1. Mimpi Buruk
Malam temaram menjadi saksi dua orang saling mencintai tengah memadu kasih. Sentuhan nan lembut melayangkan mereka ke langit ke tujuh. Hujan deras menambah suasana semakin b*******h.
“Kamila, aku sangat mencintaimu. Aku janji akan menikahimu,” bisik Jovie disela cumbuannya.
“Bagaimana kalau orang tuamu tak merestui kita?”
Jovie menatap Kamila, menyibak helai rambut yang menutupi wajah kekasihnya. Wajah cantik Kamila tak kalah saingnya dengan rembulan malam ini. Matanya bak bulan sabit, menghipnotis jiwa raga Jovie.
“Kita kawin lari,” jawab Jovie mengecup kening Kamila.
Sederhana itu Kamila percaya janji seorang pria, padahal tidak ada satu orang pun yang tahu takdir kedepannya akan berjalan seperti apa.
“Jangan tinggalkan aku, Jo. Bisa mati aku tanpamu.”
“Enggak akan. Justru aku ingin mengurungmu dalam kamar berhari-hari.”
Tawa kecil Kamila pecah ketika mendengar ucapan kekasihnya, menggelitik indra pendengarannya.
“Kau nakal, Jo.” Kamila menggigit bibir bawahnya.
Jovie mengulas senyum jahilnya.
“Ini baru nakal namanya.” Jovie menyerang Kamila.
“Hentikan, Jo,” rengek Kamila kegelian di sekujur tubuhnya.
“Tidak mau,” tolak Jovie terus menggerayangi kemolekan kekasihnya dengan sekilas kecupan.
Perlahan-lahan tawa itu berubah suara tak senonoh, berakhir keringat bercucuran. Kini selimut menutupi dua insan yang kelelahan telah bergelut mesra.
***
Lima tahun kemudian, terlihat seorang wanita duduk di lantai semen sedang memeluk kedua lututnya. Menahan sesuatu yang menghantam keras punggungnya.
“Sakit ... kumohon hentikan ...,” ucap seorang wanita yang menerima cambukkan demi cambukkan dari seorang pria. Teriakkan mengibanya diabaikan begitu saja tanpa memedulikan rasa sakit yang terus-menerus mendera sekujur badan.
“Rasakan ini wanita jalang. Mati kau!” Pria itu terus mencambuk menggunakan ikat pinggang kulit.
“S-sakit.” Tubuh wanita itu terbaring lemas dengan banyak luka.
“Lepaskan, dia b*****t!” seru Jovie tidak didengar.
Pria itu tak jua berhenti memecut wanita yang parasnya samar-samar untuk dilihatnya karena tertutup punggung lebar pria berkulit sawo matang di depannya.
Jovie geram, cepat mendorong ke depan punggung pria tersebut. Namun, apa yang terjadi? Badan Jovie terpental menembus tubuh pria itu.
"Apa ini? Kenapa pria ini tidak bisa aku sentuh tubuhnya?" Jovie bangkit. Ia mencoba lagi. Namun, tetap saja, semua sia-sia, ia seperti meninju angin.
Jovie berteriak saat wanita itu diseret tak berdaya. “Tidak! Kau tidak boleh bawa dia pergi!”
“Jo, bangun!” Guncangan kuat menyadarkan Jovie dari mimpi buruknya.
Napasnya tersengal-sengal bahkan keringat dingin memenuhi keningnya. Bukan itu saja, lengan kekarnya memerah sama persis seperti wanita dalam mimpi Jovie. Seakan-akan kesakitan wanita itu berpindah pada Jovie.
“Kamu bermimpi buruk lagi?” tanya Sabrina, melirik luka kedua lengan putranya.
Empat tahun belakangan Jovie kerap kali bermimpi hal yang sama. Sungguh tak kuasa Sabrina menyaksikan penderitaan putranya setiap malam. Sabrina sendiri yang memantau keadaan Jovie jika gelap tiba.
