12 |TERTULAR VIRUS GILA

1065 Kata
SERGIO mencegat Glen di parkiran ketika pria itu hendak pulang setelah selesai mengajar. “Tunggu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu Glen,” ujar Sergio. Glen memandang Sergio heran. “Tumben, kamu mau bahas apa sama aku?” Glen bertanya, pasalnya meski mereka sepupu dan masih satu keluarga, Sergio jarang sekali terlibat pembicaraan serius dengannya kecuali menyangkut perkuliahan. “Tentang Jeha,” jawab Sergio. Glen setengah terkejut, tidak mengira Sergio akan membahas perihal Jeha dengannya. “Kenapa dengan Jeha?” tanya Glen. “Kenapa kamu memberi nomor handphone, alamat tempat tinggal, bahkan memberitahu nama nenek Harti dan kakek Fadlan ke Jeha tanpa izin aku lebih dulu?! Kamu dan Jeha ada hubungan khusus?” Sergio menuduh Glen seraya menatapnya curiga. Glen spontan membantah, “Mana mungkin!” Dalam hati Glen merutuk Jeha karena telah melanggar janji karena telah mengadu pada Sergio bahwa dirinya-lah yang memberikan gadis itu informasi tentang nomor dan alamat tempat tinggal Sergio. “Padahal aku sudah nyuruh buat merahasikannya, ish! Dasar Jeha!” Glen menggerutu dengan suara pelan agar Sergio tidak dengar. Sedangkan Sergio kembali bicara. “Lalu kenapa kamu bocorin semua informasi pribadi aku ke Jeha? Kamu nggak mungkin ngasih tahu semua itu secara cuma-cuma, pasti ada alasannya.” Glen mengusap wajah frustasi sebelum kemudian menatap Sergio menyesal. “Maaf Ser, aku terpaksa ngasih tahu itu untuk menebus kesalahanku ke Jeha.” Sergio mengangkat sebelah alisnya. “Kamu pernah punya salah ke Jeha?” tanyanya. Glen mengangguk, pikirannya melayang ke kejadian setahun lalu tepatnya sebelum acara camping di Hutan Harapan Jambi. “Penyebab Jeha jatuh ke tebing sampai koma adalah aku. Karena marah, aku ngasih hukuman konyol ke dia buat nyari serigala di hutan saat camping. Aku benar-benar nggak nyangka Jeha bakal menurut dan beneran nyari serigala di hutan sampai akhirnya dia dikabarkan hilang lalu ditemukan tidak sadarkan diri di tepi sungai dekat tebing perkemahan.” Sergio tertegun, baru mengetahui tragedi penyebab Jeha koma selama setahun. Glen menepuk pundak Sergio seraya berkata, “Aku nggak tahu apa yang sudah Jeha lalui selama dirinya koma, tapi yang pasti Jeha sepertinya bertemu kamu di mimpinya. Dia meyakini kamu adalah laki-laki yang dicintainya. Aku sudah tahu semua ceritanya karena Jeha adalah sahabatnya Rossa, pacar aku.” Lagi-lagi Sergio dibuat terkejut dengan pengakuan Glen. “Kamu pacaran dengan Rossanti Juleha? Mahasiswa kamu sendiri?” tanya Sergio dengan ekspresi syok. Glen tersenyum. “Iya, tidak ada larangan dosen dan mahasiswa berpacaran kan? Tapi aku pikir lebih baik hubungan kami dirahasiakan agar mahasiswa lain tidak berpikiran macam-macam. Jadi tolong, rahasiakan hubunganku dengan Rossa dari orang lain,” pinta Glen, berharap Sergio tidak seperti Jeha yang suka mengadu sembarangan. “Kamu tenang aja, aku bukan tipikal orang yang mudah membocorkan informasi pribadi milik temanku sendiri.” Sergio mengatakannya untuk balas dendam dengan menyindir Glen secara terang-terangan yang lantas membuat Glen menekuk wajah cemberut. “Kamu masih marah ya? Aku kan sudah minta-maaf dan memberitahumu apa alasannya,” cicit Glen, berharap Sergio memaafkannya. Sergio mendengus pasrah, tidak ada pilihan lain selain memaafkan Glen. Toh Jeha juga sudah terlanjur tahu, jadi percuma marah-marah sekarang. “Iya, aku maafin kok. Tapi lain kali stop ngasih tahu Jeha tentang informasi pribadiku!” Sergio memperingatkan. Glen mengacungkan jempol, “Siap Bos!” Glen lalu mengerutkan kening ketika merasa ada sesuatu yang janggal. “Eh tapi, kamu bilang Jeha juga tahu nama nenek Harti dan kakek Fadlan. Padahal… aku tidak pernah memberitahunya soal itu,” kata Glen. “Mungkin Rossa yang beritahu,” sahut Sergio acuh tak acuh. Glen mengusap dagu sembari berpikir. “Kayaknya nggak mungkin deh. Rossa juga gatau nama nenek Harti dan kakek Fadlan, aku belum secara resmi mengenalkannya pada anggota keluarga kita. Lagian, buat apa juga Rossa dan Jeha membicarakan nama-nama keluargamu.” “Lalu kamu pikir Jeha bisa tahu nama nenek Harti dan kakek Fadlan lewat dunianya tinggal dengan pria yang memiliki wajah sama sepertiku, begitu?” Sergio bertanya sarkas dengan sarat bercanda. “Bisa saja, dunia yang Jeha maksud adalah dunia tempat jiwa yang hilang. Nenek Harti dan kakek Fadlan kan sudah meninggal, mungkin mereka bertemu dengan jiwa Jeha yang tersesat di sana,” timpal Glen, yang direspon kekehan tidak percaya Sergio yang kemudian pamit pergi. Sergio sama sekali tidak tertarik dengan cerita fantasi Glen. “Sepertinya kamu sudah tertular virus gila Jeha. Terserah kamu saja lah mau berpikiran bagaimana, aku pulang dulu. Sampai jumpa!” Sergio melambaikan tangan lalu berbalik menuju motor sport-nya. Sementara Glen hanya bergeming memerhatikan Sergio yang telah pergi meninggalkannya di parkiran sampai kemudian Rossa datang mengejutkannya. “Dorr!!” “Rossa?” “Kamu ngapain sih ngelihatin Pak Ser gitu amat. Kalian habis ngobrol ya? Ngobrolin apa?” Sifat kepo Rossa mendadak kambuh dan ia ingin tahu apa yang sudah dua pria itu bicarakan sehingga Glen menatap lekat kepergian Sergio. “Bukan apa-apa, kamu jangan kepo!” Glen enggan memberitahu Rossa karena bakal panjang urusannya jika pacarnya tahu. Rossa mencebik kesal, sedangkan Glen mengajaknya pulang. “Ayo kita pulang!” “Mampir makan sate kelinci ke Mang Sate langgananku yah!” Rossa mengedipkan mata, merayu Glen agar mengindahkan permintaannya. Glen pun tidak bisa menolak selagi itu bisa menyenangkan hati pacarnya yang suka sekali makan sate kelinci. “Iya, nanti kita mampir.” “Asyikk!!” *** Sergio tidak bisa tidur malam ini dan mendadak teringat percakapannya dengan Jeha hari minggu lalu ketika mereka membahas tentang nama kakek dan neneknya yang secara ajaib bisa Jeha ketahui. Sergio kemudian mengaitkannya dengan ucapan Jeha serta Glen yang ia dengar hari ini. Perihal dunia tempat jiwa hilang yang disebutkan Glen serta dunia tempatnya hidup sekarang. Mungkinkah semua itu ada? Sergio mengacak rambutnya frustasi, pusing memikirkan dunia yang terus-menerus Jeha ungkit. Sergio bertanya-tanya mengapa Jeha teramat meyakini dunia itu ada? Atau itu hanya dampak Skizofrenia yang dialami Jeha sehingga membuatnya melanturkan hal-hal yang dirinya anggap nyata. Tapi Glen pun membenarkannya juga, jadi haruskah ia percaya pada dongeng itu? “Sepertinya aku sudah tertular virus gila Jeha hingga repot-repot mencemaskan hal ini. Ya Allah… mana mungkin ada dunia seperti itu di sini, apalagi—siluman serigala? Haha,” Sergio tertawa sumbang, mengasihani dirinya sendiri yang hampir termakan cerita dongeng Jeha, “mana mungkin ada siluman serigala di jaman sekarang!” lanjutnya sambil geleng-geleng kepala, tidak percaya. Daripada serius menjadi gila, lebih baik Sergio segera tidur. Memikirkan hal yang tidak-tidak juga bisa memperburuk kesehatan mentalnya. Cukup Jeha saja yang gila, Sergio ingin tetap waras dan tidak ingin ikut-ikutan gila sepertinya. BERSAMBUNG…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN