1.The Beginning
Gelap dan nyeri di sebagian tubuhku itulah yang kurasakan pertama kali sadar. Aku tidak terlalu ingat dengan apa yang terjadi dan apa saja yang telah kulalui. Yang ku ingat hanyalah hutan pinus dan juga sinar biru keunguan yang berpendar dari balik salah satu pohon pinus yang semakin terang saat diriku mendekat. Dan sekarang aku tidak tahu sedang di mana diriku berada.
Siapa yang telah membawaku kemari? Ruangan yang cukup besar ahh tidak, ini bisa dibilang sangat besar. Ruangan ini bernuansa coklat gelap dan abu-abu gelap serta lengkap dengan segala isinya namun udara disi cukup pengap yang kurasakan.
Apakah jendelanya tidak pernah dibuka? Sepertinya iya, gordennya saja sampai terlihat ada debu yg menempel, mana gordennya sangat tebal dan warnanya yang sinkron dengan nuansa kamar ini.
Setelah mataku selesai menelusuri ruangan ini dan menunggu pusing di kepalaku mereda, aku menuruni ranjang besar. Dimana aku terbangun, lalu aku menghadap dan berjalan ke daun pintu yang megah itu untuk mencoba membukanya.
Namun sayangnya pintu itu dikunci dari luar. Terpaksa aku berjalan kembali ke arah ranjang tadi dan aku pun mencari keberadaan ponsel ku dan untungnya ketemu. Tapi saat ku coba untuk menghidupkannya, baterainya habis. Haah sial sudah diriku ini.
Akhirnya aku kembali mncari jalan keluar namun tetap tidak bisa. Karena jendela pun berpagar tralis besi serta di palang oleh papan kayu dari arah luar.
Sekarang aku merasa seperti rapunzel yang terkurung dalam kamarnya aahh kamar penjara maksudku. Iya menurutku kamar ini mirip dengan kamar rapunzel, terletak di sebuah menara yang tinggi dan di tengah hutan.
Kenapa aku bisa mengetahui bahwa ini sebuah menara? Karena tadi saat aku melihat keluar jendela, dari celah papan yang menghalangi terlihatlah letak bangunan ini sangat tinggi. Mungkin, jika jendela ini bisa terbuka dan diriku terjatuh sudah di pastikan tubuhku tidak akan selamat lagi.
Lelah sudah tubuhku, ditambah tenggorokan yang kering karena aku mencoba berteriak. Namun percuma, ruangan ini sepertinya kedap suara. Dan sekarang, aku hanya bisa duduk termangu untuk menunggu siapa saja yang datang untuk membukakan pintu di hadapanku.
Tapi tak ada yang kunjung datang hingga diriku tertidur dipinggiran kasur dengan posisi terduduk dan bersandar ke tepi tiang ranjang. Hingga, saat kepalaku hampir terbentur tiang yang berada dekat ranjang, terasa seperti ada tangan yang menahan.
Tapi tangannya sangat dingin bagai keluar dari kutub tanpa penghangat, sontak hal itu membuat aku terbangun dan terkejut. Terkejut saat melihat ada seorang lelaki tinggi dengan kulit yang sangat putih dan juga pucat berada tepat di hadapanku.
Dengan perasaan syok, dengan sendirinya tubuhku beringsut menjauhi sosok pria dengan kulit pucat di hadapan ku itu. Tapi saat aku hendak menjauhi pria tersebut, dia membuka suaranya namun nyaris tidak terdengar. Karena keadaan yang sangat senyap, suara yang seperti bisikan itu terdengar di telingaku.
Sontak aku berbalik. Tapi anehnya di kamar hanya tinggal aku seorang diri lagi berteman dengan sunyi. Mata ku kembali menelusuri ruangan dengan gaya eropa klasik, untuk mencari keberadaan sosoknya ttadi. Namun sayang, mataku hanya menangkap segelas s**u yang masih hangat dan sepotong sandwich di nakas dekat ranjang.
Padahal tadi tidak ada apapun dan juga… masa iya pria tadi yang membawanya?
Jika iya, kapan dia meletakkannya di situ? Dan apakah akan baik-baik saja jika aku memakan dan meminumnya? Masalahnya tubuhku beneran sudah merasa sangat haus dan lapar sekarang. Tapi aku juga merasa takut jika terjadi sesuatu. Aku belum mau mati begitu saja!?
Setelah berpikir cukup lama aku mengurungkan niat untuk menyentuh makanan dan minuman tersebut. Dan akhirnya aku terjaga hingga hampir dini hari.
-Beberapa hari sebelum terjadinya hal-hal aneh-
"Yang besok jadi ikut kegiatan camp ini diharapkan datang pukul setengah tujuh pagi, dan berkumpul di depan gedung BEM Universitas!”
“Dan harap mengisi data diri ulang." Ucap wakil ketua BEM yang bernama Johnny itu, setelah mengumpulkan para perwakilan anggota dari setiap BEM fakultas.
Kak Johnny mengambil alih tugas sang ketua yang sedang berurusan dengan kepala jurusan di fakultasnya. Semua anggota BEM mengadakan acara kemah untuk lebih mengakrabkan diri kepada anggota baru yang baru tergabung di BEM. Mau itu dari BEM fakultas maupun BEM Universitas.
