Melihat Meisya yang masih menangis dalam diam di pelukannya. Ando memutuskan untuk membawanya masuk ke dalam kamar mereka. Meisya spontan mengalungkan tangannya pada leher suaminya, namun kepalanya masih dia selipkan di antara leher Ando dengan kedua mata yang memerah dan berair. "Sayang, udah ya nangisnya. Jangan sampai hanya karena wanita ular itu kamu sampai nangis kayak gini, dia sama sekali nggak pantas kamu tangisi." Tangis Meisya perlahan mereda, dia masih enggan untuk beranjak dari pangkuan Ando. Kedua tangannya tampak erat memeluk leher suaminya, tidak ingin lepas sebelum emosinya yang bergejolak kembali tenang. Ando sama sekali tidak merasa keberatan, justru dia malah merasa senang dengan sikap manja Meisya yang seperti ini. Dia terus melingkari pinggang ramping istrinya, meme