“Iya, Bun,” jawabnya pelan, menyadarkan punggungnya lalu mengatur napasnya.
“Entah, apa yang sudah dilakukan putraku sampai dihantui mimpi buruk,” gumam Sabrina sulit berpikir.
Sabrina menyodorkan segelas air putih. “Minumlah.”
Jovie meminumnya sekali teguk hingga tandas kemudian menaruhnya di meja kecil, samping kiri ranjangnya. Setelahnya, Jovie menengok sepintas lengannya, jemarinya mengusap lembut memar yang didapat dari mimpi.
“Apa sakit?” tanyanya turut merasakan ngilu.
“Sedikit, Bun.” Jovie menahan perih.
“Tunggu sebentar. Bunda ambil kotak obat.”
“Gak usah, Bun nanti hilang sendiri,” tolaknya.
“Kamu ini suka sekali meremehkan sesuatu. Bunda, nggak suka dibantah,” sergah Sabrina.
“Serius, Bun.” Mengacungkan dua jari berbentuk huruf V.
“Apa ada hubungannya dengan Kamila?” tanya Sabrina membuka aib masa lalu Jovie.
Tiba-tiba Jovie tertegun, kembali teringat kesalahannya di masa lalu. Ia tidak menepati janjinya untuk menikahi Kamila. Nahasnya, ia meninggalkan Kamila tanpa sepatah kata pun.
Jovie pindah ke Surabaya dan menikah dengan wanita pilih orang tuanya. Pada saat itu, Jovie tidak punya pilihan lain. Dalam keadaan terpaksa, ia sudah menghancurkan kehidupan orang yang sangat dicintainya.
Meski demikian, ia tidak pernah hidup bahagia. Pernikahan tanpa cinta membuat Jovie tiap waktu bertengkar dengan istrinya. Mulai beda pendapat sampai kewajiban suami lalai Jovie lakukan.
Karma menghampiri Jovie. Istrinya pergi meninggalkan bersama laki-laki lain. Ia terpuruk, semangat hidup hilang lantas memilih pulang ke Jakarta. Tiap ada kesempatan Jovie hura-hura sesukanya dan penampilannya yang berantakan diabaikan olehnya. Tujuan hidup tak dimiliki Jovie, baginya dunia sedang menghukumnya.
“Apa ini karma Jo sudah jahat sama Kamila?” Jovie pun melompat dari tempat tidur dan meraih jaketnya di rak gantung. Ia Bergegas memakainya.
“Jo, harus cari Kamila. Wanita dalam mimpi itu pasti, Kamila.”
“Sudah malam, Nak. Apa tidak bisa besok saja?” tanya Sabrina menahan putranya.
“Jo, enggak bisa menunggu lagi, Bun. Jangan cegah Jo lagi, Bun.” Jovie memohon.
“Tapi, Ayahmu akan marah kalau tau kamu tidak di rumah.”
“Ayah tak akan tau asal Bunda tidak biarkan dia masuk ke dalam kamar. Jo, janji pulang sebelum subuh.”
Sabrina menarik napas. Mencegah Jovie pergi sama artinya ia menghalangi takdir Tuhan.
“Baiklah, Bunda ijin kan. Tapi ingat sebelum azan subuh kamu sudah pulang.”
“Terima kasih, Bunda. Jo, sayang Bunda.” Mencium pipi Sabrina.
Sabrina menggeleng kepala jika sudah ada maunya mulut Jovie manis sekali.
“Hati-hati, jangan ngebut di jalan,” pesan Sabrina.
“Siap, Bunda.”
Jovie mengambil kunci motor sportnya di tempat gantungan kunci agar bisa keluar rumah dengan aman, Jovie lewat dari pintu teras kamarnya. Kebetulan kamarnya ada di lantai bawah jadi memudahkannya untuk tidak terlihat oleh penghuni lainnya.
“Dadah, Bunda.” Melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi.
Setelah putranya pergi, Sabrina mematikan lampu dan menutup tirai bernuansa putih.
"Tuhan, lindungi putraku di mana pun dia berada. Beri dia jalan untuk menembus dosanya," batin Sabrina gelisah.
Semalaman suntuk Jovie mengarungi malam bersama si merah, motor sportnya. Ia sempat mampir ke hotel di mana Jovie merenggut mahkota Kamila. Hasilnya masih sama. Resepsionis tidak menemukan informasi apa pun. Kamila juga tak pernah kembali ke Green hotel.
***
Matahari telah menampakkan sinarnya. Jovie masuk dengan menenteng jaket kulitnya melewati, Mahendra yang berdiri berkacak pinggang.
“Hebat! keluyuran terus tengah malam,” sergah Mahendra.
Jovie ketahuan menyelinap keluar rumah. Ia juga gagal menepati janji untuk pulang tepat waktu.
“Terus saja kamu begitu. Dasar anak tak berguna, berandalan.” Mahendra memukuli putranya menggebu-gebu.
Kedua tangan Jovie melindungi wajahnya dari pukulan ayahnya.
“Menyesal, aku punya anak kayak kamu. Pemalas!” maki Mahendra.
“Cukup, Ayah kasihan Jovie,” bela Sabrina, merelai dua pria beda generasi itu.
Akibatnya, Sabrina menjadi sasaran empuk suaminya. Tamparan mendarat di pipi Sabrina. Mata Jovie menyala semerah darah.
“Stop, Mahendra Setiawan. Ini terakhir kali aku melihatmu menampar Bunda. Sekali lagi, aku pasti membunuhmu,” murka Jovie.
“Lihat anakmu Sabrina! Dia barusan mengancamku.”
“Minta maaf sama Ayah, Jo,” suruh Sabrina, pandangannya memohon.
Jovie membuang napas kasarnya. Ia enggan minta maaf atas perbuatannya yang dipikir tidak salah. Ia hanya membela bundanya yang dipukul Mahendra. Jovie terpaksa menurut demi Sabrina.
“Maaf,” ujarnya pelan nyaris tak terdengar.
“Minta maaf yang ikhlas,” sentak Mahendra kurang puas.
“Maaf, Ayah,” ulangnya memperjelas kalimatnya.
“Aku maafkan."Mahendra mengambil tempat duduk. "Kantor pusat sedang bermasalah. Besok kamu segera berangkat ke Bandung,” perintah Mahendra mendadak dirasa Jovie.
“Ada syaratnya. Ayah janji tidak lagi memukul Bunda.”
“Ok, selama kamu kerja yang benar.”
***
Keesokan harinya, Jovie berangkat ke Bandung menggunakan penebangan pertama. Ia dijemput asisten barunya setiba di Bandara.
“Kita langsung ke kantor,” titah Jovie kepada asistennya.
Sesampai di kantor, Jovie yang terburu-buru tidak melihat jalan. Sehingga kaki kanannya tergelincir ke lantai. Bokongnya jatuh lebih dulu, sakit pun dirasakan.
“Tuan, apa baik-baik saja?” tanya Faris sembari ikut membantu Jovie berdiri.
“Kerjaan siapa ini yang nggak beres? Kalau kaki saya patah, gimana?” tanya Jovie, nada suaranya mengejutkan lantai dasar. Seluruh staf memasang raut ketakutan seraya mengira-ngira siapa pelakunya.
Seorang pegawai berseragam biru berlari kecil menenteng kain pel dan yellow sign. Ia mendekati dua orang pria itu dengan perasaan takut. Kepalanya tertunduk.
“Maaf, Tuan. Saya lupa kasih tanda lantai licin.” Dengan cepat mengipas-ngipas lantai menggunakan yellow sign.
Suara lembut khas milik seseorang begitu familier di telinga Jovie. Ia masih ingat jelas siapa pemilik suara itu. Mendadak kerinduannya membuncah memanggil cintanya yang hilang.
“Kamila,” lirihnya