Sebenarnya tidak harus acara kemah, namun kali ini banyak dari mereka terutama pengurus inti berkata sudah lelah menghirup udara perkotaan. Jadi kali ini mereka akan mengadakan kemah di sebuah hutan yang lumayan jauh dari pemukiman. Dan disinilah aku dengan beberapa teman dekatku di BEM berada, di depan gedung BEM universitas.
Sebenarnya aku malas untuk ikut serta di acara kemah-kemah begiini. Tapi posisiku di dalam pengurusan BEM fakultas sebagai penanggung jawab dari divisi minat dan bakat. Jadilah mau tidak mau diriku harus ikut andil dalam acara untuk membimbing para anggota minba yang baru tergabung.
"Lunar! Besok pagi lo berangkat bareng siapa?" Seorang temanku yang juga berada di BEM dengan jurusan yang sama dengan ku yakni jurusan hubungan internasional tapi berbeda kelas, dia adalah Ryuka.
"Aahh Ryu!? Gak tau? sepertinya sendiri, soalnya Chandra lagi sibuk juga sama sekolahnya." Aku menjawab sambil mengingat adikku itu sedang dimasa-masa menghadapi ujian tengah semesernya.
"Yaudah kalau gitu, mau bareng gue ga? Kebetulan bang Wawan mau nganter biar besok pagi lo sekalian gue jemput." Tawar Ryuka padaku.
"Boleh! kalo ga ngerepotin abang lo ya it's okay." Lunar menjawab sambil memeriksa lembaran kertas untuk acara kemah.
"Ga lah! Santai aja sama bang Awan mah, jangan takut dia itu muka aja yang macem kanebo kering aslinya sama aja macem si Haikal, noh!" Ryuka tau aku selalu segan dan sedikit takut sama abang sepupunya yang akrab di panggil Awan itu karena sering memasang raut datar.
"Ngapain lo nyebut - nyebut nama gue?!" Tanya Haikal yang mendengar namanya di sebut oleh Ryuka. Padahal jarak Haikal dan kami lumayan jauh bahkan aku sendiri saja tidak menyadari keberadaan adanya Haikal disekitar. Dan juga, ini masih dalam keadaan banyak orang yang baru membubarkan diri sehabis menerima pengumuman dari kak Johnny.
"Apaan? Siapa yang manggil? Hayuk lah Nar kita pergi tinggalin aja nih beruang grizzly satu." Ryuka menjulurkan lidahnya ke arah Haikal dan sambil menarik tanganku agar segera meninggalkan tempat itu.
"Guys wait me!" Teriak Haikal sambil menyusul kita berdua.
Setelah bubaran dari BEM tadi aku singgah ke salah satu kantin yang tak jauh dari lokasi BEM Universitas berada sambil menunggu waktu untuk satu kelas lagi nanti sore. Tapi kedua orang tadi juga ikut serta duduk di kantin dengaku.
Ya! Dua orang itu Ryuka dan Haikal, teman baikku semenjak masa menjadi mahasiswa baru.
"Nar! Lo gak pulang? Kok malah mejeng di sini?" Ucap Haikal mengawali setelah pesanan minuman kami tiba.
"Lah lo sendiri ngapa ngikutin gue?" Tanya Lunar balik ke Haikal.
"Hehe!? bosen gue kalo pulang ke kos, yang ada ntar gue rebahan mulu." Jawab Haikal
"Ntar malah gagal rencana gue buat otot abdominals ."Tambah Haikal diakhiri dengan cengiran khasnya
"Yeuu dasar grizzly!" Sambar Ryuka sambil ngemilin kripik yang tersedia di setiap meja kantin.
Tidak terasa matahari mulai menghilang dan menjadikan warna langit sore yang mendung hari ini semakin gelap. Aku berjalan ke arah halte yang berada di depan gerbang fakultas untuk menunggu Chandra, yang katanya mau menjemputku sehabis belajar bersama temannya yang sultan. siapa lagi kalau bukan tuan muda Chen. Remaja keturunan negeri tirai bambu yang arah rumahnya melewati kampus tempatku mencari ilmu.
Aku menunggu sambil menikmati alunan musik From Home oleh Boy Group asal negeri Gingseng berada yang tak lain ialah NCT. Tak jauh dari tempatku duduk ada seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam dan tertutup, dan seperti sedang mengawasiku.
Bukannya terlalu percaya diri, tapi saat aku melihat kearah pria itu. terlihat pria itu seperti mengalihkan pandangannya dan pura-pura menyibukan diri. Lantas diriku menyepam Chandra agar cepat datang dan tidak mampir-mampir dulu.
Delapan menit berlalu dan akhirnya Chandra datang juga. dengan segera aku menaiki motornya dan menyuruh adiku itu cepat pergi dari halte tersebut.
Setelah aku dan Chandra beranjak pergi, tak lama sebuah bus datang ke halte. Tapi saat aku melihat kearah belakang, pria dengan
pakaian yang serba berwarna hitam tadi lari... ohh! Tidak... tidak Pria itu...