Nadira duduk di salah satu kursi kosong dekat gerobak nasi goreng nya Mba Dinar. Sambil menunggu pelanggan menerima pesanannya, Nadira memperhatikan.
Ia menghafalkan jalan pintas yang pernah ia tanyakan pada Maura, tepat jalan ini. Dan, memang jalan ini juga yang sering dikunjungi Nadira untuk berkeliling saat waktu luang.
Lalu, apa semua ini ada hubungannya dengan si pengirim coklat itu?
Satu persatu pembeli mulai pulang, tinggal Nadira kini siap untuk memesan. Nadira memesan satu bungkus nasi goreng.
"Nasi goreng ya satu." Pesan nya kepada seorang wanita paruh baya yang sudah mengenalnya.
"Iya, De." Sebutan De yang diberikan Dinar untuk Nadira.
"Biasa ya, Mba. Jangan terlalu pedas. Kerupuknya yang banyak." Tawar menawar seperti ini biasa bagi mereka, karna Dinar yang sudah sering bertemu Nadira, juga sebaliknya.
"Siap." Jawab Mba Dinar sambil mengambil nasi dari bakul berwarna hijau.
"Mba Dinar, aku mau tanya." Nadira menggerakkan-gerakkan kakinya, sambil menatap terus ke bawah.
"Kenapa De?"
"Mba kan tahu ni pelanggan nasi goreng siapa aja, ada anak Spensa ga selain aku?" Nadira mengangkat, ingin melihat langsung bagaimana respons Mba Dinar.
Mba Dinar masih berpikir, sambil memberikan kecap pada nasi goreng yang dipesan oleh Nadira.
"Anak-anak di sini sekolah rata-rata di Spenda, De. Kalaupun engga, ya mereka pasti sekolah di Nusa Bangsa." Jelas Mba Dinar.
Jadi, si pengirim itu bisa jadi anak Spenda? Tapi, rasanya tidak mungkin. Karna Nadira juga tidak mengenal salah satu dari mereka.
Tapi Nadira baru ingat, ia meninggalkan sepedanya di luar ruko. Itu gagal menjebak si pengirim coklat itu. Buru-buru Nadira keluar dari ruko.
"Yaampun." Nadira menepuk dahi nya, ia kecolongan. Benar saja, sudah ada cokelat seperti biasanya di keranjang sepeda nya.
"Tunggu!" Teriaknya, sambil berlari kecil meninggalkan sepeda nya.
Tapi, motor itu tidak berhenti. Nadira melihat motor itu melaju cepat, ia yakin pasti adalah pemasok coklat ini.
Motor ninja tua berwarna biru, melampaui ini ia tidak menemukan anak Spensa membawa motor itu.
Dugaan nya selama ini salah, bukan Ale dan bukan juga Irham yang tahu jalan pintas Rumah. Ini memang misteri untuk dirinya sendiri.
*
"Pagi, Ka?" Sapa nya dengan hati-hati karna khawatir mengganggu Irham.
Irham menoleh ke samping di mana sumber suara itu muncul, pagi-pagi sekali ia terkejut mendapati Nadira ada di sampingnya.
Belum juga dijawab, Nadira sudah bersuara lagi. "Boleh aku duduk di sini?"
Irham tak menjawab juga, ia hanya bisa bergeser memberikan ruang agar Nadira bisa duduk.
"Baca buku filosofi karate juga?" Tanya Nadira lagi.
"Iya, menarik buat pembelajaran." Irham memang tidak memberikan senyumnya, tetapi jika dari dekat seperti ini Nadira bisa meihat memang sosok Irham terlalu sempurna.
"Kenapa kaka ga terjun aja ke lapangan, nyoba karate misalnya."
"Dulu tidak pernah, sekarang engga." Jawabnya tanpa meninggalkan fokus terhadap buku itu.
"Aku ga mau nanya kok, Ka. Cuma mau kasih ini aja buat kaka, makan ya." Nadira menyodorkan satu kotak makanan ke Arah Irham.
Irham menoleh, lengannya sudah terulur untuk mengambil kotak itu. "Dari Maura, Ka."
Uluran tangan yang hampir sampai memegang kotak makan itu, berhenti. Berjarak sekitar 3cm, sangat dekat sekali.
Nadira tahu Irham pasti akan menolaknya, tapi sebelum itu Nadira lebih dulu bersuara. "Kalau tangan dianggap pedang, bisa melawan tangan kosong. Mulut juga sama loh ka, memang ga ada pisaunya. Tapi bisa nyakitin, sebaliknya. Tenang, ini bukan termasuk yang mau menerima balasan kok."
