJ lainnya termasuk Haikal.
"A... A... A... Test... Test!"
"Ini semuanya udah pada dateng belum?" Buka kak Johnny
Riuh suara para anggota pun terdengar berisik.
"Coba para ‘PJ di cek dulu anggotanya, siapa aja yang udah dateng dan sekalian cek absennya siapa tau ada yang belum isi absen" titah kak johnny.
Akupun langsung menerima lembar absen dan langsung mengeceknya. Aku berteriak untuk mengumpulkan para anggota dihadapanku, karena melihat satu kolom absen yang belum terisi.
"INI ERIC ORANGNYA DATENG APA TIDAK YA?? KOK KOLOM ABSENNYA MASIH KOSONG?" teriak ku agar suaraku bisa terdengar oleh seluruh anggota yang berada di bawah tanggung jawabku.
"Eric tadi udah dateng tapi langsung lari ke arah toilet sana Lun" jawab Malik salah satu junior di divisi yang ku pegang.
"Nah itu dia! RIC BURU WOY ABSEN DULU SINI" lanjut Malik sambil melambai ke Eric.
"Maaf kak tadi udah ga tahan di kost ngantri jadi ya gitu" jelas Eric sambil tersenyum kikuk
"Iya... Iya udah nih buru di isi dulu absennya" papar Lunar.
"Berarti udah lengkapkan semuannya? Kalau udah langsung masuk aja ke dalam bus"
Setelah semuanya memasuki bus dan bersiap untuk berangkat, tak sengaja Lunar melihat sekelebat bayangan dari balik pohon dekat meja pengisian absen tadi.
"Lun lo liatin apa? Sampe serius gitu?" sikutRyuka ke lenganku.
"Ahh gapapa mungkin gue salah liat tadi" jawab Lunar sambil masih memperhatikan pojokan tempat seklebat bayangan tadi melintas.
"Ohh… nih jatah roti buat PJ. Lo belum ambil jatah kan?" Ucap Ryuka sambil menyerahkan sebungkus roti.
"Tahnks!" ucapku sambil menerima roti itu.