"Sudah siap?" Arka bertanya setelah Casey keluar dari kamar mandi. Gadis itu sudah mengganti pakaiannya. Mengenakan gaun yang di lapisi hoodie miliknya. Dan penampilan itu tidak terlalu mengecewakan. Gadis itu tetap cantik terlepas dari apapun yang di kenakan.
"Mm." Casey mengangguk perlahan. Dia mengambil salah satu heelsnya lalu dia segera mengenakannya.
"Sekarang, ayo kita lihat apakah ada mobil di garasi." Arka mengulurkan tangannya pada Casey.
Casey menyipitkan mata. "Ada apa ini?" Casey tidak tau maksud uluran tangan Arka untuk apa. Apakah itu untuk uang? Masalahnya dia tidak punya uang
"Berpegangan tangan." Arka meraih tangan Casey, lalu dia menjalinkan jemarinya pada jemari Casey begitu saja tanpa peduli apakah Casey setuju atau tidak. "Kamu ini tidak peka sekali." Arka mengeluh sembari menyeret Casey agar mengikutinya turun ke lantai bawah untuk melihat keadaan garasi. Semoga saja ada mobil di sana. Semoga saja meski dia tidak berharap banyak.
Casey mengikuti dengan patuh tanpa banyak bertanya.
Setibanya di garasi, Arka mengerutkan kening. Keadaan garasi amat sangat kosong bahkan lebih kosong dari hatinya. Dia tidak menemukan apapun di dalam garasi, tidak ada sepeda motor apa lagi mobil.
Arka menoleh ke arah Casey, meminta pendapat. Namun Casey hanya mengangkat bahu, tidak tau.
"Ish ish ish." Arka menggelengkan kepala. "Kenapa tidak ada apapun yang bisa kita kendarai?" Arka tidak mengerti kenapa Aruna begitu pelit. Seharusnya wanita itu menyiapkan mobil agar memudahkannya pergi ke manapun. Bukan malah meminta Radit menjemput dirinya dari rumah, lalu Aruna yang mengantarnya pulang dari perusahaan. Kalau begini, dia kan jadi repot sendiri karena tidak ada yang bisa di kendarai kalau dia ingin pergi.
"Orang itu benar benar payah." Arka mulai mengeluh. "Rumah sebesar ini tapi percuma kalau mobil saja tidak punya. Masa iya aku harus naik bus atau naik taksi saat ingin bepergian?" Arka melanjutkan keluhannya. "Itu kurang efisien. Bahkan sama sekali tidak efisien." Dia menambahkan keluhannya.
Casey tersenyum. "Tidak apa apa. Kita bisa berjalan kaki lalu mencari bus atau taksi. Aku pikir, itu tidak buruk." Casey menyuarakan pendapatnya.
"Tapi di daerah sini tidak ada taksi ataupun bus, Sayang. Kita harus berjalan kaki setidaknya dua puluh menit atau lebih untuk mencapai jalan raya." Arka menjelaskan kalau letak pemukiman ini cukup terpencil dan jauh dari jalan raya. Kenapa bisa begitu, adalah karena orang orang sudah lelah dengan rutinitas dan padatnya Ibu Kota. Itu sebabnya Opa sengaja memilih perumahan di daerah ini agar tenang dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan. "Sedangkan poin utamanya adalah aku tidak ingin kamu lelah." Imbuhnya.
Terlebih, ini bukan tentang dirinya, tapi tentang Casey. Arka jalan kaki, tak apa tak masalah. Tapi bagaimana dengan Casey yang menggunakan heels setinggi itu? Sebagai seorang pria, jiwanya tentu terketuk akan permasalahan kecil namun besar pengaruhnya untuk fisik gadis itu.
Casey menggigit bibirnya saat mendengar ucapan Arka yang untuk pria itu mungkin tidak berarti apapun. Namun untuknya, panggilan sayang dan bentuk kepedulian itu menjadi sangat berarti saat dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk di pedulikan oleh seorang pria. Entah itu Papa ataupun Kakak Prianya. Dan melihat Arka begitu perhatian meski perhatian itu tidak berarti apapun, namun dia sangat menghargainya.
"Percayalah, aku sudah mengalami yang lebih buruk dari ini." Casey menimpali keluhan Arka yang menurutnya tidak perlu di ributkan. Bentuk kepedulian dan kelembutan Arka, dia tentu menghargainya. Namun, satu hal yang tidak pernah Arka ketahui tentang dirinya, yaitu.. dia miskin. Dia bukan anak konglomerat yang kalau kemana-mana harus naik mobil. Tidak jalan kaki dan punya sedikit uang untuk naik angkutan umum atau naik bus saja, sudah untung. Jadi, hanya jalan kaki selama dua puluh menit atau setengah jam, kenapa harus di ributkan?
Menurut Casey, itu tidak masuk akal.
Untuk Arka yang terlahir dalam balutan harta sebagai anak Sultan, tentu saja menjadi masalah pelik seolah Arka bisa mati kalau sampai melakukannya.
Itulah perbedaan nyata antara si kaya dan si miskin yang Casey sebutkan di awal, yang pernah dia bahas dengan Amira. Dan intinya tetap sama, yaitu.. mereka berbeda. Jadi tidak ada penyelesaian apapun.
"Baiklah, kalau kamu memang tidak keberatan, ayo kita berjalan kaki menikmati malam yang indah ini." Arka tidak tau mengapa perasaannya menghangat saat mengingat betapa pengertiannya seorang Casey.
Pertama, Casey tidak mengeluh saat dia berkata harus berjalan jauh. Kalau gadis lain, Arka yakin mereka pasti akan marah dan naik ke kamar tidur dengan bibir mengerucut, tanpa berbicara, dan mereka akan menggerakkan p****t mereka seperti bebek. Tapi, Casey tidak, Casey berbeda. Casey justru berkata seolah berjalan kaki adalah masalah sepele yang tidak pantas di ributkan.
Ke dua, Casey tampak jauh lebih penurut, jauh lebih dewasa dan jauh lebih mandiri dari yang pernah Arka pikirkan. Gadis itu memiliki pola pikir yang mungkin tidak bisa terpikirkan dalam benaknya. Gadis itu benar benar misterius, penuh kejutan dan membuat orang penasaran dengan kehidupan macam apa yang Casey jalani di luar sana selama ini.
Casey hanya tersenyum kecil tanpa menanggapi. Dia tau kalau Arka mungkin tidak berniat untuk mengeluhkan masalah kecil seperti tadi. Dan dia tau kalau niat Arka sangat baik, yaitu tidak ingin membuatnya lelah. Jadi, tidak ada alasan untuknya marah atau dia akan merusak suasana manis yang sudah Arka usahakan dengan susah payah untuk menghilangkan kecanggungan dan kebosanan yang bisa saja terjadi.
Keluar dari rumah, Arka kembali menggenggam erat tangan Casey. Menyusuri jalanan sepi kota Manila pada malam hari, ternyata cukup menyenangkan. Berjalan di bawah pohon Tabebuya berdaun kuning yang rindang. Tampak indah dengan kilau saat daun daun Tabebuya mendapat sorot dari lampu jalan.
Perjalanan dari kediaman utama menuju jalan raya, cukup mengasyikkan dengan pembicaraan tidak jelas yang sesekali akan di selingi kesunyian.
Di tambah, jalanan benar benar sepi karena hanya ada satu atau dua kendaraan yang masuk ke pemukiman. Hal itu sebenarnya sangat wajar Bagaimanapun jalan itu merupakan jalan pribadi milik pemilik perumahan dan hanya menghubungkan ke satu tempat, yaitu perumahan yang keluarga Reynand tinggali. Unit rumah yang jumlahnya sekitar tujuh puluh atau lebih yang hampir semua pemiliknya adalah kalangan menengah ke atas. Jadi, masuk akal kalau tidak ada kendaraan umum yang melintas karena pengawasannya cukup ketat.
Beberapa menit terasa cepat berlalu karena tanpa terasa mereka sudah sampai di jalan raya.
Arka mengajak Casey duduk di salah satu halte di pinggir jalan, mereka berencana naik bus menuju Makati. Perjalanan cukup jauh yang pastinya akan melelahkan. Namun, di sana ada bermacam-macam bar, rumah makan dan toko-toko pakaian yang tersaji di sepanjang jalan. Dan Arka yakin kalau Casey akan menyukainya karena di sana merupakan surga belanja untuk kalangan wanita yang biasanya hobi memilih pakaian sampai berjam-jam.
"Ayo, busnya sudah datang." Arka berkata setelah melihat sebuah bus berhenti di depan mereka. Tangannya dan tangan Casey masih terjalin seolah mereka adalah pasangan kekasih yang sedang berkencan. Meski ide itu sebenarnya tidak buruk, namun mereka hanya orang asing dan hubungan mereka tidak lebih dari sekedar hubungan yang saling menguntungkan. Jadi, mustahil ada perasaan berlebih yang bisa di ciptakan di antara mereka.
"Mm." Casey mengangguk perlahan.
***
Makati.
Arka dan Casey duduk berhadapan di Finders Keepers di Makati. Sebuah bar berdesign interior kitsch yang menyenangkan serta nyaman. Terdengar musik retro dengan lagu For Sweet Memories yang mengalun merdu.
Casey merasa seperti berada di tahun delapan puluhan, dengan pakaian kebaya. Tahun dimana dia belum di lahirkan. Bahkan mungkin Mama dan Papa belum bertemu satu sama lain. Dan sekarang dia di beri kesempatan untuk mendengarkan lagu ini di Negara asing, di tempat entah berantah dengan seorang pria yang merupakan kliennya.
Meski Casey terdampar di sini dengan cara yang salah, namun dia sangat menghargai itu dan dia tidak menyesal sudah memilih jalan ini. Dia justru sangat lega karena kesalahan terkutuk ini bisa membawanya ke pengalaman baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Tidur satu ranjang, di cium di pagi hari, berpegangan tangan, bahkan pergi berdua dengan seorang pria, tidak pernah sekalipun terbersit dalam benak Casey. Dan bisa merasakan itu, dia cukup bahagia meski dia melakukannya hanya karena uang.
Casey memejamkan matanya. Dia menikmati musik ini, menikmati suasana ini, juga sangat menikmati tempat ini. Pikirannya seakan menyatu dengan instrumen lagu yang di mainkan serta larut dalam duka karena merindukan Mama terlalu banyak.
Casey merindukan Mama. Sangat.
"Di Filipina, entah di Restaurant manapun itu, sebaiknya kamu memilih menu dengan tulisan Meat jangan Beef." Arka memulai pembicaraan setelah sekian lama hening. Tangannya sibuk membolak-balik buku menu yang pelayan sodorkan. Dan dia masih memilih hidangan yang sekiranya cocok untuk lidah orang Indonesia sepertinya.
Seketika Casey membuka mata. Imajinasi kerinduan tentang Mama, buyar, berganti dengan rasa ingin tau tentang apa yang Arka ucapkan tadi. Dia menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya kenapa?" Casey bertanya setelah memikirkan kalau ucapan Arka ternyata cukup menarik untuk di bahas lebih jauh.
"Karena, kebanyakan Meat adalah daging babi, sementara Beef adalah daging sapi." Arka menutup buku menunya lalu dia memanggil pelayan. Begitu pelayan datang, dia segera memesan makanan dengan bahasa Filipina yang fasih.
"Oh, jadi begitu?" Casey menjawab singkat. Dia tidak pernah ke Filipina, jadi mana dia tau kalau perbedaan Meat dan Beef begitu jauh? Meski penjelasan Arka sebenarnya tidak penting namun cukup membantu menambah wawasan "Kamu sering ke sini?" Casey bertanya pada akhirnya. Dia penasaran lantaran Arka seringkali menggunakan bahasa Filipina saat berkomunikasi dengan orang lain selain dia. Belum lagi bahasa Filipina yang Arka gunakan sangat lancar dan fasih.
"Iya, lumayan. Kadang kala saat ada urusan." Tapi karena Aruna yang sombong itu sering menggunakan bahasa Filipina dengan aksen kental saat berbicara dengannya, lambat laun dia mulai terbiasa dengan bahasa itu.
Beberapa saat menunggu, akhirnya makanan yang di pesan Arka, datang.
"Terima kasih." Ucap Arka kepada pelayan yang sekejap sudah menghilang dari pandangan. Setelah itu dia menoleh ke arah Casey. "Silahkan di nikmati!"
"Mm." Casey mengangguk perlahan.
"Ini namanya adalah Empanada." Arka menunjuk sepiring makanan ringan berupa pastel dengan isian daging sapi dan sayur. "Kalau di negara kita namanya Pastel, tapi kalau di sini, di namakan Empanada." Arka mengambil sepotong menggunakan sumpit, lalu dia meletakkannya di atas piring Casey. "Cobalah, ini sangat lezat."
Casey memotongnya menggunakan garpu. Lalu dia menyuapkan ke dalam mulut. Sesaat dia mengunyahnya penuh penghayatan. Dan beberapa saat kemudian, dia tersenyum lebar. "Rasanya sangat enak." Ngomong-ngomong, Casey tidak bisa menggunakan sumpit, itu sebabnya dia lebih memilih menggunakan garpu.
"Bagus kalau kamu menyukainya." Arka berkata sembari memotong Ayam Panggang menggunakan pisau. Setelah itu dia meletakkannya di atas piring Casey. "Kalau ini di sebut Lekchon Manok. Di lihat sekilas, bentuk dan teksturnya mirip Ayam Panggang karena ini memang Ayam Panggang." Arka terkekeh di akhir kalimatnya.
Casey tertegun selama beberapa saat, setelah itu dia ikut tertawa. "Sudah ku duga kalau itu memang Ayam Panggang, hanya berbeda namanya saja namun intinya tetap sama." Selesai berkata, Casey memakan potongan Ayamnya, dan.. rasanya lumayan.
"Bagaimana? Enak?"
"Rasanya seperti Ayam Panggang."
"Itu memang Ayam Panggang, Caca." Arka mempertegas ucapannya namun dia tidak benar-benar geram dengan Casey. Dia hanya gemas.
Casey tertawa. Sebenarnya dia sengaja mengatakan itu untuk membuat Arka kesal. Tapi siapa sangka kalau ekspresi Arka justru sangat menggemaskan? Membuat dia justru kesal sendiri.
Sejenak hening.
"Arka, kamu juga harus makan." Casey bersuara saat mendapati Arka tidak memakan apapun. Pria itu hanya minum minuman bersoda yang di pesan oleh pria itu kepada pelayan.
Arka tidak menanggapi. Dia hanya tersenyum kecil. Dia sudah merasa kenyang saat melihat nafsu makan Casey yang luar biasa.
"Arka." Casey memanggil nama pria itu untuk menghentikan bola mata Arka yang terus menatapnya. Itu membuatnya gugup.
"Mm."
"Jangan melihatku seperti itu!"
"Kenapa?"
"Karena aku takut kamu akan jatuh hati padaku." Casey menjawab dengan percaya diri. Hanya jawaban random namun dia tidak tau dari mana dia mendapatkan keberanian untuk mengatakan hal itu.
"Cih." Arka mendecih sembari menggelengkan kepala. "Kamu sangat percaya diri."
"Lalu kenapa? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu tidak pernah melihat wanita cantik makan?" Casey kembali memotong Empanadanya menggunakan pisau, setelah itu dia menusuknya dengan garpu, kemudian dia segera melahapnya tanpa memperdulikan tatapan Arka yang terheran-heran melihat dirinya.
Casey tidak peduli.
Terserah Arka mau mengatakan dia rakus atau apa, Casey sama sekali tidak mau memikirkan. Lagi pula makanan ini sangat lezat. Sayang kalau tidak di makan. Mubadzir.
"Iya. Kamu benar." Jawab Arka. "Aku memang tidak terbiasa memperhatikan seorang gadis cantik yang sedang menyantap makanan."
"Pembohong."
"Kalaupun aku berbohong, percayalah, aku hanya berbohong padamu."
Tidak mau mendengar rayuan lagi, Casey menjejalkan sebuah Empanada yang sudah dia potong kecil ke mulut Arka sembari berkata, "Berhenti bicara dan makanlah!"
Arka menunjukkan raut ketidaksenangan namun dia tetap memakan makanan yang Casey suapkan. "Kalau boleh tau, berapa usiamu?" Arka bertanya setelah berhasil menghaluskan makanan di dalam mulut kemudian menelannya.
"Akhir tahun ini dua puluh tahun, kenapa? Apa aku terlihat sangat tua?" Kalaupun terlihat tua, itu sangat wajar dan Casey tidak akan marah. Hidupnya penuh perjuangan dan dia juga sudah lupa rasanya merawat diri di dalam salon.
"Siapa bilang kamu terlihat tua?"
"Aku." Casey menjawab cepat.
"Berarti matamu bermasalah." Arka memuji secara halus dengan pujian yang di samarkan.
Casey terkekeh tanpa menanggapi. Dia merasa wajahnya semerah tomat saat Arka menyerangnya bertubi-tubi dengan rayuan manis yang sebelumnya tidak pernah dia dengar.
"Lalu, bagaimana dengan tipe pria idaman?" Arka mengajukan pertanyaan selanjutnya yang menjurus ke hal pribadi. Dia tidak memiliki maksud lain, dia hanya ingin melihat seperti apa sudut pandang seorang wanita dalam menilai seorang pria. Apakah yang mereka lihat dari segi fisik, dari segi materi, dari tabiat dan kepribadiannya, atau dari apa?
Casey menunjuk dirinya sendiri. "Tipe pria idamanku?"
Arka mengangguk. "Iya."
"Em." Casey menyentuh dagu. Tampak sedang berpikir padahal sebenarnya dia tidak memikirkan apapun. "Kaya raya, mungkin!"
"Materialistis."
Casey meringis. "Aku hanya bercanda." Ucapnya. "Tipe pria ideal menurutku sebenarnya cukup sederhana, tidak ada spesifikasi khusus yang penting tangannya enak di genggam, wajahnya enak di lihat, dan tubuhnya enak di peluk." Sesimpel itu, mungkin?
"Haish." Arka mendesis. "Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu dengan frontal di depanku?" Arka berkata dengan suara rendah. Dia meraih air soda di depannya, lalu dia meminumnya sampai kandas.
Casey mengangkat bahu. "Kamu bertanya dan aku menjawab, memang salahnya dimana?"
"Baiklah. Wanita selalu benar." Arka menyerah. Berdebat dengan wanita, selain melelahkan dia juga yakin tidak akan menang. Hal yang sama juga terjadi di rumah. Itu pula yang membuat Mama menjadi penguasa rumah. Aruna juga demikian. Bahkan tidak hanya dirinya, si dingin Aero, dan Papa juga enggan berdebat dengan dua wanita itu. Jadi sebagai pria jantan dia memutuskan untuk tidak melanjutkan.
"Apa kamu tidak terlalu cepat menyerah?" Tidak tau kenapa Casey merasa kalau Arka adalah tipe pria yang mudah bergaul. Terbukti dari pandainya Arka mencairkan suasana. Pria itu pasti punya banyak teman dan punya banyak fans wanita. Pasti.
"Tidak karena aku memang tipe pria yang tidak suka berjuang." Arka menjawab santai. Sejauh ini, dia tidak pernah memperjuangkan apapun. Hidupnya sangat santai seolah tidak ada hal menarik yang layak untuk di perjuangkan. Gadis, tidak ada. Cinta, tidak punya. Pendidikan, biasa saja. Jadi, apa yang harus di perjuangkan?
"Heh." Casey terkekeh. Wajar. Namanya juga orang kaya. Orang yang terlahir dengan sendok emas di mulut, bagaimana tau bagaimana rasanya berjuang? Bagaimana rasanya hidup di jalanan tanpa uang? Orang seperti Arka, mana mengerti?