ADC ~ Mengerjakan Tugas Kuliah

2402 Kata
Sepulangnya dari Makati, Arka dan Casey kembali berjalan kaki setelah bus menurunkan mereka di halte. Mereka kembali bergandengan tangan menyusuri jalan di bawah rindangnya pohon Tabebuya. Udara dingin yang berhembus membuat Casey menggigil meski tubuhnya sudah terlapisi dua lembar pakaian. Yaitu gaun miliknya dan hoodie milik Arka "Kamu kedinginan?" Arka bertanya setelah menyadari ada sesuatu yang aneh dari tubuh Casey. Gadis itu kedinginan. Pasti. "Mm." Casey mengangguk perlahan. Tubuhnya seakan beku karena entah kenapa udara malam begitu cepat berubah dingin. "Tunggu sebentar." Arka melepaskan kaitan tangannya dengan langkah kaki yang sudah lebih dulu dia hentikan. Casey terpaku. Dia turut menghentikan langkah sembari menatap apa yang sekiranya akan Arka lakukan. Arka membuka paper bag hasil buruan mereka saat menghabiskan sedikit waktu di kios kios cemilan yang tersedia di sepanjang jalan yang mereka lalui di Makati. Setelah itu dia mengambil sepotong Pie dari dari kantung kertas yang terbungkus rapat. "Makanlah. Ini sangat enak." Arka menyodorkan Pienya kepada Casey. "Ini namanya Ube Pie." Tidak lupa Arka juga menjelaskan nama makanannya. Merupakan Pie biasa hanya saja menggunakan ubi ungu sebagai isiannya. Casey menerimanya tanpa ragu, lalu dia memakannya sedikit demi sedikit. Sekilas, Pie ini terasa biasa saja. Namun, karena Arka yang memberikannya, membuatnya sedikit lebih istimewa dan membuat perasaannya menghangat. "Bagaimana? Enak?" Meski makan Ube Pie tidak bisa menghangatkan tubuh, tapi Arka pikir setidaknya Casey tidak hanya terfokus pada satu hal saja. Setidaknya gadis itu akan memikirkan hal yang akan membuat rasa dingin yang gadis itu rasakan, teralihkan. "Mm." Casey mengangguk perlahan. "Sangat enak." Semua makanan dan camilan pilihan Arka, luar biasa dan dia menyukai semuanya. "Aku tau kamu pasti suka. Itu sebabnya aku membelinya." Arka berkata random namun justru pembicaraan random itu yang seringkali penuh arti dan spesial. "Oh ya?" Casey tidak tau apakah Arka hanya asal bicara atau serius. Namun terlepas dari itu, dia tidak yakin Arka masih peduli terhadapnya kalau melihat dirinya yang biasa saja, kalau melihat dirinya yang acuh tak acuh, dan kalau dirinya yang seperti biasanya saat dia tidak secantik ini, saat dia tidak selembut ini dan saat dia tidak sepenurut ini. "Iya." Mereka kembali melanjutkan langkah tanpa banyak bicara. Kebanyakan hanya ada keheningan yang mengiringi langkah kaki mereka sampai mereka tiba di kediaman utama keluarga Reynand dua puluh menit setelahnya. Arka membuka pintu. "Ladies first." Arka berkata sembari mempersilahkan Casey untuk masuk lebih dulu sebelum dia sendiri masuk dan menutup pintu kembali. "Kamu bisa tidur lebih awal kalau kamu lelah." Arka tidak akan melarang Casey untuk berisitirahat. Jadi, kalau Casey memang lelah, silahkan tidur saja. Casey memutar bola matanya sebentar. "Benarkah?" Bukankah itu berarti mereka tidak perlu melakukan hal itu malam ini? "Mm. Tentu. Memangnya kenapa?" Arka tidak akan memaksa Casey untuk menemaninya mengerjakan tugas kuliah yang masih belum selesai yang harus dia kirim esok hari. Dia tidak akan menyulitkan gadis itu untuk sesuatu yang memang tidak seharusnya Casey terlibat di dalamnya. "Tidak, aku hanya berpikir kalau mungkin kamu akan.. akan.." Casey tidak melanjutkan ucapannya yang dia yakin Arka tau maksudnya. Arka terkekeh. Dia tau kata apa yang harusnya di letakkan di sana. Namun dia juga tidak melanjutkan. Dia membiarkan kata ambigu itu menggantung tanpa penyelesaian. "Pergi namun ada satu syarat." Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk mengerjai Casey. Dia ingin melihat wajah merah karena malu yang sangat sering Casey tunjukkan saat dia menggodanya. "Apa itu?" Casey menunjukkan ekspresi ingin tau yang pekat. "Cium aku!" Arka berkata sembari menyentuh wajahnya dengan maksud agar Casey mencium pipinya. Apa? Cium? "Ba.. ba.. bagaimana mungkin?" Casey tergagap. Membayangkan bibirnya di cium di pagi hari di tambah dia harus tidur di ranjang yang sama dengan Arka, merupakan suatu kemajuan. Tidak masalah kalau Arka yang melakukannya. Dia akan menerima dengan patuh tanpa menghindar ataupun menolak termasuk saat Arka memeluk erat tubuhnya di malam hari. Tapi apa kabar kalau dia yang mencium Arka lebih dulu? Dia tidak bisa. Sungguh. Teramat sulit mencium Arka meski Casey sudah berhasil memenangkan perdebatan dengan dirinya sendiri dengan hasil akhir dia sudah menyetujui usulan itu. Dia menyetujui untuk mencium Arka lebih dulu. Melihat Casey yang terlalu banyak berpikir dan tidak kunjung bergerak untuk menciumnya, Arka mendekatkan tubuhnya dan.. cup. Dia menanamkan sebuah ciuman lembut di wajah Casey. Dia pikir ekspresi wajah Casey sangat lucu saat dia meminta gadis itu menciumnya. Itu sebabnya dia yang akhirnya berinisiatif untuk mencium gadis pemalu itu lebih dulu. Casey terpaku. Dia menyentuh wajahnya yang tadi mendapat satu kecupan dari Arka. Kecupan yang sangat cepat namun cukup untuk membuat wajahnya memerah. "Sekarang aku percaya kalau kamu adalah seorang gadis perawan." Yang sangat lugu. Hanya sebuah kecupan. Tapi kenapa reaksi Casey harus seperti itu? Padahal itu baru kecupan, lalu bagaimana kalau Arka menelanjangi gadis itu dan memasukkan miliknya ke sana? Tidak bisa di bayangkan betapa merahnya wajah Casey di bawah kungkungan tubuhnya saat mereka bercin-ta nanti. Ish ish ish. Benar benar gadis yang sangat imut. Beberapa detik setelah kesadarannya kembali, Casey menundukkan kepala. "Selamat malam, Arka." Selesai berkata, Casey berlalu pergi menapak satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Dia tidak menimpali ucapan Arka yang justru membuatnya semakin malu. Hanya tiga kata itu yang bisa dia ucapkan untuk mengakhiri kecanggungan yang tercipta di antara mereka. Jujur saja, Arka sangat baik. Pria itu tidak sekalipun membahas se-ks meski sesekali pria itu menggoda dirinya. Namun Casey tau kalau itu hanya candaan random yang Arka lontarkan untuk mencairkan suasana. Pada nyatanya, tidak meminta se-ks darinya setelah semalam penuh memeluk tubuhnya, dia merasa Arka berbeda. Arka terlalu sempurna dan Casey yakin kalau Arka bisa menjadi pasangan paling setia kalau pria itu menikah nanti. Dan wanita yang akan menjadi isterinya adalah wanita paling beruntung yang pernah ada. Casey hanya berharap semoga Arka tetap seperti ini meski cepat atau lambat dia yang akan memberikan dirinya kepada pria itu mengingat bahwa Arka membayar dirinya mahal adalah untuk keperawanannya. Tidak adil kalau Arka mengeluarkan banyak uang sementara dia tidak melakukan apapun. Tidak adil kalau Arka tidak melakukan apapun terhadapnya padahal Arka bisa melakukan lebih. Arka mengawasi siluet Casey yang berjalan cepat menaiki tangga lalu hilang di lantai dua. Dia tau kalau kecupan itu tidak berarti apapun. Tapi tidak tau kenapa Casey sebegitu pemalunya untuk di cium sampai dia tidak tahan untuk menggodanya. *** Arka membuka pintu kamar tidurnya dan mendapati Casey sudah terbaring di sana dengan selimut tebal yang membungkus tubuh. Melihat ini, Arka mematikan AC dan membiarkan udara di sekitar berubah menjadi netral. Tidak dingin namun juga tidak panas. Setelah itu, dia mencari laptopnya dan dia mulai mengerjakan tugas kuliah menumpuk yang tetap harus dia kerjakan meski dia berada di luar negeri. Arka mengerjakan tugasnya dengan santai namun cermat dan teliti. Dia tidak membiarkan rasa kantuk datang meski sekarang adalah waktunya untuk beristirahat. Pandangannya fokus menatap layar sedangkan tangannya gesit berselancar di atas keyboard. Beginilah dia kalau sudah fokus dengan pekerjaan ataupun tugas kuliahnya. Dia tidak akan berpaling lagi meski ada gadis cantik yang menggeliat dengan indahnya di atas ranjang. Sebagai seorang pria, pertahanan dirinya sangat baik. Namun itulah dia. Dia tidak akan semudah itu menyentuh seorang gadis pada tahap keterlaluan kalau belum ada ikatan yang cukup kuat. Itu pula yang membuat dirinya sedang berusaha membiasakan diri dengan Casey agar dia bisa melakukannya nanti, pada hari ke enam atau ke tujuh atau tidak akan pernah kalau ikatan di antara mereka tidak bisa terjalin. *** Pagi Harinya. "Hoam." Casey menggeliat sembari menguap saat merasakan sinar mentari menerpa tubuhnya. Sinar yang merambat melalui celah jendela, membuatnya yakin kalau ini sudah pagi. Casey meraba ke samping namun tidak mendapati Arka di sampingnya. Hanya ada rasa dingin seolah Arka tidak tidur di sampingnya malam ini. Menyadari hal itu, Casey membuka perlahan matanya lalu dia mengedarkannya ke sekeliling untuk memastikan keberadaan pria yang belakangan ini selalu setia menemani hari-harinya. "Apa kamu tidak tidur?" Casey turun dari ranjang saat melihat Arka duduk di atas sofa entah sejak kapan entah sudah berapa lama. Dia tidak tau dan dia tidak menyadari itu. Tidurnya sangat pulas sampai dia tidak tau apakah pria itu tidur atau tidak? Atau.. apakah pria itu bekerja sepanjang malam? "Belum." Arka menjawab tanpa menoleh dari layar laptopnya. Dia bisa terjaga sepanjang malam kalau ada tugas yang harus di kumpulkan esok harinya. Jadi, begadang merupakan hal wajar atau katakanlah makanan sehari-harinya. "Apa?" Casey terkejut. "Belum? Bagaimana bisa?" Casey mendekat ke arah Arka dan dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk duduk di pangkuan pria itu. Dia berharap Arka beristirahat atau pria itu bisa sakit nantinya. Itu sebabnya dia melakukan hal memalukan ini dengan canggung. Di lihat dari dekat, wajah Arka tampak lusuh, matanya sayu, rambut dan pakaiannya juga berantakan. Pertanda kalau pria itu mungkin tidak tidur semalaman karena penampilan itu jelas sudah menjawab segalanya, menjawab segala pertanyaan yang tidak terlontar. Casey tidak tau kenapa Arka begitu gi-la kerja. Jelas-jelas mereka sudah lelah sekembalinya dari Makati. Tapi kenapa Arka tetap memaksakan diri untuk bekerja dan membiarkan dirinya tidur dengan pulas tanpa meminta dirinya untuk menemani? "Kenapa kamu seperti ini, hm?" Arka menghentikan aktivitasnya. Tangannya melingkar pada pinggang Casey. Sedangkan dagunya dia lekatkan pada bahu gadis itu. Dia memejamkan mata sebentar. Menikmati aroma seorang gadis yang sudah mulai berani merayunya. Perasaannya menghangat. Sekarang Arka mengerti bagaimana rasanya di perhatikan oleh seorang gadis. Pantas, Angga begitu sering menjalin kasih dan menumpuk para gadis untuk kemudian di kencani dengan di janjikan cinta. Ternyata, memiliki seorang gadis memang cukup menyenangkan dan menghangatkan. "Aku ingin kamu istirahat. Tidurlah, aku akan membantumu menyelesaikan pekerjaanmu kalau aku bisa." Casey menawarkan sedikit bantuan atas rasa bersalah yang menyelimuti hati. Dia tidur nyenyak sementara Arka tetap terjaga sepanjang malam. Sebagai gadis yang di bayar dengan harga mahal, dia seolah tidak berarti, dia seolah tidak berguna dan dia seolah tidak di butuhkan. Apakah begitu? Apakah dia memang tidak di butuhkan? Arka terkekeh. "Baiklah kalau kamu ingin membantuku. Aku tidak akan menolaknya." Arka tidak akan melarang dan dia akan membiarkan Casey melakukan apapun yang gadis itu suka terlepas dari apakah mengerjakan tugasnya hanya omong kosong belaka atau Casey memang bisa melakukannya, dia tidak akan ambil pusing. Casey membelai rambut Arka secara perlahan. "Sekarang, sandarkan punggungmu pada sandaran sofa dan pejamkan matamu. Kamu harus istirahat. Matamu lelah dan tubuhmu letih." Selesai berkata, Casey mendorong tubuh Arka ke belakang secara perlahan. Arka mengulas senyum tipis. "Aku tidak mungkin bisa tidur kalau kamu menggodaku seperti ini." Arka berkata santai seolah hasratnya bukan perkara besar, dia bersikap santai meski miliknya cukup tegang di dalam sana. "Maaf." Merasa bersalah, Casey beranjak dari pangkuan Arka. "Tidurlah di atas ranjang dan kita akan melihat apa yang bisa aku lakukan untuk membantu pekerjaanmu." Casey tersenyum manis di akhir kalimatnya. Setelah di pikir-pikir, apa yang dia lakukan, sungguh menjijikan. Merayu Arka? Haish.. dia bergidik. Dia pasti sudah gi-la karena melakukan ini. "Mm." Arka bangkit dari duduknya. Tanpa mengganti pakaian, dia berjalan ke arah ranjang dan dia segera membaringkan tubuhnya di sana. Dia memejamkan mata dan beberapa saat kemudian, dia terlelap ke alam mimpi. Melihat ini, melihat Arka sudah terlelap tidur di atas ranjang, Casey berlalu ke kamar mandi. Dia membasuh muka, menggosok gigi lalu dia keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Selesai, Casey segera mendudukkan diri di atas sofa. Dia melihat apa yang sedang Arka kerjakan. Dan beberapa saat kemudian, matanya menyipit. Apa apaan ini? Casey melihat sekali. Lalu dia melihat sekali lagi. Dan sekali lagi. Namun tetap saja apa yang terlihat di layar laptop itu, adalah.. tugas kuliah? Apa? Tugas kuliah? Tugas kuliah yang dia yakin itu adalah Managemen Bisnis. Casey mengalihkan pandang ke arah ranjang dimana Arka terbaring di sana. Jadi, pria itu seorang Mahasiswa? Sulit di percaya. Casey sungguh berpikir kalau Arka sedang bekerja, bukan sedang mengerjakan tugas. Tapi siapa sangka kalau ternyata pria tampan itu bukan seorang pekerja ataupun pengusaha, melainkan seorang Mahasiswa yang mungkin lebih muda atau seumuran dengan dirinya? Konyol. Tidak ingin memikirkan atau terbebani dengan masalah ini, Casey mulai melihat apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Arka menyelesaikan tugasnya. Bagaimanapun, dia seorang Mahasiswi Psikologi, di bandingkan dengan Managemen Bisnis, perbedaannya sangat jauh. Jadi, dia tidak yakin bisa membantu Arka menyelesaikan tugas tugas itu. Namun, tentu saja dia tidak akan menyerah begitu saja. Setidaknya, dia akan mencobanya sedikit demi sedikit. Kalau tetap tidak bisa, ya sudah. Paling tidak dia sudah berusaha. *** Beberapa jam kemudian. Arka memaksakan tubuhnya untuk duduk meski matanya masih terpejam. Dia ingat kalau tugasnya belum selesai, jadi dia tidak bisa seenaknya tidur tanpa peduli dengan tugas-tugas yang cukup mempengaruhi banyak hal dalam hidupnya. "Kamu sudah bangun?" Casey bertanya setelah melihat Arka sudah duduk di atas ranjang. Meski ekspresi pria itu menunjukkan keengganan yang amat sangat, yaitu berat menahan kantuk, namun dia tidak bertanya ataupun mencari tau lebih jauh. Dia yang sedang menyaksikan acara televisi, segera mematikan televisinya. "Iya." Mata Arka menyipit sejenak sebelum akhirnya dia meraih gelas di atas nakas dan meminum isinya sampai kandas. Setelah itu dia berjalan ke kamar mandi dan membasuh mukanya kemudian menggosok gigi. Selesai, Arka segera keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah sedikit lebih baik. Tidak lagi sekusut sebelumnya meski tetap saja dia masih menahan kantuknya Arka membuka hp untuk melihat sudah jam berapa sekarang, namun keningnya berkerut saat melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Aruna. Arka menyipitkan mata. "Aruna?" Tanyanya di dalam hati. Pertanyaan yang dia ajukan kepada dirinya sendiri. "Apa tadi hpku berbunyi?" Arka bertanya pada Casey tanpa mengalihkan pandang dari layar hpnya. Dia membuka pesan yang Aruna kirim. Dan wanita itu meminta dirinya untuk segera menghubungi setelah membaca isi pesannya. "Iya. Beberapa kali." Jawab Casey. "Tapi aku takut itu akan mengganggumu, jadi aku membiarkannya." Casey menjelaskan secara singkat. Semoga saja itu bukan telepon penting dan semoga saja Arka tidak marah kepadanya. "Oh, ya sudah." Selesai berkata, Arka keluar dari kamar tidurnya sembari menekan nomor Aruna untuk dia hubungi. Dia segera menempelkan hpnya di telinga begitu mendengar suara 'hallo' dari balik panggilan. "Ada apa?" Arka bertanya santai tanpa tau kalau ekspresi Aruna di balik panggilan sudah sangat jelek. "Ada apa, ada apa, kepalamu!" Aruna mengumpat. "Cepat datang dan jangan membuat semua orang menunggu!" Tut tut tut. Panggilan terputus. Arka melihat layar hpnya dengan linglung. Otak kecilnya masih mentelaah kata perkata yang Aruna lontarkan dengan kasar. Setelah beberapa saat, dia baru mengerti kalau siang ini ada rapat pemegang saham yang dimana dia harus menghadirinya. Wajib hukumnya atau dia akan di keluarkan dengan kejam dari Kartu Keluarga. Si-al! Arka mengumpat. Dia tidak kesal dengan ucapan Aruna, namun dia kesal karena tidak ada kendaraan yang bisa dia gunakan untuk berangkat ke perusahaan. Kalau sudah begini, bagaimana caranya pergi ke perusahaan sementara kendaraan saja tidak ada? Haish. Aruna benar benar memiliki kemauan yang keras untuk menyiksa dirinya. Sangat keterlaluan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN