ADC ~ Kecewa

1025 Kata
Casey menyusuri lorong Rumah Sakit dengan gontai. Niatnya untuk mendapatkan uang, nampaknya gagal. Dia tidak menyangka kalau Amira belum membuka hati untuk membantunya. Pertanda kalau perubahan Amira ke arah positif, benar benar serius. Maksudnya adalah.. Amira tidak mau berhubungan dengan Tante Mirna lagi. Sebenarnya itu bagus. Sangat bagus. Tapi, bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan nasibnya? Hanya itu satu satunya hal yang bisa Casey harapkan setelah dia tidak menemukan jalan keluar lain. Memangnya apa lagi yang bisa dia harapkan? Rasanya.. semua terlalu berat untuknya sampai dia tidak tau harus bagaimana lagi. Casey menghentikan langkah kakinya saat dia tiba di depan ruang Hemodialisis. Dia mengintip melalui celah sempit pada pintu berupa kaca transparan yang membuat dirinya bisa melihat sedikit proses cuci darah yang di lakukan oleh staf medis profesional di Rumah Sakit ini. Agaknya, seorang konsultan ginjal dan hipertensi, spesialis penyakit dalam, internis, dokter umum, dan perawat yang memastikan proses hemodialisis berjalan sesuai prosedur, sedang berada di dalam untuk mendampingi Mama karena cuci darah baru saja di mulai. Casey melihat dengan jelas wajah-wajah sama yang selalu melakukan hal serupa setiap kali Mama memasuki ruangan ini. Tak ayal, kenapa biaya untuk Hemodialisis terkesan mahal, yaitu karena staf dokter lumayan banyak, belum lagi peralatannya yang menggunakan peralatan khusus. Seketika Casey menutup mata saat melihat Mama seperti sangat kesakitan dalam prosedur Hemodialisis itu. Membuat jantungnya nyaris lepas dan dia tidak ingin melihat itu lagi. Casey menundukkan wajah dan berjalan menyusuri lorong yang sama seperti saat dia masuk untuk mencari pintu agar dia bisa keluar. Melihat Mama di kelilingi peralatan medis yang mencekam seperti dialiser dengan selang selang beraliran darah, otak kecil Casey masih sulit memahami semuanya. Rasa sakit itu sudah Mama tahan selama berbulan bulan. Dan itu bukan hal yang mudah. Mama hanya berpura pura kuat agar dia tidak sedih dan menyalahkan diri sendiri karena belum bisa mendapatkan biaya transplantasi. Setelah mencapai halaman Rumah Sakit, Casey segera pergi ke halte untuk menunggu bus. Dia berencana untuk pergi ke suatu tempat dimana ada orang yang bisa membantu meringankan beban yang harus di tanggungnya, mungkin memang bukan solusi terbaik. Namun, tidak ada salahnya mencoba. *** Casey turun dari bus setelah tiba di depan sebuah rumah berpagar rendah, memiliki halaman luas dengan bangunan rumah yang sederhana. Rumah bercat abu setinggi dua lantai ini adalah tempat tinggal satu satunya saudara yang Casey miliki. Merupakan Paman atau Kakak dari Papanya. Dia memanggilnya Paman Sanjaya. Di rumah ini, Paman membesarkan tiga anak dengan seorang Istri bernama Bibi Herlina. Ke tiga anak Paman Sanjaya sangat baik dan perhatian. Mereka sering menjenguk Mama di Rumah sakit dan membawa makanan untuknya. Bibi Herlina dan Paman Sanjaya juga tidak kalah baik. Mereka adalah orang orang yang sudah membantunya sejauh ini. Meski bantuan itu hanya pada level dasar karena dia sendiri sangat tau bahwa kondisi finansial Paman tidak begitu baik. Tapi, setidaknya dia sangat bersyukur karena masih ada yang peduli terhadapnya. "Bibi." Casey berseru setelah melihat Bibi Herlina keluar dari rumah membawa kantung plastik berwarna hitam besar yang menurut tebakannya, isinya adalah sam-pah. Bibi Herlina tersenyum saat melihat Casey berdiri di luar pagar. "Kenapa kamu hanya berdiri di sana dan tidak masuk?" Bibi Herlina berkata sembari membuka pintu pagar agar Casey bisa masuk dan tidak hanya berdiri di sana seperti lelucon. Casey hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Bibi yang dia rasa tidak ada jawabannya. Dia melamun, tentu saja. Dia banyak pikiran dan itu tidak perlu di tanya lagi. "Masuk dulu! Kevin dan Gadis ada di dalam!" Bibi berkata sembari menjejalkan kantung plastik ke dalam tong sampah berukuran besar untuk kemudian di ambil oleh truk pengangkut sam-pah. "Iya." Casey mengangguk, namun dia tetap menunggu Bibi pada akhirnya. Mengawasi Bibi lekat, sangat beruntung Gadis, Kevin dan Okin memiliki Ibu seperti Bibi Herlina. Selain sabar, Bibi juga ulet dan seorang pekerja keras. Tidak banyak yang tau kalau Bibi menekuni usaha bunga hias yang di pasarkan secara online. Bahkan mungkin saja, anak anaknya juga tidak mengetahui akan hal itu. Membayangkan ini Casey tersenyum dalam hati. Lucu. "Bagaimana keadaan Mama?" Bibi Herlina yang mengetahui Casey masih berdiri di belakangnya, mengajukan pertanyaan ringan yang biasa dia tanyakan saat datang menjenguk ke Rumah Sakit atau saat Casey datang ke sini seperti hari ini. "Masih sama dan tidak jauh lebih baik. Mama masuk ke Ruang Hemodialisis lagi." Tiga kali dalam satu pekan, Mama memang harus rutin di cuci darahnya. Menjadi cara pengobatan yang ada sembari menunggu kalau-kalau ada orang yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Mama. Namun, transplantasi merupakan hal yang langka dan mahal. Itu pula alasan yang membuat dokter lebih menyarankan supaya pasien menjalani perawatan berupa cuci darah. Selesai, Bibi berbalik badan lalu menatap Casey lekat. Dia tidak tau harus berkata apa. Mencoba menenangkan, dia tau kalau itu tidak akan berhasil. Mau memberikan bantuan secara finansial, dia juga tidak berada pada taraf itu. Dia serba salah sendiri. "Bibi tidak perlu menunjukkan ekspresi seperti itu. Aku baik baik saja. Sungguh." Casey lebih dulu buka suara sebelum Bibi melakukannya. Ada binar kekhawatiran yang terpancar dalam tatapan Bibi yang dalam dan penuh makna. Membuatnya tidak nyaman seolah kedatangannya hanya merepotkan. "Aku tidak tau harus berkata apa. Ekspresi sedih yang kamu tunjukkan membuatku khawatir dan membuatku merasa bersalah karena tidak bisa membantu apapun." Bibi menjawab dengan nada tegas, namun di akhiri dengan helaan nafas panjang seolah ketegasan itu hanya tameng untuk menutupi ketidakberdayaannya. "Siapa bilang?" Casey memaksakan senyum. "Bibi, Paman, Kevin, Gadis dan Okin sudah banyak membantuku. Bibi tidak boleh bicara seperti itu lagi karena aku jadi semakin sedih." Casey mengaitkan tangannya pada lengan Bibi, lalu dia mengajak Bibi untuk masuk dan memberinya makanan. "Aku lapar, Bibi. Aku belum makan." Casey bersikap manja seolah Bibi Herlina adalah Ibu kandungnya. Bagaimanapun, hubungan mendiang Papa dan Paman sekeluarga sangatlah baik. Tidak pernah ada masalah ataupun perseteruan yang tidak perlu. Mereka damai, hidup rukun dan berkompromi satu sama lain. Casey yang awalnya berniat untuk meminta solusi dan sedikit bantuan, mengurungkan niatnya. Kondisi finansial Paman dan Bibi tidak begitu baik, takutnya dia benar benar akan merepotkan dan menambah beban untuk mereka. Untungnya, Casey cukup tau diri dan sadar akan batasan yang sudah di tetapkan sampai dia tidak bersikeras melewatinya. Kalau itu sampai terjadi, kalau dia sampai berkata membutuhkan uang, demi Tuhan, dia akan merasa bersalah selama hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN