SERGIO sudah menantikan hari ini tiba, sahabat wanitanya bernama Santika Tasya yang berprofesi sebagai perawat akan datang ke apartemen Sergio untuk menanyakan beberapa hal terkait keadaan psikologis seseorang.
Santika percaya Sergio pasti bisa menjawab pertanyaannya dan Sergio dengan senang hati membantunya. Sergio sangat senang bertemu dengan Santika, mereka berdua sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga jarang saling bertemu. Selain itu, sejak dulu Sergio telah memendam cinta pada Santika dan berencana menggunakan momen ini untuk mengutarakan perasaannya di depan Santika.
Maka karena itu mengapa Sergio sangat menantikannya, pria itu juga sudah membersihkan setiap sudut apartemennya dan memakai pakaian menarik supaya terlihat lebih tampan saat bertemu dengan wanita yang ia suka.
Ponselnya berbunyi ketika Sergio sedang mematut penampilan dicermin, pria itu bergegas menerima telepon setelah melihat nama Santika di layar ponselnya. “Halo,” sapa Sergio dengan senyum secerah matahari.
“Halo Ser, aku sudah mau sampai nih di apartemen kamu,” sahut Santika.
Senyum di bibir Sergio semakin berkembang, “Oke-oke, aku juga sudah siap kok. Aku tunggu kamu, hati-hati.”
“Sip, kalau gitu aku tutup dulu teleponnya yah,” izin Santika.
“Iya. Bye Tika, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Tiitt, panggilan mereka pun berakhir. Lima menit kemudian, bell pintu apartemen Sergio berbunyi. “Cepet amat sampainya,” gumam Sergio, heran.
Tapi pria itu tak ambil pusing dan segera berlari membukakan pintu. Sergio sudah mempersiapkan senyum terbaik namun yang ia lihat di depan pintu justru orang lain. Lebih tepatnya gadis gila yang akhir-akhir ini mengusik kehidupan Sergio.
“Jeha?!” Sergio memekik kaget, dan dalam sekejab ekspresinya berubah garang.
“Kamu tahu dari mana tempat tinggal saya?” Sergio bertanya sinis.
Jeha mengerlingkan mata sambil menjawab, “Rahasia.”
Sergio langsung naik-pitam, belum lagi panik karena takut Jeha akan menghancurkan rencananya bersama Santika. Sergio harus mengusirnya dari sini sebelum Santika datang. “Cepat sekarang kamu pergi! Saya mau kedatangan tamu penting, jangan sampai keberadaanmu mengacaukan semuanya,” usir Sergio secara terang-terangan.
Jeha mengerutkan dahi, “Tamu penting siapa Mas? Bukan cewek kan?” tanyanya, berharap tamu penting yang dimaksud Sergio bukanlah pacar dari pria itu.
Sergio memutar bola mata jengah. “Bukan urusan kamu Jeha! Sekarang cepat pergi dari sini!” Sergio berteriak mengusirnya lagi.
Ada secuil rasa sakit hinggap di dadanya ketika Sergio tega mengusirnya padahal Jeha sudah jauh-jauh datang kemari demi melihatnya. “Aku nggak akan pergi! Aku akan tetap di sini, biarkan aku masuk!” Jeha menolak pergi dan menerobos masuk ke dalam apartemen Sergio namun dihalangi oleh tangan pria itu.
“Jangan sembarangan masuk ke rumah orang Jeha! Kamu sudah tidak sopan pada dosenmu sendiri!” Sergio mendorong daada Jeha mundur hingga gadis itu hampir terjengkang.
Sergio juga mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajah Jeha sembari berucap, “Kamu bukan siapa-siapa saya! Kamu bukan keluarga, teman atau siapapun. Kamu hanya mahasiswa, orang asing di mataku! Jadi berhenti bertingkah seakan-akan kita kenal dekat!”
Hati Jeha mencelus mendapati kata-kata kasar Sergio yang sungguh kelewat batas. “Tega banget ya Mas Ser bilang gitu ke aku. Mungkin Mas Ser sekarang nggak ingat, tapi Mas Ser harus tahu… aku pernah jadi rumah untuk kamu Mas.” Jeha mengatakannya dengan serius dan wajah tanpa kebohongan.
Sergio mendadak termenung memikirkan cerita gilanya yang lagi-lagi nyaris menyentuh kalbu. Sergio menggelengkan kepala, pikirannya harus tetap waras. Jangan sampai ia tertular virus gila Jeha dengan memercayai ceritanya.
“Saya nggak mau tahu, entah kamu pernah jadi rumah, teman, atau keluarga terserah katamu saja! Tapi yang pasti, saya tidak pernah menganggap kamu seperti itu,” tandas Sergio, lagi-lagi menyakiti hati Jeha yang kini mati-matian menahan air mata.
“Sergio.” Sapaan seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka memancing perhatian keduanya menatap ke arah Santika.
“Tika, kamu sudah datang ya?” Sergio menatap Santika kaget, rencananya mengusir Jeha dari sini gagal total. Sekarang Santika sudah melihat Jeha dan Sergio cemas Jeha akan berkata yang tidak-tidak lagi di depan wanita yang ia suka.
Santika tersenyum lalu berjalan menghampiri Sergio. “Ini siapa?” Santika bertanya sambil menatap bingung keberadaan Jeha di depan pintu apartemen Sergio. “Pacar kamu?” sambungnya setelah berpaling menatap Sergio.
Kepala Sergio menggeleng keras, ia secepat mungkin menjawab, “Bukan! Dia… mahasiswa aku. Kebetulan tadi lewat sini dan mampir sebentar, setelah ini dia juga mau pulang kok. Ya kan?” Sergio beralih memandang Jeha dengan alis terangkat, memberi pesan terselubung agar Jeha segera pergi dari sini.
Jeha tidak mungkin membiarkan Sergio berduaan dengan seorang wanita, meski Jeha yakin Sergio akan memarahinya tapi masa bodoh—Jeha harus melindungi pria yang ia cintai dari kucing betina lain.
“Bukannya tadi Pak Ser menyilahkanku minum teh dulu? Toh saya juga nggak akan ganggu bapak sama kakak ini. Gapapa kan saya ikut gabung?” Jeha meminta izin pada Santika, tidak berani memandang wajah Sergio secara langsung karena sudah pasti hanya ada kemarahan.
Dengan ramah Santika menjawab, “Tentu saja boleh. Aku juga cuma mau menanyakan beberapa hal pada dosenmu, lebih baik bertiga daripada hanya berduaan di apartemen.”
Yess! Jeha bersorak dalam hati, sementara Sergio mati-matian menahan luapan emosi yang membara dalam dadanya. Jika Santika tidak sedang berdiri di hadapannya sekarang, sudah pasti Sergio akan memarahi Jeha habis-habisan karena sudah mengacaukan rencananya.
***
“Makan dan diam saja di sini! Jangan coba-coba ganggu pembicaraan saya dengan Tika.” Sergio mengancam dengan suara pelan setelah menyajikan cemilan untuk Jeha yang mendapat tempat duduk paling ujung di ruang tamu.
“Ish!” Jeha mendesis menatap sebal punggung Sergio yang sudah berbalik meninggalkannya, menghampiri Santika dan duduk di meja makan yang terhubung dengan ruang tamu.
Kebetulan posisi duduk Santika membelakangi Jeha sedangkan Sergio duduk menghadap ruang tamu sambil mengawasi Jeha bila sewaktu-waktu gadis itu melakukan hal gila lagi. Jeha terus memandang ke arah Sergio dan Santika yang memulai obrolan. Jeha tidak bisa mendengar pembicaraan mereka sehingga Jeha kepo setengah mati.
“Mereka ngomongin apaan sih?” Jeha bergumam sendirian, mengamati Sergio dan Santika dari jauh sambil mengunyah kacang pilus garuda di mulutnya.
Di sisi lain, Santika tengah bercerita pada Sergio yang serius menyimak. “Jadi kemarin rumahku kedatangan temen nyokap, namanya Tante Affa. Tante Affa cerita kalau anaknya baru aja sadar dari koma setelah satu tahun, tapi dia ngerasa aneh sama kondisi kejiwaan anaknya yang sering mengkhayal kejadian mustahil sejak sadar dari koma. Tante Affa nanya tentang kondisi anaknya ke aku karena mungkin aku bisa jawab, tapi tentu aja aku nggak bisa jawab karena pekerjaanku hanya seorang suster, bukannya dokter. Tapi karena pertanyaannya menyangkut kejiwaan, aku pikir kamu pasti tahu dan mungkin ada saran untuk pengobatannya.”
Sergio mengusap dagu, merasa familiar dengan cerita Santika yang hampir mirip dengan Jeha. “Kenapa nggak langsung bawa ke dokter aja buat diperiksa?” tanya Sergio.
Santika mengulum senyum sambil menggelengkan kepala miris. “Mana ada ibu yang tega bawa anaknya ke rumah sakit jiwa, lagian tante Affa bilang nggak ada yang salah sama aktivitasnya. Semua normal, hanya saja putrinya sering menceritakan hal-hal aneh yang dia yakini nyata,” jawab Santika.
“Dari yang sudah kamu ceritakan, ada satu ciri yang mirip gejala penyakit Skizofrenia. Gangguan mental seperti Skizofrenia sendiri dibagi menjadi 5 macam dengan gejala yang berbeda-beda. Dan menurutku yang paling relevan yaitu Skizofrenia Residual.” Entah kenapa ketika Sergio menjelaskan ia justru teringat kondisi Jeha dan diam-diam melirik ke tempat gadis itu duduk di ruang tamu.
“Skizofrenia seperti apa itu?” Santika menanggapi bingung, sekaligus khawatir.
“Skizofrenia Residual sering memiliki keyakinan aneh yang mereka anggap nyata. Penderita Skizofrenia Residual biasanya mengalami gangguan persepsi, isi pikiran dan perilaku dalam bidang sosial.”
Santika menutup mulut menggunakan tangan syok, tiba-tiba memikirkan nasib Tante Affa dan putrinya. “Tapi mungkinkah anaknya Tante Affa menderita Skizofrenia Residual?”
“Entahlah, itu masih diagnosa awal. Akan lebih baik segera menemui dokter untuk diberi penanganan khusus,” jawab Sergio.
“Aku mengerti, aku akan coba sarankan itu ke Tante Affa. Terima kasih ya atas penjelasannya.” Santika tersenyum berterima-kasih.
Sergio tidak bisa menahan keinginan untuk bertanya, “Ngomong-ngomong, siapa nama anak dari teman ibumu itu?”
“Anaknya Tante Affa?”
“Iya.” Sergio mengangguk, dan Santika lantas menjawab, “Namanya Jehasalma Sabila. Namanya bagus kan? Katanya dia juga kuliah di UI, apa kamu mengenalnya?”
Sergio seketika kehilangan fokusnya ketika Santika menyebutkan nama persis dengan nama gadis yang amat dikenalnya, gadis itu bahkan sedang duduk di ruang tamunya sekarang.
Astaga…, jadi sejak tadi orang yang tengah mereka bicarakan itu adalah Jeha?!
BERSAMBUNG…