“PAK SERGIO!”
Sergio yang sudah duduk di atas motor dan memakai helm menoleh ke tempat Jeha berdiri. “Pak Ser masa tega ninggalin saya sendirian di sini. Kita kan satu tujuan, boleh bareng ya?” Jeha memohon sambil memasang baby-face.
Sergio terdiam menatapnya, agak heran karena Jeha mengubah panggilan dan bahasanya menjadi lebih sopan. Apa karena kemarin Jeha sakit, gadis itu memutuskan tobat hari ini?
“Pak Ser, kok malah ngelamun?” Jeha membuyarkan lamunan Sergio yang kemudian mengangguk. Pria itu masih punya hati nurani untuk tidak meninggalkan Jeha. Jeha pun bersorak senang kemudian naik ke boncengan motor sport Sergio.
Sergio mengambil helm yang ada dirak parkiran, menyuruh Jeha memakainya sebelum kemudian Sergio tancap gas dan melajukan motornya membelah jalanan Jakarta. Jeha melingkarkan tangan memeluk tubuh Sergio.
“Kamu apa-apaan sih Jeha, lepas!” perintah Sergio, enggan dipeluk oleh Jeha.
Jeha terpaksa melepas pelukannya dengan bibir mengerucut kesal lalu berganti berpegangan kain jaket yang dikenakan Sergio. “Jeha,” panggil Sergio.
Jeha memberenggut, “Kenapa? Saya nggak boleh pegangan jaket Pak Ser juga? Kalau saya nggak pegangan, terus jatuh gimana? Pak Sergio mau tanggung-jawab?”
Sergio mendengus ketika Jeha main menuduhnya, lalu menjawab, “Bukan itu, saya cuma mau bilang kalau kemarin waktu kamu nggak masuk di kelas saya, saya ngasih tugas. Jadi kamu tanya ke temen tugasnya apa dan jangan lupa untuk dikerjakan.”
Jeha termenung karena sudah salah sangka, ia tersenyum menyadari perhatian Sergio yang telah memberitahunya. “Oh iya Pak, makasih ya sudah diingetin.”
Sergio tidak menjawab lagi, pria itu terdiam sepanjang perjalanan. 20 menit kemudian saat mereka hampir sampai di gedung universitas, Sergio menghentikan motornya di pinggir jalan.
“Loh, kan kampus kita masih 3 meter lagi Pak?” tanya Jeha.
Sergio menoleh sekilas kemudian menjawab, “Kamu turun di sini aja, saya nggak mau mahasiswa lain atau para dosen salah paham melihat kita berangkat ke kampus bersama.”
“Yaelah Pak, nanggung amat. Sekalian aja deh, nggak bakalan ada orang yang lihat juga,” protes Jeha yang dibalas pelototan tajam Sergio.
Jeha mau tak mau akhirnya menurut. “Iya deh, iya! Saya turun di sini!” katanya, meski terlihat tidak ikhlas.
“Ini kotak makannya saya kasih ke Pak Sergio lagi, di makan ya Pak sandwich-nya biar nggak sia-sia saya bangun pagi buat bikinin Pak Sergio sarapan.” Jeha menyodorkan kotak makannya ke Sergio yang masih bergeming.
“Gausa repot-repot, kamu makan aja buat nanti siang,” tolaknya.
“Nolak rezeki itu nggak baik, Pak! Lagian saya sudah belain bikin ini buat Pak Sergio. Jadi bapak harus makan, oke!” Jeha memaksa kemudian kabur setelah kotak makannya sudah berpindah ke tangan Sergio.
Sedangkan Sergio tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika Jeha sudah lari duluan meninggalkannya. Sergio menunduk melihat kotak makan berisi sandwich pemberian Jeha. “Kenapa Jeha melakukannya sampai sejauh ini? Apa karena dia masih berpikir aku adalah Mas Ser tunangannya?”
Sergio kembali menatap punggung Jeha yang sudah menjauh, bertanya-tanya alasan mengapa gadis itu kekeuh menarik perhatiannya. Jika benar Jeha menyukainya karena wajahnya mirip dengan Mas Ser, bukankah harusnya Sergio segera menghentikannya? Sebab Sergio sudah menyukai orang lain dan Sergio tidak ingin mengecewakan perasaan Jeha.
Lagi pula, Sergio berbeda dengan Glen. Sergio tidak ingin menjalin hubungan dengan mahasiswanya karena ia pikir tidak seharusnya seorang dosen mengencani anak didiknya sendiri.
***
“APA! Kamu nyuruh aku bilang ke Jeha kalau kamu nggak suka sama dia karena sudah suka sama cewek lain?” Glen sudah curiga ketika Sergio mengajaknya berbicara di ruang rapat, dan kecurigaannya terbukti ketika Sergio memintanya hal yang aneh.
“Kenapa harus aku? Kenapa tidak kamu sendiri yang bicara langsung pada Jeha?” tanya Glen lagi, tidak mengerti jalan pikir Sergio.
Sergio mendengus, lalu memberi alasan, “Jika aku mengatakannya secara langsung, aku takut itu akan lebih menyakitinya.”
Glen menepuk dahi, frustasi sebab selalu diikut-campurkan dalam hubungan Jeha dan Sergio. “Memangnya siapa sih wanita yang kamu suka itu?” tanya Glen.
Sergio menjawab tanpa beban. “Santika, sahabatku waktu SMA.”
Mata Glen terbelalak. “Santika perawat di rumah sakit Jaya Indah itu?!”
Anggukkan kepala Sergio membuat Glen menatap pria di depannya tidak percaya. Sergio dan Santika sudah berteman sejak lama, jika memang Sergio menyukainya kenapa pria itu baru akan mengejarnya sekarang? Glen kira mereka berdua hanya sebatas teman baik, tapi ternyata Sergio diam-diam menyukainya selama ini.
“Baiklah, aku akan coba memberitahu Jeha tentang ini. Tapi firasatku mengatakan Jeha tidak akan berhenti menyukaimu meskipun aku telah memberitahunya. Dia tipikal gadis yang tidak mudah menyerah, seperti Rossa…, Jeha sama keras kepalanya. Bagaimanapun dia akan terus mencari cara supaya kau bisa bersamanya,” tutur Glen.
Sergio mengerutkan kening cemas, kemudian menanggapi, “Tapi aku tidak menyukainya. Lagi pula aku juga tidak sepertimu, bagiku aneh jika seorang dosen dan mahasiswa berpacaran.”
Glen menepuk pundaknya seraya mengangguk. “Aku paham perasaanmu. Kita coba dulu saja, jika memang nantinya Jeha masih berkesih-keras. Maafkan aku Ser, aku tidak bisa membantumu lebih jauh,” katanya, dibalas senyuman terima kasih oleh Sergio sebelum kemudian mereka berdua keluar dan berpisah untuk makan siang masing-masing.
Glen pergi menemui Rossa untuk mengajaknya makan siang di luar, sedangkan Sergio kembali ke ruang dosen. Pria itu duduk di kursinya dan tidak sengaja melihat bekal pemberian Jeha padanya tadi pagi.
Sergio membuka kotak makannya dan melihat sandwich yang diberi saos bergambar emotikon love di atasnya. Sergio menghapus gambar itu menggunakan garpu yang juga disediakan dalam kotak, kemudian memakan sandwich buatan Jeha yang rasanya cukup enak.
“Eh, tumben Pak Sergio bawa bekal. Buat sendiri ya Pak? Atau… dibuatin pacar?” Bu Risma tidak sengaja lewat dan melihat Sergio makan.
Sergio kebingungan menjawab pertanyaannya dan akhirnya hanya menjawab lewat gelengan kepala. Bu Risma tersenyum jail lalu melirik kotak makan dengan tutup berwarna pink. “Pasti dari pacarnya. Nggak mungkin kotak makannya Pak Sergio warna pink begitu,” celetuk Bu Risma sambil terkikik menertawakan wajah memerah Sergio yang tertangkap basah oleh dirinya.
Sedangkan Sergio tak membalas apapun sampai Bu Risma pergi dengan sisa tawa di bibirnya. Sergio jadi kesal karena lagi-lagi membuat dosen lain salah paham. Tapi setidaknya Bu Risma tidak tahu siapa yang memberikan bekal untuknya, karena bisa runyam jika Sergio ketahuan makan bekal pemberian Jeha.
BERSAMBUNG…