Sore itu, Ezkar pulang dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku, tampak seperti pria sibuk yang butuh liburan. Namun, bukannya istirahat, ia langsung menaruh tas kerjanya dan menunjuk Niva. "Ayo, ikut gue. Lokasi kursus baru lo nggak di sini."
Niva mengernyit, tapi menurut saja. Lumayan lah, daripada jadi tahanan apartemen terus, pikirnya.
Saat ia naik ke boncengan motor Honda Super Cub itu, ada rasa aneh yang menyelinap. Ini pertama kalinya Niva dibonceng oleh Ezkar, setelah pindah ke apartemen tentunya.
"Kok lokasinya jauh banget sih, Bang?" protes Niva saat motor mulai membelah jalanan Jakarta yang mulai macet.
Padahal, diam-diam ia menikmati hembusan angin sore dan aroma parfum maskulin Ezkar yang menyerbu indra penciumannya. Tanpa sadar, tangannya melingkar di pinggang Ezkar yang kokoh.
Ternyata seru juga, batinnya sambil senyam-senyum.
Ezkar melirik spion, "Ini demi masa depan lo. Biar lo punya skill yang bisa dijual. Jadi lo bisa bikin usaha sendiri dan berdiri—"
"—di kaki sendiri. Iya, gue tahu. Template-nya udah hapal gue," potong Niva sambil terkekeh. "Kalau gue punya usaha, udah cukup bikin bangga?"
"Iya lah! Nggak peduli sekecil apa usaha lo, Kakek pasti anggap itu prestasi. Karena susah loh merintis usaha sendiri," jawab Ezkar dengan nada serius.
Niva terdiam sejenak, mendadak teringat Nio si barista. "Iya sih, lebih mempesona perintis daripada pewaris."
Ezkar nyaris mengerem mendadak. Ia bingung harus tersanjung atau tersindir. Lah, gue kan dua-duanya? pikirnya.
"Apa sih lo, nggak nyambung!" ketusnya untuk menutupi rasa canggung.
Sesampainya di toko bunga bernama Petals, Niva diajak memasuki studio kaca yang estetik. Di sana ia diperkenalkan ke beberapa peserta lain, wanita-wanita yang tampak telaten dan lemah lembut. Niva mendadak merasa seperti kaktus di tengah hamparan mawar.
Ezkar tidak langsung pulang. Ia duduk di kafe tepat di sebelah studio yang berdinding kaca transparan. Matanya tidak lepas dari Niva. Sebenarnya, alasan utamanya bukan karena takut Niva tak betah, justru khawatir Niva dengan kecerobohan supernya membuat peserta lain tak betah. Ia bersiap siaga kalau-kalau Atina meminta ganti rugi karena kelasnya porak poranda.
Namun yang mengejutkan, Niva terlihat serius. Tangannya yang biasa menjatuhkan palet cat kini bergerak hati-hati memegang gunting bunga. Meski hasilnya tak bisa dibilang sempurna.
Saat kelas selesai dan Niva keluar studio, matanya membelalak melihat Ezkar masih duduk di dekat sana dengan sisa kopi di tangannya.
"Lo... nungguin gue sampai pulang?" tanya Niva, suaranya mendadak serak. Matanya berkaca-kaca melihat dedikasi pria yang senang dipanggil "Paduka" itu.
Ezkar mengangguk polos. "Tadi ke kafe sebelah, terus—"
Belum selesai Ezkar bicara, Niva sudah menerjangnya dengan pelukan erat.
Ezkar membeku, bingung. Tangannya melayang canggung.
"Terima kasih, Bang. Nggak pernah ada yang mau nungguin gue lama begini. Makasih support-nya, gue... gue terhura."
"Terharu, Niv," koreksi Ezkar otomatis sambil mengulum senyum. Tangannya perlahan mendarat mantap di punggung Niva. Ia mengelus punggung gadis itu pelan. "Gue kan abang lo, ini sih udah seharusnya."
Saat memeluk Niva, Ezkar baru sadar. Di balik sifat bar-bar dan kelakuannya yang ajaib, tubuh Niva ternyata mungil dan rapuh di dalam dekapannya. Ada rasa hangat yang aneh, yang membuatnya ingin memeluk lebih lama. Duh, kok gemesin ya?
Heh, sadar Ezkar! teriak batinnya tiba-tiba. Lo kira dia boneka beruang? Inget, lo punya cewek yang harus dijaga perasaannya! Ini cuma adik sepupu!
Ezkar segera melepaskan pelukan dengan kikuk, berdeham keras-keras seolah baru saja menelan biji kedondong. "Udah ah, ayo pulang! Bau bunga lo bikin hidung gue gatel!"
-oOo-
Malam mulai merayap saat Ezkar membelokkan motornya ke sebuah bangunan warung sederhana di pinggir jalan yang harumnya sudah tercium dari jarak seratus meter. Di bawah lampu neon yang temaram, Niva menatap Ezkar yang masih memakai setelan eksekutif mudanya, namun tampak sangat santai duduk di bangku plastik sederhana.
Niva terkesan. Pria yang biasanya gila hormat ini ternyata punya selera makanan rakyat jelata.
"Enak, kan? Ini soto Betawi paling legendaris yang gue tahu," celoteh Ezkar sambil memeras jeruk nipis ke mangkuknya.
Niva menyuap kuah santannya yang gurih. "Rasanya medok banget! Sumpah. Ternyata lidah lo masih lidah lokal ya."
"Lidah gue mah fleksibel," sahut Ezkar sombong.
Namun, suasana santai itu mendadak berubah saat Ezkar meletakkan sendoknya dan menatap Niva serius. "Gue tahu, lo kepincut sama barista di coffee shop bawah apartemen, kan? Gue cuma mau bilang, hati-hati sama cowok, Niv. Nggak semua yang ganteng itu gentleman kayak gue."
Niva nyaris tersedak potongan emping. Wajahnya langsung cemberut. "Apaan sih? Sok tahu banget. Tahu apa lo soal Nio?"
Ezkar menyeringai, mengeluarkan aura detektif swasta. "Tahu lebih banyak dari lo. Namanya Genio Kenji Artada. Umur dua puluh tiga tahun. Kerja di Kopi Sejati baru tiga bulan. Tinggal di kosan pria daerah Ciputra punya Pak Warjo, yang pagarnya warna ijo lumut. Golongan darahnya A. Hobinya belajar latte art. Akun IG-nya—"
"Stop, stop!" Niva tercengang, matanya melotot horor. "Lo... lo dapet info dari mana?"
Ezkar memajukan wajahnya dengan senyum kemenangan yang menyebalkan. "Sekarang lo tahu, kan, apa yang bisa gue lakukan? Jangan macem-macem. Fokus sama misi. Gue cuma khawatir lo terperdaya laki-laki modal senyum doang."
Niva terdiam, nyalinya menciut sesaat. Ia baru sadar bahwa Ezkar punya sumber daya yang mengerikan di balik status "pegawai IT"-nya. Namun, rasa penasaran tetaplah sifat dasar manusia. Niva melirik Ezkar dengan ujung matanya, lalu pelan-pelan meraih ponsel dari tasnya.
"Tadi... IG-nya apa, Bang?" bisik Niva polos.
"NIVAAA!" pekik Ezkar geregetan, tangannya sudah gatal ingin menyentil dahi sepupunya itu.
Suasana warung soto itu pun pecah oleh tawa cengengesan Niva dan wajah kesal Ezkar.
"Gue cuma... kagum kok," aku Niva, setengah membela diri. Ia masih berusaha mencari sinyal untuk melakukan investigasi mandiri.
-oOo-
Motor Honda Super Cub itu akhirnya berhenti di parkiran apartemen. Niva yang baru mau turun mendadak teringat jadwal bulanannya yang sudah di depan mata. Ia baru sadar stok pembalutnya belum ada.
"Bang, lo naik duluan aja. Gue mau ke minimarket bawah bentar, beli amunisi," cetus Niva.
Ezkar mengangguk cuek. "Jangan lama-lama, gue nggak mau malam-malam lo kelayapan."
Begitu sampai di minimarket, jantung Niva nyaris melompat keluar dari tenggorokan. Di antara deretan rak, berdirilah sang idola: Nio.
Pria itu tampak santai dengan kaus polos, sedang serius memilih merek sabun cuci muka. Niva segera bersembunyi di sela rak pembalut. Mengintip dengan ekspresi yang kalau dilihat Ezkar pasti bakal dikomentari "nggak ada harga dirinya".
Saat Nio berjalan ke kasir, Niva buru-buru menyambar stok pembalut dan ikut mengantre tepat di belakangnya. Ia berdoa dalam hati agar keajaiban terjadi dan mereka bisa mengobrol. Dan benar saja, Nio menoleh.
"Eh kamu... pelanggan setia Kopi Sejati, kan?" sapa Nio dengan senyum mautnya.
Niva merasa seolah kembang api meledak di atas kepalanya. "Iya! Aku Raniva, umur dua puluh tahun. Panggil Niva aja. Aku tinggal di apartemen sini, unit sayap kiri!" cerocosnya tanpa rem.
Nio berkedip, sedikit tertegun. "Eh... iya. Aku Nio. Dua puluh tiga tahun. Barista di sana. Kamu... informatif banget ya," respons Nio, tampak bingung dengan biodata lengkap yang disodorkan secara cuma-cuma.
"Maaf, kebiasaan!" Niva menunduk malu, wajahnya sudah semerah tomat matang. "Aku sering lihat kamu di Kopi Sejati, kok. Latte art kamu keren banget," pujinya, berusaha memulihkan imej.
Nio tersenyum lebih lebar, tampak tersanjung. "Terima kasih. Ke sini beli apa?" Ia melirik ke arah keranjang belanja Niva.
Niva baru sadar bungkus pembalutnya mencolok mata. Dengan gerakan kilat, ia menumpuknya dengan stok keripik kentang dan cokelat. "Biasa... kebutuhan logistik," jawabnya kikuk.
Nio menahan tawa, melihat betapa paniknya gadis di depannya ini. "Kamu lucu. Boleh minta IG-nya?"
"Boleh, boleh! Nomor WA juga boleh!" Niva menjawab terlalu semangat, lalu seketika ingin menenggelamkan diri di bak mandi melihat keterkejutan Nio.
"Maksudnya... biar temenan. Siapa tahu ada menu baru atau promo yang bisa aku coba di Kopi Sejati," ia berusaha membenahi di detik terakhir.
"Oh, boleh juga," Nio mengangguk dan mengeluarkan ponselnya.
Mereka pun bertukar kontak dengan suasana yang mendadak terasa beraura merah jambu. Niva berjalan kembali ke unit apartemen dengan langkah seringan kapas, merasa hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya.
Sementara di lantai atas, Ezkar sedang duduk tenang dengan laptop di pangkuannya. Tanpa tahu bahwa Niva baru saja membuka gerbang komunikasi dengan pria bernama Nio.