Irham bungkam dan tidak bisa bersuara saat itu, bisa-bisa ia membawa filosofi karate ke dalam usaha pemberian dari teman-temannya.
"Terima kasih, Ra."
Nadira mengangguk cepat, lalu meninggalkan Irham sendiri di taman.
Yang ditinggalkan menoleh setelah Nadira cukup terlihat dari tempatnya. Ia tersenyum, sangat manis.
Entah karna pemberian itu, atau pada ia yang memberikan kepada nya.
*
"Dia jawab apa?" Maura tidak menghiraukan sepiring siomay di depan nya, ia lebih tertarik pada Nadira yang baru saja datang dari taman.
Nadira menghela napas, "Aku belum aja duduk, Ra."
Maura terkekeh, "Iya duduk-duduk di sini."
Nadira memutar bola mata kesal, lalu meneguk segelas es manis yang ada di depannya.
"Jadi apa, Nad?" Tanya nya lagi.
"Terima kasih, Ra." Jawab Nadira.
"Itu aja?" Tanya nya, berharap ada kalimat lain dari mulut Nadira.
"Iya, kenapa?"
"Gaada embel-embel tolong sampein gitu?" Masih terus berharap.
"Engga ada."
"Ini aneh loh, Nad. Yang ngasih kan elo, otomatis kalau dia ngomong to the point itu buat buat bukan gue. Karna gaada embel-embel tolong sampein tolong sampein kan?" Benar juga kata Maura, harusnya sejak tadi ia sadar dengan ucapan Irham.
"Tapi kan dia bilang Ra bukan Nad, itu tandanya buat kamu."
"Yaudah lah, yang penting diterima." Maura melanjutkan kembali sarapannya dengan sepiring siomay yang masih hangat.
Nadira masih berpikir keras soal ucapan Irham tadi, benar kata Maura. Ada satu hal aneh dari ucapan Irham, juga dipikir-pikir Ale pun sama.
Hobi sekali dengan sebutan Ra.
*
"Ayolah lo ikut, kali-kali sebelum lulus kan?" Ale masih memberikan penawaran untuk seseorang di hadapannya saat ini. Ia terus-menerus berbicara hingga mencapai tujuannya.
Decakan sebal keluar dari mulut lawan bicara, "Untuk apa?"
"Le? Masih di sini rupanya?" Tiba yang tiba tiba-tiba bersuara, membuat Ale menoleh.
"Hei, Nad! Maaf kamu nunggu lama." Fokus padanya pada gadis di hadapannya sekarang.
"Kita jadi hari ini?"
"Jadi kok, jadi. Cuma tadi ada yang perlu sama sama Irham."
Irham yang melihat kejadian ini, tidak sama sekali memperhatikan. Ia membalikkan pandangannya ke arah yang lain.
"Tapi, ga mungkin kalau kita berangkat bertiga." Nadira mengerutkan dahi nya, bukan nya ia tidak mau ada pihak ketiga. Pasalnya orang ketiga itu Maura, dan dia tidak mau Maura seperti nyamuk di antara mereka berdua.
"Engga kok, Irham ikut." Tanpa menunggu jawaban dari Irham, Ale mengklaim saja bahwa memang Irham akan ikut.
"Yaudah, Maura udah nunggu di parkiran."
Ale mengangguk, lalu berjalan lebih dulu bersama Nadira. Sementara Irham diambil dari Arah belakang, seperti ini saja Irham tidak pernah diabaikan atau terabaikan.
Irham tidak ingin berkomentar lagi, ia tidak mau peduli apa yang Ale ucapkan. Dijalani saja dulu, sewajarnya.
Parkiran mulai sepi, sambil duduk sendiri berulang kali Maura membuka aplikasi w******p dan i********:, dan sesekali mengedar kan pandangan ke arah pintu masuk. Ia belum melihat tanda-tanda Nadira kembali bersama Ale.
Sambil menggerakkan kaki ke lantai, Maura berpikir jika ia mau ikut tanda itu ia hanya jadi nyamuk di antara Nadira dan Ale. Tapi memang memang ini acara mereka berdua, Nadira dan Maura. Kenapa Ale tiba-tiba mengajak Nadira jalan, mau tidak mau Maura harus terima.
Tanpa sadar, 2 pasang sepatu sudah ada di depan Maura kini. Dan tunggu, ada sepatu baru di belakang Ale dan Nadira.
"Gue kaya ga usah ikut deh, lain kali aja jalan bareng lo, Nad." Tampak raut kecewa di wajah Maura.
"Alibi, minta tolong mintain pasangan kan." Ale menjawab dengan seenaknya.
"Apaan sih, gue serius tau. Lagian lo, udah tau ini acara gue sama Nadira pake ngerusak segala lagi." Maura akhirnya menumpahkan kekesalannya sejak tadi.
"Masa jadi wacana, udah ada 4 orang gini terus ga jadi jalan-jalan nya?"
"Empat?" Sebenarnya Maura paham, empati itu ya Irham yang kini berdiri di belakang Ale.
"Jadi gatau gitu, padahal paham. Udah, lo berangkat sama Irham. Ayo, Nad!" Ale menarik lengan Nadira, dan berjalan lebih dulu.
Ale itu memang diam-diam mulutnya perlu dijahit, tapi ini bukan mimpi kan untuk Maura?
Irham tidak mengatakan sepatah dua patah kata pun setelah Ale dan Nadira pergi meninggalkan mereka berdua yang masih mematung di tempat, entah mengapa Maura kini tidak dapat mengubah seperti biasa. Mungkin karna bisnisnya sudah terlihat jelas bukan main-main dengan Irham.
"Ayo!" Tanpa menoleh, melirik pun tidak. Irham mengatakan itu sambil berjalan mendahului nya.
Aduh jantung, jangan marathon gini dong .
*
Entah tadi di sekolah Maura ke tempelan apa, sikapnya di Mall sekarang jauh berbeda. Ia kembali pada Maura yang bawel, ceria, dan agresif.
Di meja makan sekarang hanya ada sendiri dan Irham, Ale pergi memesan makanan sementara Nadira pamit ke toilet.
"Ka Ale bukan tipikal cowo playboy ya?" Maura Membuka sebuah obrolan.
"Kenapa?"
"Gue gamau aja temen gue diduain atau ya diselingkuhin, Nadira keliatan senang soalnya kalau deket sama Ale. Dia agak lupa sama masalah keluarga nya." Jelas Maura jauh dari kata becanda atau tawaan yang jelas tidak serius.
"Laki-laki sejati ga akan pernah tega nyakitin cewe selugu dia."
"Ya gitu, gue beruntung ketemu dia. Mau banget diajak solidaritas nya, ga neko-neko juga orangnya."
"Solidaritas buat aksi modus lo, Ra?" Irham melipat kedua tangannya di d**a, seakan sedang mengintrogasi Maura.
Maura terkekeh pelan, "Namanya juga usaha ka, sebeku apapun hati lo. Kalau gue bisa diangetin, ya lo bakal cair lah." Jelas itu dengan percaya diri.
"Setiap yang beku punya derajat tertentu kapan saja ia bisa sekeras batu, atau bahkan mencair."
"Derajat berapa hati lo bisa cair, Ka?" Tanya nya sambil menatap Irham serius.
"Nol." Jawabnya dengan tegas datar.
"Etss, serius bener ngobrolnya." Untung Irham sudah menjawab sebelum Ale datang dan merusak suasana.
"Nadira belom balik, Ra?"
"Belom, dia lama banget ngapain ya." Maura baru sadar saat Ale bertanya Nadira, ada sedikit khawatir takut terjadi apa-apa dengan Nadira.
"Tunggu aja 5 menit, kalau ga dateng juga lo samperin." Maura mengangguk cepat, ia harus patuh dan taat pada ucapan calon pacar.
Belum 5 menit, Nadira terlihat berjalan ke arah mereka.
"Lama banget sih lo, Nad?" Tegur Maura.
"Nelpon kaka sebentar."
Semua nya mengangguk pelan, lalu mulai sibuk dengan makanannya masing-masing.
"Oh iya Nad, sejak kapan lo suka warna biru langit?" Tanya Maura setelah selesai mengunyah makanan di mulutnya.
Nadira sempat kaget saat Maura bertanya hal itu, "Biru langit? Emang aku pernah bahas warna itu ya?"
"Engga sih, kemarin lusa ka Ale mesen hoodie ke gue. Hoodie cewe, pasti buat lo kan. Soalnya pas gue tanya warna nya, dia pesen warna itu. Katanya itu warna favoritnya di masa depan."
Ale terbatuk-batuk seketika, ia tersedak soda yang baru saja ia minum sambil mendengarkan penuturan Maura.
"Tapi, bukan nya warna kesukaan lo, bukan warna cerah?"