BUKAN hanya kesabaran, perjuangan pun ada batasnya. Jeha berpikir mungkinkah ini saatnya menyerah? Realita terkadang tidak sesuai ekspektasi, banyak orang kehilangan harapan karenanya. Jeha tidak langsung pulang setelah ditinggal Sergio di carnaval. Gadis itu duduk sendiri di bangku panjang terbuat dari besi, menghadap wahana komedi putar sembari memakan sisa permen kapasnya yang belum habis. “Mas Ser…” Jeha memanggil lirih, tatapannya menerawang, “kapan Mas Ser yang mencintaiku kembali?” Jeha menunduk melihat jemarinya yang dahulu tersemat cincin pertunangan. Air mata mengalir dari sepasang matanya. “Mas Sergio yang sekarang berbeda jauh, dia sering menyakitiku dan tatapannya tidak selembut Mas Ser yang dulu. Apa Mas Ser yang kukenal dahulu tidak akan kutemui lagi?” Jeha bergumam putus

