Bab 5. Strategi Menjauhkan Romeo

1462 Kata
Seminggu berjalan, dan satu-satunya prestasi Niva di kelas melukis adalah membuat lantai apartemen terlihat seperti TK yang baru saja diserang badai cat minyak, untunglah dilapis plastik lebih dulu oleh Ezkar. Guru melukisnya datang menemui Ezkar dengan wajah sepucat kanvas kosong. ​"Mas Ezkar, saya menyerah," desahnya pasrah. "Niva bukan melukis, dia lebih ke... melakukan olahraga ekstrem. Setiap kali ada instruksi, dia panik, paletnya terbang, dan catnya habis buat mewarnai sepatunya sendiri." ​Ezkar memijat pelipisnya. Padahal, ia sudah menyiapkan kursi empuk di Arti Studio, perusahaan startup barunya yang menghubungkan para seniman, jika saja Niva punya bakat visual. "Ya sudah, Pak. Mungkin jiwanya memang bukan di bidang estetik visual," gumam Ezkar sambil mengantar sang guru keluar. ​Selama ia sibuk memutar otak mencari kursus pengganti—yang tidak melibatkan benda tajam atau cairan berwarna—Niva justru menemukan kesibukan baru yang jauh lebih "berfaedah" bagi kesehatan mentalnya. Setiap sore, gadis itu menghilang dengan alasan "mencari inspirasi". ​Inspirasinya ternyata berbentuk seorang pria tinggi dengan apron hitam dan senyum yang lebih manis dari sirup karamel. ​Suatu sore, karena curiga Niva yang member generasi rebahan tiba-tiba menjadi rajin keluar, Ezkar memutuskan membuntuti. Ia memakai topi dan duduk di pojok paling gelap coffee shop lantai dasar, bersembunyi di balik buku menu yang dipegang terbalik. ​Dari kejauhan, ia melihat Niva. Gadis itu memesan croissant yang tidak kunjung dimakan. Matanya tidak lepas dari satu titik: Nio. Setiap kali Nio beraksi melakukan latte art, Niva akan menopang dagu dengan binar mata yang lebih terang dari lampu mal. Saat Nio menoleh dan melempar senyum tipis, Niva hampir saja merosot dari kursinya karena salah tingkah. ​Hati Ezkar mendadak tidak tenang. Ada rasa gelisah yang merayap, yang secara otomatis ia labeli sebagai "Proteksi Kakak Laki-laki". ​Halah, gaya banget itu barista, batin Ezkar sinis sambil memperhatikan Nio yang sedang mengocok s**u. Pasti itu cowok modus. Mokondo, yang kalau ngedate minta bayar patungan, atau malah ngarep dibayarin. Lihat mukanya, tipe-tipe yang kalau minta putus alasannya 'aku mau fokus di karier'. Niva ini polos, gampang banget dikibulin cowok model begini. ​Ezkar semakin meradang saat melihat Nio menghampiri meja Niva dan memberikan sebungkus kecil biskuit gratis. Niva tertawa malu-malu, sementara Ezkar di pojokan hampir meremas buku menu sampai sobek. ​Gue harus cari kursus yang jauh dari kafe ini. Kursus nuklir kalau perlu, biar dia nggak ada waktu buat naksir barista yang cuma modal senyum doang! Ezkar menarik ponselnya dengan gerakan sangat hati-hati, memastikan mode senyap dan lampu kilat sudah mati. Dari sudut pojok kafe, ia membidikkan kamera tepat ke arah meja Niva. ​Cekrek. ​Di layar ponselnya tertangkap pemandangan yang membuat tensi darah Ezkar naik satu strip. Nio sedang membungkuk sedikit untuk memberikan biskuit, sementara Niva menengadah dengan wajah "mupeng" (muka pengen) yang sangat kentara. Bibir Niva melengkungkan senyum bodoh, matanya berbinar-binar persis seperti fans berat yang baru saja dipotret idolanya. ​"Dih, nggak ada harga dirinya banget ini anak," gumam Ezkar kesal melihat ekspresi sepupunya yang sudah seperti es krim meleleh. ​Dengan jempol yang bergerak cepat di atas layar, Ezkar mengirimkan foto tersebut kepada nomor rahasia yang ia namakan 'Unit Khusus' di kontaknya. Pria-pria di balik nomor itu adalah orang-orang kepercayaan yang biasa menangani urusan intelijen untuk bisnis rintisannya. ​Ezkar: [Foto Nio dan Niva] Ezkar: Cari tahu info lengkap tentang cowok ini. Latar belakang, pendidikan, lingkaran pertemanan, sampai jenis kucing peliharaannya kalau ada. Saya mau datanya di meja saya dalam tiga hari. ​Ia tidak akan membiarkan sembarang orang masuk ke dalam "Proyek Saturnus"-nya, apalagi seorang barista yang menurutnya hanya menang di alis tebal dan senyum manis. ​Hanya butuh waktu beberapa detik sampai sebuah balasan masuk. ​Unit Khusus: Baik, Pak. Segera kami cari. ​Ezkar menyimpan kembali ponselnya, menatap Niva dari jauh dengan pandangan menyelidik. Ia merasa sedang melakukan tugas suci seorang kakak, tanpa menyadari bahwa rasa gelisahnya itu mungkin pertanda lain. ​"Kita lihat, Mas Barista. Seberapa bersih catatan hidup lo sampai berani tebar pesona sama aset gue," desisnya sambil menyesap sisa kopi yang sudah mendingin. -oOo- Pagi itu, Niva nyaris tersedak tempe goreng saat melihat sesosok pria keluar dari kamar utama. Ezkar tampil benar-benar berbeda. Pria itu mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru dongker yang memeluk tubuhnya dengan pas, menonjolkan bahu lebarnya yang kokoh dan pinggang yang ramping. Rambutnya ditata rapi dengan gaya klimis, memamerkan dahi dan garis rahangnya yang tegas. ​Niva terpaku. Kesan abang-abang penggemar nasi Padang yang urakan mendadak sirna, berganti menjadi sosok eksekutif muda yang sangat berkelas. Niva berdeham keras, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat melongo kagum. ​"Mau ke mana... rapi banget gitu?" tanya Niva, mencoba terdengar biasa saja. ​"Ke kantor, ada kerjaan," jawab Ezkar singkat sambil memeriksa jam tangan peraknya dan memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas kulit premium. ​Niva mengernyit. Sudah seminggu ia tinggal di sini, tapi ini pertama kalinya ia melihat Ezkar benar-benar "berdinas". "Kok baru sekarang berangkat kerja? Kemarin-kemarin bolos?" ​Ezkar melirik Niva sekilas, teringat pesan Farina untuk tidak terlalu menonjolkan jabatannya. "Kerjaan kantor zaman sekarang ada yang nggak perlu datang tiap hari, kali. Lo nggak tahu istilah remote working?" sahutnya santai. ​"Oh..." Niva mengangguk-angguk. Di kepalanya, ia langsung menyimpulkan bahwa Ezkar mungkin bekerja di bagian IT Maintenance atau teknisi server. Tipe pegawai yang baru dipanggil kalau ada gangguan internet saja. ​Hati Niva mendadak girang. Kalau Ezkar ke kantor, berarti dia punya waktu seharian untuk "nangkring" di coffee shop bawah seharian dan menikmati pemandangan Mas Nio tanpa gangguan. Namun, harapannya hancur berkeping-keping saat Ezkar bicara lagi. ​"Jangan pikir bisa keluyuran. Jadwal lo tetap jalan. Madam Rosa sebentar lagi datang buat etiket, terus siangnya lanjut Bahasa Inggris sama Mister Julian." ​Niva mengerang kecewa, bahunya merosot. Tapi sedetik kemudian, ia teringat wajah Mr. Julian yang mirip Leonardo DiCaprio. Ya udah lah, berduaan sama bule ganteng di apartemen ini juga nggak buruk juga, batinnya menghibur diri. ​Ezkar kemudian pamit, menyambar helm dan kunci motornya. Dari jendela lantai atas, Niva memperhatikan Ezkar yang mengendarai motor Honda Super Cub C125 miliknya keluar dari parkiran apartemen. ​"Dih, gayanya udah kayak bos, tapi motornya aneh banget. Kayak motor tahun tujuh puluhan dicat ulang," komentar Niva sambil geleng-geleng kepala. ​Untungnya ia tidak tahu bahwa harga motor "butut" yang dikendarai Ezkar itu bisa digunakan untuk membeli sepuluh motor matik baru. Niva kembali ke meja makan, tidak menyadari bahwa hari ini, Proyek Saturnus akan memasuki babak yang lebih serius. -oOo- Lobi kantor Arti mendadak sibuk saat sosok tinggi Ezkar melangkah masuk. Para karyawan yang didominasi anak muda kreatif itu segera menyapa "Pak Bos" mereka yang baru menampakkan batang hidungnya setelah seminggu "menghilang". Bukan hal yang mengherankan, karena pria ini memang terbiasa memimpir perusahaan dari jauh. Ezkar hanya membalas dengan anggukan singkat, wajahnya kembali ke mode profesional yang dingin saat melangkah menuju ruangannya sebagai CTO sekaligus pendiri utama. ​Di atas meja kerjanya yang minimalis, sebuah amplop cokelat tebal sudah menunggu. Ezkar duduk, melonggarkan dasinya sedikit, lalu membuka isinya. Itu adalah profil lengkap Nio, sang barista. Matanya menelusuri setiap baris dokumen, mencatat latar belakang pendidikan hingga rekam jejak sosial sang target dalam kepalanya. "Bersih juga. Tapi tetap aja, gue nggak percaya muka manis begitu," gumamnya sinis. ​Tak lama, sekretarisnya mengetuk pintu. "Pak Ezkar, ada pemilik usaha toko bunga yang ingin mengajukan kolaborasi. Dia sudah di depan." ​"Jadwalkan pertemuan sekarang. Saya ada di kantor seharian, kok," titah Ezkar. ​Sesaat kemudian, seorang wanita bernama Atina masuk. Penampilannya sangat kontras dengan lingkungan startup yang serba cepat; Atina tampak lembut, bicaranya sopan, dan gerak-geriknya sangat anggun. "Maaf jika saya mengganggu waktu sibuk Anda, Pak Ezkar. Saya ingin bertanya apakah usaha toko bunga saya bisa masuk dalam aplikasi Arti?" ​Ezkar terdiam sejenak, menatap Atina. "Tentu. Merangkai bunga adalah seni komposisi, masih tergolong art & craft. Kami justru senang membantu UMKM seperti Anda berkembang." ​Sambil mendengarkan penjelasan Atina, sebuah ide cemerlang melintas di kepala Ezkar. Florist! Ini dia! pikirnya. Merangkai bunga terdengar tidak berisiko, dan relatif mudah. Ini soal estetika rasa. Niva mungkin bisa mempelajarinya dengan "aman". Tidak ada ancaman cat tumpah karena palette yang jatuh. ​"Atina, apa toko Anda membuka kelas merangkai bunga?" tanya Ezkar tiba-tiba. ​"Ada, Pak. Tapi harus dilakukan di studio kami karena bunga-bunganya sensitif jika dipindahkan. Pesertanya juga harus membaur dengan yang lain," jawab Atina ramah. ​Tanpa ragu, Ezkar langsung mendaftarkan Niva untuk kelas intensif. Ia tersenyum puas. Dengan memindahkan lokasi kursus ke toko bunga Atina yang letaknya cukup jauh dari apartemen, ia bisa secara otomatis menjauhkan Niva dari pesona "barista Nio". Ia sendiri yang akan mengantar dan menjemputnya, memastikan sang "berlian" tidak melipir ke kedai kopi mana pun. ​Namun, pertanyaannya tetap satu: Apakah merangkai bunga akan menjadi "jalan ninja" yang tepat bagi bakat terpendam Niva, atau justru toko bunga Atina yang cantik itu akan berakhir menjadi porak-poranda di tangan Niva?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN