13 |PERAWAN GALAU

1017 Kata
KEESOKKAN hari, Selasa pukul 08.15 WIB kelas Psikopatologi Sergio baru saja di mulai dan pria itu sedang mengabsen satu persatu nama mahasiswa yang hadir di kelas. “Putra Winata?” “Hadir Pak!” “Rachel Vennya?” “Hadir Pak!” “Jehasalma Sabila?” Hening, tidak ada sahutan. Sergio menurunkan lembar absensi yang dibawanya kemudian menatap barisan kursi mahasiswa di depannya. “Jehasalam Sabila, tidak ada?” tanyanya lagi. Komting kelas bernama Agil mengangkat tangannya dan menjawab, “Tadi pagi Jeha WA saya Pak, katanya sakit.” Sergio terdiam beberapa saat, kemudian bertanya lagi, “Sakit apa?” Agil terlihat ragu untuk bicara, tapi seorang dosen sedang bertanya sehingga Agil pun terpaksa menjawab sesuai isi chatting Jeha di w******p. “Sakit hati, Pak.” Seluruh mahasiswa di kelas sontak tertawa mendengar ucapan Agil, sementara Sergio memasang wajah masam. “Jangan bercanda Agil!” tegasnya, tidak dalam mood bisa diajak bercanda. Agil membela diri, “Saya nggak bercanda Pak! Beneran Jeha bilang begitu ke saya, kalau Pak Sergio nggak percaya, bapak bisa cek isi chattingan kami.” “Yaudah mana handphone kamu, saya mau lihat sendiri,” perintah Sergio. Agil kelabakan saat mengeluarkan ponselnya dalam ransel, tidak percaya Sergio benar-benar akan tertarik mengecek isi chatnya dengan Jeha. Semoga saja dosennya itu benar-benar hanya mengecek isi chatnya dengan Jeha, tidak merambat mengecek galeri karena gawat kalau Agil ketahuan sudah menyimpan video bokep. “I-ini Pak.” Agil maju ke meja dosen di depan dan menyerahkan HP-nya ke Sergio dalam posisi layar sudah terbuka ke room chatnya dengan Jeha. Sergio lantas membaca isi pesan mereka dan teliti. Room Chat WA. Kemarin. [Jehasalma] 18.30 WIB : “Gil, besok aku nggak kuliah. Tolong izinin ke dosen ya, aku sakit.” [Agil] 18.35 WIB : “Oke besok gue izinin, semoga cepet sembuh Jeh.” [Jehasalma] 18.36 WIB : “Kayaknya nggak bakalan bisa sembuh deh Gil.” [Agil] 18.36 WIB : “Emang lo sakit apa? Kanker? HIV? HEPATITIS?” [Jehasalma] 18.40 WIB : “Sakit hati.” [Agil] 18.41 WIB : “Maksud lo sakit Liver?” [Jehasalma] 18.42 WIB : “Bukan, tapi tercampakkan oleh perasaan. Terlalu ngena’ di hati sampai akhirnya jadi sakit.” Dst. Sergio tidak meneruskan membaca chattingan absurd tersebut dan mengembalikan HP-nya ke Agil lagi. “Saya percaya, terima kasih. Kamu boleh kembali duduk,” ujar Sergio. Agil mengangguk sopan lalu kembali ke bangkunya dengan lega. Pelajaran pun dibuka oleh Sergio yang memaparkan materi bab baru tentang perbandingan kultural dalam asesmen klinis yang berkaitan dengan psikopatologi. Sergio membuka slide ppt pertama dan mulai menjelaskan konsep disease dan ilness secara teoritis. Mengajar di kelas tanpa Jeha membuat Sergio lebih fokus karena tidak ada yang mengganggu, tapi Sergio tak bisa berhenti memikirkan penyebab Jeha sakit hati, apakah karena dirinya? Dan apakah ketidakhadiran Jeha di kampus hari ini masih ada kaitannya dengan apa yang sudah terjadi antara Jeha dan dirinya kemarin. Sergio tidak tahu, dan harusnya ia tidak mencoba tahu. *** “Haduh… anak perawan mama kok galau terus gini sih?” Affa mendekati Jeha yang duduk termenung di sudut kamarnya dekat jendela. Jeha menoleh ke arah kedatangan Affa, lalu menceletuk asal, “Emangnya mama tahu aku masih perawan?” Affa melotot, jantungnya hampir copot mendengar ucapan Jeha. “Jangan ngomong sembarangan, mama tahu kamu perawan. Boro-boro nyembunyiin laki, pacar aja nggak punya,” balas Affa. Jeha menghela napas panjang seakan-akan hidupnya begitu berat. “Dulu Jeha sudah punya pacar, kami bahkan sudah tunangan,” cerita Jeha sambil menatap kosong ke luar jendela. “Jangan bilang kalau orang yang kamu maksud adalah Mas Ser?” Affa menebak, sudah hafal gelagat Jeha karena sering kali mengungkit Mas Ser, kekasih halunya. “Siapa lagi? Ya memang Mas Ser,” sahut Jeha, datar. Tatapannya menyiratkan keputus-asaan, membuat Affa khawatir. “Kemarin anaknya Tante Dona yang kerja jadi suster di rumah sakit Jaya Indah bilang ke mama kalau sebaiknya mama bawa kamu ke psikiater.” Jeha berpaling menatap Affa marah. “Kenapa aku harus ke psikiater? Mama kira aku gila?!” Jeha bertanya dengan intonasi meninggi, tidak percaya mamanya benar-benar berpikir dirinya gila. “Bukan gitu Jeha, pergi ke psikiater bukan berarti semua pasiennya gila. Mama cuma pengen buat kamu tenang dan lebih rileks.” Affa memberi penjelasan agar Jeha tak salah paham. Tapi Jeha terlanjur marah karena tersinggung dengan ajakan Affa. “Jeha nggak butuh psikiater! Yang Jeha butuhkan cuma Mas Ser! Mas Ser dan hanya Mas Ser!” teriak Jeha, tiba-tiba sudah bangkit dan berdiri di hadapan Affa dengan raut murka. “Mama lupa ya? Mama pernah ngasih dukungan ke Jeha supaya nggak menyerah ngejar cintanya Mas Ser, tapi kenapa sekarang mama malah ngira Mas Ser itu cuma halusinasi Jeha?” tanya Jeha. Affa mengembuskan napas berat, berusaha tetap sabar menghadapi putrinya yang marah. “Karena cerita kamu sudah ngacau Jeha. Tidak ada siluman serigala bahkan pertunangan yang selalu kamu bilang, semua itu tidak nyata.” Rahang Jeha mengeras, muak dengan kalimat tidak nyata yang kerap ia dengar dari orang-orang di sekitarnya. “Kenapa semua orang nggak ada yang percaya sama aku? Padahal aku nggak bohong, semua yang aku alami bersama Mas Ser itu nyata! Aku yakin karena aku masih bisa ingat kehangatannya dan perlakuan manisnya, juga—” “CUKUP JEHA!” Affa membentak menghentikan bualan Jeha. Wanita paruh baya itu kemudian mengguncang bahu Jeha, menyuruhnya sadar. “Buka mata kamu! Dunia yang kamu maksud itu tidak ada di sini! Semua itu hanya mimpi saat kamu koma selama satu tahun! Sadarlah Nak..., kamu tidak tahu betapa mama sangat sedih ketika kamu terus mengungkit cerita mustahil itu! Mama ingin Jeha yang normal seperti dulu lagi…” Jeha terkulai lemas setelah mendengar ungkapan Affa, tubuhnya merosot dan jatuh bersimpuh di lantai kamarnya dengan ekspresi tak berdaya. Secara tidak langsung, Jeha sudah membuat mamanya sedih dan Jeha benar-benar menyesal telah melukai perasaan Affa. Tapi rasa cinta Jeha pada Mas Ser masih melekat kuat dalam hatinya. Jika memang semua yang ia lewati bersama Mas Ser dahulu itu tidak nyata, seharusnya Tuhan menghapus ingatan dan perasaannya saja saat Jeha tersadar dari koma agar dirinya tidak perlu merasakan pahitnya kehilangan seperti sekarang. BERSAMBUNG…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN