Dua puluh menit kemudian.
Arka keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan selembar handuk yang memperlihatkan tubuh kekarnya. Menunjukan otot serta da-da bidang yang mampu membuat gadis yang melihat ingin menyentuhnya.
Casey menundukkan pandangannya.
Penampilan Arka sangat sempurna dan juga mempesona.
Lantas, bagaimana mungkin pria seperti itu rela mengeluarkan banyak uang dan rela membayar mahal hanya untuk sebuah keperawanan?
Padahal, Arka jelas memiliki kemampuan untuk menjerat para gadis hanya dengan wajah tampan dan tubuh atletis yang di miliki. Pria itu hanya membutuhkan mulut manis, kata-kata lembut, dan beberapa kalimat cinta, maka setiap gadis pasti akan bertekuk lutut dan menjatuhkan diri padanya secara sukarela.
Intinya adalah bermodalkan wajah tampan, maka uang seolah tidak berlaku. Tapi kenapa?
Kenapa Arka tidak melakukannya?
Kenapa Arka justru membayar mahal dirinya yang hanya gadis cupu dan memiliki pengetahuan dangkal tentang se-ks?
Apakah itu menguntungkan untuk pria itu?
Hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan pertama adalah pria itu tidak pandai berkata manis, tidak pandai merayu dan tidak pandai mengatakan kalimat cinta.
Sedangkan kemungkinan keduanya adalah pria itu mungkin seorang pecinta kebersihan yang selalu ingin menjadi yang pertama untuk seorang gadis. Katakanlah sebagai pemburu keperawanan.
Dan poin utamanya adalah mau seperti apapun seorang Arka, Arka tetaplah Tuan Muda dari keluarga kaya yang hanya bisa menghamburkan uang, yang hanya bisa menghabiskan harta milik orang tua dan yang hanya bisa bersenang-senang. Mereka adalah tipe orang yang tidak perlu pusing memikirkan masalah uang karena semua yang di butuhkan sudah ada, terpenuhi dan tercukupi.
Casey menggelengkan kepala, ada apa dengan dirinya? Kenapa dia berpikir sampai sejauh itu? Kenapa dia harus melelahkan pikirannya sendiri untuk memikirkan hal tidak penting semacam itu? Padahal, itu sama sekali bukan urusannya. Di tambah, dia tidak perlu melibatkan diri dalam urusan pribadi kliennya.
Arka memiringkan sedikit kepalanya. Lalu dia menaikan sebelah alisnya. "Kenapa? Apa ada yang salah?" Arka bertanya setelah melihat Casey menatapnya tanpa kedip. Membuat dia penasaran, apa yang sebenarnya sedang gadis itu pikirkan?
Sejujurnya Arka merasa terganggu dengan tatapan tajam yang Casey layangkan padanya. Rasanya, tatapan itu bukan tatapan memuja melainkan tatapan penghakiman. Entah gadis itu sedang mengumpat atau sedang menilai kejelekannya di dalam hati. Apapun itu, yang jelas itu bukan sesuatu yang positif.
Imajinasi Casey buyar. Dia memutar bola matanya "Tidak ada." Jawabnya canggung dengan senyum tipis yang di paksakan. "Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu." Casey menunjuk sebuah baju dan sebuah celana yang dia letakkan di atas ranjang.
"Baiklah." Arka berjalan ke arah ranjang dan segera memakai pakaiannya. "Terima kasih." Ucapnya kemudian.
"Sudah menjadi tugasku."
"Tapi kamu bukan pembantuku."
Casey menaikan sebelah alisnya. "Lantas?"
"Kamu adalah wanitaku." Selama tujuh hari. Arka memperjelas di dalam hati.
"Apa? Wanita mu?"
Arka menganggukkan kepala. "Iya."
Casey terkekeh. "Kamu ini manis sekali."
"Banyak yang bilang begitu."
"Narsis."
"Biar narsis tapi tampan, bukan?
"Arka." Casey berteriak nyaring. Dia tidak tau kenapa Arka semenyebalkan ini sampai begitu gigih menggoda dirinya.
"Aku di sini. Tidak perlu memanggilku dengan suara keras." Arka mendudukkan diri di samping Casey di atas ranjang.
Casey tertawa. Dia tidak tau kenapa Arka begitu menggemaskan sampai membuat dirinya merasa nyaman saat berada di samping pria itu.
Sejujurnya, hal seperti ini tidak sekalipun terbersit dalam kepalanya. Pertama, Casey menganggap pria yang harus dia temani adalah orang tua. Ke dua, selain kliennya ternyata masih muda, pria itu juga pintar mencairkan suasana. Membuat kecanggungan yang sempat tercipta di awal, hilang seketika dan berganti dengan sesuatu yang mampu memberikan kesan akrab di pertemuan pertama mereka.
Sejenak hening. Baik Casey ataupun Arka, tidak ada yang berbicara lagi. Membuat keadaan seketika menjadi sunyi. Hanya suara televisi yang terdengar meski tidak ada yang melihat layar televisi. Baik Arka atau Casey, keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing.
"Kamu bisa tidur lebih awal kalau kamu mau." Arka memecah keheningan di antara mereka. Dia juga sangat lelah dan dia tidak berniat untuk melakukan apapun malam ini.
Mata Shivani berbinar. Dia memang tidak ingin melakukan apapun malam ini. Lebih tepatnya adalah dia belum siap. Tapi, apa Arka serius dengan ucapannya?
"Apa boleh?" Shivani bertanya dengan nada tidak percaya seolah apa yang Arka katakan belum bisa meyakinkan dirinya bahwa perkataan itu benar adanya.
"Mm." Arka mengangguk perlahan. "Tentu saja. Ganti pakaianmu dan tidurlah." Selesai berkata, Arka mematikan televisi. Setelah itu dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Casey tersenyum lembut. Arka ini benar-benar sulit di prediksi. Sebentar terasa sangat mengasyikkan namun sebentar lebih mengasyikkan lagi. Membuat Casey merasa kalau dia berhak memberikan yang terbaik untuk pria itu terlepas dari apakah dia menyukainya atau tidak.
Casey beranjak. Dia mengambil pakaian tidurnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Dia mencuci muka untuk menghapus riasannya. Melepas softlens dan dia segera mengganti pakaiannya dengan cepat.
Selesai, Casey segera keluar dari kamar mandi.
Melihat Arka terbaring di atas ranjang tanpa selimut dan tertidur dengan mudahnya, Casey tersenyum kecil. Kesimpulannya adalah Arka pasti kelelahan. Pasti.
Casey berjalan mendekat lalu dia mendudukan dirinya pada tepi ranjang. Dia melihat pria itu penuh selidik.
Wajah yang tampan saat tertidur pun masih sangat tampan. Berbeda dengan dirinya yang bukan apa-apa, yang bukan siapa-siapa.
Casey menyelimuti tubuh Arka sampai leher. "Selamat malam, Arka."
***
Pagi harinya.
Casey menggeliat saat merasakan mentari menerobos masuk melalui celah jendela. Udara yang berhembus terasa hangat. Semalam dia menggigil kedinginan karena dia tidak berani mematikan AC, dia takut Arka tidak nyaman kalau tanpa AC. Jadi dia membungkus tubuhnya menggunakan selimut yang sangat tebal. Namun saat pagi hari, udara berubah seolah tidak ada tanda tanda AC menyala tadi malam. Mungkin, seseorang mematikannya. Iya, seseorang. Dan seseorang itu pastilah Arka.
Apa?
Arka?
Casey membuka matanya seketika.
"Selamat pagi." Arka menyapa begitu melihat Casey membuka matanya. Cup. "Morning kiss." Tambahnya setelah berhasil mencuri sebuah ciuman dari bibir Casey.
Casey yang tidak mengenakan riasan apapun, terasa lebih natural dan Arka merasa perlu meluangkan waktu di pagi hari untuk menatap lekat wajah gadis itu.
Casey tersenyum saat mendapat sebuah ciuman di pagi hari dari Arka. Membuat wajahnya seketika berubah merah. Ciumannya, ciuman pertamanya.
Tapi itu bukan masalah besar karena poin utamanya adalah Casey bau, belum mandi, belum mencuci muka, belum menggosok gigi, belum lagi penampilannya berantakan dan jelek tanpa riasan. Tapi kenapa Arka justru bersedia menciumnya saat kondisinya sejelek ini? Benar-benar pria tidak terduga.
"Kenapa matamu berubah?" Arka bertanya setelah mendapati manik mata biru milik Casey berubah menjadi cokelat pekat.
Apa? Casey tersentak. Namun setelah ingat kalau dia tidak memakai softlens, dia mengerti kenapa Arka bertanya seperti itu.
"Aku melepas softlensnya." Casey meringis sembari menyentuh matanya. "Kenapa? Apa terlihat aneh?" Casey takut Arka tidak menyukainya, tidak menyukai dirinya, tidak menyukai penampilannya.
Arka menggeleng perlahan. "Tidak. Kamu sama sekali tidak aneh. Kamu justru terlihat lebih cantik saat seperti ini." Sejujurnya iya. Arka tidak begitu suka dengan gadis yang banyak berdandan, banyak tingkah atau terlalu berlebihan dalam segala hal.
Casey cemberut "Apa kamu menyindirku?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu cantik kalau seperti ini. Natural dan itu tampak sesuai dengan usiamu yang mungkin baru dua puluhan." Arka menjelaskan berdasarkan realita. Casey lebih cantik saat seperti ini. Titik tanpa koma.
Casey mengulas senyum tipis. Sejujurnya dia juga merasa tua dengan riasan berlebih seperti itu. Tapi karena kebanyakan pria menyukainya, dia pikir Arka juga menyukainya.
"Satu lagi, kamu juga tidak perlu menjadi orang lain di depanku. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri, dirimu yang apa adanya." Arka menambahkan setelah tidak mendapat jawaban apapun selain senyum tipis dari Casey.
Casey memutar bola matanya. Baiklah kalau dia memang tidak perlu merias dirinya secara berlebihan, tapi bagaimana dengan menjadi dirinya sendiri sementara dirinya yang sebenarnya adalah kampungan? Apa Arka masih akan menyukainya?
Casey mengangguk tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya.
"Kalau begitu, bersihkan dirimu dan kita akan sarapan." Arka bangkit sembari merapikan pakaian dan merapikan rambutnya yang rasanya kembali berantakan.
Casey menyipitkan mata. "Kamu rapi sekali? Apa kamu akan pergi pagi-pagi begini?" Tanyanya setelah melihat Arka begitu rapi. Mengenakan kemeja warna maroon dengan celana bahan berwarna hitam, juga rambut yang di sisir rapi ke belakang. Ngomong-ngomong.. kapan Arka mengganti pakaiannya? Kapan pria itu mandi dan berganti pakaian? Kenapa dia tidak menyadari saat pria itu bangun dan melakukan semua itu?
"Iya. Aku harus pergi ke perusahaan untuk mengurus sesuatu." Arka sengaja tidak membangunkan Casey karena dia pikir, Casey kelelahan. Terlebih, semalam Casey tampak tidak bisa tidur karena kedinginan. Membuatnya bangun pada dini hari untuk mematikan AC, lalu mengerjakan tugas kuliahnya dan tidak tidur lagi setelah itu. Itu sebabnya, pagi buta dia sudah rapi dengan pakaiannya.
"Apa itu harus?" Casey benci mengatakan kalau dia tidak mau di sini sendirian. Tapi sayangnya, hanya kalimat itu yang bisa terlontar dari mulutnya. Terlebih, Arka sudah membayarnya mahal, apa pria itu tidak rugi kalau tidak melakukan apapun padanya?
Arka menganggukkan kepala. "Harus. Tapi aku janji hanya sebentar. Aku akan kembali secepat yang aku bisa." Ucapnya tanpa ada keraguan sedikitpun. Dia merasa cukup nyaman saat bersama Casey, dan dia pikir, tinggal bersama seorang gadis, bukan hal yang buruk.
"Baiklah." Jawab Casey pada akhirnya. "Kalau begitu, aku akan menunggu kepulanganmu."
***
Casey turun ke lantai bawah setelah selesai membersihkan diri. Di sana, di ruang makan, Arka duduk menghadap beberapa jenis makanan yang hampir semuanya adalah menu makanan Indonesia.
Sampai di lantai bawah, Casey segera menyusul Arka sembari menatap pria itu dengan seksama. Semalam mereka tidak melakukan apapun. Arka juga sama sekali tidak menyentuhkan. Hanya sebuah ciuman di pagi hari yang terasa hangat di bibirnya.
Menjadi pembuktian bahwa mungkin Arka tidak seburuk yang Casey pikirkan di awal.
Melihat Casey mendekat ke arahnya, Arka menatap lekat gadis itu tanpa kedip. Mengenakan U shaped dress yang panjangnya hanya separuh paha, menunjukkan betapa menggodanya seorang wanita. Kaki jenjang serta da-da yang besar, sepertinya akan menjadi pemandangan indah yang bisa terus dia saksikan selama tinggal bersama gadis itu.
Merasa di perhatikan, Casey menutup dadanya menggunakan satu tangannya. Dia tidak nyaman dengan pakaian seperti ini, namun sayangnya hanya pakaian seperti ini yang Amira kemas untuknya.
Bodohnya Casey adalah dia terlalu percaya kalau Amira bisa di percaya untuk berbelanja dan mengemas pakaiannya. Dan sekarang baru dia menyesal karena menghabiskan waktunya di salon dan membiarkan Amira melakukan semua hal yang seharusnya tidak Amira lakukan.
"Fiuh." Casey menghela nafas panjang.
Arka tersenyum tipis saat melihat Casey berusaha menutupi d**a. "Percuma, aku sudah melihatnya." Ucapnya santai tanpa memperdulikan wajah Casey yang memerah karena malu. "Kenapa? Apa kamu malu?"
"Hanya tidak terbiasa." Menjadi tontonan para pria. Casey melanjutkan di dalam hati. Tapi, karena Amira berbaik hati menyiapkan pakaian seperti ini untuknya, bukankah akan mengecewakan kalau dia tidak memakainya?
Omong kosong.
Semua itu jelas hanya penghiburan diri. Pada nyatanya, Casey hanya sedang si-al karena tidak memiliki pakaian lain. Itu sebabnya, dia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan kata kata itu.
"Apa kamu ingin duduk di pangkuanku?" Arka berkata dengan lembut sembari menepuk pahanya. "Kalau kamu tidak mau, juga tidak masalah. Aku tidak akan memaksa." Arka memang bukan pria mes-um, tapi dia tetap pria normal yang akan terangsang saat melihat seorang gadis yang cocok dan sesuai dengan seleranya dari segi apapun. Entah dari bentuk tubuhnya, dari karakteristiknya, dari cara bicaranya ataupun dari adab dan perilakunya. Dan sepertinya, gadis polos seperti Casey adalah yang sangat menarik untuk di dekati, menurutnya.
Casey mendekat dengan malu malu. Setelah itu dia mendudukkan dirinya pada pangkuan Arka dengan gaya menyamping. Tangannya melingkar pada leher pria itu. Bola matanya menatap Arka dengan tatapan lembut seolah dia sedang memberitahukan kalau dia melakukannya atas keinginannya sendiri bukan karena Arka yang memaksa.
Melihat Casey mengikuti keinginannya dengan patuh tanpa ada bantahan, Arka mengulurkan tangannya. Dia merapikan helaian rambut Casey yang sedikit menutupi wajah. "Sejujurnya aku tidak tau alasan kenapa aku memintamu untuk duduk di sini." Arka mengatakan yang sebenarnya. Tidak pernah sekalipun terbersit dalam otaknya untuk menyentuh Casey sampai sejauh ini meski tadi malam mereka tidur di atas ranjang yang sama.
"Aku juga tidak tau kenapa aku duduk di sini." Sisi lembut Casey yang sudah lama tenggelam, seakan keluar saat bersanding dengan Arka yang santai dan penuh kelembutan. Sejujurnya dia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri karena tubuhnya seolah mendekat dengan sendirinya tanpa bisa dia kendalikan. Entah dia melakukannya karena uang, atau karena dia mulai mengagumi sosok pria itu.
Arka terkekeh. "Benarkah?"
"Mm."
"Tapi kamu terlihat polos dan sangat pemalu untuk ukuran seorang gadis malam." Yang masih perawan. Perlu di ingat, Casey adalah gadis malam yang masih perawan. Tentu saja Arka mengetahuinya dengan sangat jelas.
"Karena aku memang bukan gadis seperti itu." Lebih baik Casey mengaku saja kalau dia tidak berpengalaman. Setidaknya mengaku di awal masih lebih baik dari pada Arka kecewa karena dia jauh dari kata berpengalaman.
Arka menaikan sebelah alisnya. "Jadi?"
"Aku tidak berpengalaman."
Mata Arka membulat. Tidak berpengalaman? "Lalu, bagaimana dengan ciuman?" Sekalipun tidak berpengalaman, paling tidak hanya ciuman seharusnya Casey sudah pernah melakukannya, bukan? Itu sebabnya Arka bertanya dan dia cukup penasaran dengan jawabannya.
"Aku.. aku.." Casey menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Sebenarnya aku tidak pernah." Ingin berbohong, tapi Casey tidak bisa. Dia tidak pernah berciuman adalah fakta. Jadi dia merasa tidak perlu membungkus itu.
Arka tertawa. "Benarkah?" Arka tidak percaya ini. Casey tidak pernah berciuman? Lantas, apakah morning kiss yang dia lakukan pada Casey di atas ranjang adalah ciuman pertama gadis itu?
Di tertawakan, raut wajah Casey berubah buruk. "Apa itu sangat buruk?" Tidak pernah berciuman, memang apa salahnya?
Arka menghentikan tawanya. "Tidak. Hanya.. wow.. wow.. wow.." Arka mengulang kata "wow" sampai tiga kali dengan suara yang kian rendah di setiap katanya. Dia bukan mengejek, dia hanya ingin menunjukkan betapa dia sangat terkejut dan kagum di waktu bersamaan dengan penuturan yang Casey lontarkan.
Ngomong-ngomong, dimana Aruna menemukan gadis seperti ini? Bukankah gadis sepolos Casey populasinya sudah sangat langka, sudah sangat jarang di temukan? Tapi, Aruna bisa menemukan satu untuknya, Arka merasa sangat beruntung.
Casey tidak mengerti kemana arah pembicaraan Arka dengan semua kata-kata itu. Apa Arka sedang memuji atau sedang mengejeknya? "Tapi, ucapanmu membuatku terdengar sangat buruk."
"Tidak. Kamu sama sekali buruk. Justru kamu yang terbaik. Itu juga yang membuatku ragu." Apakah dia harus melakukannya atau tidak. Arka merasa tidak berhak melakukan hal tidak bermoral dengan seorang gadis yang masih sangat lugu. Yang sebenarnya bisa di manfaatkan, namun dia tidak melakukannya. Yang sebenarnya bisa dia bohongi, namun dia tidak melakukannya. Yang sebenarnya bisa dia kendalikan, namun dia memilih untuk tidak melakukannya.
Ragu? Meski penasaran, namun Casey tidak bertanya lebih jauh. Dia lebih memilih bungkam dan tidak menanyakan apapun meski sejujurnya dia sangat ingin tau apa artinya itu.