Sudah lewat setengah jam Maura masih saja diam, enggan melakukan apapun. Bahan-bahan yang ia beli tadi, ia taruh begitu saja di atas meja. Tidak ada gairah lagi untuk meneruskan nya, cukup pemandangan tadi membuat hati Maura patah sepatah-patah nya.
Kenapa Maura terlalu bersemangat, padahal jelas Irham memang tidak tertarik pada nya. Irham memang tidak ada niat dengan nya. Ini hanya Maura yang berlebihan, Maura yang salah di sini. Kekecewaan yang ia rasakan adalah ulah nya sendiri.
Dering telpon nya berbunyi, nama Nadira tertera di sana.
Setelah diangkat, tidak ada suara di antara mereka. Akhirnya Maura memulai, menarik napas nya lebih dulu sebelum berbicara.
"Kenapa?" Suara nya sudah lemah, hati nya sudah sesak. Maura ingin menghilang saja dari bumi.
"Tadi aku telpon Ale, dia bilang memang ka Irham anterin ka Anna. Tapi itu karna sekalian ka Irham pulang dari rumah nya Ale, dan Ale yang minta buat sekalian jemput ka Anna." Jelasnya, berharap Maura tidak berlarut dalam kesedihan nya.
"Tetep aja, Nad. Irham memang engga akan pernah liat ke arah gue. Gue sama Anna tuh jauh banget, Anna itu cantik, lembut, feminim, kandidat kapten basket tahun ini malah. Terus gue siapa? Yang bermimpi bisa dapetin Irham?" Iya, perlahan pipi nya basah karna menabgis. Sesakit itu ternyata rasa nya tak dipilih.
"Percaya sama aku, semua perlu proses. Apa yang kamu bilang ga sepenuhnya nyata, Ra. Aku bantuin kamu kok buat dapetin ka Irham, aku janji."
"Memang apa yang bisa menjamin aku mendapatkan ka Irham? Jauh di luar sana bahkan banyak yang lebih dari Anna. Sama Anna aja aku udah kalah, apalagi saingan sama orang-orang." Kesal nya.
Entah apa yang Nadira pikirkan, hati seseorang pasti bisa luluh pada waktu nya. Tergantung bagaimana cara meluluhkan nya.
"Ada aku, Ra. Ada aku di sini yang bakal bantu kamu."
"Malu aku, mau jadian aja perlu dibantu. Miris banget, Nad. Miris banget, segitu kurangnya ya aku." Tangisnya malah makin menjadi.
"Engga gitu, ga semua bunga mekar bersamaan. Jadi, jangan bandingkan proses mu dengan orang lain."
Maura masih diam, ia masih berusaha menerima keadaan, menerima setiap kalimat yang Nadira lontarkan kepada nya.
"Janji ya?" Kalau sudah seperti ini tanda nya Maura sudah tenang.
"Iya, Ra. Aku janji." Berharap memang janji nya itu akan mudah ia tepati, pasalnya dia saja tidak tahu cara pedekate itu seperti apa.
Nadira menghela napas nya beberapa saat, ia tidak paham lagi apa benar usia semuda itu bisa terjun ke dunia percintaan.
*
"Ajegile, yang sekarang udah punya cewe. Mau turnament aja wangi bener." Kevin menertawakan Ale, yang baru saja keluar dari ruang ganti. Wangi maskulin tercium dari dalam ruangan ganti sampai keluar.
"Tiap hari juga gua emang wangi, Vin." Sanggah Ale.
Kevin itu laki-laki tukang gibah, suka mengkritik teman nya, pokok nya Kevin itu rumit seperti perempuan.
"Gua kira lo bakal sama Anna, tau nya Anna sama Irham ya sekarang."
Ingin rasa nya mulut Kevin ia tutup dengan lem yang tidak akan pernah bisa dibuka lagi.
"Gosip." Merasa berita itu tidak benar, si pemilik nama bersuara.
"Iya juga gapapa kali, bagus lo ikutin jejak si Daffa. Punya cewe yang satu klub, sehoby, bisa jadi sehidup dan semati." Kevin itu ulahnya hanya mengarang dan merasa anggapan nya paling benar.
"Apa sih lo ribet banget cowo juga."
Merasa risih dengan omongan Kevin, Irham bangkit dari tempat duduk nya. "Mending sekarang briefing sebelum kita turun ke lapangan."
Yang lain hanya tinggal mengikuti, suara Irham memang didengar. Karna dia adalah mantan kapten basket tahun lalu, wajar saja jika semua orang segan pada nya.
Setelah briefing selesai, mereka berjalan melalui pintu masuk para pemain. Sudah di pastikan di luar sana itu sangat ramai, pesona Irham, Daffa dan Ale lah yang membuat semua kaum hawa berteriak histeris.
Di trimbun kanan atas, sudah terlihat 2 wanita yang paling menonjol di mata Irham dan Ale. Iya, siapa lagi kalau bukan Maura dan Nadira. Ale tersenyum hangat ke arah sana, senyum yang membuat para pendukung Spensa kegirangan tidak jelas.
"Gila, ka Ale senyum."
"Senyum ke gue tuh."
"Pengen gua bawa pulang dah tuh."
Wilona, Anna dan Audrey yang mendengar nya hanya tertawa sambil melirik ke arah kerumunan yang sibuk memperebutkan Ale.
"Woy, Ale senyum ke cewe nya kali." Audrey memang tidak pernah peduli pada sekumpulan orang yang berbicara soal Daffa, karna dia tahu ujungnya akan menjadi keributan.
"Emang ka Ale udah punya cewe ya?"
"Eh sejak kapan?"
"Dia anak baru kan anjir."
Dasar anak kelas 8, remaja labil yang baru mengenal cinta. Bukan nya diam, malah terus membicarakan.
"Nih, kalian liat di sana. Cewe yang rambutnya dicepol, terus pake kaos item." Wilona menunjukkan seseorang kepada mereka para gadis penggila Ale.
"Itu cewenya, ka?" Tanya nya penasaran, setelah menemukan ciri-ciri wanita itu.
"Bukan."
"Yang mana dong?" Desak nya karna sudah sangat penasaran.
"Yang pake hoodie merah, emang kalau nanya jangan sama Wilona. Diputer-puter lu pada." Itu jelas suara Anna.
Setelah Nadira terjangkau oleh penglihatan mereka, mereka sibuk berbisik entah apa yang dibicarakan. Anna, Wilona dan Audrey tidak lagi peduli. Karna pertandingan nya akan segera dimulai.
*
Pertandingan berakhir dengan hasil Spensa lah pemenang nya, berkat Irham dan Ale yang tak henti mencetak skor.
"Ini, diminum dulu." Nadira memberikan sebotol minuman isotonik kepada Ale.
Posisi nya sekarang sungguh rumit, ada 3 serangkai nya Ale, 3 Serangkai nya Anna, Rafka, dan Maura. Nadira yang tak cukup pandai membawa suasana hanya diam sejak tadi, menyimak apa yang dibicarakan. Lagian, dia hanya atlet karate yang tidak sengaja tergabung dalam kumpulan anak basket.
"Nad, tadi banyak banget cewe yang ngomongin si Ale." Audrey tahu, bahwa Nadira memang perlu diajak bicara.
"Mau gue candain tadinya, eh ni si Anna pake ngasih tau lu yang mana."
Nadira hanya tersenyum mendengar nya.
"Maklum, hati dede panas denger mantan gebetan diomongin." Itu bukan suara diantara mereka, tapi suara seseorang yang baru keluar dari ruang ganti.
"Iya ga, Na?" Itu si biang gosip, siapa lagi kalau bukan Kevin.
"Maksudnya?" Merasa terpancing saja, Nadira berani bersuara.
Ale merutuki kedatangan Kevin di sini, kenapa mulut nya tidak berkurang sedikit pun untuk mencampuri urusan orang lain.
"Anna kan mantan gebetan nya cowo lo, Nad." Kevin memang tidak bisa diajak kompromi.
Ale sudah kesal, sampai hal yang lalu-lalu diungkit oleh Kevin.
Oh pantes, Ale nyuruh ka Irham jemput ka Anna. Batin Nadira.
Nadira hanya tersenyum simpul menanggapi nya, berusaha biasa saja ketika tahu hal itu.
"Lo kesana deh, Ka." Usir Anna yang merasa semua jadi canggung. Ada hati yang ia jaga saat ini, bahkan Ale pun harus menjaga hati nya Nadira. "Sorry ya, Nad." Anna merasa tidak enak jika Nadira nantinya salah paham.
"Engga apa-apa." Jawabnya tenang, padahal hati nya bergemuruh hebat meminta penjelasan.
"Lah, jadi pada tegang. Mending sekarang balik aja gimana?" Daffa memecah ketegangan itu.
"Kok pulang sih, gaa sik dong." Audrey memang cocok dengan Daffa, bisa saja mencairkan suasana.
"Gue mau ke rumah Ale sama Irham dan Rafka. Gimana kalau kita semua ke rumah Ale aja?"
Ale yang disebut namanya, memutar bola matanya. Mengada ulah saja memang si Daffa. Sejak kapan ada niat sepulang turnament ke rumah Ale?
"Oke deh." Putus Ale, lalu melirik ke arah Nadira. "Kamu ikut ya."
"Terus, Maura gimana?" Tanya Nadira.
"Ya Maura juga ikut dong, masa engga." Semua melirik ke sumber suara, ini tidak mimpi kan jika Irham yang tadi bersuara?
"Gue ikut kok." Jawab Maura bersemangat.
Jauh di lubuk hati Irham, ada alasan yang orang lain tidak pernah tahu. Ia bersuara karna alasan itu.
"Kendaraan nya cukup?"
"Cukup, Irham sama Ale kan bawa mobil. Nah, tinggal si Maura aja mau ditaro di mana."
Melihat raut wajah Nadira yang tidak bersahabat, sudah dipastikan dia masih terpikirkan soal Anna.
"Maura sama lo aja, Ham. Gue ada urusan." Putus Ale tanpa mau diganggu gugat lagi.
"Oke." Irham bersedia tidak menolak.
Anna hanya menghela napas mendengar nya. Yang sedang berharap banyak pada Irham, hanya bisa diam sampai Irham sendiri yang menganggapnya ada di sini.
"Kamu marah ya, Nad?" Tanya Ale hati-hati.
"Engga." Jawabnya tanpa menoleh.
"Ah engga nya cewe itu iya."
"Yaudah iya." Putus nya.
"Katanya tadi engga, jadinya apa nih?"
Nadira enggan menatap Ale, "Lagian kenapa berhenti cuma digebetan, kenapa ga pacaran aja? Kadang aku mikir, aku dan ka Ale itu baru kenal dan secepat itu ka Ale mutusin aku buat jadi pacar kaka." Kalau sudah mengeluarkan satu kata, pasti kalimat yang sudah bertumpuk di dalam otaknya ia keluar kan tanpa memfilter nya lebih dulu.
"Ya terus memang kenapa?"
"Lalu, berapa kali aku lihat kaka salah manggil nama ku. Aku Nadira ka, bukan Rara atau Dara. Yang kaka sebut Ra." Lagi-lagi kalau ingat soal itu, rasa nya Nadira enggan mengenal Ale lagi.
"Nama kamu kan ujungnya ada Ra nya, Nad?"
"Tapi, aku menemukan hal lain saat kaka panggil aku dengan sebuatn itu."
Ale diam, ia tahu diri kalau ucapan Nadira memang benar.
Nadira adalah cerminan gadis bandung itu, gadis yang ia tunggu, yang ia rindukan, gadis yang tidak pernah lepas dari pikiran nya.
Sial, Ale merindukan nya lagi.
"Ra, engga gitu sayang."
"Aku Nadira, aku bukan Dara, Rara atau bahkan Anira."
Deg
Kenapa Nadira menyebutkan nama itu?
"Kenapa diam? Karna merasa salah kan? Karna merasa semua ucapan aku benar kan? Jujur ka. Aku ga mau jadi bayangan siapa-siapa. Kaka ga bisa diem gini dong."
Cecar nya terus, sampai Ale mengalah. Menuruti apa mau Nadira sekarang.
"Nad?"
"Itu bisa kan?"
"Iya aku minta maaf."
"Aku maafin asal jangan diulang lagi ya."
Ale tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Iya sayang. Kamu mau apa sekarang?"
"Mau kamu jujur sama aku." Ale kira sudah selesai perdebatan nya, namun tenyata masih saja dibahas oleh Nadira.
Ia menarik napasnya dalam-dalam. "Iya apa sayang?"
"Jawab aku dengan jujur."
"Iya aku jujur." Maaf Tuhan Ale tidak berjanji untuk tidak lagi berbohong.
"Benar ya?"
"Iya."
Nadira menarik napasnya dalam-dalam, lalu menatap ke arah Ale. "Sebenarnya dalam diri aku, kaka menemukan bayangan siapa?"