ROSSA datang menjenguk ke rumah Jeha setelah diberitahu oleh teman kelasnya bahwa gadis itu tidak masuk kuliah hari ini karena sakit. Rossa sudah setengah mati mencemaskan keadaan Jeha, Rossa juga telah membeli buah berharap sahabatnya bisa segera sembuh setelah makan buah pemberiannya tetapi setelah bertemu Jeha di rumahnya ternyata gadis itu sehat-sehat saja.
“Agil bilang lo sakit, sia-sia deh gue bawain lo buah-buahan,” gerutu Rossa, merasa telah tertipu.
Jeha merebut parsel yang dibawa Rossa. “Gak ada yang sia-sia kalau niat memberi. Kebetulan aku juga lagi pengen makan buah, makasih yah!” Jeha tersenyum semringah sedangkan Rossa mengangguk, setidaknya ia lega karena Jeha baik-baik saja.
“Syukur deh kalau lo sehat, gue jadi nggak cemas lagi,” sahut Rossa.
Jeha menyuruh Rossa masuk dan berbincang di kamarnya. “Cuma gitu doang cemas, lagian kamu tahu sendiri aku ini anaknya kuat, jarang sakit,” timpal Jeha.
Rossa merengut kesal. “Lo pernah koma setahun! Gue trauma lihat lo terbaring sakit lagi, mangkannya gue cemas banget pas Agil bilang lo sakit,” ujarnya.
Hati Jeha tersentil dan terharu mendengar ucapan Rossa. “Makasih ya karena sudah jadi sahabat yang perhatian selama ini.” Jeha berangsur memeluk Rossa.
Rossa balas memeluknya erat. “Gue juga seneng punya sahabat kayak lo.”
Wajah Jeha tiba-tiba berubah cemberut setelah pelukan mereka terlepas. “Kenapa?” tanya Rossa.
Jeha memandang Rossa sedih. “Tadi siang aku debat sama mama karena mama mau bawa aku ke psikiater,” curhatnya.
Rossa melotot kaget. “Ke psikiater? Memangnya ada yang salah sama lo?” tanya Rossa lagi. Jeha mengerucutkan bibir sembari menjawab pelan, “Mama ngira aku gila.”
“Hahaha!” Rossa tak dapat menahan tawanya.
“Kenapa Tante Affa baru nyadar sekarang sih? Lo kan emang gila dari dulu, hahaha!” seloroh Rossa, sambil tak berhenti tertawa.
Jeha memberengut lalu menepuk lengan Rossa sebagai pelampiasan kekesalannya. “Dasar! Aku serius nih, mama ngira aku gila karena terus-terusan ngomongin Mas Ser.”
Rossa berusaha berhenti tertawa dengan mengambil napas dalam, kemudian menanggapi, “Lo emang seharusnya berhenti mengungkit Mas Ser.”
Jeha membantah, “Gabisa Ros! Mas Ser itu—”
Rossa menyela, “Gue tahu! Dia laki-laki yang lo suka kan? Yang kebetulan wajah dan namanya sama dengan Pak Sergio dosen kita.”
Kepala Jeha menunduk murung. “Iya,” cicitnya.
Rossa memegang kedua bahu Jeha, memicu gadis itu mendongak menatap sahabatnya. “Sudah saatnya lo mengubah pikiran. Mas Ser mungkin nggak ada di dunia ini, tapi di dunia ini ada Pak Sergio. Kalau lo bener-bener ingin kejar cintanya Pak Sergio, kejar dia sebagai Sergio dosen kita. Bukan Sergio siluman serigala yang dulu sama lo.”
Jeha mengerjapkan mata beberapa kali, terperangah mendengar nasihat bijak Rossa. “Makasih ya Rossa, berkat kamu sekarang aku jadi semangat lagi buat ngejar cintanya Mas Ser.”
Rossa tersenyum dan memberi dukungan, “Gitu dong! Harus semangat!”
Jeha balas tersenyum nyengir, lalu mengangkat tangan sambil berseru, “Semangat!”
Tanpa keduanya sadari, sejak tadi Affa mendengar percakapan mereka dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Affa yang berniat mengantar cemilan lantas berubah tujuan dengan menguping pembicaraan putrinya dengan Rossa.
Affa lega sekaligus terharu melihat Jeha bisa tersenyum lagi setelah seharian ini tampak murung. Affa juga mendoakan Jeha agar usahanya mengejar cinta berhasil.
***
Sudah 1 jam berlalu dan Sergio masih terdiam menatap nanar ponselnya. Sergio merasa perlu minta-maaf pada Jeha, tapi pria itu terlalu gengsi untuk melakukannya. Sergio takut sikap Jeha semakin melunjak jika dirinya minta-maaf dengan mudah. Sergio jadi bingung harus menelponnya atau tidak untuk minta-maaf.
Sergio menggelengkan kepala. “Tidak-tidak! Aku tidak bisa melakukannya,” ucapnya lalu mengusap wajah sambil membaringkan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidur.
Salah satu tangannya mengambil foto yang ia sembunyikan di bawah bantal. Fotonya bersama nenek dan kakeknya yang telah meninggal, Sergio mengangkat lembar foto dan memandangnya cukup lama.
Foto itu bagaikan jimat penangkal mimpi buruk sehingga Sergio selalu menyimpannya di bawah bantal. Saat masih SMP berusia 12 tahun, Sergio pernah diculik oleh seseorang dan disekap di suatu tempat yang gelap. Tragedi itu meninggalkan bekas trauma yang dalam bagi Sergio.
Alasannya mengambil kuliah jurusan psikolog hingga magister adalah untuk menyembuhkan traumanya sendiri. Tapi ternyata Sergio tetap mendapat mimpi buruk meski ia sudah lulus sarjana psikolog.
Dan penyelamat Sergio akan masalah itu adalah foto yang ia pegang sekarang. Foto nenek Harti dan kakek Fadlan yang sedang memeluknya saat masih kecil.
“Andai nenek dan kakek masih hidup, aku pasti sudah berterima kasih secara langsung. Berkat foto nenek dan kakek ini, aku bisa tidur nyenyak setiap harinya. Semoga kalian bahagia di surga.” Sergio memeluk fotonya dan tidak butuh waktu lama iapun langsung tidur terlelap.
***
Sergio sudah rapi dengan setelan kemeja kerja, ia tidak sempat sarapan karena telat bangun dan sekarang akan berangkat ke kampus untuk mengajar. Sergio terkejut menemukan Jeha berdiri di depan pintu apartemennya pagi-pagi begini.
“Jeha? Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya kamu sakit kemarin?” tanya Sergio.
Jeha tersenyum semringah. “Saya sudah sembuh Pak, mulai sekarang saya akan lebih bersemangat!” ujarnya, memicu Sergio mengerutkan kening terutama pada kata saya dan panggilannya yang lebih sopan.
Sergio yang penasaran lantas bertanya, “Semangat untuk belajar?”
Jeha menyahut tak sampai sedetik, “Bukan.” Ia menjeda ucapannya dan mengambil satu langkah maju mendekati Sergio, kemudian lanjut berbisik, “semangat baru merebut hati pak dosen.”
Mata Sergio terbelalak, sedangkan Jeha kembali menarik diri tanpa menghapus senyum di bibirnya. Jeha menyodorkan kotak makan berisi sandwich buatannya sendiri. “Sarapan untuk Pak Sergio!”
Sergio menerimanya dengan linglung, darimana Jeha tahu jika dirinya belum sarapan pagi ini. “Emm… terima kasih.”
“Nggak gratis Pak!” seru Jeha. Sergio pun menatapnya protes.
“Bayar dengan boncengin saya ke kampus ya?” pinta Jeha, yang langsung ditolak oleh Sergio. “Saya nggak mau bayar apa-apa, jadi nih saya balikin kotak makanan kamu.”
Usai mengembalikan kotak makanannya ke tangan Jeha, Sergio lantas mengunci pintu apartemen dan meninggalkan Jeha begitu saja menuju bagasi parkiran. Jeha tak mudah menyerah, gadis itu berlari membuntuti Sergio dan bersumpah akan membuat pria itu membonceng dirinya berangkat ke kampus.
BERSAMBUNG…