08 |JEHA SI GADIS GILA

1206 Kata
JEHA berhenti mengunyah cemilan ketika Sergio melayangkan tatapan ke arahnya seolah pria itu sedang melihat hantu. Merasa aneh dengan tatapan Sergio, Jeha sontak mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sesuatu yang mungkin jadi penyebab Sergio menatapnya kaget. Pandangan Jeha berhenti ke tiga butir kacang pilus yang jatuh berceceran di bawah kakinya. “Oh, jadi dia menatapku begitu karena aku tidak sengaja mengotori lantainya. Baiklah-baiklah, aku akan membersihkannya.” Dengan bibir mencebik kesal, Jeha memungut kacang-kacang itu kemudian bangkit dari sofa untuk membuangnya ke tempat sampah. Tapi baru juga selangkah, Sergio tiba-tiba meneriakkan namanya. “Jeha!” Jeha terkejut karena seruan Sergio kemudian berpaling menatap pria itu heran. “Kenapa? Aku hanya ingin membuang kacang ke tempat sampah, tidak boleh?” tanyanya, sedikit sewot. “Boleh,” jawab Sergio, dalam hati merutuk dirinya sendiri yang terlalu parno dengan Jeha. Sementara Santika yang mendengar panggilan Sergio barusan sontak terkejut dan berpaling memandang Jeha yang masih membeku di tempatnya berdiri. Santika menatapnya dari atas sampai bawah sebelum kemudian kembali melihat Sergio sambil berbisik tanya, “Jangan bilang kalau dia—” Santika menghentikan ucapan ketika Sergio mengangguk, lalu berkata, “Ya, namanya Jehasalma Sabila. Sepertinya dia anak Tante Affa yang kamu bicarakan sejak tadi.” Mulut Santika terbuka melongo, ditengah keterkejutannya yang belum usai, mereka berdua lantas dikejutkan oleh kedatangan Jeha secara tiba-tiba. “Pak Ser.” “Ada apa?” sahut Sergio. “Saya mau ke toilet, cuci tangan sekalian buang air kecil,” ujar Jeha, bibirnya mencebik dan matanya melirik sinis Santika. Andai tatapan bisa bicara, Santika pasti tahu bahwa Jeha menginginkan wanita itu pergi secepatnya dari sini. “Boleh, toiletnya ada di ujung dekat dapur. Masuk saja,” balas Sergio sambil menunjuk letak kamar mandi. Selepas kepergian Jeha, Sergio dan Santika bisa bebas membicarakannya. Sergio menjelaskan awal mula pertemuannya dengan Jeha di kampus, termasuk cerita melantur Jeha yang mengatakan dirinya adalah Mas Ser. Santika akhirnya tahu semuanya tentang Jeha dan berniat mendiskusikan kondisi kejiwaannya bersama Tante Affa supaya mereka berdua bisa menemukan jalan keluar atas permasalahan kesehatan mental Jeha. *** Tujuan Jeha tidak hanya ke kamar mandi, melainkan juga ke kamar tidur Sergio yang berada di lantai dua. Kebetulan letak tangga berdekatan dengan kamar mandi jadi Jeha sekalian naik ke atas. Mungkin saja ada petunjuk yang bisa Jeha temukan tentang Mas Ser di kamar. Kamar Sergio didominasi warna abu-abu, ukuran tempat tidurnya terbilang cukup besar untuk seseorang yang tinggal seorang diri. “Apa Mas Ser sering bawa cewek ke apartemennya ya? Atau jangan-jangan Tika sudah sering keluar-masuk di sini?” Jeha mendadak kesal memikirkan pertanyaan yang tergiang dalam kepalanya. Bingkai foto keluarga yang dipajang Sergio di atas nakas menyita perhatian Jeha untuk melihatnya lebih dekat. “Aku belum pernah lihat wajah orang tuanya Mas Ser. Ibunya cantik, kelihatannya baik, ayahnya Mas Ser juga. Syukur deh di dunia ini Mas Ser punya keluarga lengkap.” Jeha tersenyum memandangi foto keluarga Sergio. Bermodal iseng dan gabut, Jeha membuka-buka laci yang ada di meja, mencari barang yang mungkin saja ada kaitannya dengan dunia tempatnya bertemu dengan Mas Ser sebelumnya. Namun nihil, tidak ada petunjuk apapun yang Jeha temukan di kamar Sergio. Merasa lelah, Jeha pun tidur telentang di atas kasur king size milik Sergio. Kasurnya sangat empuk dan ukurannya yang besar membuat Jeha leluasa berguling-guling. Akibatnya kasur Sergio jadi berantakan, tetapi berkat itu juga Jeha menemukan selembar foto usang yang menyembul dari bawah bantal tempat tidur. Jeha mengambil foto itu lalu membelalakkan mata mengenali sepasang nenek dan kakek yang berada di dalam foto. “Nenek Harti dan kakek Fadlan?! Mereka kan orang