Pagi harinya, di kamar masing-masing, suasana sangat kontras. Ezkar sedang sibuk memeriksa laporan perkembangan Arti, sementara Niva sedang sibuk melakukan "ibadah" media sosial: stalking akun Nio.
Niva berguling-guling di atas kasurnya yang empuk, menatap layar ponsel dengan mata berbinar. Akun i********: Nio ternyata sangat estetik. Tidak banyak selfie, lebih banyak foto kopi, senja, dan... kucing?
"Jadi dia pecinta kucing," gumam Niva teringat wajah Nio tadi yang menawan hati. Di salah satu unggahan, Nio berpose dengan seekor kucing oren yang tampak malas.
Fix, cowok penyayang binatang adalah kelemahan gue, batin Niva.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi w******p masuk dari nomor baru yang belum dinamai.
0812-xxxx-xxxx: Halo Niva, ini Nio barista Kopi Sejati. Save ya.
Niva nyaris melempar ponselnya ke langit-langit. Jantungnya berdisko menggila. Baru saja hendak mengetik balasan yang "elegan" (setelah menghapus ketikan sepuluh kali), pintu kamarnya diketuk dengan kasar.
"Niv! Keluar! Gue laper, pesenin nasi uduk!" teriak Ezkar dari balik pintu.
Niva mendengus. Ganggu aja si Paduka ini!
Dengan malas, ia membuka pintu dan mendapati Ezkar berdiri dengan kaos oblong dan rambut yang sedikit berantakan. Sialnya tetap terlihat ganteng, meski Niva tidak ingin mengakuinya.
"Pesen sendiri kenapa sih, Bang? Kan ada aplikasinya," protes Niva.
"Biasanya rakyat jelata kaum mendang mending kayak lo punya banyak promo," pria itu beralasan.
Ezkar menyipitkan mata, menatap Niva yang memegang ponselnya dengan erat. "Lo kenapa senyam-senyum sendiri? Muka lo aneh, kayak orang habis menang lotre."
"Enggak! Perasaan Abang aja!"
Ezkar melangkah masuk tanpa izin, tangannya dengan cepat mencoba menyambar ponsel Niva. "Sini lihat, lo lagi chat-an sama siapa? Jangan bilang si Barista itu beneran chat lo ya?"
"Apaan sih, Bang! Privasi, tau!" Niva berkelit, melakukan gerakan akrobatik untuk menyembunyikan ponsel di balik punggungnya.
Pergumulan kecil memperebutkan ponsel itu berakhir dengan Niva yang tersandung ujung ranjang dan jatuh terbaring di atas kasur, sementara Ezkar menahan jarak di atasnya dengan napas sedikit memburu. Wajah mereka terlanjur dekat. Bau parfum Ezkar yang tadi sore masih tersisa, membuat fokus Niva sedikit buyar.
Ezkar terdiam, menatap mata Niva yang panik. Ada keheningan canggung selama beberapa detik sebelum ponsel di tangan Niva berbunyi lagi—kali ini tampak notifikasi pesan masuk.
Layar ponsel menyala terang, menampilkan nama yang baru saja Niva simpan: Barista Ganteng.
Ezkar melihatnya. Rahangnya mengeras seketika. "Oh, jadi udah tukeran kontak sama si 'Barista Ganteng'?" katanya sambil bangkit.
"Gue cuma... temenan kok," ujar Niva, takut-takut.
"Dia itu cuma barista, Niv. Masih ngekos. Masa depan lo suram kalau mau sama dia," Ezkar memperingatkannya.
"Apaan sih lo, mikir jelek mulu Baru juga tukeran kontak," dumal Niva. "Lagian bagus dong, setara. Lo lupa ortu gue orang susah juga? Emang orang miskin nggak boleh kejar bahagianya?"
Ezkar mematung di pinggir ranjang, lidahnya kelu. Kalimat Niva baru saja menghantam egonya tepat di ulu hati. Ia menatap Niva yang kini duduk tegak dengan mata berkaca-kaca, memeluk ponselnya seolah barang itu adalah satu-satunya harga diri yang ia punya.
"Bukan gitu maksud gue, Niv..." suara Ezkar merendah, kehilangan nada angkuh yang biasanya mendominasi.
"Gue tahu kok posisi gue di sini cuma numpang," potong Niva dengan suara bergetar. "Tapi jangan hina orang lain cuma karena dia nggak tinggal di apartemen mewah atau kerja kantoran. Gue dan Nio itu sama. Kita orang kecil yang lagi berusaha menaikkan taraf hidup. Jadi, kalau Abang nggak ngerti rasanya, mending keluar."
Ezkar menghela napas panjang, mengacak rambutnya yang sudah berantakan dengan frustrasi. Ia ingin sekali berteriak kalau dia melakukan ini karena dia tahu dunia keluarga besar mereka itu kejam dalam menghakimi, dan dia tidak mau Niva dipandang sebelah mata. Apalagi jatuh ke tangan pria yang tidak layak. Sayangnya ia tak bisa mengatakannya sekarang.
"Terserah lo," gumam Ezkar sambil berbalik arah. "Nasi uduknya nggak usah dipesen. Gue nggak laper lagi."
Pintu kamar tertutup dengan bunyi berdentum pelan, meninggalkan Niva yang kini terisak kecil.
Hatinya yang tadi terasa seperti pelangi, mendadak berubah mendung karena ucapan Ezkar yang terasa seperti merendahkan asal-usulnya.
Di ruang tengah, Ezkar menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menatap langit-langit apartemen dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah mulai menggerogoti dadanya. Ia baru sadar, usahanya untuk "melindungi" Niva dari Nio justru membuat jarak antara dirinya dan Niva semakin lebar.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Farina masuk.
Farina: "Ez, nanti malam jangan lupa kita ada dinner sama kolega Papaku. Bawa Niva juga ya, aku pengen lihat hasil pelatihan dan makeover-nya dan kenalin ke teman-temanku."
Ezkar menatap pesan itu dengan hampa. Ia membayangkan Niva yang sedang sedih di kamar, lalu harus dipamerkan seperti piala di depan orang-orang kaya yang sombong nanti malam.
"b**o banget sih lo, Ez," umpatnya pada diri sendiri.
-oOo-
Ezkar mendadak jadi pelayan paling sibuk sedunia. Pertama, ia menyelipkan sebungkus cokelat mahal di bawah pintu kamar Niva dengan catatan: “Buat stok logistik bulanan lo.” Tak ada jawaban.
Satu jam kemudian, aroma gurih Ayam Kalasan dengan gunungan kremes yang menggoda menyeruak dari ruang tengah. Ezkar sengaja mengipas-ngipas uap panasnya ke arah ventilasi kamar Niva. Saat Niva akhirnya keluar dengan wajah ketus, ia mendapati Ezkar duduk di bangku makan sambil memasang wajah memelas seperti kucing kehujanan yang minta diadopsi.
"Gue salah ngomong. Sumpah. Lidah gue emang butuh disekolahin lagi," gumam Ezkar saat mereka akhirnya duduk berdua di meja makan.
"Gue cuma khawatir pikiran lo bercabang. Kalau lo sibuk pacaran, fokus latihan lo nanti malah keganggu. Gue juga takut adik gue yang berharga ini jatuh ke tangan cowok yang nggak layak, yang nggak mampu bahagiain lo," ia membujuk dengan nada bijaksana.
"Gue nggak akan ngelarang lo temenan sama barista itu. Asal janji, cuma temen. Setidaknya sampai misi Kakek selesai. Oke?"
Ezkar tahu, setelah Kakek menerima Niva, gadis itu akan diawasi ketat di rumah utama nanti, tempat di mana Nio tak akan punya akses.
Niva mengangguk patuh sambil mengunyah paha ayam, meski begitu otaknya sudah menyusun rencana balik layar yang rapi.
"Oke, Bang. Temenan doang kok. Gue bakal utamain misi kita," sahut Niva kalem. Dalam hati, ia terkikik; strategi diam-diam menghanyutkan adalah keahliannya sejak dulu.
Ezkar tersenyum. "Kalau begitu, lo suka pesta nggak?" ia memulai, pelan. "Malam ini kebetulan ada dinner bareng kolega bokap gue. Lo ikut ya, bareng Farina juga kok."
Niva mengernyitkan alis. Sepertinya ia harus menunjukkan hasil belajarnya selama ini di depan kalangan atas yang sesungguhnya pada kesempatan ini. Terdengar merepotkan.
"Di sana banyak makanan mewah loh, enak-enak," bisikan Ezkar itu melemahkan pertahanannya. Akhirnya ia setuju untuk ikut.
-oOo-
Ezkar mondar-mandir di ruang tengah, berkali-kali melirik jam tangan peraknya dengan raut gelisah. Ia sudah tampil sempurna dalam balutan tuksedo hitam yang dipesan khusus, rambutnya tertata slicked back tanpa satu helai pun yang berani melenceng. Pikirannya berkecamuk; ia khawatir Niva masih merajuk, atau lebih buruk lagi, Niva gagal mengeksekusi penampilan elegan yang dibutuhkan untuk menghadapi serigala-serigala di pesta kolega papanya.
Langkah kaki terdengar dari balik pintu. Ezkar berhenti bergerak, menahan napas saat pintu kamar terbuka perlahan.
Seketika, seluruh kekhawatiran Ezkar menguap, digantikan oleh kebisuan menyergap. Ia mematung, matanya tidak berkedip menatap sosok yang kini berdiri di depannya.
"Itu lo, Niv?" gumam Ezkar hampir tak terdengar.
Niva melangkah malu-malu mengenakan gaun malam berwarna blush pink yang elegan. Kainnya yang halus berkilau lembut setiap kali ia bergerak, dipadukan dengan perhiasan berlian simpel yang tadi sore Ezkar letakkan di kamarnya. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajah tirusnya. Niva tampak sangat memikat, memancarkan aura sophisticated yang bahkan membuat Ezkar susah berpaling.
"Lo... bikin pangling banget," lanjut Ezkar kaku. Ia baru sadar, selama ini ia hanya melihat Niva sebagai gadis urakan atau murid yang ceroboh. Ia lupa bahwa di balik semua itu, Niva adalah "berlian" yang memang ia rancang untuk bersinar.
Niva menunduk, meremas tas tangan kecilnya. "Gue nggak kelihatan aneh, kan? Makeup-nya nggak ketebalan?"
Ezkar menggeleng pelan, matanya masih terkunci pada wajah Niva. "Perfect," sahutnya singkat.
Ia segera berdeham keras untuk mengusir kekikukan yang mendadak menyerang, lalu menyodorkan lengannya. "Ayo berangkat. Nanti telat."
Niva menyambut lengan kokoh itu. Di lobi, sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam mengilap sudah menunggu mereka.
"Ini... mobil siapa?" bisik Niva takjub saat sopir membukakan pintu untuknya.
"Pinjaman dari temen," bohong Ezkar cepat, masih setia pada skenario 'pegawai biasa'-nya.
Niva menghela napas lega, setidaknya ia tak perlu bertarung dengan angin jalanan yang bisa menghancurkan tatanan rambutnya. Namun, saat mobil mulai meluncur membelah malam, rasa mulas mendadak menyerang perut Niva. Ia sadar, tampilan cantik hanyalah pembukaan. Ujian sesungguhnya adalah bagaimana ia bertahan di meja makan kelas atas dengan pengetahuan etiket yang baru seumur jagung.
Mampukah Niva tetap terlihat anggun tanpa melakukan kesalahan memalukan, atau justru malam ini akan menjadi bencana yang meruntuhkan martabat "Paduka Ezkar" di depan kolega terhormatnya?