Jika dibuat novel, mungkin ini sudah diangkat bab terakhir. Ya, bab terakhir di mana Maura akan mengusaikan cerita sejak satu jam yang lalu. Ia memang tidak butuh direspon banyak, didengarkan dengan baik saja cukup.
Sementara cerita nya cukup biasa, hanya saja ia ulang-ulang untuk membangkitkan perasaannya sekarang.
Maura sudah baik pada nya, bahkan semenjak kedatangannya ke Surabaya. Itu alasannya, untuk hal kecil seperti mendengarkan Nadira berusaha menjadi yang terbaik untuk Maura.
"Nad, lo tuh harus tau gua minta gitu aja berasa-"
"Berasa bertanya kapan saja nikah kan? Atau berasa meminta kamu akan jadi pacar aku atau engga . Kamu udah ngulang kalimat itu berapa kali sih, Ra? Aku tau kamu seneng, tapi gaboleh terbawa gitu."
Nadira mengerutkan dahi nya, dan menggeleng-gelengkan kepala nya. "Gabaik lho."
Maura turut mengerutkan dahi nya juga, "Lo tuh ya, ga bisa apa ngerti gua lagi seneng banget ini."
Nadira terkekeh kecil, "Iya aku tau kok, tapi kelewat senang juga ga baik, bisa mengundang tangis loh."
Drrtt ...
Ponsel Maura bergetar dari saku nya, ia mengambilnya kemudian terkesiap karna melihat sesuatu di sana.
Ia menepuk pundak Nadira agak kencang, membuat Nadira kaget.
"NADIRA!" Teriak nya
"LO SALAH!"
"Kata-kata suka bahagia bakalan ngundang kesedihan, ini engga! Justru mengundang kebahagian yang kelewat lebih dari kemarin." Dengan percaya diri Maura mengucapkan kalimat-kalimat yang dia anggap paling benar.
Aduh, ada tambahan ini. Batin Nadira
"Apa lagi sih, Ra?"
"Ka Irham nge chat gue, dia bilang jangan lupa hari ini latihan! Omaygat, gila gue seneng parah si." Jangan bicarakan Maura sedang apa sekarang, ia sedang memeluk ponselnya erat-erat dan tak berhenti senyum yang lebar.
Iya, Nadira paham bagaimana bahagia itu Maura sekarang. Ia juga tidak bisa mengeluarkan tanggapan Maura terhadap sesuatu yang disukai.
"Nad, kok lu diem aja sih?" Merasa bahagia, tak tertahankan dengan baik, Maura menatap Nadira curiga.
"Ya terus aku harus gimana? Aku seneng kok kamu kaya gini, tapi yaudah aku harus ngapain? Kaya kamu gitu jingkrak-jingkrak?" Tanya nya pasrah, Nadira tidak begitu senang rasanya.
"Dasar nih, kelewat polos tuh susah. Banyak belajar dong! Punya pacar keren juga."
Nadira menatap penuh tanya ke arah Maura.
"Kok jadi bawa-bawa Ale sih?" Nadira berhenti sejenak, "Kemarin aku sedikit debat sama dia. Kalimat dia yang paling aku ingat adalah, dia pang-"
"Nad?"
Saat di depan pintu sana, sukses membuat ucapan Nadira berhenti. Siapa lagi yang mau buat laki-laki yang sedang menunggu saja.
Lain hal dengan laki-laki di pojok kiri sana, dia melihat dengan tatapan tak suka. Dia Rafka, bodoh memang kalau Nadira masih saja menyangkal Rafka tidak memiliki perasaan senang. Buktinya Rafka selalu saja mencari cara agar dekat dengan Nadira.
Sayang nya, Nadira bukan orang yang peduli dengan perasaan orang lain. Ia tidak mempertimbangkan rasa yang diminta Rafka, ia juga enggan membahasnya. Lebih baik seperti ini saja, masing-masing.
"Ada apa?" Tanya yang baik, tetapi hati yang sedang tidak baik.
"Pulang sekolah bareng ya." Tak lepas senyumnya yang tak pernah hilang. Seisi kelas pun ikut terpesona.
"Sumpah dong, kapten Spensa."
"Ga boong ganteng banget dari deket."
"Ih parah ya, ditikung boleh gak sih."
Kalimat-kalimat yang diucapkan kaum hawa seisi kelas, yang saat ini sedang berbisik dan tak henti menatap ke arah Ale.
"Ah ngobrol aja kali, Ka. Ga usah ke kelas Nadira juga, tuh liat penggemar lo udah ngiler liatin lo. Apalagi di pojok sana, si Rafka udah tambah sinis aja sama lo." Sindur Maura.
Ale melihat ke sekeliling, benar kata Maura. Semua orang sedang melihat ke arahnya. Ia tidak grogi, tidak juga canggung, hanya saja sedikit kaget. Lalu, Ale memberi senyum tipis pada mereka yang masih melihat ke arahnya.
Tipis sekali.
Dan beralih pada laki-laki yang ia kenali sebagai adik dari sahabatnya, Rafka.
"Sengaja." Senyum Ale tercetak miring di wajahnya, ia melemparkan wajah sombong ke arah Rafka.
"Rafka?" Sengaja Ale menyambutnya, "Dicariin sama Wilona!"
Semua menatap ke Arah Rafka, jadi benar gosip itu jika Rafka dekat dengan Wilona. Sebenarnya sih cukup jelas, bukan dekat. Tapi Wilona suka seorang Rafka, ya rumit memang. Wilona Suka Rafka, Rafka Suka Nadira, sedangkan Nadira kini bersama Ale.
"Bacot ah!" Kesal itu luar biasa, jika begini semua orang akan menganggap kedekatan mereka itu nyata.
Bagaimana jika Nadira juga menganggapnya benar, pasti akan ada jarak. Dan, mereka semakin jauh. Sementara Ale dan Nadira akan semakin dekat.
Setelah puas, Ale kembali lagi keluar seisi kelas yang masih saja bergunjing. Apalagi jika bukan soal Rafka, Wilona, juga Ale yang baru saja datang tadi.
*
Jam sudah terbukti pukul 6 sore, hari makin gelap. Tapi Maura masih setia berdiri di depan gerbang sekolah, niatnya akan menemani Nadira karna hari ini ia berhasil di rumah. Karna Nadira pulang bersama Ale, menerima ia pulang pergi menerima.
"Ra?"
"Hm." Mood jeleknya membuat ia malas menoleh ke sumber suara.
"Ga balik?"
"Nunggu angkot." Jawab nya ketus.
"Rumah lo bukan nya tinggal jalan aja?"
"Mau ke rumah Nadira."
Batin Maura sudah meneriaki kekesalan, kenapa orang ini banyak bertanya.
"Yaudah bareng, gue anter." Barulah Maura menoleh, dan ia terpaku pada manusia yang ada di atas motor itu.
"Ka Irham?" Tanya nya tak percaya.
"Ayo, Naik!" Ajak Irham berusaha sebiasa mungkin.
"Gapapa?"
"Iya."
Demi Apa sih? Ah, Nad. Lo emang baik banget balik duluan terus ninggalin gue sendiri, akhirnya ketemu pangeran. Batin Maura.
Selama diperjalanan Maura sama sekali tidak banyak bicara, bahkan ia saja lupa memberi tahu kemana arah jalan rumah Nadira.
Ia masih saja belum percaya bisa tetap sedekat ini dengan Irham.
"Ka, bukan lurus tapi belok kiri. Maaf gue lupa ngasih tau." Maura merutuki diri sendiri, karna tidak fokus dengan jalan yang ia lewati.
"Blok E kan? Bisa kok lewat sini."
Dan, benar. Mereka sampai tepat di depan rumah Nadira. Masih ada Ale di sana, yang masih setia mengobrol dengan Nadira.
"Maura? Maaf ka, aduh ngerepotin nih. Aku lupa tadi, Ale balik lagi jemput kamu, eh malah gamau."
"Gapapa kok."
"Kamu dari Arah sana? Tau jalan pintas ke rumah ku, Ra?" Maura memang datang dari Arah yang bukan Nadira sering tunjukan.
"Gue ga tau, malah lupa kasih tau jalan rumah lo ke ka Irham. Tapi dia yang bawa gue lewat situ."
Merasa semua orang bertanya-tanya, Irham membuka suara. "Sering ajak sepupu maen ke sini, jadi hafal."
Nadira teringat satu hal, tetapi setelah mendengar penjelasan Irham ia langsung membuang pemikiran itu.
"Yaudah, kita pulang ya." Nadira mengangguk cepat setelah Ale berpamitan.
"Hati-hati." Nadira mengukir senyumnya, lalu melambaikan tangan selepas dua motor itu sudah melaju pulang ke rumah Nadira.
"Lo kenal sepupu nya ka Irham?" Tanya Maura to the point.
"Hah? Engga. Aku tau dia punya sepupu kaya gimana aja gatau." Nadira yakin Maura masih berpikiran soal tadi, "Kebetulan kali, mungkin dia sering melihatku. Lagian kan sehabis magrib aku suka keliling komplek pake sepeda."
Maura hanya ber oh ria saja, dan bisa paham dengan penjelasan Nadira.
*
"Jadi, lo mau kenalin Ale sama ka Anira?"
"Udah kali, Ra. Aku sering cerita sama dia selepas pergi sama Ale. Dan, ka Anira seneng dengernya."
"Gimana soal ka Aska? Lo udah nemu?" Maura memang tahu soal Anira, ia pun sudah tahu dengan Anira. Meskipun lewat sosmed, tapi lebih baik Maura membantu banyak untuk mencari Aska.
"Belum, nanti lulus Smp aku baru bisa ketemu sama ka Anira. Ya lumayan, banyak yang berhasil buat nyari lagi di mana ditempuh ka Aska."
"Susah lho, Nad. Nyari orang yang lo aja ga tau bentuknya kaya gimana. Apalagi lo cuma tau nama panggilannya aja."
Nadira pun setuju dengan ucapan Maura, petunjuk yang ia tahu tidak akan bisa membantu apa-apa tentang meminta Aska.
"Aku yakin aja, suatu saat semesta akan temuin aku sama dia."
"Kalau semesta temuin kalian saling menyukai gimana, Nad?" Nadira melirik sambil tertawa, "Semesta juga tau, takdir ga akan sebecanda itu. Ga mungkin lah lagian."
"Nama nya juga hukum alam, ga ada yang pernah tau."
Maura diam sejenak, "Kan lo ga pernah tahu siapa yang akan lo temuin. Sementara lo cuma tau nama panggilannya aja, bukan lengkapnya. Bisa aja orang yang selama ini sama lo ada hubungan nya dengan Aska, atau bisa dibilang dia adalah Aska."
Tidak, bagi Nadira itu tidak akan pernah terjadi. Dia akan menolak siapa pun laki-laki bernama Aska, dia mencari Aska untuk kaka nya bukan untuk diri sendiri.
"Apaan sih, Ra? Kamu suka ngaco."
Enggan membahas itu, melihat Nadira jatuh pada sekumpulan coklat yang ia simpan di kotak.
"Ra? Ni aku punya banyak coklat. Mau?" Tawar nya.
"Gila, ini lo beli apa gimana?" Melihat berpuluh-puluh cokelat yang dibawa Nadira, Maura bisa melihat kotak yang berisi penuh coklat-coklat kesukaannya.
"Nad, ada tulisannya."
Yang manis untuk yang termanis, Ra.
Nadira lupa kalau ia belum sepenuhnya mencopot beberapa kertas tempel di coklat itu.
"Ini dari siapa?"
"Aku sering nemuin ini di keranjang sepeda ku, pernah aku pancing tapi ga pernah ketemu siapa orangnya. Takutnya dia salah kirim, karna di situ tertulis Ra bukan Nad."
"Mama sama papa lo panggil nya apa?"
"Nad lah, Ra itu memanggil ka Anira. Aku sempet pikir ini untuk ka Anira dari ka Aska, tapi kan ini berulang kali. Dia pasti tahu kalau ka Anira ga tinggal di sini."
"Ale mungkin?"
Nadira menghela napas nya, "Seberapa kali aku mergokin Ale manggil aku dengan sebutan itu, tapi dia melihat dia hanya suka aja panggil aku dengan sebutan itu. Tapi selepas itu dia kaget, dia kaya gugup kalau dilepaskan panggil aku dengan sebutan Ra."
Maura tertawa, senang ini adalah kiriman dari Ale.
"Ah itu mah spik, ini pasti dari Ale. Gue sih yakin, manis juga ya si Ale."
"Mungkin."
"Oh iya, Ra. Gue tadi lewat nasi goreng Mba Dinar. Wangi banget sumpah."
"Oh iya kamu lewat belakang tadi ya? Nanti aku ajak makan di situ deh ya."
Maura mengangguk setuju. Lalu, sibuk dengan menerima cokelat yang diberikan Nadira.
Sementara Nadira barus sadar kejanggalan yang ia temukan hari ini, apakah ini kebetulan atau bukan. Semuanya berkaitan.
Nadira hanya memohon kalau orang itu disebut hati bukan lah pelaku nya, ia hanya tidak mau semua menjadi rumit. Berharap Ale lah yang melakukan ini, karna wajar ia adalah kekasihnya.