tua angkatnya Mas Ser di duniaku sebelumnya!” pekik Jeha, meski terkejut namun Jeha senang karena berhasil menemukan satu petunjuk yang berkaitan dengan dunia tempatnya tinggal bersama Mas Ser berwujud serigala. “Aku harus tunjukkin foto ini ke Mas Ser!” Jeha melompat turun dari atas ranjang lalu berlari keluar. Jeha menuruni tangga dengan tergesa karena tidak sabar ingin segera memberitahu Sergio, tapi karena terburu-buru telapak kakinya tidak sengaja tergelincir dan tubuhnya melayang jatuh ke bawah. Andai saja Sergio tidak ada di sana untuk menangkap tubuhnya, mungkin Jeha sudah patah tulang sekarang. “Astagfirullahaladzim… Jeha! Bisa nggak sih kamu hati-hati! Lagi pula, ngapain kamu naik ke atas? Kamar mandinya kan ada di lantai satu!” omel Sergio, masih diposisi menahan berat badan Jeha. Jeha membuka mata perlahan, mengabaikan omelan Sergio, Jeha merasa lega karena ia selamat berkat pria itu. Sergio menyentak tubuh Jeha yang masih menempel di dadanya, membuat gadis itu kembali berdiri di hadapannya dengan cengiran lebar. “Makasih ya, untung aja ada Mas Ser yang nyelametin aku! Fyuhh…” Jeha mengusap daada lega, sementara sejak tadi Sergio tak berhenti menatapnya tajam. “Jangan sok polos gitu! Jawab saya! Ngapain kamu ke atas?” tanya Sergio lagi, kali ini dengan wajah lebih menyeramkan. Jeha lantas teringat foto nenek Harti dan kakek Fadlan yang entah menghilang kemana dari genggamannya. Jeha kembali mengabaikan Sergio dan menunduk mencari fotonya. “Haduh! Jatuh kemana tadi?” Jeha berjalan mondar-mandir sambil menatap ke bawah lantai sekitar tangga. Merasa aneh dengan sikap Jeha, Sergio bertanya, “Kamu cari apa?” “Kertas foto! Aku nemu di kamar Mas Ser, di foto itu ada orang yang aku kenal,” jawab Jeha tanpa memandang ke arah Sergio dan tetap fokus mencari fotonya. “Kamu mencuri barang yang ada di kamar saya?” Sergio menuduh. Tak ditanggapi serius oleh Jeha, Sergio akhirnya mengguncang pundak Jeha agar melihatnya. “Aku nggak mencuri kok! Aku cuma mau lihatin foto ke Mas Ser, di situ ada foto orang tua angkatnya Mas Ser waktu masih jadi serigala,” jawabnya, disaat yang bersamaan Jeha baru sadar jika fotonya terselip di kerah leher kemeja Sergio. “Itu dia!” Jeha mengulurkan tangan menyentuh leher Sergio untuk mengambil foto yang dicarinya. Sapuan tangan Jeha didekat lehernya membuat Sergio merinding dan spontan mengambil satu langkah mundur menjauhinya. “Apa yang kamu lakukan!” tegurnya, sementara Jeha mengangkat tangannya yang berhasil mengambil foto tersebut. “Ada nenek Harti dan kakek Fadlan di foto ini.” Jeha memasang tampang polos. Sergio menyipitkan mata penuh peringatan lalu merebut foto dari tangan Jeha. “Dari mana kamu tahu nama kakek dan nenekku?” Jeha mengerjap heran, “Mereka kakek dan neneknya Mas Ser? Bukan orang tua angkat?” Sergio memutar bola mata. “Jangan bercanda! Mana mungkin saya punya orang tua angkat jika saya sendiri sudah punya orang tua kandung. Nenek Harti dan kakek Fadlan adalah orang tua dari ibuku, mereka sudah meninggal sejak lama,” ungkap Sergio, tiba-tiba ekspresinya berubah muram karena mengingat almarhum nenek dan kakek yang teramat disayanginya. “Mereka sudah meninggal? Mustahil! Aku melihat mereka di dunia kita sebelumnya, nenek Harti dan kakek Fadlan masih sehat,” sahut Jeha, antara bingung dan sedih menerima kenyataan bahwa nenek Harti dan kakek Fadlan sudah meninggal. Terlepas dari pernyataan tidak masuk akal Jeha, Sergio lebih penasaran dari mana Jeha tahu nama kakek dan neneknya. “Jawab saya dengan jujur, kali ini jangan merahasiakannya lagi. Sebenarnya dari mana kamu bisa tahu nomor handphone, alamat apartemen bahkan nama kakek dan nenek saya?” tanya Sergio, mimik wajahnya dua kali lipat terlihat serius. Jeha tidak langsung menjawab melainkan terdiam cukup lama. Mereka berdua saling tatap dalam keheningan yang seketika menguasai keadaan. Terus seperti itu sampai Jeha akhirnya buka suara. BERSAMBUNG…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN