ADC ~ Bentuk Permintaan Maaf

2564 Kata
Malam harinya. Arka kembali dari perusahaan setelah langit berubah gelap. "Aku akan mengirimkan menu sarapan untukmu setiap paginya. Jadi, aku harap kamu menghargaiku dengan memakannya." Aruna memecahkan kesunyian di dalam mobil tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya. Aruna memasak pagi-pagi sekali dan dia meminta Radit untuk mengantar hasil masakannya ke kediaman utama agar Arka bisa sarapan dan tetap sehat selama berada di sini atau Mama dan Papa akan membunuhnya kalau sampai Arka sakit saat bersamanya. Namun, terlepas dari apakah Mama dan Papa marah atau tidak, sebagai seorang Kakak, dia sangat menyayangi Arka, lebih dari apapun. "Iya, aku juga memakannya pagi ini." Bersama gadis itu. Arka mengalihkan pandangan ke luar jendela. Dia sudah berkata akan pulang lebih awal. Tapi, karena ada keadaan mendesak yang mengharuskan dirinya untuk pulang malam, dia tidak punya pilihan lain. "Lalu bagaimana dengan pengalaman pertamamu? Apakah itu menyenangkan?" Aruna menyiapkan seorang gadis yang menurut Radit, lumayan. Jadi seharusnya Arka puas dengan pelayanan yang di berikan. Dan seharusnya Arka menghabiskan sepanjang malam untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan tanpa tidur. "Jangan menggodaku." Arka tidak suka pembahasan seperti ini yang terkesan Aruna sedang mengolok-oloknya. "Kami tidak melakukan apapun. Belum." "Belum tapi bukan berarti tidak, bukan?" Aruna membayar gadis itu dengan harga yang lumayan tinggi. Tapi, semua kembali lagi apakah Arka mau melakukannya atau tidak. Tidak melakukan juga merupakan hal yang baik. Lagi pula, se-ks tanpa cinta, terasa sangat menggelikan. Dan dia tidak bisa membayangkan kenapa beberapa orang bisa hidup dengan cara seperti itu. Arka mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku tidak tau." "Aku yakin kamu masih punya hati nurani. Ingat, kakakmu ini juga seorang perempuan. Bayangkan kalau ada seorang pria yang memperlakukan diriku seperti itu? Sebagai adikku, bukankah kamu sangat marah?" Perumpamaan yang tepat adalah dirinya. Selain Aruna adalah seorang wanita, dia juga masih perawan yang akan melakukan se-ks untuk pertama kalinya dengan pria yang dia cintai. "Iya. Itu sebabnya aku tidak menyentuhnya." Sedikit di perjelas, Arka menyentuh namun tidak menyetubuhinya. "Itu baru pria jantan." "Tapi kalau aku tidak menyentuhnya, bukankah kamu akan rugi?" Arka tau kalau Aruna mengeluarkan banyak uang untuk Casey. Kalau tidak, tidak mungkin Aruna mendapatkan gadis sebaik Casey, gadis terbaik yang pernah ada. Aruna terkekeh. "Bukan aku yang rugi, tapi kamu yang akan rugi." "Sialan!" Arka mengumpat. Jadi apa yang sebenarnya Aruna inginkan? Sesaat Aruna mengatakan kalau dia tidak perlu menyentuh Casey, namun sesaat kemudian Aruna justru menjadi provokator yang memprovokasi dirinya agar meniduri Casey. Dasar wanita aneh. "Turun! Kita sudah sampai." Aruna berkata setelah menghentikan mobilnya tepat di depan halaman kediaman utama Reynand. Arka melepas sabuk pengamannya lalu dia membuka pintu mobil hendak turun sampai suara Aruna menghentikan pergerakannya. "Tunggu dulu!" Aruna mengambil sebuah amplop berwarna cokelat dari dalam tasnya. "Untukmu." Ucapnya sembari menyodorkan amplop itu kepada Arka. Arka menyipitkan mata. "Apa itu?" "Uang." Arka menerima amplop pemberian Aruna lalu dia membukanya untuk melihat yang ternyata isinya memang uang, namun bukan dalam pecahan Rupiah, melainkan dalam pecahan Peso yang merupakan mata uang Filipina. "Apa menurutmu aku terlihat seperti orang yang kekurangan uang?" Arka berkata sembari nenutup amplopnya lagi. "Sejujurnya.. iya." Aruna tertawa dengan jawabannya sendiri. "Kamu terlihat miskin dan tidak punya uang." Tambahnya. "Haish." Arka mendesis. "Apa di matamu aku terlihat seperti itu?" "Iya." "Untuk ukuran seorang Kakak, kamu sangat kejam." "Terserah." "Tsk tsk tsk." Arka menyimpan amplopnya dan segera turun dari mobil. Setelah itu dia melambaikan tangan saat mobil Aruna meninggalkan kediaman. Bola matanya terus mengawasi sampai mobil Aruna menghilang dalam kegelapan. "Fiuh." Arka menghela nafas panjang. Meski tidak ada pekerjaan yang sangat berat hari ini di perusahaan, tapi tetap saja itu melelahkan untuknya yang membagi otak menjadi dua bagian untuk memikirkan pekerjaan dan memikirkan tugas kuliah. Arka bergegas masuk ke dalam rumah sembari melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Dia melepas jasnya kemudian menyampirkan di lengannya. "Selamat datang." Casey yang mendengar suara mobil memasuki kediaman, begegas turun untuk melihat apakah itu Arka atau bukan. Namun saat melihat pria itu memasuki rumah dalam keadaan kusut, dia bisa menebak kalau pria itu pasti kelelahan. Mendengar suara ini, Arka mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu tatapannya berhenti pada sesosok gadis yang sedang berdiri menyambut dirinya pada anak tangga paling bawah. Arka tersenyum. "Mm." Casey berjalan menghampiri Arka. "Apa kamu lelah?" Casey berdiri di depan Arka. Tangannya melepas dasi yang Arka kenakan dengan gesit. Setelah terlepas, dia mengambil jas milik pria itu untuk kemudian dia bantu membawanya. "Hanya sedikit." Arka meraih tangan Casey lalu dia mengaitkan jemarinya pada jemari Casey. Dia mencoba menjadi dirinya yang romantis. Jadi dia akan memulai dari hal paling sederhana seperti ini. Casey terkejut sembari menatap tangannya yang terjalin dengan tangan Arka. "Apa kamu sedang mencoba menjadi romantis?" Harus Casey akui kalau sepertinya.. Arka berhasil. "Sepertinya, aku harus mandi." Arka tidak menjawab pertanyaan Casey. Dia justru mengalihkan pembicaraan dengan cepat. Setelah itu dia menyeret tangan Casey yang masih menatapnya dengan tatapan penuh tanya menuju ke lantai dua. Casey tersenyum dengan wajah memerah. "Kalau begitu, aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Ucapnya kemudian untuk menutupi kegugupan yang sedang dia rasakan. Mereka naik ke lantai dua dengan tangan yang terjalin. Meski mereka hanya dua orang asing yang kebetulan di pertemukan di sini secara tidak sengaja, namun sikap santai dan dewasa dari keduanya, mampu membuat keduanya menjadi cocok satu sama sekali. Sampai di kamar tidur, Arka mendudukkan dirinya di atas sofa sementara Casey menyiapkan air hangatnya. "Airnya sudah siap." Casey keluar dari kamar mandi lalu dia menghampiri Arka yang masih duduk di atas sofa. Pria itu masih sibuk berkutat dengan dua laptopnya. Laptop yang sedari awal memang sudah berada di sini karena saat dia memindahkan isi koper milik pria itu, dia tidak menemukan laptop, yang ada hanya beberapa lembar pakaian casual. Sedangkan kemeja, jas, dasi bahkan sepatu, semua memang sudah di sediakan di dalam lemari. "Mm." Arka beranjak tanpa menutup laptopnya. Di layar, terpampang nyata tugas kuliah yang sedang dia kerjakan. Namun dia membiarkannya begitu saja tanpa khawatir Casey melihatnya. Arka berjalan ke kamar mandi setelah lebih dulu Casey membantu melepas pakaiannya. Setelah itu dia menutup pintunya dari dalam, namun kali ini dia tidak menguncinya. Di sini, di kamar tidur ini, hanya ada dia dan Casey, dan kalau ada orang yang menerobos masuk, di pastikan itu adalah Casey. Sementara Arka mandi, Casey menyiapkan pakaian ganti untuk pria itu. Setelah siap, dia berjalan ke arah sofa hendak membereskan pekerjaan Arka yang menggunakan dua laptop untuk bekerja. Entah apa yang di kerjakan pria itu. Dia tidak tau dan tidak peduli. Namun saat Casey melihat tugas Managemen Bisnis terlampir pada layar laptop milik Arka, Casey menyipitkan mata. Kenapa Arka mengerjakan tugas-tugas itu? Belum sempat memikirkan jawabannya, Casey terkejut saat tiba-tiba ruangan menjadi sangat gelap. Tidak ada sesuatu yang bisa di lihat selain gelap dan gelap. "Aa.." Casey menjerit. Dia takut gelap dan tidak tau kenapa tiba tiba semua lampu di rumah ini padam. "Arka." Casey memanggil nama Arka sembari meraba di sekitarnya. Dia takut gelap sedangkan dia hanya sendirian di sini. "Aku takut, Arka." Tangannya masih sibuk meraba berharap dia bisa secepatnya menemukan pintu kamar mandi. Beberapa saat kemudian, setelah pintu kamar mandi berhasil teraba, dia mulai mencari gagang pintunya. Setelah dapat, Casey segera membukanya tanpa ragu. Casey berjalan masuk menuju bathtup. Namun tidak ada siapapun di dalam bathtub. Dia kembali meraba dan berjalan menuju shower. Dia yakin kalau sekarang Arka berada di shower karena di bathtub sama tidak ada orang. Untung saja dia sudah hafal letak bathtub dan juga letak shower, memudahkannya untuk mencari meski dalam keadaan gelap. Casey masih meraba dan saat tangannya menyentuh kulit manusia yang dia yakin itu adalah Arka, Casey segera memeluk pria itu erat. "Arka, aku takut." *** Arka yang sedang membilas rambutnya, terkejut saat tiba-tiba lampu padam. Dia memutar bola matanya? Ada apa ini? Tanyanya di dalam hati. Belum menemukan jawaban atas pertanyaan ini, air yang semula mengguyur kepalanya, mendadak tidak mengalir. Dia menyentuh shower dan dia mencoba menekan tombolnya sampai berkali-kali. Tapi sayang, airnya tetap tidak mengalir. "Si-al!" Arka mengumpat. Dia yang telanjang bulat tanpa sehelai benangpun mulai panik, dia pikir Casey pasti takut gelap karena tadi dia seperti mendengar jeritan dari arah luar. Belum sempat Arka keluar dari tempat dimana shower berada, dia terkejut saat tangan seseorang menyentuh dadanya. Dan beberapa saat kemudian, "Arka, aku takut." Suara itu terdengar bersamaan dengan pelukan hangat di tubuhnya. Arka membatu di tempatnya dalam keadaan linglung. Satu detik. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Keadaan masih sunyi tanpa suara apapun. Casey menyembunyikan wajahnya pada da-da bidang Arka tanpa tau kalau ekspresi Arka seperti orang bo-doh yang baru di tipu orang. Antara tegang, terkejut dan tidak tau harus berbuat apa, membuat ekspresi wajah Arka sulit di deskripsikan. Beberapa saat kemudian, Arka dan Casey terkejut saat tiba-tiba lampu menyala, bersamaan dengan air yang tiba-tiba mengalir membasahi tubuh mereka berdua sampai mereka tersadar akan situasi aneh yang baru saja terjadi. Arka menundukan kepala menatap Casey yang juga sedang mendongak menatapnya lekat. Di bawah air yang mengalir mereka saling memandang seolah mereka sedang menerka isi pikiran masing-masing. "Aku pikir, kamu mandi di bathtub?" Casey buka suara tanpa mengalihkan pandang dari wajah Arka. "Iya. Sebelum aku berendam di bathtub, aku mencuci rambutku lebih dulu di shower." Jawab Arka yang juga masih menatap Casey lekat. "Sejujurnya, kamu membuatku gugup." "Kamu juga membuatku gugup." Casey menimpali. "Bajumu basah." "Tubuhmu juga." "Iya." Jawab Arka. "Kita sama-sama basah." Sejenak hening. Baik Arka atau Casey, tidak ada yang bicara lagi. "Ngomong-ngomong, hpmu bergetar." Casey berkata saat merasakan sesuatu milik Arka bergerak-gerak di tubuhnya. Arka terkekeh. "Tapi aku meninggalkan hpku di atas meja." Mendengar jawaban ini, Casey menoleh ke bawah secara refleks, dan beberapa saat kemudian dia menjerit. "Aaa.." Dia lari terbirit keluar dari kamar mandi setelah melihat milik Arka secara langsung dengan sangat jelas. Arka hanya terkekeh melihat Casey yang menghilang seperti kilat. "Gadis itu benar-benar pemalu." *** Dua puluh menit kemudian. Dua puluh menit kemudian Arka keluar dari kamar mandi. Seperti biasa, dia hanya mengenakan selembar handuk untuk menutupi area sensitifnya. Sedangkan da-danya dia biarkan terbuka begitu saja. Arka mengedarkan pandang ke sekeliling, namun dia tidak melihat Casey dimanapun. Kemana perginya gadis itu? Tanyanya di dalam hati. Melihat pakaiannya sudah di siapkan oleh Casey dan di letakan di atas ranjang, Arka mendekat untuk mengambilnya. Namun, dia mengulas senyum tipis saat melihat sesuatu terbungkus rapat di dalam selimut. Arka mengambil pakaian dan celananya lalu dia memakainya dengan cepat. Setelah itu dia mendudukan diri di tepi ranjang. "Bajumu basah, kamu harus menggantinya atau kamu akan sakit." Arka berkata dengan suara lembut. Berbicara dengan sesuatu, tidak, sebenarnya dia sedang berbicara dengan seseorang di balik selimut. "Aku sudah mengganti pakaianku." Sebenarnya Casey tidak mau menjawab, tapi karena dia tidak ingin membuat Arka khawatir, dia terpaksa menimpali ucapan Arka meski dia sangat enggan. "Tapi, kamu bisa pengap kalau menutup seluruh tubuhmu seperti itu." Arka bisa menebak kalau sekarang wajah Casey pasti memerah karena malu. Dan rona di wajah itu membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum saat membayangkannya. "Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa. Aku suka seperti ini." Wajah Casey benar benar merah, dan dia tidak mau Arka melihatnya atau dia akan di ejek sampai mati. "Aku ingin bicara serius." "Katakan saja! Aku bisa mendengar dengan sangat jelas." "Fiuh." Arka menghela nafas panjang. "Sebenarnya aku ingin minta maaf." "Apa? Maaf?" Casey tersentak. "Tapi kamu tidak salah apapun." Arka memang tidak salah, jadi kenapa pria itu harus minta maaf? "Karena aku tidak menepati janji." Di dalam selimut, Casey memutar bola matanya. Janji? Janji apa? "Makanya buka selimutnya!" Arka menambahkan setelah tidak mendapat tanggapan apapun dari Casey. Casey membuka selimutnya dengan enggan. Satu-satunya orang yang tertangkap penglihatannya hanyalah Arka yang sudah berpakaian. "Katakan! Janji apa itu?" Casey tidak berani menatap Arka. Dia malu. Titik tanpa koma. "Aku sudah bilang akan pulang lebih awal. Tapi aku tidak menepatinya. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kita berjalan-jalan di luar?" Arka mengatakan hal ini dengan antusias. Terlebih, dia sudah mendapat uang pecahan Peso yang bisa dia gunakan untuk bertransaksi selama berada di sini. Jadi, apapun yang Casey minta, dia pasti akan menurutinya. Mata Casey berbinar. "Keluar?" Casey tidak begitu memperhatikan kalimat pertama dan kalimat ke dua yang Arka katakan. Fokusnya justru ada pada kalimat terakhir dimana isinya adalah ajakan untuk keluar dan berjalan-jalan. Arka mengangguk perlahan. "Iya. Keluar dan mencari udara segar. Bukankah kamu belum pernah berjalan-jalan menikmati keindahan malam di Manila?" Casey menggeleng. "Bagus. Kalau begitu sekarang adalah waktu yang tepat untuk menghilangkan kebosanan mengingat kamu akan terkurung selama tujuh hari di sini." Arka memperjelas ucapannya. Casey mengangguk perlahan. "Kalau begitu, ganti pakaianmu dan kita akan pergi." Ucap Arka. "Kamu tau, kamu tidak mungkin memakai pakaian seperti itu." Arka menunjuk da-da Casey yang menonjol dan hampir terlihat separuhnya karena pakaian yang Casey kenakan berbelahan da-da rendah. "Mm." Casey tidak pernah menyangka kalau Arka akan berbaik hati mengajaknya keluar. Itu adalah bonus dalam pekerjaannya, yaitu di ajak melihat keindahan kota Manila. Meski sebenarnya jalan jalan tidak masuk daftar kegiatan yang Amira tulis untuk menyenangkan klien, tapi tidak ada salahnya kalau Casey menghibur diri saat Arka mengajaknya. Casey turun dari ranjang lalu dia berjalan ke arah lemari. Pakaian bawaannya memang di tata sedemikian rupa di dalam lemari. Tapi masalahnya adalah kenapa semua pakaiannya seperti ini? Si-al! Sepertinya Casey sudah melupakan poin pentingnya, yaitu Amira hanya mengemas pakaian yang maha seksi untuk dia kenakan di sini. Jadi, jangan harap dia akan menemukan celana jeans serta kaos longgar di antara banyaknya pakaian yang dia bawa. Arka menyipitkan mata saat mendapati Casey tidak kunjung mengganti bajunya. Dia berjalan mendekat dan dia mengikuti ke arah pandang Casey yang sedang menatap pakaian-pakaian wanita di dalam lemari. Melihat isi lemarinya, Arka tersenyum simpul. "Siapa yang mengemas?" Tanyanya penasaran. Dia tidak berpikir Casey sedang memilih pakaian terbaik yang bisa di kenakan, tapi dia menebak kalau Casey sedang memilih pakaian paling tertutup yang bisa di pakai. "Temanku." Jawab Casey singkat "Pantas kamu tampak tidak menyukainya." Selesai berkata, Arka mengambil salah satu gaun yang paling tertutup di antara gaun yang lainnya. Adalah sebuah gaun bertali model A yang panjangnya hanya setengah paha. Namun itu masih lebih baik di banding gaun yang lain. "Pakai ini saja!" Arka berkata sembari menyodorkan gaun pilihannya kepada Casey. Casey diam. Dia tidak menanggapi juga tidak menerima. Dia justru sedang berpikir keras. Apa pantas dia pergi keluar dengan pakaian seperti itu? Gaun berwarna peach ini sebenarnya cukup aman di kenakan, selain gaunnya bertali, gaunnya juga tidak terlalu pendek, masih bisa menutupi setengah pahanya. Hanya setengah paha, okey? Melihat keraguan yang Casey tunjukan, Arka membuka pintu lemari di sebelahnya. Lalu dia mengambil sebuah hoodie yang dia bawa dari Kampung halamannya "Pakai ini juga!" Ucapnya sembari menyodorkan hoodie warna hitam kesayangannya kepada Casey. Sejauh yang Arka ingat, dia tidak pernah berbagi barang barangnya dengan orang lain semenjak masih kecil. Apa lagi kalau itu adalah baju yang di kenakan di badan. Tapi tidak tau kenapa dia tidak lagi takut akan alergi jika pakaiannya di kenakan oleh Casey. "Terimakasih." Casey menyambar gaun serta hoodie yang Arka sodorkan padanya. Setelah itu dia berlalu cepat ke kamar mandi. Casey mengunci pintunya dari dalam setelah itu dia memegang dadanya yang berdegup kencang. Perasaan ini.. sebenarnya apa? Kenapa Arka masih sangat menghormatinya? Berdasarkan prediksinya, seorang pria pasti akan menerkam tanpa ampun kalau sudah di hadapkan dengan seorang wanita cantik dan seksi di depan mata. Casey pikir, Arka juga seperti itu. Tapi kenapa? Kenapa Arka berbeda? Membuat jantung Casey yang semula sehat mendadak sakit karena harus merasakan jutaan kupu kupu berterbangan di sana. Rasanya, ah.. sulit di ungkapkan dengan kata kata. Rasanya, hanya ada empat kata yang ingin dia lontarkan untuk saat ini, yaitu Arka sangat luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN