Pov Meri Aku merasakan d**a yang terasa meledak mendengar ancaman Yudha. Bagaimana tidak, adik iparku yang selama ini terlihat lemah, plin-plan dan tidak pernah emosi itu, kini menatapku dengan tatapan mengancam dan penuh kebencian. Semua orang berubah, tapi tidak ada yang sedrastis Yudha. Setelah dia kembali rujuk dengan istri kampungannya, nyaris aku seperti tak lagi mengenalnya. Bayangkan, hari ini, setelah dia membentakku dengan geram dan dengan teganya mengirim video perselingkuhanku dengan Daniel kepada Mas Raka. Di temani Bi Narti, dia dengan cepat menyambar tubuh Haifa untuk dilarikan ke rumah sakit. Tinggal aku sendiri terkaget-kaget dengan noda darah Haifa yang tampak kontras di ubin putih. Yudha tidak sedetikpun melirikku, pun perduli dengan perasaanku yang detik ini ket

